Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
24. Ricky


__ADS_3

Melihat Vivin yang langsung menempel ke kakaknya, membuat Salfa menjadi kesal.


“Kamu maunya apa, sih Vin? Tadi katanya mau ikut ke rumah aku, tapi begitu lihat Aa langsung mau ikut Aa,” seru Salfa dengan kesal.


“Lain kali saja main ke rumah kamu. Aku mau ikut Mas Firas,” jawab Vivin.


“Sudah, Vin. Kamu main saja sama Salfa! Saya mau terus ke kantor,” kata Firas sambil menepis tangan Vivin.


“Yah, Mas Firas,” kata Vivin dengan wajah cemberut.


Namun wajah cemberut Vivin langsung pudar ketika melihat Maira. Vivin langsung melamun. Melihat Vivin melengah, Firas cepat-cepat mengajak Maira dan Aida masuk ke dalam mobil. Dengan secepat kilat mobil Firas meninggalkan rumah orang tuanya. Melihat Firas pergi Vivin langsung kesal.


“Mas Firas! Kenapa Vivin ditinggal?” teriak Vivin.


Salfa yang kesal dengan Vivin langsung buru-buru masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu yang berada di dalam garasi. Melihat Salfa masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya sendiri Vivin jadi kesal.


“Iihh, Salfa. Kenapa Vivin ditinggal?” teriak Vivin.


Namun Salfa mengacuhkan Vivin.


Kembali ke Firas dan Aida.


Firas menyetir mobil menuju ke rumahnya. Firas menoleh ke Aida. Aida sedang duduk termenung, sedangkan Maira sudah tidur pulas dipangkuan Aida.


“Kamu mau pulang kemana?” tanya Firas sambil fokus mengendarai mobil.


“Ke rumah Bapak saja,” jawab Aida.


“Kalau kamu mau pulang ke rumahmu juga tidak apa-apa,” kata Firas.


“Ke rumah Bapak saja,” jawab Aida.


“Ya sudah kalau kamu mau begitu,” kata Firas.


Mobil Firas melaju menuju ke Tanah Kusir. Mobil Firas berhenti di depan pintu pagar rumahnya.


“Mana kunci rumah?” tanya Firas sambil menengadahkan telapak tangannya.


Aida mengambil kunci rumah dari dalam tasnya lalu diberikan kepada Firas.


“Kamu tunggu di mobil saja!” Firas keluar dari mobil membuka pintu pagar rumah lalu memasukkan mobil ke halaman rumah.


“Kamu gendong Maira saja! Semua barang biar saya yang bawa,” kata Firas.


Aida keluar dari mobil sambil menggendong Maira. Sedangkan Firas membawa barang-barang. Firas membuka kunci rumah, Aida langsung masuk ke dalam rumah. Aida menidurkan Maira di atas tempat tidur setelah itu ia keluar dari kamar. Firas menaruh semua barang bawaan Aida di atas meja.


“Terima kasih, sudah mengantarkan saya pulang,” ucap Aida.


“Sama-sama, Da,” jawab Firas.


“Saya langsung ke kantor, ya,” kata Firas.


Aida mengantar Firas sampai ke depan rumah.


“Kalau ada apa-apa, telepon saya atau Mamah!” pesan Firas.


“Baik, Pak,” jawab Aida.


“Saya berangkat, ya. Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Firaspun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah. Aida cepat-cepat menutup dan menggembok kembali pintu pagar rumah. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Ia langsung menuju ke paviliun tempat tinggalnya.


***


Firas sedang fokus ke layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Di layar ponsel tertera nomor yang tidak ia kenal.

__ADS_1


Siapa? tanya Firas dalam hati.


“Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab orang itu.


“Ini siapa, ya?” tanya Firas.


“Saya Ricky, yang membeli mobil Mbak Aida,” jawab Ricky.


“Oh, Pak Ricky. Ada apa Pak Ricky?” tanya Firas.


“Saya ingin bertemu dengan Mbak Aida. Ada yang hendak saya bicarakan dengan Mbak Aida,” jawab Ricky.


“Kalau boleh saya tau soal apa?” tanya Firas.


“Ini tentang anak Ibu Aida,” jawab Ricky.


“Kenapa dengan Maira?” tanya Firas.


“Dia,” Ricky diam tidak melanjutkan pembicaraannya.


“Hallo Pak Ricky, ada apa dengan Maira?” tanya Firas sekali lagi.


“Dia adalah anak saya,” jawab Ricky.


Firas kaget mendengarnya.


