
Firas sedang fokus memeriksa dokumen. Tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk.
“Masuk,” kata Firas.
Deni membuka pintu ruang kerja Firas.
“Pak, Ada Pak Hadi Danang mencari Bapak,” kata Deni.
Firas mengerutkan keningnya.
“Siapa Hadi Danang? Saya tidak kenal,” tanya Firas sambil fokus memeriksa dokumen.
“Katanya Papah pacar Pak Firas,” ujar Deni.
Firas langsung menoleh ke arah Deni.
“Kamu kan tau siapa calon istri saya dan siapa nama mertua saya,” kata Firas.
“Iya saya tahu, Pak. Saya sudah memberitahu ke Pak Hadi Danang tapi beliau tetap saja tidak percaya,” jawab Deni.
Firas menghela nafas mendengar perkataan Deni. Ia melanjutkan pekerjaannya.
“Bapak tidak mau ketemu dengan Pak Hadi Danang?” tanya Deni.
“Tidak! Saya tidak kenal dengan Hadi Danang,” jawab Firas.
“Baik, Pak,” Deni menutup kembali pintu ruang kerja Firas.
Firas berpikir sejenak, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.
Oh, Papahnya Vivin, kata Firas di dalam hati.
Tapi mau apa dia ke sini? tanya Firas di dalam hati.
Tak lama kemudian pintu ruang kerjanya diketuk kembali. Deni membuka pintu ruang kerja Firas.
“Pak, Pak Hadi Danang Papahnya kekasih Bapak yang bernama Vivin,” kata Deni.
“Deni!” bentak Firas.
“Kamu tau kekasih saya yang akan menjadi calon istri saya adalah Aida bukan Vivin! Vivin itu adalah teman adik saya, bukan kekasih saya!” seru Firas dengan kesal.
Tiba-tiba Pak Hadi Danang menerobos masuk ke ruang kerja Firas.
“Selamat siang Nak Firas,” sapa Hadi.
Firas sedang kesal ditambah dengan Pak Hadi dengan tidak sopan menerobos masuk ke dalam ruangannya membuat Firas menjadi bertambah kesal. Firas tidak mempersilahkan Pak Hadi untuk duduk sama sekali. Ia membiarkan Pak Hadi berdiri.
“Mau apa ke sini? Berani-beraninya Bapak masuk ke ruangan saya tanpa ijin dari saya!” seru Firas.
“Ini tentang Vi,” Pak Hadi Danang belum selesai berbicara namun Firas mengangkat tangannya agar Pak Hadi diam.
“Bapak Hadi yang terhormat, dengarkan baik-baik! Saya tidak punya hubungan apapun dengan putri Bapak yang bernama Vivin. Dia hanya teman adik saya yang bernama Salfa. Saya tidak pernah berkencan atau pergi makan bersama atau pergi nonton atau sekedar mengantar pulang Vivin pulang,” kata Firas dengan kesal.
“Tapi Vivin bilang Nak Firas memutuskan Vivin karena mau menikah dengan pembantu Nak Firas yang bernama Aida,” ujar Pak Hadi.
Firas menarik nafas panjang.
“Memang Aida adalah pembantu saya, namun saya sangat menyayanginya. Dan saya ingin menikah dengannya,” kata Firas.
“Kata Vivin, Aida sudah memiliki anak. Mengapa Nak Firas lebih memilih Aida yang sudah punya anak dibandingkan dengan Vivin yang masih gadis?” tanya Pak Hadi Danang dengan tidak puas.
“Bapak yakin Vivin masih gadis?” tanya Firas.
__ADS_1
Pak Hadi diam tidak menjawab pertanyaan Firas.
“Maira adalah anak angkat Aida. Dan sebentar lagi Maira akan menjadi anak saya,” kata Firas.
“Saya akan memberikan setengah saham perusahaan saya kalau Nak Firas mau menikah dengan Vivin,” kata Pak Hadi.
Firas tertawa sinis mendengar tawaran Pak Hadi.
“Saya tidak serakah. Bagi saya perusahaan warisan dari kakek saya, sudah lebih dari cukup,” kata Firas.
“Kalau kita menyatukan perusahaan kita, kita pasti akan lebih maju,” sahut Pak Hadi.
“Sudah saya bilang, saya tidak serakah,” jawab Firas.
“Oh ya, ada yang harus saya beritahu mengenai anak kami Maira,” Firas berjalan menuju ke meja kerjanya. Ia mengambil hasil test DNA Vivin dan Ricky.
“Ini hasil test DNA Maira,” Firas memberikan hasil test DNA kepada Pak Hadi.
Pak Hadi bingung ketika diberi hasil test DNA. Pak Hadi membaca hasil test DNA itu.
“Ini tidak mungkin!” seru Pak Hadi.
Ia langsung merobek-robek kertas hasil DNA.
“Silahkan saja anda robek. Itu hanya fotocopy saja. Hasil test yang asli saya simpan,” ujar Firas dengan tenang.
“Kamu mau memeras saya?” tanya Pak Hadi dengan kesal.
“Tidak! Saya lakukan ini semua untuk anak saya Maira. Suatu saat nanti ia harus tau siapa ibu kandungnya,” jawab Firas.
“Kalau saya mengakui anak itu adalah cucu saya, apakah Nak firas mau menikah dengan Vivin?” tanya Pak Hadi.
