Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
59. Dokter Kandungan.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa pernikahan Firas dan Aida sudah berjalan dua bulan. Rumah mereka yang berada di daerah Tanah Kusir telah selesai di renovasi. Sebetulnya Firas tidak merenovasi rumah mereka secara total. Ia hanya mengganti kayu-kayu yang sudah mulai lapuk serta mencat ulang rumahnya. Ia merasa ruangan di rumahnya masih cukup untuk menampung keluarga kecilnya.


Hari ini Firas dan keluarga kecilnya pindah ke rumah mereka. Maira nampak gembira karena akan pindah ke rumah mereka yang dulu. Maira mendapatkan kamar tidur sendiri dengan warna girly, senada dengan warna tempat tidurnya, lemarinya serta meja belajarnya.


“Maira suka tidak dengan warnanya?” tanya Firas.


“Cuka, Papa. Tima acih,” ucap Maira.


Lalu Maira mencium pipi kanan dan kiri papahnya.


“Muah muah.”


Maira kembali asyik dengan boneka dan mainan di kamarnya.


“Ayo kita lihat ruangan yang lainnya,” kata Firas.


Firas merangkul bahu Aida dan membawanya keluar dari kamar Maira. Firas membuka ruangan di sebelah kamar Maira.


“Ini kamar adiknya Maira. Nanti kalau kita mempunyai anak, kamarnya di sini,” kata Firas.


Aida tertegun melihat kamar itu. Kamar itu masih kosong, belum diisi furniture apapun. Hanya saja kamar itu dicat warna kuning, warna yang netral untuk laki-laki ataupun perempuan. Sengaja Firas memilih warna itu, karena ia tidak tau nanti ia akan memiliki anak lali-laki atau perempuan.


“Kalau kamu tidak suka dengan warnanya, nanti aku ganti lagi warna catnya,” kata Firas.


“Tidak usah, Kang! Aida suka warnanya,” ujar Aida.


Hanya saja Aida tidak tau kapan kamar itu akan terisi oleh bayi. Karena sampai saat ini ia belum juga hamil. Dan hal itu membuat Aida merasa insecure.


“Kang, Aida mau ke dokter kandungan,” kata Aida.


Firas menoleh ke Aida.


“Mau apa ke dokter kandungan?” tanya Firas.


“Aida mau diperiksa. Barangkali ada sesuatu di rahim Aida,” jawab Aida.


“Oke, kapan kamu mau periksa ke dokter kandungan?” tanya Firas.


“Kalau bisa secepatnya hari Senin,” jawab Aida.


“Boleh, nanti aku antar ke sana,” kata Firas.


“Sekarang kita lihat kamar kita, ya,” Firas merangkul Aida dan membawanya ke kamar tidur mereka.


Kamar mereka dicat warna putuih dan furniturenya berwarna coklat muda sehingga memberi kesan cerah pada kamarnya.


“Kang, kalau ruang paviliun sekarang dipakai untuk apa?” tanya Aida.


“Ruang paviliun dipakai untuk kamar tamu. Nanti kalau pakde dan budemu datang mereka punya kamar sendiri di rumah ini,” kata Firas.


Aida langsung memeluk dan mencium pipi Firas.


“Terima kasih ya, Kang. Akang masih memikirkan keluarga Aida,” ucap Aida.

__ADS_1


“Sama-sama, sayang. Mereka sudah menjadi keluargaku juga,” kata Firas.


Firas memang sangat menyayangi Aida. Ia selalu berusaha membuat Aida merasa nyaman dan aman berada di sisinya. Apalagi sekarang kehadiran buah hati yang mereka tunggu-tunggu belum juga menunjukkan tanda-tanda. Firas selama berusaha mengalihkan pikiran Aida dari buah hati mereka. Selalu saja ada kata-kata Firas yang menghibur Aida ketika mendapatkan mens-tu-ra-si.


“Hadeuh, anak-anak Papah tidak bisa diam. Mereka senang sekali main di luar, tidak mau diam di rahim Mamah,” kata Firas ketika Aida memberitahu kalau ia sedang mens-tu-ra-si.


Aida tertawa mendengar perkataan Firas. Firas merasa lega ketika melihat Aida tertawa. Walaupun dihatinya Firas bertanya-tanya kapan istrinya akan hamil. Namun Firas menutup rapat pertanyaannya, demi kenyamanan istrinya dan keutuhan rumah tangganya.


***


Hari Senin pun tiba. Firas mengantarkan Aida ke rumah sakit untuk diperiksa ke dokter kandungan. Namun sehari sebelumnya Firas meminta tolong ke kakak sepupunya dokter Odie untuk dicarikan dokter kandungan yang sudah senior dan berpengalaman. Dokter Odie meminta rekomendasi ke istrinya. Karena para istri biasanya sangat hafal dokter kandungan yang paling kompeten di bidangnya. Dan akhirnya Firas mendapatkan jawabannya, lengkap dengan nomor telepon rumah sakit dan nomor telepon tempat praktek pribadi.


