
Aida mengendarai mobil.
“Makan siangnya order online saja. Ngeri juga kalau bawa tabung gas kemana-mana,” kata Firas.
“Saya bawa makanan sendiri, Pak,” kata Aida.
“Tidak takut basi? Itukan dimasak tadi pagi,” tanya Firas.
“Insya Allah, tidak akan basi,” jawab Aida.
Tak lama kemudian mereka sampai juga di Tanah Kusir. Firas memandu jalan menuju ke rumahnya. Akhirnya sampailah mereka di depan rumah Firas.
“Alhamdullilah sampai. Maira duduk di sini sendiri. Om mau buka pintu pagar,” kata Firas.
Firas mendudukkan Maira di sebelah Aida lalu memasangkan seat belt pada Maira agar tidak jatuh. Setelah itu Firas membuka gembok pintu pagar lalu membuka pintu pagar rumahnya. Aida memasukkan mobil ke halaman rumah, lalu berhenti di depan garasi. Setelah mematikan mesin mobil Aida turun sambil menggendong Maira.
Firas mengeluarkan semua barang belanjaannya. Aida menurunkan Maira di teras rumah.
“Maira tunggu di sini, Mamah mau bantu Om Firas menurunkan barang,” kata Aida.
Maira menjawab dengan mengangguk. Aida pun membantu Firas mengeluarkan semua barang dari dalam mobil. Setelah semuanya selesai merekapun beristirahat dengan tengah rumah sambil duduk di atas karpet.
“Mama au cucu,” kata Maira sambil mengucek-ngucek matanya.
Rupanya batita itu sudah mengantuk.
Aida membuatkan susu lalu diberikan kepada Maira. Batita itu langsung menge-nyot dotnya dan matanyapun mulai mengantuk. Aida menepuk-nepuk bagian belakang badan Maira.
“Maira tidur?” tanya Firas.
Aida menjawab dengan mengangguk. Aida terus menepuk-nepuk tubuh Maira hingga batita itu tertidur. Aida melepaskan dot dari mulut Maira tanpa ada perlawanan dari Maira. Batita itu itu tertidur dengan pulas.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur berkumandang.
“Saya sholat dzuhur dulu, Pak,” kata Aida.
“Saya antar ke kamar mandi,” kata Firas.
Firas mengantar Aida menuju ke kamar mandi.
“Ini kamar mandinya,” kata Firas sambil membuka pintu kamar mandi.
Aidapun masuk ke dalam kamar mandi untuk wudhu. Setelah selesai wudhu, Aida sholat di sebelah Maira. Setelah Aida selesai sholat bergantian Firas sholat dzuhur.
Sambil menunggu Firas sholat Aida berjalan menuju ke halaman belakang. Ternyata halaman belakang rumah Firas lebih luas daripada halaman depannya. Di halaman belakang ada sebuah paviliun. Aida memperhatikan suasana di sekelilingnya.
Sayang rumah sebesar ini tidak ditempatkan, nanti akan rusak, kata Aida di dalam hati.
Tanpa Aida sadari Firas berdiri di sebelahnya.
“Kamu sedang lihat apa?” tanya Firas.
Aida menoleh ke samping sebentar.
“Sayang kalau rumah sebesar ini dibiarkan kosong. Nanti akan rusak, karena tidak ada yang merawat,” kata Aida.
“Mau bagaimana lagi. Istri belum punya, anak juga belum punya. Tidak enak kalau tinggal di sini sendirian,” kata Firas.
__ADS_1
“Atau kamu mau tinggal di sini?” tanya Firas.
“Tidak ah, Pak. Terlalu jauh dari tempat kerja,” jawab Aida.
“Kamu harus berhenti bekerja kalau kamu kerja sama saya. Kamu jadi asisten rumah tangga sekaligus menjaga rumah. Saya akan menggaji kamu lebih besar dari gaji kamu di sana,” kata Firas.
“Bapak serius?” tanya Aida tidak percaya.
“Saya serius. Kamu kira saya cuma becanda,” jawab Firas.
Aida diam sambil memikirkan tawaran Firas. Jika ia bekerja dengan Firas, ia bisa bekerja sambil mengasuh Maira.
“Kalau kamu bekerja di sini, nanti kamu tinggal di pavilliun itu,” Firas menunjuk ke arah paviliun yang berada di belakang rumah Firas.
“Kamu pikirkan dulu baik-baik,” kata Firas.
“Ya, Pak,” jawab Aida.
Firas mengelurkan ponselnya dari saku celananya.
