
Acara resepsi pernikahan dihadiri selain dihadiri oleh keluarga, juga dihadiri oleh rekan bisnis Firas dan rekan-rekan kerja Aida sewaktu masih bekerja di perusahaan Pak Broto.
Wira mantan bos Aida datang bersama dengan istrinya Haifa. Perut Haifa nampak sudah membesar.
“Tidak disangka, kamu sabotase Aida untuk dinikahi,” kata Wira.
Firas menanggapinya dengan tersenyum.
“Bilangnya untuk menjaga rumah padahal buat disembunyikan supaya tidak terlihat orang lain," lanjut Wira.
"Takut ya, Aida direbut oleh bos-bos yang lain?" tanya Wira.
“Hahahaha, Pak Wira bisa saja,” kata Firas.
“Modusnya kelihatan banget,” ujar Wira.
“Nyonya sepertinya sedang hamil. Bukankah anak Ibu Haifa masih bayi?” tanya Firas.
“Biasalah kejar setoran. Mumpung masih muda,” jawab Wira.
“Kejar setoran enak ya, Pak?” tanya Firas.
“Enak banget. Nanti juga kamu akan merasakan. Bakal ketagihan,” jawab Wira.
“Anaknya Aida kan sudah besar, sudah bisa dikasih adik,” kata Wira.
“Maunya begitu. Tapi lihat saja nanti. Kalau dikasih diterima, kalau belum dikasih bikin lagi. Maju terus pantang mundur!” jawab Firas.
“Betul sekali. Mumpung masih pengantin baru, terus saja usaha,” kata Wira.
“Itu sudah pasti, Pak,” jawab Firas.
Haifa mengucapkan selamat kepada Aida.
“Selamat ya, Da. Semoga sakinah mawadah warohmah,” ucap Haifa.
“Terima kasih, Bu,” jwab Aida.
“Ibu hamil lagi?” tanya Aida ketika melihat perut Haifa yang sudah membesar.
“Iya, Da. Alifa masih bayi tapi sudah diberi adik,” jawab Haifa.
“Nanti juga Aida akan merasakan hal yang sama. Maira masih kecil tapi sudah punya adik,” kata Haifa.
“Aamiin ya robbal alamin,” jawab Aida.
Bagaimanapun juga Aida ingin mempunyai anak sendiri. Jika Maira sedang pergi dengan Ricky, ia tidak merasa kesepian.
Teman-teman Aida di kantor Pak Broto semuanya mengucapakan selamat kepada Aida.
“Selamat, ya Da. Kamu sungguh beruntung bisa dapatkan Pak Firas,” kata Ade.
“Da, ajarin dong cara menggaet bos tampan dan juga tajir,” bisik Ira.
“Itu memang sudah rejeki Aida. Tidak usah dikejar tapi datang sendiri,” kata Uni.
“Sudah ah, kita turun. Di belakang antriannya panjang,” kata Uni.
__ADS_1
Teman-teman Aida turun dari pelaminan.
Selama acara berlangsung Maira ditemani oleh Hanifah. Ricky mengawasi Maira dari jauh sambil berbincang bincang dengan rekan bisnis Firas yang ia kenal. Nampak Maira jalan ke sana kemari, kadang-kadang ia naik ke atas pelaminan hanya untuk merengek kepada Aida karena dilarang makan ice cream oleh Ricky.
“Mala au ekim aji,” kata Maira sambil memeluk kaki Aida.
“Sudah makan ice cream berapa kali?” tanya Aida.
Maira berhitung dengan tangannya.
“Ini segini,” Maira menunjukkan tiga jari tangannya.
“Tiga? Banyak sekali. Sudah jangan makan lagi! Nanti pilek dan sakit perut,” kata Aida.
“Makan kue saja,” kata Aida.
“Uweh? Au uweh," ujar Maira.
"Minta sama Kakak Hanifa," jawab Aida.
Lalu Maira menghampiri Hanifa.
“Tata, au uweh,” kata Maira kepada Hanifa.
“Ayo! Kakak ambilkan,” kata Hanifa.
Hanifa menuntun tangan Maira menuju ke tempat stand kue. Ketika Hanifa mengambilkan kue untuk Maira, Ricky menghampiri mereka.
“Kamu sudah makan?” tanya Ricky kepada Hanifa.
“Kamu makan dulu! Biar Maira sama saya,” kata Ricky.
“Baik, Pak,” jawab Hanifa.
“Maira sama Ayah Ricky. Kakak Hanfa suruh makan dulu,” kata Ricky.
Ricky sengaja membiasakan Maira memanggilnya ayah, agar nanti Maira terbiasa memanggi ayah sampai besar.
Ricky menuntun Maira mencari tempat duduk, sedangkan Hanifah menuju meja prasmanan untuk mengambil makanan. Setelah mengambil makanan Hanifa duduk di dekat Maira dan Ricky. Ricky menyuapi Maira kue, sedangkan Hanifa menikmati makan siangnya.
