Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
54. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Keesokan paginya setelah sarapan pagi Firas dan Aida pulang ke rumah orang tua Firas. Mereka disambut Maira dengan gembira. Aida langsung menggendong Maira.


“Mamah kangen sama Maira,” kata Aida sambil mencium-cium pipi Maira yang gembil.


“Mala uga tangen cama Mama,” balas Maira lalu memeluk Aida.


“Mama bobo teyus, nga au ain cama Mala,” keluh Mira.


“Katanya Maira mau punya adik. Mamah harus bobo terus,” ujar Firas.


“Akang!” seru Aida sambil melotot ke Firas.


“Ana ade na? Uda ada beyum?” tanya Maira.


“Belum. Maira tunggu aja, nanti adiknya ada di perut Mamah,” jawab Firas.


“Akang!” seru Aida.


Aida takut Maira terus berharap memiliki adik. Sedangkan entah kapan adiknya akan hadir ke dunia. Manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.Firas menanggapinya dengan menyengir.


“Maira, ayo kita main lagi. Mamahnya suruh istrirahat dulu, kasihan mamahnya cape baru datang” kata Ibu Poppy sambil mengusap punggung Maira.


“Tuyun,” kata Maira minta diturunkan.


Aida menurunkan Maira. Maira melanjutkan mainnya. Rupanya ia sedang main masak-masakan bersama eninnya.


Firas merangkul bahu Aida.


“Ayo kita ke kamar. Kamu belum melihat kamar barumu,” kata Firas.


Firas membimbing Aida menuju ke kamar mereka yang berada di lantai atas. Firas membuka pintu kamarnya.


“Ini kamar kita,” kata Firas.


Aida masuk ke kamar mereka. Aida melihat ke sekeliling kamar Firas. Di atas tempat tidur ada beberapa boneka milik Maira. Aida duduk di sisi tempat tidur. Firas duduk di samping istrinya.


“Untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Karena rumah kita sedang di renovasi,” kata Firas.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Aida.


“Aku juga sedang pesan asisten rumah tangga pada Mpok Lani dan Bi Ijah untuk membantumu dan menjaga Maira,” kata Firas.


“Eh, nggak usah! Aida masih bisa mengerjakan semua sendiri,” ujar Aida.


“Nggak apa-apa. Nanti kalau kamu hamil, kamu tidak boleh terlalu cape. Maira kan udah besar, dia pasti tidak akan bisa diam. Kita perlu orang untuk mengasuhnya, kamu cukup memperhatikan saja,” kata Firas.


“Terserah Akang, deh,” ujar Aida,


“Nah, begitu dong.”


Firas mengecup kening Aida.

__ADS_1


“Main, yuk!” bisik Firas.


“Tadi malam dan pagi kan sudah,” kata Aida.


“Kan biar cepat kasih Aidik untuk Maira,” ujar Firas.


“Bilang aja, Akang yang mau,” kata Aida.


“Ayo!” kata Firas dengan tidak sabaran.


“Nanti  malam aja. Sebentar lagi sholat dzuhur dan makan siang,” jawab Aida.


“Bener, ya. Kalau Maira sudah tidur kita langsung main,” kata Firas.


“Iya,” jawab Aida.


“Sepuluh ronde, ya!” kata Firas.


“Akang!” seru Aida.


FIras memeluk Aida lalu mengecup bi_bir Aida.


“Satu ronde saja. Nanti kamu kecapean,” kata Firas.


“Ayo kita ke Maira. Kasihan dia, kita sudah terlalu lama meninggalkannya,” kata Firas.


Firas mengandeng tangan Aida dan membawanya keluar dari kamar.


***


“Mas!” Eric memanggil bartender dengan sedikit berteriak karena berisik oleh suara music. Bartender itu mendekati Eric.


“Saya mencari seorang gadis yang bernama Vivin,” kata Eric dengan suara yang agak keras.


Bartender itu menunjuk ke seorang perempuan yang sedang tidur di atas meja bar. Eric menghampiri Vivin. Vivin menggunakan gaun yang sek-si, memperlihatkan punggungnya yang putih mulus. Eric menghela nafas melihat putri bosnya. Eric membuka jaketnya lalu ia menutup punggung Vivin dengan jaketnya.


