
Aida terbangun dari tidurnya. Terasa kepalanya agak berat karena terlalu banyak menangis. Ada sebuah tangan kecil yang memeluknya. Aida menoleh ke samping, Maira sedang tidur nyenyak sambil memeluknya. Aida menghadap ke Maira, diusapnya rambut Maira dengan penuh kasih sayang.
“Mamah sayang Maira. sampai kapanpun Maira tetap anak Mamah,” kata Aida.
Maira bergerak.
“Mama,” kata Maira lalu ia berpindah posisi dan memeluk guling di sebelahnya.
Tiba-tiba Aida sadar kalau ia belum sholat ashar.
“Astafirullahaladzim, sudah jam berapa?” Aida mencari ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Di ponselnya waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Cukup lama juga ia tertidur. Tadi ia tidur setelah sholat dzuhur. Aida bangkit dari tepat tidur. Di atas meja sofa ia melihat sepiring nasi yang lengkap dengan lauk pauk serta segelas air putih. Tiba-tiba perutnya merasa lapar.
“Sholat ashar dulu, baru makan,” Aida beranjak menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Aida mengaca di kaca kamar mandi, tampang wajahnya kelihatan sangat kacau. Ia langsung berwudhu dan kemudian sholat. Seleaai sholat Aida duduk di shofa dan memakan makanan yang sudah disediakan Ibu Poppy untuknya. Makanan itu sudah dingin karena terkena ac di kamar, namun rasanya tetap enak. Mungkin karena ia habis nangis jadi menguras tenaga yang banyak. Aida menghabiskan semua makanan yang berada di atas piring.
“Alhamdullilah,” ucap Aida setelah menghabiskan makanan. Lalu Aida meneguk air putih sampai habis. Aida membawa piring bekas makannya ke dapur. Ketika ia keluar dari kamar rumah Ibu Poppy nampak sepi. Tidak nampak orang satu pun di ruang keluarga dan ruang makan. Aida berjalan menuju ke dapur. Di dapur ada Mpok Lani yang sedang mencuci tangan.
“Eh, Non Aida sudah bangun?” tanya Mpok Lani.
“Sudah, Mpok,” jawab Aida.
Aida menyimpan piring ke bak cuci piring. Ketika Aida hendak mencuci piring langsung dicegah oleh Mpok Lani.
“Tinggalin saja, Non! Biar Mpok yang mencuci piring,” kata Mpok Lani.
“Biarin, Mpok. Sekalian cuci tangan,” kata Aida.
“Jangan, Non! Non cuci tangan saja,” cegah Mpok Lani.
Akhirnya Aida mengalah, ia hanya mencuci tangan saja.
“Non, mau minum apa? Biar Mpok bikini,” kata Mpok Lani.
“Tidak usah, Mpok. Terima kasih,” jawab Aida.
“Mpok bikinkan teh manis saja, ya? Biar sakit kepalanya berkurang,” kata Mpok Lani.
Darimana Mpok Lani tau jika kepalanya terasa berat? Mungkin karena Mpok Lani mendengar suaranya yang sedikit bindeng akibat dari menangis.
“Biasanya kalau orang habis menangis kepalanya terasa sakit,” kata Mpok Lani seolah membaca pikirannya.
“Boleh deh, Mpok,” jawab Aida.
Mpok Lani mulai membuatkan teh manis untuknya. Aida duduk di kursi menunggu teh manis yang sedang dibuatkan oleh Mpok Lani.
“Nih, Non. Diminum selagi panas. Dijamin sakit kepalanya akan berkurang,” kata Mpok Lani.
“Terima kasih, Mpok,” ucap Aida.
“Sama-sama, Non,” jawab Mpok Lani.
Aida membawa teh menuju ke kamarnya, namun ketika ia keluar dari dapur ia bertemu dengan Ibu Poppy.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Ibu Poppy.
“Sudah agak mendingan, Tante,” jawab Aida.
“Syukurlah,” kata Ibu Poppy.
“Kita duduk di situ!” Ibu Poppy mengajak Aida menuju ke ruang keluarga.
__ADS_1
“Ayo diminum dulu tehnya selagi masih hangat!” kata Ibu Poppy.
Aida meminum tehnya sedikit demi sedikit. Rasanya hangat ke badannya. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Maira menangis.
“Maira bangun,” Aida meletakkan cangkir di meja, namun dicegah oleh Ibu Poppy.
