Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
64. Operasi Caesar.


__ADS_3

Firas memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Firas dan Aida keluar dari mobil mereka menuju ke penjual mie tek-tek.


“Bang, mie kuahnya satu dan nasi gorengnya satu,” kata Firas kepada penjual mie tek-tek.


“Pedes nggak, Pak?” tanya penjual mie tek-tek.


“Sedang saja, Bang,” jawab Firas.


“Bang, mie kuahnya yang pedas,” sahut Aida.


“Eh, jangan!,” seru Firas.


“Aida mau yang pedas,” ujar Aida.


“Besokan mau dioperasi. Nanti kamu sakit perut,” kata Firas.


“Tidak akan sakit perut,” jawab Aida.


“Ya sudah, kali ini saja. Besok kalau sudah melahirkan kamu tidak boleh makan pedas!” kata Firas.


“Iya, Akang,” jawab Aida.


“Bang, mie kuahnya yang pedas, ya!” kata Aida kepada penjual mie tek-tek.


“Baik, Bu,” jawab penjual mie tek-tek.


Penjual itu langsung membuatkan pesanan Aida dan Firas. Kebetulan penjual mie tek-tek tidak sedang ramai. Sehingga mereka tidak harus menunggu terlalu lama. Pesanan merekapun datang, Aida dan Firas langsung menyantap pesanan mereka, karena mereka harus segera pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruang bersalin dan menunjukkan surat pengantar dari dokter Nda Dha Thoel. Aida langsung dibawa ke kamar rawat inap. Firas meminta kamar rawat inap VIP untuk Aida. Di dalam kamar rawat inap, suster mengambil darah Aida untuk test laboraturium. Setelah itu Aida diperbolehkan tidur. Aida dan Firas tidur berdua di ranjang pasien, mereka tidur sambil berpelukan.


Pukul empat subuh, suster masuk ke dalam kamar Aida. Aida langsung terbangun mendengar suara pintu kamar terbuka.


“Kang, bangun! Ada suster datang,” kata Aida sambil menepuk-nepuk lengan Firas.


“Hmmm,” Firas hanya bergumam sebentar kemudian tidur kembali.


“Kang, bangun! Pindah tidurnya,” kata Aida sambil terus menepuk lengan suaminya.


“Ada apa? Aku masih ngantuk,” tanya Firas tanpa membuka matanya lalu melanjutkan tidurnya.


“Suster datang,” jawab Aida.


Suster menghampiri tempat tidur Aida.


“Maaf, Pak. Bapak pindah tidurnya! Ibu mau dipersiapkan untuk operasi caesar,” kata suster Gendis Arum.


Firas bangun dengan sempoyongan dan pindah ke sofa. Lalu melanjutkan tidurnya. Suster Gendis Arum menutup tirai tempat tidur. Suster Gendis Arum membersihkan bulu di **** ********** Aida. Setelah itu barulah suster Gendis Arum menguras perut Aida dengan cara memasukkan cairan dari lubang belakang Aida.


“Tahan ya, Bu,” kata suster Gendis Arum


Selama proses pengurasan Aida harus menahan agar tidak pup. Setelah proses pengurasan selesai barulah Aida diperbolehkan ke kamar mandi. Setelah perutnya terasa enak barulah Aida keluar dari kamar mandi. Aida melihat Firas masih belum bangun juga.


“Kang, bangun! Sebentar lagi adzan subuh,” kata Aida sambil menepuk lengan Firas.

__ADS_1


“Nanti saja banguninnya kalau sudah adzan subuh,” kata Firas dengan mata terpejam.


“Eeehhhh. Akang lupa ya, kalau sebentar lagi Aida mau dioperasi,” kata Aida.


Mendengar perkataan Aida, Firas langsung bangun dari tidurnya.


“Kamu mau dioperasi sekarang?” tanya Firas.


“Iya, sebentar lagi adzan subuh,” jawab Aida.


Tiba-tiba suster Gendis Arum masuk ke dalam kamar Aida.


“Sudah ke kamar mandinya?” tanya suster Gendis Arum.


“Sudah, Sus,” jawab Aida.


“Ibu ganti bajunya, dengan baju ini. Setelah mengganti baju saya akan pasang kateter,” kata suster Gendis Arum  alu memberikan baju khusus untuk pasien yang akan dioperasi kepada Aida. Seetelah itu meninggalkan kamar Aida.


Firas mendekati Aida. “Sudah siap-siap mau dioperasi?” tanya Firas.


“Sudah dari tadi. Akang dibangunin malah tidur lagi,” kata Aida sambil membuka baju.


“Maafkan aku. Jangan marah. Aku ngantuk sekali, mataku rasanya berat sekali,” kata Firas sambil mendekati Aida.


Ketika Aida hendak memakai baju operasi Firas langsung mendekatkan kepalanya ke dada Aida. Ia melahap dada istrinya dan menge_nyotnya.


“Akang! Nanti dilihat suster,” seru Aida sambil memukul lengan Firas.


“Mumpung kembar belum lahir. Nanti kalau mereka sudah lahir, aku tidak akan kebagian. Karena dikuasai kembar,” kata Firas.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka, suster Gendis Arum masuk ke dalam kamar Aida. Cepat-cepat Aida memakai bajunya. Firas langsung masuk ke dalam kamar mandi.


“Sudah pakai bajunya?” tanya suster Gendis Arum.


“Sudah, sus,” jawab Aida.


“Sekarang Ibu berbaring. Saya akan memasang kateter,” kata suster Gendis Arum.


Aida berbaring, lalu suster Gendis Arum mulai memasangkan kateter. Firas keluar dari kamar mandi dan melihat suster Gendis Arum sedang memasang kateter pada bagian bawah tubuh Aida.


