
Mobil yang dikendarai Firas berhenti di halaman rumah orang tua Firas. Firas dan Aida turun dari mobil, Firas membawa tas plastik yang berisi dus kue. Mereka masuk ke dalam rumah melalui garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Aida dan Firas ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Bi Ijah.
Bi Ijah sedang membereskan ruang keluarga yang berantakan sepertinya bekas Maira main.
“Mamah mana, Bi?” tanya Firas.
“Di dapur. Lagi buat susu untuk Non Maira,” jawab Bi Ijah.
Firas menyimpan belanjaannya di atas meja makan lalu menarik kursi makan untuk Aida.
“Kamu duduk dulu,” kata Firas.
Aida mengikuti perintah Firas. Kemudian Firas pergi ke dapur menemui mamahnya. Di dapur Maira sedang berdiri di sebelah Ibu Poppy. Kepala batita itu mengarah ke atas, ia sedang memperhatikan Ibu Poppy sedang membuat susu untuknya.
“Maira lagi apa?” tanya Firas yang berdiri di depan pintu.
Maira menoleh ke Firas.
“Ajih iyat Nin bibim cucu,” jawab Maira.
“Mama ana?” tanya Maira.
“Ada tuh, lagi duduk di ruang makan,” jawab Firas.
Maira langsung lari ke ruang makan dan menghampiri mamahnya.
“Mama,” Maira memeluk Aida.
Aida tersenyum sambil mengusap rambut anaknya.
“Tadi Maira pintar, nggak?” tanya Aida.
“Mala pintel, nga anyis, nga akal,” jawab Maira.
“Ah, pinter anak Mama,” Aida mencium pucuk kepala Maira.
Ibu Poppy datang membawa dot Maira.
“Maira, ini susunya,” Ibu Poppy memberikan dot kepada Maira.
“Bilang apa, Nak?” tanya Aida.
“Ma acih, Nin,” jawab Maira.
Aida menidurkan Maira di pangkuannya agar Maira mudah mengedot susunya. Aida mencium-cium anak kesayangannya.
“Bagaimana tadi di bank. Bisa safe deposite box nya dibuka?” tanya Ibu Poppy.
“Terpaksa dibongkar, Mah. Karena Aida tidak punya kunci boxnya,” jawab Firas.
“Ya sudah, mau bagaimana lagi,” kata Ibu Poppy.
“Terus kenapa muka kamu kelihatan sedih?” tanya Ibu Poppy.
“Di dalam kotak itu ada foto dan surat dari mamahnya,” jawab Firas.
“Oh,” kata Ibu Poppy.
“Sepertinya mamah Aida sudah punya firasat kalau hidupnya tidak lama. Bahkan beliau berpesan kalau beliau tidak datang ke bank lebih dari sebulan, pihak bank disuruh menelepon Aida. Waktu menelepon Aida, Aida tidak datang. Selanjutnya mereka kesulitan menelepon Aida karena Aida mengganti nomor telepon. Jadi bank BNA mencari informasi Aida, sampai mereka bisa mendapatkan nomor telepon Pak Tito mantan asisten papah Aida,” kata Firas menceritakan apa yang dikatakan oleh bank BNA.
__ADS_1
Ibu Poppy menghela nafas mendengar cerita Firas.
“Ya sudah, yang penting sekarang kamu bisa mendapatkan hakmu,” kata Ibu Poppy kepada Aida sambil mengusap rambut Aida.
Maira mengenyot dotnya sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
“Sekarang kita makan dulu. Mpok Lani sudah selesai masak,” kata Ibu Poppy.
“Sebentar, Tante suruh Mpok Lani siapkan makanannya,” Ibu Poppy pergi ke dapur menyuruh asisten rumah tangga menyiapkan makanan.
Tak lama kemudian Ibu Poppy kembali dari dapur.
“Ini apa, A?” tanya Ibu Poppy melihat kotak kue yang masih berada di dalam kantong plastik.
“Itu kue. Tadi Aa beli kue untuk Maira,” jawab Firas.
Mendengar kata "kue" Maira langsung berhenti mengedot. Ia langsung bangun.
“Mala au uweh,” kata Maira.
“Maira makan dulu, baru makan kue,” sahut Ibu Poppy.
Mendengar perkataan Ibu Poppy, Maira langsung memasang muka sedih.
“Mama, au uweh,” kata Maira dengan manja kepada mamahnya.
“Makan dulu, sayang. Baru makan kue,” jawab Aida sambil mengusap rambut Maira.
