
Firas masuk ke dalam rumah sambil bersiul.
“Assalamualaikum,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam,” balas semua orang yang berada di ruang keluarga.
Firas mencium tangan Pak Budi dan Ibu Poppy.
“Wah, roman-romannya lagi bahagia, nih! Dapat proyek besar, ya A? Bagi, dong,” ujar Andri.
Firas cuma ketawa mendengar perkataan Andri.
“Aa sudah sholat magrib?” tanya Ibu Poppy.
“Belum,” jawab Firas.
“Sholat dulu! Sebentar lagi adzan Isya,” seru Ibu Poppy.
Firas berjalan ke kamarnya sambil bersenandung. Semua orang memperhatikan Firas dengan penuh tanda tanya.
Setelah sholat magrib dan mandi Firas menghampiri mamah dan ayahnya.
“Mah Yah, ada yang ingin Aa bicarakan,” kata Firas.
“Duduk sini,” kata Ibu Poppy menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Firas duduk di sebelah mamahnya.
“Mau bicara apa?” tanya Ibu Poppy.
Firas menarik nafas panjang.
“Aa akan menikah dengan Aida,” jawab Firas.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Poppy dan Pak Budi.
__ADS_1
“Kamu sudah bicarakan dengan Aida?” tanya Ibu Poppy.
“Sudah, Mah. Aida mau menikah dengan Aa,” jawab Firas.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Ibu Poppy.
“Belum Aa bicarakan dengan Aida,” jawab Firas.
“Ya sudah. Bilang ke Aida, hari sabtu besok Mamah dan Ayah akan datang melamar Aida,” kata Ibu Poppy.
“Secepat itu, Mah?” tanya Firas.
“Iya, lebih cepat lebih baik,” jawab Ibu Poppy.
“Wah, bakalan ada yang patah hati,” sahut Aindri.
“Siapa yang patah hati?” tanya Salfa yang baru datang.
“Vivin bakalan patah hati. Aa mau menikah dengan Aida,” jawab Andri.
“Biarkan saja. Mamah tidak mau punya menantu seperti Vivin!” seru Ibu Poppy.
“Salfa, nanti kamu anterin Mamah membeli hantaran untuk lamaran!’ kata Ibu Poppy.
“Siap, Mah,” jawab Salfa.
“Andri bantu apa?” tanya Andri.
“Bantuin bungkus hantaran,” jawab Ibu Poppy.
“Jangan, Mah! Nanti malah diacak-acak sama Andri,” kata Salfa.
“Yah, Teteh mah belum tau. Kalau soal nempelin selotip Andri jagonya,” ujar Andri.
“Kalau cuma nempelin selotip semua orang juga bisa,” sahut Salfa.
__ADS_1
“Andri, kamu bagian angkat barang,” kata Ibu Poppy.
“Nggak apa-apa. Asalkan setelah belanja makan di restaurant yang enak,” ujar Andri.
“Makannya di Ranggas Resto aja biar gratis,” kata Pak Budi.
Andri mencebik.
“Bosan, makan di sana terus. Mentang-mentang resto punya Mamah, makan di sana terus,” ujar Andri.
“Eh, biar begitu juga bisa menghidupi dan menyekolahkan kamu. Semua yang kamu pakai, uangnya didapat dari resto dan hotel itu,” sahut Ibu Poppy.
“Andri pengen cobain makan di resto atau café yang lain,” kata Andri dengan cemberut.
“Kamu mau makan dimana?” tanya Firas.
“Di tempat yang belum pernah Andri datangi,” jawab Andri.
“Ya sudah, makan di Selera Kita. Nanti yang Aa bayarin,” kata Firas.
“Asyik,” sorak Andri.
“Tapi Andri sekolah, jadi tidak bisa bantu Mamah belanja,” sahut Salfa.
“Kalau sudah pulang sekolah bisa bantuin Mamah dan Teteh belanja. Mamah dan Teteh kalau belanja lama,” kata Andri.
“Bener, nih? Awas kalau nggak bantuin, nggak boleh makan!” seru Salfa.
“Sudah, masa begitu saja berantem,” ujar Pak Budi.
“Teteh duluan, tuh Yah,” kata Andri.
“Pokoknya pulang sekolah kamu harus susul Mamah di mall!” kata Pak Budi.
“Siap Pak Bos,” jawab Andri.
__ADS_1
“Sekarang kita makan. Ayah sudah lapar,” Pak Budi beranjak menuju ke meja makan.
Anak-anak dan istrinya menyusul dari belakang.