Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
40.Pakde Purnomo


__ADS_3

Tak lama kemudian Ibu Yani datang dengan membawa teh beserta dengan camilannya.


“Kebetulan kemarin Bude membuat kue. Ayo dicicipi kuenya!” Bu Yani menaruh toples dan cangkir di atasn meja.


“Mala au kue,” kata Maira sambil menunjuk ke toples yang berada di atas meja.


“Oh, boleh. Sini Uti ambilkan,” Ibu Yani membuka tutup toples lalu menyodorkan toples kepada Maira. Maira mengambil beberapa potong kue.


“Pakde pulang mengajar jam berapa?’ tanya Aida.


“Nanti siang Pakdemu baru pulang. Bude telepon Pakdemu dulu,” kata Ibu Yani.


“Eh, tidak usah Bude. Nanti siang Aida ke sini lagi,” cegah Aida.


“Nggak apa-apa, sesekali Pakdemu pulang cepat,” Ibu Yani masuk ke dalam rumah untuk menelepon suaminya. Beberapa menit kemudian Ibu Yani kembali lagi ke ruang tamu.


“Sebentar lagi Pakdemu datang,” kata Ibu Yani.


“Bude, Aida jadi menggangu Pakde,” kata Aida dengan menyesal.


“Udah tidak usah dipikirkan! Ayo diminum dan dicicipi kuenya,” ujar Ibu Yani.


Seperempat jam kemudian Pak Purnomo datang.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Purnomo ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


Aida menghampiri Pak Purnomo dan langsung mencium tangannya. Pak Purnomo memeluk Aida.


“Maafkan Pakde yang sudah menelantarkanmu,” ucap Pak Purnomo.


“Tidak apa-apa, Pakde. Aida mengerti,” jawab Aida.


Pak Purnomo melepaskan pelukannya.


“Maafkan atas semua kesalahan yang diperbuat oleh almarhumah Bude Lastri kepadamu,” ucap Pak Purnomo.


“Bude Lastri meninggal?” tanya Aida kaget.


“Iya. Budemu jatuh di kamar mandi sebulan setelah mengusirmu dari sini,” jawab Pak Purnomo.


“Innalilahi wa innailahi raaji’un,” ucap Aida dan Firas.


“Ketika Budemu meninggal Pakde meneleponmu, tapi teleponmu sudah tidak aktif. Setelah tujuh hari Budemu, Pakde menyusulmu ke Jakarta tapi rumahmu sudah disita oleh bank. Tidak ada satu orangpun yang tau kemana kamu pindah,” kata Pak Purnomo dengan menyesal.


“Pakde tanya ke Pakle Hendro dia malah jawab “Tidak Tahu” dengan ketus,” Pak Purnomo menghela nafas mengingat perkataan Pak Hendro.


“Mungkin karena kariernya sedang menanjak jadi ia bersikap sombong,” kata Pak Purnomo.


“Tidak apa-apa, Pakde. Aida baik-baik saja,” kata Aida.


Pak Purnomo melihat ke arah Firas dan Maira.


“Ini siapa?” tanya Pak Purnomo menunjuk ke Firas.


“Saya Firas, calon suami Aida,” jawab Firas.


“Kalau ini yang cantik siapa?’ tanya Pak Purnomo sambil mengusap kepala Maira.

__ADS_1


“Ini Maira anak angkat Aida,” jawab Aida.


“Kamu mengangkat anak?” tanya Pak Purnomo.


“Iya, Pakde,” jawab Aida.


Kemudian Aida menceritakan kejadian yang dialami olehnya kepada Pak Purnomo.


“Asatagfirullahaldzim. Kalau saja Pakde bisa tegas ke Budemu, tentu kamu tidak akan mengalami ini semua,” ucap Pak Purnomo sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“Tidak apa-apa, Pakde. Aida ikhlas menjalani semuanya,” kata Aida.


“Aida datang ke sini minta doa restu dari Pakde dan Bude. Tanggal tiga puluh agustus Aida akan menikah dengan Firas. Aida mengharapkan Pakde dan Bude datang ke pernikahan kami. Dan Aida minta Pakde yang menjadi wali nikah,” ujar Aida.


“Insya Allah Pakde dan Bude akan hadir di pernikahanmu. Dan Pakde yang akan menjadi wali nikah Aida,” ucap Pak Purnomo.


“Alhamdullilah. Terima kasih, Pakde,” ucap Aida.


Firas membisikkan sesuatu kepada Aida. Kemudian Aida mengambil amplop coklat dari dalam tasnya lalu diberikan ke Firas. Firas menghampiri Pak Purnomo. Firas berjongkok di depan Pak Purnomo.


“Pakde, ini untuk ongkos Pakde ke Jakarta,” kata Firas lalu memberikan amplop coklat itu kepada Pak Purnomo.


“Tidak usah! Sudah kewajiban Pakde untuk menikahkan Aida, jadi tidak usah diongkosi,” kata Pak Purnomo.