“Loh, kok bisa? Bukankah Aida menemukan Maira di sungai?” tanya Firas.


“Memang betul, Pak. Panjang ceritanya,” jawab Ricky.


“Bisakan saya bertemu Mbak Aida dan anak saya?” tanya Ricky.


“Tentu saja bisa. Kita ketemu di rumah orang tua saya hari sabtu jam setengah sepuluh. Nanti saya kirim alamatnya,” jawab Firas.


“Sama-sama,” jawab Firas.


“Assalamualaikum,” ucap Ricky.


“Waalaikumsalam,” jawab Firas.


Firas mengakhiri pembicaraannya. Firas menyenderkan punggung di kursi.


Bagaimana caranya menerangkan kepada Aida? tanya Firas di dalam hati.


Aida pasti akan sedih mendengarnya.


Firas menghela nafas. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


Hari jum’at sore Firas menelepon Aida.Ia melarang Aida pulang ke rumahnya dengan alasan Ricky hendak bertemu dengan Aida. Mereka akan bertemu di rumah orang tua Firas.


“Kenapa Pak Ricky hendak bertemu dengan saya, Pak? Apakah surat-surat mobil yang ia beli bermasalah?” tanya Aida bingung.


“Bukan masalah mobil. Ada yang Pak Ricky bicarakan denganmu,” jawab Firas.


“Mengenai apa, Pak?’ tanya Aida penasaran.


“Nanti kamu dengar sendiri dari Pak Ricky,” jawab Firas.


“Besok saya jemput jam delapan. Mamah kangen dengan Maira,” kata Firas.


“Baik, Pak,” jawab Aida.


Setelah Firas menelepon Aida mencoba menebak-nebak ada urusan apa Pak Ricky sampai ingin bertemu dengannya?


“Pusing ah! memikirkannya. Lebih baik tunggu saja besok,” kata Aida pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Firas sudah datang menjemput. Aida lagi sibuk membuat sarapan pagi tiba-tiba Firas menelepon menyuruh Aida membuka pintu pagar.


“Loh, katanya mau menjemput jam delapan? Kok jam enam sudah datang?” tanya Aida sambil membuka gembok pagar.


“Tidak jadi jam delapan. Mamah menyuruh kalian sarapan di rumah,” jawab Firas.


“Tapi saya sedang membuat sarapan,” kata Aida sambil membukakan pintu pagar.


“Simpan saja di kulkas,” jawab Firas.


Firas masuk ke dalam mobil lalu memajukan mobilnya.


“Capa, Mah?” tanya Maira yang berdiri di depan pintu sambil memegang dotnya.


“Om Firas,” jawab Aida.


“Ayo Maira, minum susunya sambil duduk,” Aida mengajak Maira kembali ke paviliun.


Namun Maira tidak mengikuti mamahnya, ia malah memanggil Firas.


“Om Pias,” panggil Maira.


Firas menghampiri Maira.


“Maira sudah mandi belum?” tanya Firas.


“Beyum,” jawab Maira.


“Maira mandi dulu! Kita ke rumah Enin,” kata Firas.


“Acik ke yuma Enin,” seru Maira.


Maira langsung berlari menuju ke paviliun.


“Mama, Mala au andi. Mala au ke yuma Nin,” kata Maira sambil berlari.


Firas tertawa melihat kelakuan Maira.


.


.


Maira sudah bersih dan wangi ia duduk di sebelah Firas.


“Ayo Om kica ke yuma Nin,” seru Maira.


“Nanti dulu dong, Mamahnya belum mandi,” jawab Firas.


“Mama icut?” tanya Maira.


“Iya, dong. Nanti Mamahnya nangis kalau ditinggal sendirian,” jawab Firas.


Maira langsung menghampiri mamahnya yang sedang berada di dalam kamar.


“Mama, ayo andi! Kica ke yuma Nin,” seru Maira.


“Iya,” jawab Aida.


Aida membawa handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Selama di perjalanan menuju rumah Ibu Poppy, Aida lebih banyak diam. Sedangkan Maira nampak gembira hendak bertemu dengan Ibu Poppy. Firas sesekali menoleh ke Aida.


“Kamu lagi mikirin apa sih?” tanya Firas sambil fokus menyetir mobilnya.


“Pak Ricky sebenarnya mau ngomongin tentang apa, sih?” tanya Aida.


“Saya tidak tau,” jawab Firas berbohong.

__ADS_1


“Kita tunggu saja ke datangannya,” jawab Firas.


__ADS_2