“Mbak, bangun Mbak,” Eric menepuk bahu Vivin.


Namun Vivin tidak bangun. Eric menepuk bahu Vivin lagi.


“Mbak, bangun Mbak,” kata Eric.


“Dibopong aja, Mas! Kalau dibangunkan nggak akan bangun-bangun. Dia kebanyakan minum,” kata bartender.


“Berat, Mas kalau dibopong,” kata Eric.


Bartender memperhatikan tubuh Vivin.


“Sepertinya tidak terlalu berat. Badannya langsing,” kata bartender.


Eick mengambil tas Vivin lalu mengambil kunci mobil Vivin dari dalam tas. Setelah itui Ia menyelempangkan tas Vivin ke tubuhnya.

__ADS_1


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Eric.


Kemudian Eric membopong tubuh Vivin. Memang benar tubuh Vivin tidak terlalu berat. Namun sebagai manusia Eric mempunyai keterbatasan dalam mengangkat berat. Apalagi Pub ini luas dan menuju tempat parkir juga jauh.


Eric membawa Vivin melewati para pengunjung Pub yang ramai. Akhirnya ia bisa keluar dari Pub itu. Eric membawa Vivin menuju ke mobil Vivin. Dari jauh Eric langsung membuka kunci pintu mobil Vivin dengan menggunakan remote. Setelah sampai di mobil Vivin, Eric langsung membuka pintu mobil dan menaruh tubuh Vivin di kursi belakang.


“Lumayan berat juga,” kata Ercik sambil memutar-mutar pangkal lengannya.


Kemudian Eric masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil Vivin. Akhirnya Eric sampai di rumah Pak Hadi, seorang penjaga rumah membukakan pintu pagar. Eric memarkirkan mobil di halaman rumah. Eric keluar dari mobil lalu membuka pintu penumpang bagian belakang. Eric kembali menggendong Vivin dan membawanya masuk ke dalam rumah. Seorang wanita setengah baya membukakan pintu. Ia adalah Ibu Adelia, mamahnya Vivin.


“Tolong bawa ke kamarnya!” kata Ibu Adelia.


“Ikuti saya!” lanjut Ibu Adelia.


Eric mengikuti Ibu Adelia menuju ke kamar Vivin. Ibu Adelia membuka pintu kamar Vivin, Eric masuk ke kamar Vivin dan meletakkan Vivin di atas tempat tidur. Ibu Adelia menyelimuti putrinya.


“Terima kasih,” ucap Ibu Adelia.


“Sama-sama, Bu. Ini kunci mobil Mbak Vivin,” kata Eric.


Eric memberikan kunci mobil Vivin kepada Ibu Adelia.


“Kamu pulang naik apa?” tanya Ibu Adelia.


“Naik ojek online, Bu,” jawab Eric.


Ibu Adelia memberikan kunci mobil Vivin kepada Eric.


“Pakai mobil Vivin saja! Besok kamu bawa mobilnya ke kantor!” kata Ibu Adelia.


“Tidak usah, Bu. Saya sudah biasa naik ojek online,” kata Eric.


“Ini sudah larut malam, terlalu berbahaya kalau kamu naik ojek,” kata Ibu Adelia.


Akhirnya Eric mengambil kunci itu dari tangan Ibu Adelia.


“Terima kasih, Bu,” ucap Eric.


“Saya permisi dulu,” pamit Eric.


“Tunggu dulu!” seru Ibu Adelia.


Eric pun berhenti.


“Ini untuk kamu,” kata Ibu Adelia.


Ibu Adelia memberikan amplop kepada Eric. Eric mengerutkan dahinya ketika melihat amplop yang diberikan Ibu Adelia.


“Tidak usah, Bu! Saya hanya menjalankan perintah dari Pak Hadi,” ujar Eric.


“Ini ucapan terima kasih saya, karena kamu sudah menolong putri saya,” kata Ibu Adelia yang tetap memaksa untuk memberikan amplop kepada Eric.

__ADS_1


“Tidak usah, Bu! Sudah dipinjamkan mobil untuk pulang, sudah alhamdulilah,” ucap Eric.


Eric langsung keluar dari kamar Vivin tanpa mengambil uang itu. Ia pun meninggalkan rumah Pak Hadi.


__ADS_2