Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
53. Keluarga Ricky


__ADS_3

Ricky memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah orang tuanya. Ia mengambil tasnya dari dalam bagasi lalu masuk ke dalam rumah.


“Assalamualaikum,” ucap Ricky.


“Waalalikumsalam,” jawab Ibu Juwita.


“Sudah selesai acaranya?” tanya Ibu Juwita.


Ricky mencium tangan Ibu Juwita.


“Sudah, Mah,” jawab Ricky.


“Mairanya mana?” tanya Ibu Juwita sambil melihat ke depan mencari seseorang.


“Sudah Ricky antar ke rumah Pak Firas,” jawab Ricky.


“Loh, kok diantar ke sana? Kenapa tidak dibawa ke sini?” tanya Ibu Juwita.


“Kapan-kapan Ricky ajak Maira main ke sini. Tapi harus sabar dan pelan-pelan ke Maira. Tadi saja sewaktu mau pulang dia menangis ingin ke mamahnya. Ricky ajak main dulu ke playground, agar ia tidak ingat ke mamahnya,” jawab Ricky.


“Sudah ah, Mah. Ricky mau sholat ashar terus mandi. Takut keburu adzan magrib,” kata Ricky.


“Ya sudah, cepat sholat sana!” seru Ibu Juwita.


Ricky langsung masuk ke kamar mandi untuk wudhu. Tiba- tiba ada seorang gadis remaja datang ke rumah Ibu Juwita.


“Assalamualaikum,” ucap gadis itu.


Ibu Juwita keluar dari rumahnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Juwita.


“Eh, Hesti. Ada apa, Ti?’" tanya Ibu Juwita sambil membuka pintu pagar.


“Ini Tante, Hesti lagi belajar membuat kue, Hesti buatkan satu loyang khusus untuk Bang Ricky,” jawab Hesti lalu memberikan piring yang berisi satu loyang kue kepada Ibu Juwita.


Ibu Juwita menerima kue pemberian Hesti.


“Waduh, banyak sekali. Padahal tidak usah repot-repot mengirim kue segala,” kata Ibu Juwita.


“Tidak apa-apa, Tante. Sekalian nyicipi kue buatan Hesti,” ujar Hesti.


Hesti melirik ke arah mobil Ricky.


“Abang Ricky sudah pulang ya, Tante?” tanya Hesti.


“Sudah. Sekarang Ricky sedang istirahat, kecapean habis membantu pernikahan temannya,” jawab Ibu Juwita.


“Ya sudah, deh. Hesti pulang dulu. Titip salam untuk Bang Ricky. Assalamualaikum,” ucap Hesti.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Juwita.


Ibu Juwita hendak menutup pintu pagar, namun tiba-tiba Pak Agus datang. Beliau baru pulang dari rapat RW.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Agus.


“Waalaikumsalam,’ jawab Ibu Juwita.


“Tadi Hesti dari sini, Mah?” tanya Pak Agus.


“Iya, dia mengirim kue untuk Ricky,” jawab Ibu Juwita.

__ADS_1


Pak Agus membuka tissue yang menutupi kue tersebut.


“Wah, kelihatannya enak,” kata Pak Agus.


“Kue ini untuk Ricky, bukan buat Papah,” ujar Ibu Juwita.


“Cicipi sedikit kan boleh,” kata Pak Agus.


Pak Agus masuk ke halaman rumahnya. Ia melihat mobil Ricky.


“Ricky sudah pulang, Mah?” tanya Pak Agus.


“Sudah, sekarang ia sedang sholat dan mandi,” jawab Ibu Juwita.


Pak Agus dan Ibu Juwita masuk ke dalam rumah. Nampak Ricky baru selesai mandi, ia sedang duduk di meja makan.


“Barusan Hesti mengirim kue, katanya ia sedang belajar membuat kue. Dia membuatkan satu loyang kue untuk kamu,” kata Ibu Juwita lalu menaruh kue di atas meja makan.


Ricky membuka tissue yang menutupi kue.


“Tampangnya seperti tidak enak,” kata Ricky dengan acuh tak acuh.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau, buat Papah saja,” kata Pak Agus.


“Mah, tolong ambilkan piasau kue!” kata Pak Agus.


Ibu Juwita mengambil pisau dari lemari lalu memotong kue pemberian Hesti. Pak Agus mengambil satu potong kue lalu dimakannya. Tiba-tiba Pak Agus mengeluarkan kembali kue dari dalam mulutnya.


“Puh puh puh,” Pak Agus mengeluarkan sisa kue dari mulutnya.


Lalu membuang kue ke tempat sampah dan langsung kumur-kumur di bak cuci piring.


“Pahit banget kuenya. Itu kue atau racun?” jawab Pak Agus.


Pak Agus langsung meminum segelas air putih untuk menetralkan lidahnya yang pahit karena kue.


“Masa, sih?” Ibu Juwita memakan kue tersebut.