Tiba-tiba MC meminta perhatian para tamu, ia hendak mengumumkan sesuatu.
“Mohon perhatiannya sebentar. Pengantin pria Pak Firas akan menunjukkan performanya. Beliau akan menyanyikan sebuah lagu untuk istrinya tersayang Ibu Aida,” kata MC kepada para tamu.
Mendengar perkataan MC, Aida menoleh ke Firas.
“Akang bisa menyanyi?” tanya Aida.
“Kalau untuk istriku tersayang bisalah sedikit-sedikit,” jawab Firas.
“Kepada Pak Firas silahkan naik ke atas panggung,” ujar MC.
“Ayo,” Firas memegang tangan Aida dan mengajaknya turun dari pelaminan menuju ke panggung.
Di atas panggung sudah disiapkan dua buah kursi untuk Firas dan Aida. Firas menuntun Aida untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Salah seorang personil band memberikan guitar kepada Firas, kemudian Firas duduk di sebelah Aida.
Aida fokus ke arah suaminya. Ia penasaran suaminya akan menyanyikan lagu apa untuk dirinya.
__ADS_1
“Lagu ini saya persembahkan untuk istriku tersayang. Judulnya Yang Sangat Kusayang,” kata Firas kepada semua tamu.
Firas mulai memetik guitar. Ia pun mulai bernyanyi.
Kau yang sangatku sayang
Terdengar riuh tepuk tangan dan suara siulan dari para tamu.
Karna kau tak pernah manja
Anggun pribadimu, tenang di wajahmu
Tiada yang menandingimu.
Kau yang sangat kusayang
Karna kau gadis pendiam
Wajah keibuan, tersungging senyuman
Hati ini mengagumimu.
Ku menghayal bila saat nanti
Hidup bersamamu
Hanya engkau teman dalam duka
Penghibur derita.
Kepadamu akulah yang manja
Dengarkanlah sayang
Ku pandang potretmu di dalam kamar
Tersenyum padaku
(Rano Karno – Yang Sangatku Sayang)
Firas sangat mengagumi Aida. Sebagai seorang perempuan Aida sangat mandiri. Ketika sedang susah ia tidak pernah memelas belas kasihan kepada orang lain. Ia hadapi semuanya sendiri. Maira lah yang membuatnya tegar menghadapi kerasnya kehidupan. Tidak ada waktu bagi Aida untuk meratapi hidupnya. Ia terus berjuang demi anaknya Maira.
Seiring berjalannya waktu timbullah rasa sayang di hati Firas. Ia ingin melindungi Aida dan Maira. Ia tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Aida dan Maira. Sekarang Aida sudah resmi menjadi istri Firas, sudah waktunya semua beban berat Aida diletakkan di atas bahu Firas. Sudah waktunya Aida menikmati hidup sebagai istri Firas, biar Firas yang mengatasi semuanya.
Di luar aula ada Vivin yang berusaha masuk ke dalam aula, namun para petugas penerima tamu dan para bodyguard sudah diperintahkan agar Vivin dan ayahnya tidak diperbolehkan masuk ke dalam aula. Foto Vivin dan ayahnya disebar luaskan sebagai orang yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam aula. Mereka juga harus berjaga-jaga apabila Vivin atau ayahnya mengirim orang untuk mengacaukan resepsi pernikahan Firas dan Aida.
Pukul dua siang, resepsi pernikahan Firas dan Aida berakhir. Para tamu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Firas dan Aida bisa makan siang sebelum pulang. Selesai makan siang Firas dan Aida pulang ke rumah Ibu Poppy, mereka bersiap-siap untuk menginap di hotel. Maira juga ikut menginap di hotel, hanya saja kamar Maira terpisah dari Aida. Maira tidur ditemani oleh Hanifa. Di sebelah kamar Maira adalah kamar Ricky yang terhubung dengan connecting door. Sengaja Ricky juga ikut menginap di hotel, karena sudah menjadi tugas seorang Ayah untuk menjaga anaknya. Sedangkan Hanifa bertugas sebagai pengasuh Maira.
Aida masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan oleh Firas. Aida tertegun melihat kamar itu. Kamar itu sangat mewah dan luas. Memang kamar itu disiapkan untuk pengantin.
Untuk apa kamar seluas ini kalau hanya untuk tidur berdua, kata Aida di dalam hati.
Akang Firas hanya buang-buang uang saja. Kalau mau tidur kan bisa di rumah, kata Aida di dalam hati.
Seorang bellboy masuk ke dalam kamar membawakan koper mereka.
“Terima kasih,” ucap Firas kepada bellboy dan memberikan uang kepada bellboy sebagai tip.
__ADS_1