
Aida baru saja selesai mandi. Ketika ia keluar dari kamar mandi terdengar suara ponselnya berdering. Aida langsung menjawab panggilan itu.
“Assalamualaikum,” ucap Aida.
“Waalaikumsalam. Da, tolong bukakan pintu!” seru Firas.
“Baik, Pak.”
Aida langsung berlari menuju ke pintu pagar dan membuka gembok pagar. Firas memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Aida menutup kembali pintu pagar.
“Lama sekali jawab telepon. Kamu lagi apa?” tanya Firas ketika keluar dari mobil.
“Saya baru selesai mandi, Pak,” jawab Aida.
Firas masuk ke dalam rumah, Aida mengikuti Firas dari belakang.
“Saya lapar. Kamu masak apa?” tanya Firas sambil berjalan menuju paviliun.
“Masak semur bola-bola daging,” jawab Aida yang masih mengekori Firas dari belakang.
“Saya mau makan,” kata Firas.
“Baik, Pak. Akan saya siapkan,” jawab Aida.
Firas memandangi ruangan paviliun yang nampak sepi.
“Maira mana?” tanya Firas sambil mengedarkan pandangannya.
“Sedang tidur,” jawab Aida.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur.
“Bapak mau sholat dulu atau mau makan dulu?’ tanya Aida.
__ADS_1
“Saya sholat dulu,” jawab Firas.
Firas menggulung lengan kemejanya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aida mengelar sajadah untuk tempat Firas sholat. Tak lama kemudian Firas keluar dari kamar mandi.
“Sajadahnya sebelah sini, Pak,” ujar Aida.
Firas langsung menuju ke sajadah yang sudah disiapkan oleh Aida lalu memulai sholat. Aida juga sholat dzuhur di dalam kamarnya. Ketika Aida keluar dari kamarnya Aida melihat Firas tidur di sofa. Pelan-pelan Aida menuju pantry menyiapkan makan siang untuk Firas. Setelah makan siang sudah siap, Aida membangunkan Firas.
“Pak, bangun! Makan siang sudah siap,” kata Aida pelan-pelan.
Namun Firas tidak bangun. Aida kembali membangunkan Firas.
“Pak, bangun! Makanannya sudah siap,” kata Aida dengan suara sedikit keras.
Firas pun terbangun dari tidurnya.
“Makanannya sudah siap,” ulang Aida.
Firaspun bangun dan duduk di sofa.
“Kepala saya sakit,” jawab Firas.
“Kalau sakit kepala kenapa ke sini bukan pulang ke rumah?” tanya Aida.
“Kalau pulang ke rumah kepala saya bertambah sakit,” jawab Firas.
Aida mengerutkan keningnya.
“Kenapa, Pak?” tanya Aida.
“Nanti saja ceritanya! Sekarang saya lapar sekali,” Firas beranjak dari sofa menuju ke meja makan.
Aida mengambilkan nasi untuk Firas.
__ADS_1
“Segini cukup?” tanya Aida sambil memperlihatkan nasi yang berada di atas piring.
“Cukup,” jawab Firas.
Aida meletakkan piring di depan Firas. Ketika Aida menuangkan nasi di atas piringnya terdengar suara Maira yang memanggilnya,
“Mama!”
“Ya, sayang,” Aida meletakkan piringnya di atas meja lalu menghampiri Maira di kamar.
Aida duduk di sisi tempat tidur.
“Ada Om Firas, tuh,” kata Aida.
“Ana, Mama?” tanya Maira.
“Ada lagi makan,” jawab Aida.
“Jenong,” kata Maira sambil mengangkat kedua tangannya.
Aida menggendong Maira lalu membawanya ke meja makan.
“Tuh, Om lagi makan,” Aida duduk di kursi makan sambil memangku Maira.
“Makan Maira, Om lapar,” kata Firas sambil makan dengan lahap.
“Mama, au mamam kaya Om Pias,” kata Maira.
“Iya,” Aida mengambil nasi untuk Maira dengan menggunakan lauk yang sama dengan Firas yaitu semur daging. Kemudian Aida menyuapi Maira, batita itu makan dengan lahap.
Setelah selesai makan Firas mengajak Aida duduk di teras paviliun. Sedangkan Maira asyik menonton film kartun kesukaannya. Aida duduk di sebelah Firas.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu,” kata Firas.
__ADS_1
“Tentang apa, Pak?” tanya Aida.
“Tentang kita,” jawab Firas.