Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
62. Ibu Hamil


__ADS_3

Hari senin pun tiba. Firas membawa Aida ke dokter kandungan. Ia tidak lupa membawa Maira, agar Maira bisa melihat adiknya. Saat ini mereka sudah berada di ruang tunggu poli kandungan di sebuah rumah sakit.


“Ibu Aida,” suster Tri Desi memanggil Aida. Mereka masuk ke dalam kamar periksa.


“Selamat pagi,” sapa dokter Nda Dha Thoel.


“Pagi, dok,” jawab Firas dan Aida.


Firas dan Aida duduk di bangku yang telah di sediakan. Maira dipangku oleh papahnya.


“Ada keluhan apa, Bu?” tanya dokter Nda Dha Thoel. Aida menceritakan semuanya ke dokter Nda Dha Thoel.


“Oke, kita lihat dulu,” kata dokter Nda Dha Thoel.


Aida naik ke tempat tidur. Suster Tri Desi membantu Aida menyingkap pakaiannya dan mengoleskan gel di perut Aida. Setelah itu barulah dokter Nda Dha Thoel memeriksa Aida. Dokter Nda Dha Thoel memainkan alat USG di atas perut Aida. Mata dokter Nda Dha Thoel fokus kepada layar monitor.


“Selamat, ya. Ibu sedang hamil. Usia kandungan sudah tujuh minggu. Tapi kantung ketubannya ada tiga,” kata dokter Nda Dha Toel.


Aida dan Firas bingung dengan perkataan dokter. “Maksud Dokter apa?” tanya Firas dengan bingung.


“Ibu Aida hamil kembar tiga,” jawab dokter Nda Dha Thoel.


“Hah? Kembar tiga?” kata Firas dan Aida berbarengan.


“Iya, Kakak akan punya adik banyak,” ujar dokter Nda Dha Thoel. “Alhamdulillah,” ucap Firas.


Firas begitu bahagia mendengar perkataan dokter, dia akan punya anak tiga sekaligus. Aida bukan tidak bahagia, ia bingung. Bagaimana caranya ia harus mengurus tiga bayi sekaligus? Sewaktu Maira masih bayi, ia kewalahan harus mengurus bayi seorang diri. Bahkan ia kurang tidur karena Maira sering bangun tengah malam. Akibatnya ia sering kelelahan ketika sedang bekerja.


Selama perjalanan pulang ke rumah Firas menyetir sambil tersenyum berseri-seri, hatinya sedang berbunga-bunga. Ini adalah jawaban doanya selama ini. Allah begitu sayang padanya, istrinya sedang hamil kembar tiga.


“Akang senang ya, punya anak banyak?” tanya Aida melihat suaminya senyum-senyum terus.


“iya, dong,” jawab Firas dengan ceria. Aida menghela nafas mendengarnya.


“Kang, ngurus satu bayi tidak gampang. Apalagi ini tiga sekaligus,” kata Aida.


“Kalau Allah memberikan kita anak kembar tiga, itu tandanya Allah mempercayakan kepada kita,” ucap Firas sambil fokus menyetir.


“Kamu tenang saja. Kamu cukup menikmati kehamilanmu. Urusan yang lain-lain, biar menjadi urusanku,” kata Firas.


“Maksud Akang apa?’ tanya Aida.


“Aku akan menambah satu assisten rumah tangga untuk melayanimu. Dan jika anak kita lahir aku akan menggaji tiga orang baby sitter untuk membantumu mengurus anak-anak kita. Jadi kamu tidak perlu report mengurus bayi,” jawab Firas.


Sebenarnya Aida ingin mengurus sendiri anak-anaknya, seperti ia mengurus Maira. Namun kenyataannya ia harus mengurus tiga bayi sekaligus, tentu saja ia tidak sanggup. Ia perlu bantuan orang lain untuk mengurus anak anaknya.


Aida menoleh ke bangku belakang, Maira duduk di kursi bayi sambil ketiduran.


Bagaimana dengan Maira? Aku tidak ingin ia kurang kasih sayang karena memiliki tiga adik sekaligus, kata Aida.


