
Selama di rumah Ricky, Maira hanya menempel pada Ricky dan Hanifa. Ia belum mau digendong oleh kakek dan neneknya. Pukul sebelas siang Maira mulai rewel meminta susu. Hanifa membuatkan susu untuk Maira lalu Maira meminum susu sambil dipangku oleh Hanifa. Sampai akhirnya Maira tertidur di pangkuan Hanifa.
“Tidur?” tanya Ibu Juwita kepada Hanifa.
“iya,” jawab Hanifa.
“Tidurin saja di kamar Ricky,” kata Ibu Juwita.
“Ayo ke sini,” kata Ibu Juwita.
Hanifa menggendong Maira lalu mengikuti Ibu Juwita. Ibu Juwita mengajak Hanifa ke lantai atas. Sesampai di lantai atas, Ibu Juwita membuka salah satu kamar. Dari dalam kamar tercium wangi parfum yang biasa Ricky pakai. Ibu Juwita dan Hanifa masuk ke dalam kamar Ricky. Ibu Juwita langsung menyalakan pendingin ruangan. Hanifa menidurkan Maira di atas tempat tidur. Hanifa menghalangi sisi kanan dan kiri Maira dengan menggunakan bantal dan guling dan menyelimutinya.
Ibu Juwita memperhatikan cara Hanifa memperlakukan Maira. Ia teringat sewaktu Ricky menceritakan Hanifa.
“Hanifa mahasiswi semester enam. Ia cuti kuliah karena terbentur biaya. Ayahnya seorang ASN, meninggal dua bulan yang lalu. Hanifa memiliki dua orang adik yang sekolah di SMA dan SMP. Untuk menambah uang pensiun ayahnya, ibunya membuat kue dan di titipkan ke warung-warung.”
Gadis yang malang, kata Ibu Juwita di dalam hati.
“Bu, kalau Maira bangun bagaimana?” tanya Hanifa kepada Ibu Juwita.
Hanifa takut jika Maira bangun tidak ada satu orangpun mendengar suara tangisannya.
“Nanti pintunya ditutup tidak terlalu rapat. Agar Maira masih bisa membuka pintu,” kata Ibu Juwita.
Ibu Juwita dan Hanifa keluar dari kamar Ricky. Pintu kamar Ricky ditutup tidak rapat. Mereka turun ke lantai bawah. Di ruang makan Mpok Anah sedang menyiapkan makanan untuk makan siang.
“Sudah semuanya, Mpok?” tanya Ibu Juwita.
“Sudah, Bu haji,” jawab Mpok Anah.
Ibu Juwita menghampiri Pak Agus dan Ricky yang sedang asyik menonton pertandingan tinju.
“Papah – Ricky, makan siang sudah siap,” kata Ibu Juwita.
“Nanti aja, Mah. Kalau sudah sholat dzuhur,” jawab Pak Agus.
Pak Agus melanjutkan nonton tinju.
“Hanifa, kamu makan duluan!” kata Ricky.
“Nanti saja, Pak. Kalau sudah sholat dzuhur,” jawab Hanifa.
“Ya sudah, kalau mau sholat dzuhur dulu,” kata Ibu Juwita. Ibu Juwita menutup makanan dengan tudung saji.
Tak lama kemudian suara adzan dzuhur mulai berkumandang.
“Ki, ayo kita ke masjid,” ajak Pak Agus.
Pak Agus mematikan televisi. Merekapun bersiap-siap untuk ke masjid. Setelah Ricky dan Pak Agus pergi, Hanifa juga sholat dzuhur.
“Bu, saya numpang sholat,” kata Hanifa kepada Ibu Juwita.
“Oh, sholat di kamar Ricky saja. Kamar mandinya ada di dekat kamar Ricky,” jawab Ibu Juwita.
Hanifa mengambil mukenahnya lalu ke lantai atas. Setelah berwudhu Hanifa masuk ke dalam kamar Ricky. Ia melihat Maira tidur dengan nyenyak. Batita itu terlihat menggemaskan ketika sedang tidur. Hanifa membetulkan selimut Maira yang mulai tersingkap. Setelah itu barulah Hanifa sholat.