“Tidak apa-apa, Pakde. Terima saja! Itu dari Akang Firas untuk Pakde,” ujar Aida.


“Pakdemu ini masih punya gaji, jadi tidak usah diongkosi! Pakdemu ini ASN, loh,” kata Pak Purnomo.


Firas menghela nafas.


“Pakde, saya akan senang kalau Pakde mau menerimanya,” kata Firas.


Pak Purnomo berpikir sebentar.


“Alhamdullilah,” ucap Firas.


“Selama di Jakarta, sudah disiapkan penginapannya dan tiket untuk pulang ke Wonosobo oleh karyawan saya,” kata Firas.


“Loh, kenapa dikasih tiket pulang juga? Ini sudah cukup untuk ongkos pulang pergi Pakde dan Budemu,” sahut Pak Purnomo.


“Tidak apa-apa, Pakde,” jawab Firas.


“Bude tinggal dulu, ya. Bude mau masak dulu,” pamit Ibu Yani.


“Kalian harus makan siang di sini!” kata Ibu Yani lagi.


“Tidak usah repot-repot, Bude,” kata Aida.


“Tidak merepotkan kok,” Ibu Yani langsung menuju ke dapur.


Sambil menunggu Ibu Yani masak Pak Purnomo berbincang-bincang dengan Firas dan Aida.


“Maira sama Om Firas dulu, ya. Mamah mau bantu Uti masak,” kata Aida.


Maira mengangguk. Aida menaruh Maira di atas pangkuan Firas.


“Kang, titip Maira. Aida mau bantu Bude masak,” kata Aida.


“Iya,” jawab Firas.

__ADS_1


Aida langsung menuju ke dapur.


“Bude, Aida bantu, ya,” kata Aida.


“Eh, tidak usah. Ini sudah mau seslesai masaknya,” kata Ibu Yani sambil mematikan kompor.


Ibu menempatkan lauk pauk ke atas piring.


“Nih sudah matang. Ayo kita makan,” Ibu Yani membawa makanan ke ruang makan.


“Panggil Pakde dan calon suamimu! Kita makan sekarang,” kata Ibu Yani.


Aida berjalan menuju ke ruang tamu.


“Pakde – Kang Firas, kata Bude makan. Makanannya sudah siap,” sahut Aida.


“Tuh makanannyanya sudah siap. Ayo kita makan dulu,” kata Pak Purnomo.


Pak Purnomo, Firas dan Maira menuju ke ruang makan. Mereka duduk di meja makan.


“Maaf ya, lauknya seadanya,” kata Ibu Yani.


“Tidak apa-apa, Bude,” kata Aida.


Merekapun makan siang bersama. Setelah makan siang Aida dan Firas pamit untuk mencari hotel.


“Kenapa harus tidur di hotel? Tidur di sini saja. Di sini banyak kamar kosong,” kata Pak Purnomo.


“Sekalian ngajak Maira main ke dataran tinggi Dieng. Lagipula kami akan pulang ke Jakarta besok subuh. Nanti merepotkan Pakde dan Bude,” kata Firas.


“Ya sudah, kalau mau tidur di hotel tidak apa-apa,” kata Pak Purnomo.


“Ada hotel baru di jalan ke Dieng, letaknya di sebelah kanan. Kata orang-orang tempatnya nyaman,” kata Pak Purnomo.


“Bapak tau darimana kalau menginap di situ nyaman? Memangnya Bapak pernah menginap di situ?” tanya Ibu Yani dengan curiga.


“Itu loh Bu, kata orang-orang. Saudara-saudara mereka kalau datang ke Wonosobo suka mennginap di hotel itu. Katanya dekat ke Dieng,” jawab Pak Purnomo.


“Oohh Ibu kirain Bapak pernah menginap di hotel itu,” kata Ibu Yani.


“Ibu ini bagaimana, sih? Bapak kalau menginap di situ pasti sama Ibu,” ujar Pak Purnomo.


“Sudah ah, Pak. Malu kedengaran anak-anak dan cucu,” kata Ibu Yani.


“Maaf ya, Aida Nak Firas. Bude jadi tidak enak dengan kalian,” ucap Ibu Yani.


“Tidak apa-apa, Bude,” jawab Aida.


“Kami pamit dulu,” Aida dan Firas mencium tangan Pak Purnomo dan Ibu Yani.


“Maiira, salam dulu sama Uti dan Akung,” kata Aida.


Maira langsung mencium tangan Pak Purnomo dan Ibu Yani.


“Muah.”


“Pinter Cucu Akung,” Pak Purnomo mengusap kepala Maira.


“Hati-hati di jalan,” kata Pak Purnomo.

__ADS_1


“Iya, Pakde. Assalamualaikum,” ucap Aida.


“Waalaikumsalam,” Firas dan Aida pergi meninggalkan rumah Pak Purnomo sambil menuntun Maira.


__ADS_2