“Kapan mulai operasinya, Sus?” tanya Firas.


“Setelah sholat subuh, Pak,” jawab suster Gendis Arum.


Akhirnya selesai sudah pemasangan kateter. Suster Gendis. Arum menyingkap tirai penutup tempat tidur lalu membuka pintu kamar lebar-lebar. Suster Gendis Arum memanggil suster lainnya. Dengan dibantu suster Anha Ruheni, suster Gendis Arum mendorong tempat tidur Aida keluar dari kamar rawat inap menuju ruang operasi. Ketika menuju ke ruang operasi, sayup-sayup Aida mendengar suara adzan subuh berkumandang. Suster Gendis Arum dan suster Anha Ruheni mendorong tempat tidur Aida ke sebuah ruangan seperti kamar biasa. Lalu mereka menaruh tempat tidur Aida tepat di dekat pintu Aida dan meninggalkan Aida. Aida menggunakan kesempatan itu untuk sholat subuh. Aida tayamum dengan menggunakan debu yang menempel di tembok. Setelah itu ia menggunakan jilbab instantnya lalu ia melaksanakan sholat subuh.


Sementara itu Firas sedang sholat subuh di masjid yang berada di lingkungan rumah sakit.Setelah selesai sholat ia berdoa meminta agar dilancarkan dan dimudahkan operasi caesar istrinya. Tidak lupa ia juga berdoa agar istri dan anak-anaknya selamat dan dalam keadaan sehat wal afiat. Setelah selesai sholat subuh Firas menuju ke ruang tunggu operasi, menunggu istrinya selesai di operasi.


Kembali ke Aida. Ketika Aida membuka jilbab instantnya, seorang suster dan seorang perawat laki-laki datang dan mendorong tempat tidur Aida menuju ke sebuah pintu ruangan yang berada di ruangan itu. Ketika pintu dibuka ternyata itu adalah sebuah ruang operasi yang sangat besar dan sangat dingin. Mereka menaruh tempat tidur tepat dibawah lampu operasi. Tak lama kemudian datanglah seorang pria dengan pakaian operasi. Ia memperkenalkan diri sebagai dokter anastesi. Lalu dokter itu menyuntikkan obat bius dan Aidapun tertidur dengan pulas.


Sementara operasi Aida berlangsung, Firas sedang menunggu di depan ruang operasi dengan cemas. Operasi berlangsung sangat lama. Pukul lima lewat tiga puluh menit tiga orang suster keluar dari ruang operasi. Masing-masing mereka membawa seorang bayi.


“Keluarga Ibu Aida,” panggil suster Roroazzahra.

__ADS_1


“Ya,” jawab Firas langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri suster Roroazzahra.


“Bapak siapa Ibu Aida?” tanya suster Roroazzhra.


“Saya suaminya,” jawab Firas.


“Anak bapak dua laki-laki dan satu perempuan,” kata suster Roroazzhra.


“Alhamdullilah,” ucap Firas.


Kemudian suster Roroazzahra memberikan salah satu bayi kepada Firas untuk diadzankan. Dengan perasaan terharu Firas mengadzani bayi-bayinya satu persatu. Setelah selesai mengdzani Firas mencium pipi bayi-bayinya. Suster Roroazzahra dan suster-suster lainnya membawa bayi-bayi Aida dan Firas menuju ke ruang bayi. Seorang pria dengan berpakaian dokter mengikuti suster Roroazzahra dan suster-suster lainnya dari belakang. Ia adalah dokter anak yang bertugas untuk memeriksa bayi-bayi mereka.


Firas kembali ke tempat duduknya menunggu proses operasi istrinya selesai. Empat puluh menit kemudian suster Diniari keluar dari ruang operasi.


“Keluarga Ibu Aida,” panggil suster Diniari.


“Ya,” jawab Firas. Ia  langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri suster Diniari.


“Bapak, siapa Ibu Aida?’ tanya Diniari.


“Saya suaminya,” jawab Firas.


“Bapak sudah boleh melihat istri Bapak,” kata suster Diniari.


Firas langsung masuk ke ruang pemulihan. Setelah ia memakai baju steril, Firas mendekati Aida yang sedang tertidur dengan nyenyak. Firas memegang telapak tangan Aida lalu mengecup punggung telapak tangan Aida. Setelah itu Firas mengecup kening Aida.


“Terima kasih, sayang. Kamu sudah melahirkan anak-anak yang sehat, cantik, tampan dan lucu-lucu,” bisik Firas di telinga Aida.


Aida yang sedang tertidur, sayup-sayup mendengar suara Firas.


“Akang,” gumam Aida dalam tidurnya.


“Ssssttt. Kamu tidur lagi aja,” bisik Firas sambil mengusap rambut Aida.


Namun bisikan Firas membuat Aida terbangun.


“Akang,” panggil Aida. Aida hendak membuka matanya, namun terasa sagat berat. Aida kembali memejamkan matanya dan tertidur. Firas kembali mengecup kening Aida.


.


.


.


.


Aida dibius total karena bayinya kembar lebih dari dua dan salah satu bayinya sungsang.


Yang menunggu Ricky dan Hanifa, harap bersabar. Jika cerita Aida dan Firas tamat akan langsung dilanjutkan  dengan cerita Ricky dan Hanifa.


Kalau tulisannya banyak typo jangan dihujat, ya. Soale Deche lagi ngantuk dan cape, karena baru pulang dari Rumah Sakit Gigi dan Mulut.


Terima kasih, karena masih setia membaca Terjebak Pesona Mamah Muda.

__ADS_1


__ADS_2