Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
36. Pakle Hendro


__ADS_3

Di dekat meja makan Keisya yang sedang asyik menjawil pipi Maira karena gemas pada Maira.


“Bajunya bagus. Dibelikan siapa?” tanya Keisya kepada Maira.


“Dayi Om Iki,” jawab Maira.


Mendengar nama Om Iki, Keisya merasa asing. Ia mengira Maira dikasih mamahnya atau Firas atau Aida.


“Sal, Om Iki siapa?” Keisya berbisik pada Salfa.


“Ayahnya Maira,” bisik Salfa.


“Oohhh”


Melihat orang-orang sedang makan, Maira pun minta makan.


“Ma, Mala au mamam,” kata Maira.


“Tadi kan sudah makan. Mau makan lagi?” tanya Aida sambil mengambilkan makanan untuk Firas.


“Iya,” jawab Maira.


“Tunggu sebentar! Mamah lagi ambil makanan untuk Om Firas,” kata Aida.


Setelah selesai Aida memberikan piring yang berisi makanan kepada Firas.


“Disuapi sama Nenek, ya,” kata Ibu Ida.


“Jangan! Ibu makan saja. Biar Maira saya yang suapi,” kata Aida yang sudah kembali lagi ke meja makan.


Aida mengambilkan makanan untuk Maira lalu duduk bergabung dengan yang lain.


“Da, makanannya enak. Siapa yang masak?” tanya Ibu Poppy sambil mengunyah makanan.


“Ibu Ida yang masak, dibantu sama tetangga,” jawab Aida sambil menyuapi Maira.


“Ibu Ida, makanannya enak. Pinter Ibu masaknya,” puji Ibu Poppy kepada Ibu Ida.


“Terima kasih, Bu. Saya dibantu oleh para tetangga,” ucap Ibu Ida.


Setelah selesai santap malam, mereka membicarakan tanggal pernikahan. Setelah berembug, para orang tua memutuskan pernikahan Firas dan Aida akan diadakan 2 bulan dari sekarang.


“Kami berharap ada keluarga Aida yang hadir menjadi wali nikah,” kata Pak Budi.


Aida kaget mendengarnya.


“Tapi Om,” sahut Aida.


“Om tau keluargamu menjauhimu. Namun tidak ada salahnya kamu mencoba untuk menyambung kembali hubungan silaturahmi yang sudah lama putus. Nanti kamu akan ditemani Firas mencari keluargamu,” kata Pak Budi.


“Aa, tugasmu membantu Aida mencari keluarganya!” kata Pak Budi.


“Baik Ayah,” jawab Firas.


“Aida, tugasmu adalah berusaha mencari mereka! Kalaupun mereka tetap menolakmu, itu bukan salahmu. Yang penting kamu harus berusaha dulu!” kata Pak Budi.


“Baiklah, Om,” jawab Aida.


“Sudah malam, kami sekeluarga pamit dulu,” ujar Pak Budi.


Merekapun saling bersalaman satu dengan yang lain. Aida memberikan buah tangan kue buatan tetangganya kepada keluarga Firas. Memang hanya kue-kue sederhana namun dibuat dengan penuh kekeluargaan.


***


Aida memandangi rumah paklenya dari balik kaca mobil. Rumah itu belum berubah dari dulu.

__ADS_1


“Bener ini rumah paklemu?” tanya Firas.


“Iya, Kang,” jawab Aida.


“Ayo kita turun,” Firas membuka pintu mobilnya. Cepat-cepat Aida memegang lengan Firas.


“Jangan dulu, Kang!” cegah Aida.


“Kenapa?” tanya Firas.


“Kalau mereka mengusir kita bagaimana?” tanya Aida.


“Serahkan semuanya ke Akang,” jawab Firas.


“Ayo!” ajak Firas.


Dengan malas Aida keluar dari mobil Firas. Ia mengikuti Firas dari belakang. Firas berdiri di depan pagar rumah pakle Aida.


“Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab seseorang.


Seseorang perempuan muda keluar dari dalam rumah.


“Mau cari siapa, Mas?” tanya perempuan itu dari depan pintu rumahnya.


“Saya mau mencari Pak Hendro, apakah beliau ada?” tanya Firas.


“Mas siapa, ya?” tanya perempuan itu.


“Saya Firas, calon suami Aida,” jawab Firas.


“Calon suami Aida? Mbak Aida tidak tinggal di sini, Mas,” jawab perempuan itu.


“Tunggu sebentar, Mas,” perempuan itu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian seorang pria seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun keluar dari dalam rumah. Ia berdiri di depan pintu rumahnya tanpa menghampiri Firas yang berdiri di depan pintu pagar.


“Ada apa?” tanya pria itu dengan tegas.


“Saya mau ketemu dengan Pak Hendro,” jawab Pak Firas dengan sopan


“Saya Hendro, ada keperluan apa ke sini?” tanya pria itu dengan penuh sidik.


