Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
48. Menikah


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Firas dan Aida. Sebelum adzan subuh berkumandang Aida sudah harus bangun dan mandi karena akan dimake up. Kamar Aida penuh dengan penata rias yang akan memake up wajahnya, namun Maira tidak terganggu dengan kedatangan mereka. Batita itu masih tertidur pulas. Aida lega karena Maira tidak mengganggunya, sehingga ia bisa dimake up dengan tenang.


Menjelang pukul setengah enam pagi mulai ada pergerakan Maira, sepertinya batita itu sudah bangun. Maira menatap sekeliling kamarnya yang penuh dengan penata rias.


“Mama!” panggil Maira.


Mendengar suara Maira, Aida hanya bisa melirik melalui kaca.


“Maira sudah bangun?” tanya Aida.


“Au pipis,” kata Maira.


“Pipis sama Kakak Hainifah, ya!” kata Aida.


“Au cama Mama,” kata Maira.


Aida menghela nafas.


“Sebentar, saya mau memanggil pengasuh anak saya dulu,” kata Aida kepada penata rias.


Penata rias menghentikan pekerjaannya.


“Mamah panggilkan Kakak Hanifah, ya,” kata Aida.


Aida menutup rambutnya dan badannya dengan menggunakan kain. Ia berjalan menuju keluar kamar. Ketika keluar dari kamarnya ada Firas yang sedang sarapan. Aida tidak menyapa Firas, ia langsung jalan nyelonong begitu saja sambil menunduk. Firas merasa ada yang lewat di sebelahnya langsung menoleh. Ia melihat Aida menutup kepala dan tubuhnya dengan menggunakan kain. Aida berjalan menuju ke dapur untuk memanggil Hanifa yang sedang sarapan di dapur.


“Hanifa!” panggil Aida.


“Iya, Bu,” jawab Hanifa yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


“Sudah selesai sarapan?” tanya Aida.


“Sudah, Bu,” jawab Haifa.

__ADS_1


“Tolong urus Maira dulu! Dia sudah bangun,” kata Aida.


“Baik, Bu,” Hanifa langsung beranjak menuju ke kamar Aida.


Aida kembali ke kamarnya, namun ketika melewati ruang makan ia bertemu dengan Firas lagi. Aida menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh Firas. Ketika Aida lewat sebelah Firas, Firas menatap Aida. Aida terus saja menundukkan wajahnya tanpa menyapa Firas. Firas terus saja memperhatikan pergerakan Aida sampai Aida masuk ke dalam kamar tamu. Setelah masuk kamar tamu Aida langsung menarik nafas lega.


Bukan maksud Aida tidak mau menyapa Firas, namun karena ia sedang dipingit dan tidak boleh bertemu dengan Firas. Keadaannya sedang genting dengan terpaksa mereka harus tinggal serumah. Selama dipingit Aida dilarang keluar dari kamar kalau tidak ada keperluan. Maira diurus oleh Ibu Poppy dan para asisten rumah tangga. Namun kemarin sore Ricky datang mengantarkan Hanifa untuk membantu Aida mengurus Maira.


Di dalam kamar Hanifa sedang membujuk Maira untuk mau ke kamar mandi. Aida kembali ke meja rias dan lanjut dimake up kembali.


“Mandi sama Kakak, ya!” kata Hanifa kepada Maira.


“Nga au. Au cama Mama,” jawab Maira sambil merengek.


“Itu lihat Mamahnya sedang di dandani, nanti bedaknya luntur kalau memandikan Maira,” kata Hanifa.


Maira menoleh ke Aida yang sedang dimake up.


“Mala au kaya Mama,” ujar Maira.


Maira langsung mengangkat kedua tangannya.


“Enong,” kata Maira.


Hanifa langsung mengendong Maira dan membawa ke kamar mandi. Melihat Hanifa berhasil membujuk Maira, Aida langsung bernafas lega.


Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponsel Aida. Aida mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.


Akang Firas:


Kamu cantik. Walaupun ditutupi tetap saja kelihatan cantiknya.


Aida tersenyum membaca pesan dari Firas. Ia tidak membalas pesan itu, cukup hanya di read saja.