Selesai Hanifa turun kembali ke lantai bawah. Suasana rumah terlihat sepi. Ibu Juwita sedang berada di dalam kamar, Mpok Anah sedang menyetrika di belakang. Hanifa duduk di ruang tamu sambil menunggu Ricky datang..
Tak lama kemudian Pak Agus dan Ricky datang dari masjid.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Agus ketika masuk ke halaman rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanifa.
“Kok sepi? Mamah kemana?” tanya Pak agus kepada Hanifa.
“Ibu sedang di dalam kamar,” jawab Hanifa.
“Kamu sudah makan, belum?” tanya Ricky.
“Belum, Pak,” jawab Hanifa.
“Ayo kita makan dulu,” ajak Ricky.
Ricky menuju ke ruang makan, Hanifa mengikuti Ricky dari belakang. Tak lama kemudian Ibu Juwita keluar dari kamar.
“Mah, Papah lapar,” kata Pak Agus.
“Makanannya sudah siap dari tadi,” kata Ibu Juwita.
Ibu Juwita membuka tudung saji yang menutupi makanan.
“Ayo Hanifa, makan dulu!” kata Ibu Juwita.
“Iya, Bu,” jawab Hanifa.
Hanifa makan bersama dengan Ricky dan orang tua Ricky. Setelah selesai makan Hanifa mencuci piring-piring bekas makan.
__ADS_1
“Sudah taruh saja di situ. Nanti Mpok Anah yang mencuci piring,” kata Ibu Juwita.
“Tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit cucian piringnya,” kata Hanifa.
Ketika Hanifa sedang mencuci piring tiba-tiba Ricky datang sambil menggendong Maira.
“Fa, Maira mau pipis,” kata Ricky.
Hanifa menoleh ke samping.
“Tunggu sebentar, ya. Tanggung satu piring lagi,” kata Hanifa.
Ricky menunggu di dapur hingga Hanifa selesai mencuci piring. Selesai mencuci piring Hanifa mengambil Maira dari gendongan Ricky lalu membawanya ke kamar mandi. Selesai pipis Hanifa membawa Maira ke ruang keluarga.
“Maira makan dulu, ya!” kata Ibu Juwita.
“Maira mau disuapi siapa? Nenek atau kakak?” tanya ibu Juwita.
“Au cama Kaka,” jawab Maira.
“Kamu ambil makanan untuk Maira,” kata Ibu Juwita.
“Baik, Bu,” jawab Hanifa.
Hanifa mengambil makanan untuk Maira, lalu menyuapi Maira di teras rumah. Tiba-tiba Hesti datang ke rumah Ricky.
“Assalamualaikum,” ucap Hesti.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanifa.
Hanifa menghampiri pintu pagar.
“Bang Ricky ada?” tanya Hesti.
“Tunggu sebentar. Saya panggilkan dulu,” kata Hanifa.
Hanifa masuk ke dalam rumah. Namun Ricky tidak terlihat di ruang keluarga.
“Bu, ada yang mencari Pak Ricky,” kata Hanifa.
“Ricky sedang di kamar,” jawab Ibu Juwita.
“Siapa yang mencari Ricky?” tanya Ibu Juwita.
“Perempuan, Bu. Tapi tidak ditanyai namanya,” jawab Hanifa.
“Bilang saja, Ricky sedang tidur,” kata Ibu Juwita.
“Baik, Bu,” Hanifa kembali ke depan rumah.
“Mbak, Pak Ricky sedang tidur,” kata Hanifa ke Hesti.
“Ya sudah, titip kue untuk Bang Ricky. Bilang dari Hesti,” kata Hesti.
Hanifa mengambil kue yang diberikan oleh Hesti.
“Salam untuk Bang Ricky,” kata Hesti.
“Baik, Mbak. Nanti saya sampaikan,” ujar Hanifa.
Lalu Hesti pergi meninggalkan rumah Ricky. Melihat Hanifa membawa kue Maira langsung menghampiri Hanifa.
“Apa, tuh?” tanya Maira.
“Ini kue untuk ayah,” jawab Hanifa.