Dan sekarang Firas dan Aida sedang duduk di ruang tunggu poli kandungan di sebuah rumah sakit.


“Ibu Aida,” suster memanggil Aida.


Aida dan Firas langsung bangkit dari tempat duduk dan masuk ke ruangan dokter. Seorang dokter wanita yang sudah berusia lanjut sedang duduk di depan meja kerjanya.


“Selamat pagi,” ucap Dokter.


“Pagi, Dok,” jawab Firas dan Aida.


Dokter membaca kartu kasus Aida.


“Usianya masih muda sekali,” kata Dokter.


Aida menanggapi dengan tersenyum.


“Ada keluhan apa?” tanya Dokter.


“Oke, kita lihat kondisi rahimnya. Barangkali ada yang menghalangi atau tidak. Silahkan ke tempat periksa,” kata Dokter.


Aida langsung naik ke tempat tidur dibantu oleh suster. Kemudian perut Aida dilumuri gel. Setelah siap dokter mulai memeriksa Aida dengan alat USG. Dokter menggerakkan alat USG sambil memperhatikan layar monitor.


“Posisi rahinya bagus. Kondisi rahimnya bagus, tidak ada yang menghalangi,” kata Dokter.


Dokterpun mengakhiri pemeriksaannya. Aida kembali ke tempat duduk.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Menikah baru dua bulan dan belum hamil juga itu wajar. Apalagi usia Ibu masih sangat muda, baru dua puluh tahun. Banyak yang sudah menikah lebih dari lima tahun tapi baru dikaruniai anak,” kata Dokter.


“Ibu rileks aja, tidak usah Ibu pikirkan,” lanjut Dokter.


“Di rumah hanya berdua saja?” tanya Dokter.


“Kami memiliki anak angkat, Dok,” jawab Aida.


“Usianya berapa tahun?” tanya Dokter.


“Dua tahun kurang,” jawab Aida.


“Waduh, usia segitu lagi lucu-lucunya. Fokus saja dulu ke si kakak. Nanti kalau kakaknya sudah mandiri, adiknya pasti akan hadir,” kata Dokter.


“Aamiin ya robbal alamin,” jawab Firas dan Aida.

__ADS_1


“Saya kasih resep untuk vitamin. Agar Ibu tetap fit,” Dokter memberikan resep kepada Aida.


“Terima kasih, Dok,” ucap Aida.


Firas dan Aida meninggalkan ruangan dokter.


“Mau makan siang dimana?” tanya Firas sambil berjalan menuju ke tempat parkir.


“Aida pengen makan sop kaki kambing,” jawab Aida.


Firas menoleh ke Aida.


“Biasanya jualan malam hari. Memang ada yang jualan siang-siang?” tanya Firas.


“Ada. Di jalan Barito,” jawab Aida.


“Oke, kita ke sana sekarang,” kata Firas.


“Pak CEO tidak apa-apa makan di situ?” tanya Aida.


“Memang kenapa?” Firas malah balik bertanya.


“Tempatnya kecil di kios kaki lima pinggir jalan,” jawab Aida.


“Ya, tidak apa-apa. Aku juga sering makan di pinggir jalan sama teman-teman,” kata Firas.


“Okelah kalau begitu. Ayo kita cabut sekarang!” seru Aida yang sudah tidak sabaran.


Namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Firas.


“Eh, mau kemana Ibu? Vitaminnya belum dibeli,” kata Firas.


“Oh, iya lupa,” sahut Aida.


“Kita ke apotik dulu,” kata Firas.


Merakapun menuju ke apotik untuk membeli vitamin. Setelah membeli vitamin mereka langsung ke jl, Barito yang berada di daerah Kebayoran Baru.


Aida menatap sop kaki kambing yang menggiurkan. Ia menaruh acar di atas nasi dan sambel ke kuah sopnya.


“Sambelnya jangan banyak-banyak!” seru Firas melihat Aida menambahkan sambelnya.


“Kalau kurang pedas tidak enak,” kata Aida.


Aida menyicipi kuah sop yang menggunakan susu. Mungkin terasa kurang pedas, Aida hendak menambah sambal lagi. Namun dengan cekatan Firas mengambil tempat sambal dan menjauhkan dari Aida.


“Sudah cukup segitu!” kata Firas.


Aida mencibirkan bi-birnya.


“He eh pelit,” ujar Aida.


“Nanti sakit perut kalau kebanyakan sambal,” kata Firas.

__ADS_1


Akhirnya Aida harus rela makan sop kaki kambing yang kurang pedas. Namun Aida memakannya dengan lahap. Firas memperhatikan istrinya yang sedang makan, Aida sedang menikmati makanannya.


Mudah-mudahan di rumah nanti ia tidak ingat lagi keinginannya untuk hamil, kata Firas di dalam hati.


__ADS_2