__ADS_1


Pukul delapan pagi Aida sudah selesai di rias dan siap untuk berangkat ke gedung. Aida menggunakan gaun pengantin muslim. Selama Aida berada di luar kamarnya, Firas dilarang keluar dari kamarnya. Ia boleh keluar dari kamar setelah Aida dan keluarganya berangkat ke masjid. Aida berangkat dengan menggunakan mobil Firas di damping oleh Pak Purnomo dan Ibu Yani.  Sedangkan Ibu Sekar dan Pak Mulyono naik mobil MPV bersama dengan Ibu Ida, Pak Aan, Pak RT dan Bu Rt. Maira dan Hanifah menggunakan mobil Ricky. Iring-iringan mobil keluarga Aida berangkat meninggalkan rumah Ibu Poppy menuju ke masjid agung Al Azhar Kebayoran Baru. Setelah iring-iringan pengantin wanita berangkat, kini waktunya pengantin pria dan keluarga berangkat ke masjid agung Al Azhar.


Sesampai di masjid Aida dan rombongan keluarganya langsung masuk ke dalam masjid. Mesjid nampak dijaga ketat oleh para bodyguard. Di dalam mesjid sudah ada Pak Joko suami Ibu Marlina yang ditemani oleh putranya yang bernama Prima. Hadir pula Ibu Lili istri dari Pak Hendro yang ditemani oleh Puspa dan Irwan. Aida terharu melihat kehadiran mereka, walaupun mereka bukan pakde dan bule langsung namun kehadiran mereka sangat berarti bagi Aida.


Aida mendekati Pak Joko dan Ibu Lili dan mencium tangan mereka satu persatu.


“Maafkan budemu yang tidak hadir di pernikahanmu. Doakan semoga bude segera menyadari kesalahannya,” kata Pak Joko.


“Iya, Pade,” jawab Aida.


Dan ketika Aida mencium tangan Ibu Lili, Ibu Lili langsung memeluknya.


“Maafkan paklemu. Semoga paklemu menyadari semua kekhilafanya,” ucap Ibu Lili.


“Iya, Bule,” jawab Aida dengan terharu.


“Sudah jangan menangis! Nanti make upmu luntur,” kata Ibu Lili.


Aida menyalami saudara sepupuhnya satu persatu. Tak lama kemudian rombongan pengantin pria datang dan akad nikah segera dilaksanakan.


Sebelum ijab Kabul dilaksanakan Aida diantar oleh Ibu Yani dan Ibu Ida untuk duduk di samping Firas. Ketika Aida yang sedang berjalan menuju ke arah Firas, Firas melihat mata Aida yang berkaca-kaca seperti habis menangis.


“Kenapa?” bisik Firas ketika Aida duduk di sebelahnya.


“Pakde Joko dan Bule Lili datang ke akad nikah kita,” bisik Aida.


“Alhamdullilah,” ucap Firas.


“Akang dan Teteh jangan bisik-bisik terus! Bisik-bisiknya nanti kalau sudah sah!” kata penghulu yang melihat Firas dan Aida saling berbisik.


Kemudian ijab kobul pun dimulai. Kata “Sah” pun terdengar dari para tamu yang hadir. Alhamdullilah Firas dan Aida sudah resmi menjadi suami istri. Firas menyematkan cicin nikah di jari manis Aida dan Aida menyematkan cicin di jari manis Firas. Penyematan cincin nikah ditutup dengan kecupan Firas di kening Aida. Aida merasa haru sekaligus bahagia karena sudah resmi menjadi istri Firas.


Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sedang memperhatikan akad nikah mereka dari balik kaca jendela masjid. Ia adalah Vivin. Ia menatap dengan penuh kekesalan kepada kedua mempelai pengantin  itu. Tadi ia berusaha untuk masuk ke dalam masjid namun dilarang oleh para bodyguard dengan alasan Vivin tidak bisa menunjukkan undangan yang diberikan oleh kedua mempelai. Vivin kesal karena tidak bisa masuk ke dalam masjid.

__ADS_1


Selesai acara akad nikah Firas dan Aida langsung menuju aula masjid untuk dilanjutkan dengan acara resepsi. Firas dan Aida masuk ke dalam aula diiringi dengan alunan musik saxophone.


__ADS_2