“Kita pesan makanan. Kamu mau makan apa?” tanya Firas.
“Tidak usah, Pak. Saya bawa bekal,” jawab Aida.
“Coba saya lihat,” kata Firas.
Aida berjalan menuju ke karpet dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas. Lalu memperlihatkan isi salah satu kepada Firas.
“Kelihatannya enak,” ujar Firas.
“Boleh saya coba?” tanya Firas.
Aida membuka kotak makanan yang lainnya.
“Saya juga bawa nasi banyak,” kata Aida.
“Ya, sudah. Saya tidak usah pesan makanan. Saya makan bekal kamu saja,” kata Firas.
“Bapak coba dulu. Takut rasanya tidak enak,” kata Aida.
Firas menyicipi sedikit makanan buatan Aida.
“Enak, kok,” ujar Firas.
“Saya makan ini saja,” kata Firas.
“Tapi mohon maaf kalau menunya terlalu sederhana,” ucap Aida.
“Tidak apa-apa. Saya juga suka dengan menu yang sederhana,” jawab Firas.
Aida membagi dua nasinya dan diberikan kepada Firas sebagian. Lalu merekapun makan siang bersama dengan lauk pauk yang sederhana.
Setelah selesai makan, Aida pun mulai bekerja membersihkan rumah Firas. Kebetulan Maira tidur siang dengan nyenyak sehingga tidak mengganggu mamahnya bekerja.
Aida bekerja hingga suara adzan ashar berkumandang. Aida menghentikan pekerjaannya untuk sholat ashar. Ketika selesai wudhu, Aida melihat Maira bangun tidur.
“Mamah sholat dulu, ya,” kata Aida.
__ADS_1
Maira pun mengangguk. Setelah selesai sholat Aida menyuapi Maira. Ia makan dengan lahapnya, mungkin perutnya lapar. Setelah selesai menyuapi Maira, Aida meneruskan pekerjaannya. Pukul lima sore Firas menyuruh Aida menghentikan pekerjaannya.
“Sudah sore, kita pulang. Besok diteruskan lagi pekerjaannya,” kata Firas.
Aida membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu ia membereskan barang bawaannya lalu menggulung karpet. Setelah selesai merekapun keluar dari rumah itu. Firas mengunci rumah pintu rumahnya.
“Saya saja yang menyetir. Kamu pasti cape habis bekerja,” kata Firas.
Aida pun duduk di kursi penumpang. Firas mengeluarkan mobilnya lalu menggembok pintu pagarnya. Kemudian mobilpun meluncur meninggalkan rumah Firas.
Firas mengantar Aida sampai depan jalan rumah Aida.
“Terima kasih sudah diantar pulang,” ucap Aida.
“Sama-sama, Aida. Besok pagi saya jemput lagi,” kata Firas.
“Tidak usah sarapan dulu. kita sarapan di luar saja,” kata Firas.
Aida menghela nafas. Sebenarnya ia tidak setuju sarapan di luar, namun karena Firas adalah bosnya mau tidak mau Aida harus mengikuti perkataan Firas.
“Baiklah, Pak,” jawab Aida.
Firas mengulurkan tangan kepada Maira. Maira langsung mencium tangan Firas.
“Jajah, Om,” kata Maira sambil melambaikan tangannya.
“Dadah, Maira,” Firas membalas lambaian tangan Maira.
“Assalamualaikum, Pak,” ucap Aida.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida.
Aida turun dari mobil Firas. Firas menunggu sampai Aida berjalan menjauh, barulah Firas menjalankan mobilnya.
***
Keesokan harinya Firas datang pagi-pagi sekali untuk menjemput Aida dan Maira.
“Kita cari sarapan dulu,” kata Firas sambil mengemudikan mobilnya.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Firas.
“Terserah Bapak,” jawab Aida.
“Maira, mau sarapan apa?” tanya Firas ke Maira.
“Bubul,” jawab Maira.
“Oke kita sarapan bubur ayam,” kata Firas,
Firas mengendarai mobilnya mencari penjual bubur ayam. Akhirnya sampailah mereka di sebuah kedai bubur ayam.
“Sudah sampai. Ayo Maira kita turun!” kata Firas.
Firas dan Aida turun dari mobil menuju ke kedai bubur ayam.
“Bang, bubur ayamnya tiga. Yang satu setengah porsi saja,” kata Firas ke penjual bubur.
__ADS_1
“Minumnya apa, Mas?’ tanya penjual bubur.
“Teh panas aja,” jawab Firas.