“Saya tidak tidak pernah tertarik dengan putri Bapak. Dan saya tidak ingin menikah dengan perempuan yang sudah membuang anaknya,” jawab Firas.
“Kamu akan menyesal telah menolak Vivin!” seru Pak Hadi.
Pak Hadi langsung keluar dari ruang kerja Firas. Firas langsung bernafas lega ketika Pak Hadi keluar dari ruangannya. Namun ia juga cemas takut Pak Hadi tidak main-main dengan kata-katanya. Firas langsung menelepon Aida.
“Assalamualaikum, Da,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam, Kang,” jawab Aida.
“Da, kamu bereskan semua barang-barangmu dan barang-barang Maira! Nanti kamu akan dijemput oleh Joni supir Mamah. Kamu akan pindah ke rumah Mamah sekarang juga!” kata Firas.
“Kenapa, Kang? Kok mendadak sekali?” tanya Aida.
Firas menceritakan kedatangan Pak Hadi Danang ke kantornya. Setelah mendengar cerita Firas, Aida langsung menghela nafas. Berat sekali ujian yang mereka lewati.
“Ya sudah, sekarang Aida bereskan semua barang-barang Aida dan Maira,” kata Aida.
“Kalau ada tamu jangan dibuka pintunya! Kecuali Joni yang datang!” seru Firas.
“Baik, Kang,” jawab Aida.
“Sudah dulu, ya! Aku mau mencari bodyguard untuk berjaga-jaga kalau Pak Hadi tidak main-main dengan kata-katanya,” kata Firas.
“Assalamualaikum,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida.
Setelah mengakhiri percakapannya Firas langsung menelepon Ricky.
“Assalamualaikum Pak Ricky,” ucap Firas.
__ADS_1
“Waalaikumsalam Pak Firas, ada apa?” tanya Ricky.
Firas menceritakan semuanya kepada Ricky. Ricky menghela nafas mendengar cerita Firas.
“Saya rasa Pak Hadi tidak akan seperti itu. Karena Pak Hadi tidak pernah main dengan cara kasar. Tapi Pak Firas harus berhati-hati dengan Vivin. Ia pasati akan mengganggu Mbak Aida,” kata Ricky.
“Itulah yang saya khawatirkan,” kata Firas.
“Apa saya harus menyewa bodyguard saja, ya?” tanya Firas.
“Boleh, kalau Pak Firas mau. Tapi tidak usah banyak-banyak. Secukupnya saja,” jawab Ricky.
“Kalau begitu saya harus cepat-cepat menghubungi agensinya. Terima kasih Pak Ricky. Asalamualaikum,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam,” jawab Ricky.
Firas mengakhiri percakapannya dan langsung menghubungi agensi bodyguard.
***
Vivin memarkirkan mobilnya di dekat rumah pribadi Firas. Ia memperhatikan lingkungan sekelilingnya nampak sepi. Ini kesempatan Vivin untuk mendatangi Aida. Vivin langsung hendak turun dari mobilnya, namun tiba-tiba ada sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah Firas. Ibu Poppy keluar dari mobil.
“Tante Poppy. Mau apa Tante Poppy datang ke sini?” tanya Vivin kepada dirinya sendiri.
Ibu Poppy memukul pintu pagar dengan gembok.
“Assalamualaikum Aidaaaa, ini Tante. Buka pintunya!” seru Ibu Poppy sambil memukul pintu pagar dengan gembok sehingga menimbulkan suara yang sangat kencang.
“Aidaaaaa!” teriak Ibu Poppy.
Tak lama kemudian keluarlah Aida dari dalam rumah sambil membawa kunci gembok.
“Kok Tante ikut? Katanya Pak Joni saja yang datang menjemput?” tanya Aida sambil membuka pagar.
“Tante takut ada apa-apa sama kamu,” jawab Ibu Poppy. Setelah pintu pagar terbuka Ibu Poppy langsung masuk ke halaman rumah Firas.
“Ayo kita masuk!” Ibu Poppy merangkul pinggang Aida dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Barang-baarangmu semuanya sudah dipacking?” tanya Ibu Poppy ketika masuk ke dalam paviliun.
“Sudah, Tante,” jawab Aida.
“Bagus. Lebih cepat kita pergi dari sini lebih baik,” kata Ibu Poppy.
Aida mengambil tas-tas travelingnya lalu membawanyanya ke depan.
“Sini Tante bantu,” Ibu Poppy hendak membawakan tas-tas Aida.
“Jangan, Tante! Biar Aida saja yang bawa. Tante duduk saja,” kata Aida.
Ibu Poppy duduk bersama Maira.
“Nin, Mala indah ke yuma Nin?” tanya Maira.
“Iya sayang. Untuk sementara Maira dan Mamah tinggal bersama Enin. Nanti kalau Mamah dan Om Firas sudah menikah, Maira pindah lagi ke sini,” kata Ibu Poppy.
Akhirnya semua barang-barang Aida sudah dimasukkan ke dalam mobil semua.
“Sudah masuk semua barang-barangnya?” tanya Ibu Ida.
“Sudah Tante,” jawab Aida.
“Kalau begitu ayo kita pergi dari sini!” kata Ibu Poppy.
__ADS_1