“Mala au uweh,” kata Maira.
“Nanti ya, sekarang Maira makan dulu,” kata Hanifa.
Hanifa membawa kue ke dalam, Maira mengikuti Hanifa dari belakang.
“Bu, ini kue untuk Pak Ricky dari Mbak Hesti,” kata Hanifa.
“Mala au uweh,” kata Maira kepada Ibu Juwita.
“Jangan! Ini kue ngak enak. Kuenya beracun,” kata Ibu Juwita.
“Lacun? Apa itu lacun?” tanya Maira.
“Makan berbahaya. Nanti Maira bisa sakit kalau memakannya,” kata Ibu Juwita.
“Mala nga au cacit,” kata Maira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maira makan lagi sama kakak, ya,” kata Ibu Juwita.
“Kaka a,” kata Maira.
__ADS_1
Hanifa menyuapi Maira.
“Makannya sambil duduk, ya,” kata Hanifa.
Hanifa membawa Maira kembali ke teras rumah. Maira melanjutkan makannya sambil duduk-duduk di teras.
Setelah sholat ashar Ricky mengajak Maira pulang.
“Besok rencana kalian mau kemana?” tanya Ibu Juwita ketika Ricky hendak pergi.
“Belum tau mau kemana,” jawab Ricky.
“Bagaimana kalau besok kita piknik,” kata Ibu Juwita.
“Piknik kemana?” tanya Ricky.
“Piknik ke kebun binatang atau ke taman mini atau ke Ancol. Terserah Maira maunya kemana,” jawab Ibu Juwita.
“Ya sudah, besok kita piknik,” kata Ricky.
“Ricky antar Maira dan Hanifa pulang,” pamit Ricky.
“Maira, salam dulu sama nenek,” kata Ricky.
Maira mencium punggung tangan Ibu Juwita.
“Muah.”
“Pinternya cucu Nenek,” puji Ibu Juwita sambil mengusap kepala Maira.
Hanifa juga mencium tangan Ibu Juwita.
“Salam untuk ibumu. Bilang kuenya enak,” kata Ibu Juwita.
“Baik, Bu. Akan saya sampaikan,” jawab Hanifa.
Maira dan Hanifa mencium tangan Pak Agus.
“Assalamualikum,” ucap Hanifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Agus dan Ibu Juwita.
Ketika hendak keluar Ricky bertemu dengan Handi.
“Mau kemana, Bang?” tanya Handi.
“Mau anterin Maira pulang,” jawab Ricky.
Handi melihat Maira yang berjalan bersama Hanifa.
“Itu Maira, Bang?” tanya Handi sambil menunjuk ke Maira.
“Iya,” jawab Ricky.
“Lucu sekali. Salam dulu dong sama Om,” kata Handi sambil mengulurkan tangannya.
Maira mencium punggung tangan Handi.
“Muah.”
“Ini siapa, Bang?” tanya Handi.
“Itu Hanifa. Pengasuh Maira,” jawab Ricky.
“Abang pinter cari pengasuh yang cantik,” celetuk Handi.
“Hush!” seru Ricky.
“Kenalkan saya Handi, adiknya Ricky,” kata Handi sambil mengulurkan tangan mengajak untuk bersalaman.
Namun Hanifa tidak membalas salam Handi, ia hanya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Sudah sore, Abang mau mengantar Maira dan Hanifa,” kata Ricky.
“Yah, kok cepat-cepat pulang,” kata Handi dengan kecewa.
“Maira dan Hanifa datang dari pagi,” kata Ricky.
“Abang sih nggak bilang kalau Maira mau ke sini. Tau begitu Handi nggak kemana-mana,” ujar Handi.
“Namanya juga kejutan. Lagi pula besok Maira ke sini lagi. Mamah ngajak piknik,” kata Ricky.
“Piknik kemana?” tanya Handi.
“Belum tau,” jawab Ricky.
“Sudah ah, Abang berangkat dulu. Assalamualaikum,” ucap Ricky.
__ADS_1
Ricky, Maira dan Hanifa masuk ke dalam mobil Ricky. Mobilpun meluncur meninggalkan rumah orang tua Ricky.