Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
51. Bercak Darah


__ADS_3

Bagi yang sedang puasa disarankan membaca setelah berbuka puasa.


***


Setelah sholat magrib Ricky masuk ke kamar Maira.


“Kita makan di kamar saja, ya. Saya cape kalau makan di luar,” kata Ricky kepada Hanifa.


“Iya, Pak. Tidak apa-apa,” jawab Hanifa.


Ricky mengambil daftar menu restauran yang ada disimpan dekat telepon lalu diberikan kepada Hanifa.


“Kamu pilih sendiri yang kamu mau,” kata Ricky.


“Saya mau beef steak dan minumnya air mineral saja. Pilihkan makanan yang aman untuk Maira. Kalau sudah kamu telepon ke nomor ini dan sebutkan semua pesananya,” kata Ricky lalu menunjukkan nomor yang harus dihubungi.


“Baik, Pak,” jawab Hanifa,


Ricky kembali ke kamarnya. Hanifa memilih makanan yang ia inginkan, setelah itu ia menelepon ke dining room.


Sejam kemudian makanan mereka datang. Ricky dan Hanifa makan di kamarnya masing-masing. Hanifa makan sambil menyuapi Maira.


Setelah selesai makan Hanifa mengajak Maira gosok gigi.


“Maira, kita gosok gigi dulu,” kata Hanifa.


Hanifa membawa Maira ke kamar mandi. Setelah selesai menggosok gigi Maira, Hanifa sholat isya. Selama Hanifa sholat Maira ke kamar ayahnya.


Setelah Hanifa sholat ia melihat ke kamar Ricky. Ricky dan Maira sudah tidur. Mungkin mereka kecapean karena seharian beraktifitas. Hanifa mematikan televise dan lampu kamar lalu menutup pintu penghubung. Hanifa pun tidur di kamarnya.


Tengah malam ketika semua orang sedang terlelap tidur, sayup-sayup Hanifa mendengar suara anak kecil sedang menangis. Hanifa langsung membuka matanya.


“Maira” bisik Hanifa.


Cepat-cepat Hanifa bangun dari tempat tidur dan membuka pintu penghubung. Hanifa melihat Maira sedang menangis sambil memanggil-manggil mamahnya. Ricky sedang membujuk anaknya untuk berhenti menangis.


“Heu heu heu Mala au bobo cama Mama,” kata Maira sambil menangis.


“Mamah sedang bobo, Maira bobo sama ayah saja,” bujuk Ricky.


“Nga au! Mala au bobo cama Mama. Nga au cama Ayah,” kata Maira.


Hanifa memberanikan diri masuk ke dalam kamar Ricky.


“Maira bobo sama Kakak, ya,” kata Hanifa.


“Mala au pipis,” kata Maira.


“Ayo kita pipis,” Hanifa menggendong Maira lalu membawa Maira ke kamar mandi di kamarnya. Setelah selesai pipis Hanifa memberikan Maira susu. Batita itu ngedot sambil tidur. Hanifa memiliki kesempatan untuk sholat tahajud, Setelah selesai sholat tahajud Hanifa tidur di sebelah Maira. Ia pun menemani Maira tidur.


***


Kita kembali ke pengantin.


Pukul empat subuh Aida terbangun dari tidurnya. Ada sebuah tangan yang melingkar di atas perutnya. Ini bukan tangan yang biasa di atas diperutnya. Biasanya tangan yang berada di atas perutnya kecil dan mungil, serta pemilik tangan kecil itu wangi bayi. Namun kali ini tangan yang berada diatas perutnya besar dan kokoh, serta pemilik tangan itu wangi maskulin. Aida menoleh ke samping, ia melihat suaminya tidur dengan nyenyak. Dirabanya pipi suaminya terasa kasar oleh bulu jenggot yang sudah mulai mulai tumbuh. Antara percaya dan tidak melihat seorang pria tidur di sebelahnya, ini bagaikan mimpi. Tiba-tiba Firas bergerak.