Akhirnya Maira menurut perkataan mamahnya. Maira makan disuapi mamahnya. Setelah selesai makan ia dikasih sepotong kue oleh Ibu Poppy. Wajah Maira berbinar ketika melihat kue.
“Hmmm enyak, deh,” ujar Maira ketika makan sesuap kue.
Ibu Poppy tertawa melihat apa yang Maira lakukan.
“Maira suka kue, ya?” tanya Ibu Poppy.
Tiba-tiba Andri datang.
“Assalamualaikum,” ucap Andri.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang berada di ruang makan.
“Wah lagi pada kumpul, nih,” kata Andri melihat semua orang sedang duduk di meja makan.
“Eh, ada Maira,” ujar Andri.
“Kapan datangnya?” tanya Andri.
“Tadi pagi,” jawab Aida.
Andri melihat kue di atas meja makan, dengan secepat kilat Andri mengarahkan tangannya ke kotak kue. Namun naas karena Ibu Poppy langsung memukul tangan putra bungsunya.
“Aduh! Sakit, Mah!” ujar Andri.
“Cucu tangan dulu! Tangan kamu kotor!” seru Ibu Poppy.
Andri langsung menuju ke wastafel untuk cuci tangan. Setelah selesai cucu tangan ia kembali ke meja makan.
“Tuh, tangan Andri sudah bersih,” Andri memperlihatkan telapak tangannya ke mamahnya. Lalu ia mengambil kue yang berada di dalam kotak kue.
“Banyak sekali kuenya. Dalam rangka apa beli kue sebanyak ini?” tanya Andri sambil mengunyah kue.
“Itu kue untuk Maira. Tadi Aa beli setelah pulang dari bank,” jawab Ibu Poppy.
__ADS_1
“Anak kecil kok dikasih kue sebanyak ini? Nanti sakit perut, loh,” ujar Andri sambil mengambil kue lagi.
Setelah Maira menghabiskan kuenya, Aida pun pamit pulang.
“Tante, Aida pamit pulang,” kata Aida.
“Kok buru-buru? Di sini aja dulu, nanti sore pulangnya. Atau nginap saja di sini,” sahut Ibu Poppy.
“Sudah siang, sebentar lagi Maira ngantuk,” jawab Aida.
“Tidak apa-apa kalau Maira mengantuk. Nanti tidur di kamar tamu,” kata Ibu Poppy.
“Kalau Teteh Aida menginap di sini, nanti Aa Firas bisa sorak kegirangan,” sahut Andri sambil mengunyah kue.
Andri dari tadi tidak berhenti makan kue.
“Hus! kamu ada-ada saja,” ujar Ibu Poppy.
“Kalian menginap di sini saja, ya!” kata Ibu Poppy.
“Terima kasih, Tante. Lain kali saja,” jawab Aida.
“Ya, sudah kalau mau pulang. Kalau ada apa-apa telepon Tante, ya!” kata Ibu Poppy.
“Baik, Tante,” jawab Aida.
Ibu Poppy mengambil sekotak kue dan diberikan kepada Aida.
“Untuk kamu dan Maira,” kata Ibu Poppy.
“Tidak usah, Tante! Tadi saya dan Maira sudah makan kue,” tolak Aida.
“Firas beli kue ini untuk kamu dan Maira. Ambillah!” kata Ibu Poppy.
Aida menerrima kotak kue yang diberikan Ibu Poppy.
“Terima kasih, Tante,” ucap Aida.
“Jangan berterima kasih ke Tante. Berterima kasihlah kepada Firas. Dia kan yang membelikan kue,” jawab Ibu Poppy.
“Terima kasih, Pak,” ucap Aida.
“Hmm,” kata Firas sambil menganggukkan kepalanya.
“Mah, Aa anter Aida dulu. Terus langsung ke kantor,” pamit Firas.
“Iya,” jawab Ibu Poppy.
“Maira, salam dulu sama Enin,” kata Aida.
Maira mencium tangan Ibu Poppy.
“Muah,” suara khas Maira ketika mencium tangan.
“Assalamualaikum,” ucap Aida.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Poppy.
Aida menuntun Maira keluar dari rumah Ibu Poppy. Di depan rumah mereka bertemu dengan Salfa yang baru pulang kuliah. Salfa datang bersama Vivin.
“Eh, ada Mas Firas,” ujar Vivin dengan mata berbinar.
“Mau kemana, Mas?” tanya Vivin.
__ADS_1
“Mau mengantar Aida pulang,” jawab Firas.
“Ikut, dong!” seru Vivin yang langsung menempel ke Firas.