Ya Allah, mudahkanlah kehamilan hamba agar hamba masih bisa memperhatikan Maira. Hamba tidak ingin Maira kurang kasih sayang dan kurang perhatian hanya karena mamahnya sedang hamil kembar tiga. Aamiin, ucap Aida dalam hati.


“Kamu mau makan apa?” tanya Firas sambil menoleh ke Aida.


“Aida mau makan nasi Padang pake ikan bakar,” jawab Aida.


“Siap, Ibu Bos,” ujar Firas.

__ADS_1


“Tapi dibungkus aja, Kang. Maira lagi tidur,” kata Aida.


“Siap, laksanakan!” ujar Firas.


Firas menyetir mobilnya menuju rumah makan Padang yang terkenal di daerah Jakarta Selatan.


***


Selama kehamilan Aida tidak mengalami morning sick sama sekali, hanya saja ia lebih sering mengalami sakit kepala. Aidapun tidak pernah mengidam yang anah-aneh, ia lebih sering mengidam makanan yang enak-enak dan mudah didapat. Sehingga Firas tidak kesulitan mencari makanan yang diinginkan oleh Aida.


Hal itu membuat Ibu Poppy dan Ibu Ida semangat memasak makanan untuk Aida. Mereka sering menanyakan “Mau dimasakin apa?” kepada Aida. Aida sering menolak tawaran mereka karena tidak ingin merepotkan mereka.


Pagi ini Ibu Ida menelepon menelepon Aida. “Da, kamu mau makan apa? Biar ibu masakan,” kata Ibu Ida.


“Tidak usah, Bu. Ada Bi Sumi yang memasak untuk Aida,” jawab Aida.


“Atau kamu mau Ibu buatkan apa? Rujak atau sop buah? Biasanya bumil senang yang seger-seger,” kata Ibu Ida.


“Rujak sepertinya enak, deh. Tapi Aida mau buahnya yang matang dan manis,” ujar Aida.


“Kamu aneh, kok sukanya buah yang manis bukan yang asem?” tanya Ibu Ida.


“Tidak tau, Bu. Aida maunya yang manis-manis,” jawab Aida.


“Ya sudah. Nanti Ibu buatkan. Nanti Ibu suruh Bang Nasir yang mengantarnya ke rumahmu,” kata Ibu Ida.


“Terima kasih, ya. Sudah mau membuatkan rujak untuk Aida,” ucap Aida.


“Sama-sama, Aida,” jawab Ibu Ida.


Tadinya Aida hendak menyuruh Pak Cokro supirnya untuk mengambil rujak di rumah Ibu Ida. Tapi setelah ia pikir pikir, tidak ada salahnya menyuruh Bang Nasir yang mengantarkan ke rumahnya. Hitung-hitung membagi rejeki kepada orang lain.


“Da, kamu mau Mamah masakin apa?” tanya Ibu Poppy.


Sebenarnya Aida ingin menolak tawaran mertuanya, tapi ia takut mertuanya kecewa.


“Apa ya, Mah? Aida bingung,” jawab Aida.


“Mau sop kacang merah pakai tulang iga atau mau apa?” tanya Ibu Poppy.


Aida diam sejenak untuk berpikir. “Kalau garang asem, Mamah bisa tidak masaknya?” tanya Aida.


“Bisalah, tinggal lihat di y*utube,” jawab Ibu Poppy.


“Belimbing sayur di kebun belakang sedang berbuah. Buahnya lebat sekali. Bisa untuk masak garang asam,” kata Ibu Poppy.


“Tapi Aida mau pake ayam kampung,” kata Aida.


“Iya, tidak apa-apa. Nanti Mamah buatkan ayam kampung garang asam,’ ujar Ibu Poppy.


Mendengar namanya Aida sudah kebayang betapa nikmatnya.


“Terima kasih ya, Mah. Sudah mau memasak makanan untuk Aida,” ucap Aida.


“Sama-sama, Da,” jawab Ibu Poppy.