“Hemm,” gumam Firas yang masih tidur.


Firas terusik tidurnya karena belaian lembut tangan Aida di pipinya. Aida melepaskan tangannya dari pipi Firas.


Perlahan Aida bangun dari tempat tidur. Tangan kekar itu diangkat secara perlahan dan dipindahkan ke samping. Tidak ada perlawanan dari suaminya. Dengan mudah Aida beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Aida tidak menggunakan sehelai kainpun. Ia berjalan ke kamar mandi dengan keadaan te-lan-jang. Ketika Aida berjalan ke kamar mandi ia merasakan sakit di daerah kewanitaannya. Namun Aida terus saja berjalan menuju ke kamar mandi, karena sebentar lagi adzan subuh berkumandang.


Dua puluh menit kemudian Aida keluar kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Aida mengambil pakaiannya dari dalam koper lalu kembali masuk ke kamar mandi. Lima menit kemudian Aida keluar dari dalam kamar mandi. Ia sudah menggunakan daster.

__ADS_1


Aida menghampiri suaminya yang masih tidur dengan lelap.


“Akang,” panggil Aida sambil mengusap rambut suaminya.


“Kang, bangun yuk! Sebentar lagi adzan subuh,” kata Aida.


Firas bukannya bangun, ia malah melingkarkan tangannya di pinggang Aida.


“Bangun, Kang! Sebentar lagi sholat subuh,” kata Aida sekali lagi sambil terus saja mengusap rambut suaminya.


“Nanti dulu! Masih ngantuk,” jawab Firas.


“Tidurnya diteruskan nanti, kalau sudah sholat subuh,” kata Aida.


“Jam berapa?” tanya Firas.


“Sudah jam setengah lima,” jawab Aida.


Firas membuka matanya lalu memandang wajah istrinya. Istrinya nampak segar dengan rambut yang masih basah.


“Kamu sudah mandi?” tanya Firas.


“Sudah,” jawab Aida.


Firas langsung bangun dari tidurnya. Ia duduk di tempat tidur dengan berte-lan-jang da-da. Sedangkan bagian bawahnya tertutup oleh selimut. Firas mengambil ce-la-nanya yang tergeletak di bawah tempat tidur lalu memakainya.


“Aku mandi dulu,” Firas mengecup kening Aida kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Firas keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan handuk untuk menutupi badan bagian bawah.


“Mau pakai baju yang mana?” tanya Aida.


“Terserah yang mana saja. Asalkan celana pendek dan kaos,” jawab Firas.


“Ini, Kang,” kata Aida.


Firas mengambilnya celana dan kaos pemberian Aida.


“Terima kasih,” ucap Firas.


Firas membawa pakaIannya ke dalam kamar mandi. Ia menggunakan pakaiannya di dalam kamar mandi. Tak lama kemudian Firas keluar dari kamar mandi.


“Ayo kita sholat,” ajak Firas.


“Sebentar, Kang. Aida wudhu dulu,” Aida berjalan menuju ke kamar mandi untuk wudhu.


Setelah Aida selesai wudhu merekapun sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh Firas mengajak Aida melanjutkan apa yang mereka lakukan semalam.


“Kang, jangan dulu! Masih sakit,” kata Aida.


Firas menghentikan aksinya.


“Sakit sekali?” tanya Firas dengan khawatir.


“Nggak terlalu, hanya perih sedikit,” jawab Aida.


Firas mendorong dengan lembut tubuh Aida di atas tempat tidur lalu mengingkap daster Aida.


“Akang mau apa?” tanya Aida sambil berusaha menutup kembali dasternya yang tersingkap.


“Aku lihat parah tidak lukanya,” jawab Firas.


Bukan diperiksa tapi harus mandi junub ketika mau sholat zuhur, kata Aida di dalam hati.

