Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
33. Sakit Kepala Hilang.


__ADS_3

Aida memandang wajah Firas dengan serius.


“Tadi malam Mamah menanyakan lagi tentang rencana Mamah untuk menikahkan kita. Apa sudah dibicarakan denganmu atau belum,” kata Firas.


“Terus Bapak jawab apa?” tanya Aida.


“Saya jawab belum. Karena terlalu banyak hal mengejutkan yang sedang kamu hadapi, sehingga belum ada waktu untuk membicarakan ini denganmu,” jawab Firas.


Aida menghela nafas.


“Apa karena saya bekerja di sini jadi menimbulkan masalah? Apa lebih baik saya kembali bekerja menjadi office girl di kantor Pak Broto?” tanya Aida.


“Tidak, itu bukan karena kamu bekerja di sini. Kamu pindah kerjapun, Mamah tetap akan selalu menanyakan hal ini,” jawab Firas.


“Terus saya harus apa?” tanya Aida.


“Menikahlah denganku,” jawab Firas.


Aida kaget mendengarnya.


“Menikah?” tanya Aida.


“Iya, menikah. Mungkin sekarang ini belum ada cinta diantara kita. Tapi niatkanlah apa yang kita lakukan untuk ibadah kepada Allah. Insya Allah, Allah akan menghadirkan cinta diantara kita,” jawab Firas.


“Saya bisa melindungi kalian berdua orang-orang yang saya sayangi dengan leluasa. Kamu juga tidak akan merasa kesepian lagi, jika Maira sedang pergi dengan ayahnya. Dan keberadaan kamu di sini juga tidak menjadi pertanyaan para tetangga, karena kamu adalah istri saya yang sah,” kata Firas.


“Tapi apakah saya pantas untuk Bapak?” tanya Aida.


“Kalau tidak pantas, Mamah tidak akan memaksa saya untuk menikah denganmu,” jawab Firas dengan tersenyum.


“Saya cuma seorang pembantu. Pendidikan saya hanya tamatan SMA,” kata Aida.

__ADS_1


“Walaupun kamu cuma tamatan SMA tapi kamu bisa menjadi istri untuk saya. Menjadi ibu untuk anak-anak kita dan menantu yang baik untuk Mamah,” jawab Firas.


“Jangan memuji saya terlalu berlebihan! Saya hanya manusia biasa,” kata Aida.


“Saya tau. Tapi begitulah kamu memang seperti itu,” jawab Firas.


Aida diam mendengar perkataan Firas.


“Bagaimana? Kamu mau menikah dengan saya?” tanya Firas.


“Beri saya waktu untuk berpikir,” jawab Aida.


“Kelamaan! Nanti saya yang pusing ditanya sama Mamah terus menerus,” kata Firas.


Aida menoleh ke Firas.


“Maaf, gara-gara saya kenyamanan Bapak jadi terganggu,” ucap Aida.


Aida berpikir sejenak. Lalu Aida menarik nafas panjang.


“Saya mau menikah dengan Bapak,” jawab Aida sambil menunduk.


“Alhamdullilah. Begitu dong! Kepala saya tidak sakit lagi,” ucap Firas dengan gembira.


Aida langsung mengangkat wajahnya dan memandang Firas sambil mengerut kening.


“Kepala saya sakit karena memikirkan ini semua. Tapi karena kamu sudah terima lamaran saya, sakit kepala saya langsung hilang,” kata Firas sambil tersenyum.


Aida melongo melihat Firas.


“Sakit kepalanya sudah hilang, saya bisa kerja lagi,” Firas langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia menghampiri Maira yang sedang menonton televisi.

__ADS_1


“Maira, Om berangkat kerja dulu,” pamit Firas ke Maira.


 “Muah,” Maira mencium tangan Firas.


Firas mengusap-usap rambut Maira.


“Nurut sama Mamah, ya!” ujar Firas.


“Iya,” jawab Maira.


Lalu Firas kembali ke Aida.


“Saya berangkat kerja dulu. Jaga rumah baik-baik!” pamit Firas kepada Aida.


“Iya, Pak,” jawab Aida.


“Jangan panggil “Pak”!” seru Firas.


“Saya harus panggil apa?’ tanya Aida bingung.


“Boleh panggil Aa atau Akang atau Abang. Terserah kamu,” jawab Firas.


Aida berpikir sejenak.


“Baiklah…Akang,” ujar Aida.


“Kan enak kedengarannya. Aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Aida mengantar Firas hingga depan rumah.

__ADS_1


__ADS_2