Ibu Juwita langsung mengeluarkan kue dari mulutnya. Lalu membuang kue ke tempat sampah.


“Kebanyakan baking soda jadi kuenya pahit,” kata Ibu Juwita.


Ibu Juwita langsung minum segelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit di lidahnya. Tiba-tiba Handi turun dari lantai atas, lalu menghampiri Ricky dan orang tuanya.


“Wah ada kue, nih. Siapa yang bikin?” tanya Handi ketika melihat kue di atas meja makan.


“Di kasih sama Hesti,” jawab Ibu Juwita.


Handi mengambil sepotong kue.


“Eh, jangan dimakan! Kuenya pahit,” seru Ibu Juwita.


Namun Handi tidak percaya dengan perkataan mamahnya, ia langsung melahap kue itu. Tak lama kemudian Handi langsung berlari ke dapur dan mengeluarkan semua isi mulutnya ke tong sampah. Lalu kumur-kumur di bak cuci piring.


“Busyet, pahit bener!” seru Handi.


“Hesti masukin guna-guna kali ke kue itu,” celetuk Handi.


“Hush! Tidak boleh ngomong sembarangan! Nanti jadi fitnah,” seru Pak Agus.


“Habis pahit bener kuenya,” sahut Handi.

__ADS_1


“Itu pahit dari baking soda, bukan dari guna-guna,” kata Ibu Juwita.


Ibu Juwita membawa kue itu lalu dibuang ke tempat sampah, karena kuenya tidak dapat dimakan.  Ibu Juwita duduk kembali di kursi makan.


“Ricky, coba kamu bujuk Aida supaya mau menyerahkan Maira kepadamu!” kata Ibu Juwita.


Ricky menghela nafas.


“Susah, Mah. Aida sangat sayang pada Maira. Dia belum tentu mau menyerahkan Maira kepada Ricky,” jawab Ricky.


“Loh, kamu kan ayahnya. Kamu berhak untuk mengambil Maira dari Aida,” kata Ibu Juwita.


“Mah, Aida bisa saja memberikan Maira kepada Ricky. Tapi yang menjadi persoalannya apakah nanti istri Ricky mau menerima Maira? Apalagi Maira adalah anak diluar nikah. Kalau suatu hari nanti terjadi apa-apa dengan Maira, Pak Firas tidak akan segan-segan bertindak. Dia akan menuntut Ricky. Hak asuh Ricky akan dicabut. Dan kita tidak diijinkan bertemu dengan Maira,” kata Ricky.


“Memang Pak Firas orangnya mengerikan, ya?” tanya Handi.


“Bukannya mengerikan! Tapi dia kaya raya, ia akan menggunakan kekayaannya untuk menghancurkan orang yang sudah menyakiti Maira. Pak Firas sayang sekali sama Maira, dia menganggap Maira seperti anaknya sendiri,” jawab Ricky.


“Wah, keren dong,” puji Handi.


“Kamu harus cari istri yang sayang sama Maira dan mau menerima Maira! Agar Aida dan Pak Firas mau memberikan Maira kepadamu,” kata Ibu Juwita.


“Iya, Ricky juga tau. Tapi cari dimana istri seperti itu?” tanya Ricky.


“Banyak-banyak berdoa! Suatu hari kamu akan bertemu perempuan seperti itu,” kata Pak Agus sambil menepuk nepuk pundak Ricky.


“Aamiin ya robbal alamin,” ucap Riky.


Tiba-tiba terdengar kumandang adzan magrib.


“Sudah magrib. Ayo kita sholat magrib di masjid!” kata Pak Agus.


Ricky dan Handi bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.


***


Kita kembali ke pengantin baru.


Malam harinya Firas mencheck apakah bercak darah Aida sudah berhenti atau belum. Semangat untuk menyentuh istrinya sedang menggebu.


“Sudah berhenti belum bercak darahnya?” tanya Firas setelah mereka selesai sholat isya.


“Sudah, Kang,” jawab Aida sambil melipat mukenahnya.


“Coba aku check,” Firas langsung menggendong istrinya.


“Aduh Akang, tidak sabaran banget,” kata Aida dengan kaget.


Firas meletakkan istrinya di atas tempat tidur. Ia menyingkap daster istrinya dan memeriksa pa-kaian da-lam istrinya. Pa-kaian da-lam istrinya terlihat bersih tidak ada bercak darah.


“Alhamdullilah,” ucap Firas.


Firas langsung membuka kaos dan celana pendeknya.


“Eh! Akang mau apa?” tanya Aida kaget.


“Mau buat adik untuk Maira,” jawab Firas.


Firas langsung naik ke atas tempat tidur dan mengungkung tubuh istrinya. Ia langsung mencumbu dan menyentuh istrinya. Aida tidak dapat menolak perlakuan suaminya.


Selanjutnya hanya Tuhan yang tau segalanya.

__ADS_1


__ADS_2