__ADS_1


Firas tetap memaksa untuk memeriksa daerah kewanitaan Aida. Aida hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Firas membuka ce-la-na da-lam Aida. Aida menggunakan pembalut untuk menyerap darah yang masih keluar. Melihat darah di pembalut Aida, Firas merasa kasihan kepada istrinya.


“Kita ke dokter, ya! Aku takut nanti jadi infeksi,” kata Firas sambil menutup kembali ce-la-na da-lam istrinya.


Aida malu jika harus ke dokter. Masa ia harus bilang kalau ia mengalami pendarahan karena baru pertama kali berhubungan. Yang benar saja, malu sama dokter kandungan.


“Nggak usah, Kang. Malu sama dokter,” kata Aida.


“Nggak usah malu. Wajar kalau kita menanyakan hal itu,” ujar Firas.


“Apa aku tanya ke Aa Odie, ya?” tanya Firas.


“Jangan, Kang! Malu ah sama Aa,” jawab Aida.


“Nggak apa-apa,” kata Firas.


Firas mengambil ponselnya lalu menelepon kakak sepupunya.


“Assalamualaikum, A,” ucap Firas ketika menghubungi dokter Odie.


Firas menceritakan yang dialami oleh Aida kepada dokter Odie. Tiba-tiba terlihat wajah Firas berubah menjadi malu, mungkin dokter Odie sedang menggodanya. Namun wajah Firas kembali serius seperti sedang mendengarkan perkataan dokter Odie. Sesekali ia menanyakan sesuatu ke Aida menyampaikan pertanyaan dokter Odie. Sampai akhirnya selesai sudah percakapan Firas dan dokter Odie.


“Baik A. Terima kasih, A. Assalamualaikum,” ucap Firas.


Firas menutup teleponnya.


“Bagaimana, Kang?” tanya Aida penasaran.


“Kata Aa Odie hal itu wajar. Kamu akan mengalami pendarahan satu atau dua hari. Kalau lebih dari dua hari ada kemungkinan kamu sedang haid. Tapi kalau belum masuk ke siklus haid tapi masih terus pendarahan, baru kita ke dokter kandungan untuk diperiksa,” jawab Firas.


“Siklus haid Aida selalu maju, jadi sulit untuk diprediksi,” kata Aida.


Firas menghela nafas berat.


“Kata Aa Odie jangan berhubungan dulu, untuk memastikan itu haid atau bukan,” kata Firas.


Terdengar nada kecewa dari perkataan Firas.


Aida mendekati Firas.


“Aa kecewa sama Aida?” tanya Aida.


“Tidak, sayang,” jawab Firas lalu mengecup keningnya.


“Aku akan menunggu sampai bercak darahnya berhenti atau sampai kamu selesai haid,” kata Firas


Firas merengkuh Aida. Aida menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Dalam hatinya Aida berdoa semoga suaminya tidak kecewa padanya.


“Kita sarapan dulu, aku lapar,” kata Firas.


“Kita sarapan di kamar jangan di dining room. Kalau sarapan di sana nanti ketemu Maira. Maira pasti minta ikut ke kamar,” kata Firas.


“Tidak apa-apa kalau dia mau ikut. Kita kan belum bisa berhubungan dulu sampai bercak darahnya berhenti,” kata Aida.


“Kalau tidak bisa berhubungan bukan berarti tidak bisa pacaran. Kita masih bisa pacaran selama bercak darahnya belum berhenti,” kata Firas.


“Kamu bisa memuaskan aku dengan cara lain,” bisik Firas.


Mendengar bisikan Firas Aida langsung merinding. Firas tertawa melihat reaksi Aida. Bagaimanapun juga sebagai seorang istri Aida harus melayani suaminya dan tidak boleh menolak ketika suaminya minta dilayani.


“Iya deh. Kita sarapannya di kamar,” kata Aida.


“Nah begitu, dong.”

__ADS_1


Firas mengecup pipi Aida lalu menelefon ke dining room, meminta sarapan mereka diantarkan ke kamar.


__ADS_2