Ketika Firas pulang kantor ia melihat Aida sedang makan garang asam. Aida makan dengan lahap. Tambah besar kehamilan Aida, tambah besar nafsu makan Aida. Aida bawaannya lapar terus. Firas tidak masalah jika istrinya makan banyak. Yang penting istrinya dan bayi-bayi dalam kandungan dalam keadaan sehat.

__ADS_1


***


Waktu terus berlalu kehamilan Aida tambah lama tambah membesar.  Aida sering check up ke dokter kandungan untuk memastikan ketiga bayinya dalam keadaan baik-baik saja. Setiap check up ke dokter, Aida selalu membawa Maira. Ia ingin Maira melihat perkembangan adik-adiknya. Seperti sekarang ini mereka sedang check up kandungan Aida.


“Papa, kok ade bayinya nga ada cualanya?” tanya Maira ketika melihat adik-adik bayinya melalui layar televisi.


“Kan masih di dalam perut Mamah. Nanti kalau sudah keluar, baru kedengaran suaranya,” jawab Firas.


Kemudian dokter Nda Dha Thoel memasang alat untuk mendengar suara denyut jantung bayi. Terdengar suara dug dug dug dug.


“Hah, cuala apa tuh?” tanya Maira.


“Itu suara denyut jantung bayi,” jawab Firas.


“Bayi-bayinya sehat. Suara denyut jantungnya bagus,” kata dokter Nda Dha Thoel.


“Alhamdullilah,” ucap Aida dan Firas.


Sewaktu pulang dari rumah sakit, seperti biasa mata Aida selalu memperhatikan penjual makanan yang berjajar di pinggir jalan.


“Kamu ingin makan sesuatu?” tanya Firas.


“Aida mau makan baso rudal,” jawab Aida.


“Boleh. Belinya dimana?” tanya Firas.


“Di dekat rumah saja, yang kelewatan jalan pulang,” jawab Aida.


Ketika sudah mendekati rumah mereka, Firas menghentikan mobinya di dekat kios baso.


“Dibungkus, ya! Makannya di rumah saja,” kata Firas.


“Iya. Lagipula Aida pengen pipis,” jawab Aida.


Firas kaget mendengarnya. Ia takut Aida tidak bisa menahan pipis, semenjak hamil Aida sering mau pipis.


“Bisa tahan, tidak? Kalau tidak bisa menahan, kita pulang dulu,” kata Firas dengan cemas.


“Masih bisa tahan, belum pengen banget,” jawab Aida.


“Ya, sudah. Kamu tunggu di mobil sama Maira. Aku yang belikan bakso. Mudah-mudahan kios basonya kosong,” kata Firas.


Firas turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kios penjual baso. Kebetulan kios bakso dalam keadaan kosong sehingga penjualnya membuatkan pesanan Firas dengan cepat. Setelah pesanannya selesai, Firas kembali ke mobilnya. Aida menunggunya sambil berbicara dengan Maira. Maira menanyakan banyak hal kepada Aida.


“Kok cepat, Kang?” tanya Aida ketikat Firas masuk ke dalam mobil.


“Kebetulan pembelinya sedang sepi,” jawab Firas. Firas memberikan plastik yang berisi baso kepada Aida.


“Ayo, Kang. Cepatan pulang!” kata Aida.


“Kenapa? Kamu udah tidak kuat menahan pipis?” tanya Firas dengan cemas.


“Bukan tidak kuat nahan pipis. Tapi Aida sudah lapar sekali,” jawab Aida sambil mengusap perutnya. Firas langsung bernafas lega.


“Oke, kita jalan sekarang,” kata Firas. Firas pun mejalankan mobilnya menuju ke rumah.


.

__ADS_1


.


Deche paling tidak bisa bikin adegan morning sick. Deche hamil 4 kali belum pernah mengalami morning sick. Keluhan Deche hanya sakit kepala. Kalau soal makanan, persis seperti orang kelaparan. Bawaannya pengen makan melulu. Dan Deche ngak suka buah yang rasanya asem. Jadi kl ngerujak, buahnya harus yang manis. 😅


__ADS_2