“Saya calon suaminya Aida, ada yang hendak saya bicarakan dengan Pak Hendro,” jawab Firas.


“Aida? Kami suidah tidak ada hubungan lagi dengan Aida!” kata Pak Hendro.


Firas hendak mengatakan sesuatu, namun langsung Aida memegang tangan Firas.


“Akang,” bisik Aida.


Firas menoleh ke Aida. Aida menggelengkan kepalanya, pertanda agar Firas tidak meneruskan lagi.


Firas menghela nafas.


“Baiklah,” kata Firas ke Aida.


“Saya permisi, Pak. Assalamualaikum,” pamit Firas kepada Pak Hendro.


Pak Hendro tidak menjawab salam Firas, ia langsung masuk ke dalam rumah.


Melihat perlakuan Pak Hendro seperti itu membuat Aida menjadi sedih, matanya berkaca-kaca.


“Ayo, kita pulang,” Firas membimbing Aida menuju ke mobil.


Di dalam mobil Aida menangis. Firas memberi tissue kepada Aida.

__ADS_1


“Itulah mengapa saya tidak mau menghubungi mereka lagi,” kata Aida sambil mengelap air matanya.


“Saya tidak kuat menghadapi penolakan mereka,” lanjut Aida.


“Sudahlah jangan diambil hati. Kan masih ada saudara orang tuamu yang lain,” hibur Firas.


“Siapa lagi saudara Papahmu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya?” tanya Firas.


“Kalau saudara laki-laki tidak ada yang tinggal di Jakarta. Pakde Purnomo tinggal di Wonosobo,” jawab Aida. (Author cari tempat yang pernah author kunjungi agar mudah menggambarkannya).


“Hmmm menarik. Kita ke Wonosobo, sekalian mengajak Maira jalan-jalan,” kata Firas.


“Keluarga Mamahmu ada nggak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya?” tanya Firas.


“Ada Bude Marlina. Tapi beliau sama seperti Pakle Hendro,” jawab Aida.


“Kita coba dulu saja. Kalau beliau menolak juga kita cari yang lain,” kata Firas.


“Ada Bude Sekar. Tapi jauh di Sragen,” kata Aida.


“Tidak apa-apa. Kita datang ke Sragen. Tapi sekarang kita coba datang ke Bude Marlina,” ujar Firas.


“Rumahnya dimana?” tanya Firas.


“Di Bekasi juga,” jawab Aida.


“Oke, kita ke sana sekarang,” Firas menjalankan mobilnya.


Tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang mengintip dari jendela rumahnya.


“Mereka sudah pergi, Bu?” tanya Pak Hendro kepada istrinya.


“Sudah, Pak,” jawab istri Pak Hendro.


“Kenapa Papah bersikap seperti itu kepada Aida? Diakan keponakan Papah, yang mestinya Papah lindungi. Bukan Papah jauhi!” kata istri Pak Hendro.


“Buat apa cape-cape mengurusi anak orang? Lebih baik kita mengurusi keluarga sendiri,” jawab Pak Hendro.


“Astagfirullahaladzim! Istigfar, Pah! Tidak boleh bicara seperti itu!” seru istri Pak Hendro.


“Bagaimanapun juga ada yang mengatur semua yang terjadi di dunia ini. Bagaimana kalau sampai Puspa dan Irwan mengalami hal yang sama seperti Aida? Pasti sedih rasanya,” kata istri Pak Hendro.


“Kok Mamah jadi menyumpahi Papah, sih?” tanya Pak Hendro dengan kesal.


“Bukan menyumpahi, tapi mengingatkan! Bumi ini berputar, ada kalanya kita di atas dan ada kalanya kita di bawah. Begitu pula dengan nasib kita. Sekarang kita sedang di atas, sewaktu-waktu kita di bawah. Kalau kita sedang berada di bawah dengan siapa kita minta tolong? Tentu saja kepada keluarga terdekat kita. Orang lain belum tentu mau menolong kita,” kata istri Pak Hendro.


“Namun sepertinya Aida terbalik. Ia ditolong oleh orang lain, bukan oleh keluarga terdekat. Kasihan anak itu,” lanjut istri Pak Hendro sambil menitikkan air mata.


“Sudah ceramahnya? Sana masak! Sebentar lagi waktunya makan siang,” Pak Hendro meninggalkan istrinya yang sedang bersedih.


“Ya Allah, sadarkanlah suamiku,” ucap istri Pak Hendro.


***


.


.


Kenapa Deche memutuskan Firas dipanggil oleh "Akang" oleh Aida?


Karena Firas usianya 11 tahun lebih tua dari Aida. Jadi untuk menghormati Firas.


Kenapa dulu Ibu Poppy memanggil Pak Budi dengan sebutan Aa karena Pak Budi lebih muda dari Ibu Poppy.


Sudah clear, ya! Jangan diutik-utik lagi!

__ADS_1


__ADS_2