“Sudah kamu teruskan saja minumnya! Biar Tante yang mengambil Maira,” kata Ibu Poppy.
Ibu Poppy bergegas menuju kamar tamu. Tak lama kemudian Ibu Poppy datang sambil menggendong Maira yang habis menangis.
“Tuh, Mamahnya lagi minum,” kata Ibu Poppy.
Maira mengulur kedua tangannya minta digendong oleh Aida. Aida mengambil Maira dari gendongan Ibu Poppy.
“Mama daliana? Mala cayi-cayi Mama,” kata Maira.
“Mamah di sini lagi ngobrol sama Enin,” jawab Aida sambil mengusap rambut Maira.
“Au pipis,” kata Maira.
“Mamah simpan dulu cangkir ke dapur. Maira tunggu di sini,” ujar Aida.
Aida menaruh Maira di atas sofa, lalu membawa cangkir ke dapur. Maira mengikuti Aida dari belakang. Setelah menaruh cangkir di dapur, Aida membawa Maira ke kamar. Maira pipis sekalian mandi sore. Untung Aida membawakan Maira baju ganti, sehingga Maira bisa ganti dengan baju yang bersih.
“Mamah mau mandi dulu. Maira mau nunggu Mamah di kamar atau mau di luar?” tanya Aida.
“Au cama Mama,” jawab Maira.
“Ya sudah, tunggu di sini! Mamah mandi dulu,” lalu Aida pun menuju ke kamar mandi.
Maira menunggu mamahnya Sambil mengacak-acak isi tasnya. Tak lama kemudian Aida keluar dari kamar mandi. Ia kaget melihat Maira mengacak-acak isi tas sambil memainkan bedak. Wajah dan baju Maira penuh dengan bedak.
“Aduh, Maira! Kenapa dimainin bedaknya?” tanya Aida.
“Kita keluar, yuk,” Aida mengajak Maira keluar dari kamar.
Ketika mereka keluar dari kamar bertemu dengan Firas yang baru pulang, Firas masih menggunakan pakaian yang dipakai tadi siang.
“Loh Maira, kenapa muka, rambut dan bajunya putih semua?” tanya Firas.
Maira langsung ngumpet di belakang mamahnya sambil memeluk kaki mamahnya.
“Tadi mainin bedak,” jawab Aida.
Firas tersenyum lalu diusapnya kepala Maira.
“Jangan diulangi lagi, ya! Nanti bedaknya cepat habis,” kata Firas.
Maira menganggukkan kepalanya.
“Sana main lagi,” kata Firas.
“Cama Mama,” jawab Maira.
“Loh kok, sama Mamah? Biasanya main sendiri,” tanya Firas.
“Dia malu,” jawab Aida sambil berbisik.
Ibu Poppy dan Pak Budi keluar dari kamarnya lalu menghampiri Maira.
“Eh, Cucu Enin sudah mandi,” ujar Ibu Poppy.
__ADS_1
Maira ngumpet di balik kaki mamahnya tidak berani menampakkan dirinya.
“Loh kenapa jadi malu? Biasanya tidak sama Mamah” tanya Ibu Poppy.
Maira menjawab dengan gelengan kepala.
“Kenapa?” tanya Ibu Poppy dengan suara yang pelan.
“Habis mainin bedak,” jawab Aida.
“Oh.”
Ibu Poppy memegang tangan Maira.
“Sini Enin bersihkan,” ujar Ibu Poppy.
Maira pun menurut dan mengikuti Ibu Poppy. Ibu Poppy membawa Maira ke ruang keluarga lalu dengan pelan-pelan dibersihkan bedak yang masih menempel.
“A, mandi dulu! Sebentar lagi magrib, kita sholat magrib berjamaah,” kata Ibu Poppy sambil membersihkan bedak yang menempel pada rambut Maira.
“Ya, Mah,” jawab Firas.
“Saya mandi dulu,” pamit Firas.
“Iya, Pak.”
Firas pun menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Adzan magrib pun berkumandang. Keluarga Pak Budi bersiap-siap untuk sholat magrib berjamaah. Setelah selesai sholat magrib mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
“Mah, Andri pergi dulu,” pamit Andri sambil mencium tangan Ibu Poppy dan Pak Budi.
“Nggak makan dulu?” tanya Ibu Poppy.
“Nggak, makan di luar aja,” jawab Andri.
“Hati-hati nyetirnya! Jangan ngebut!” seru Pak Budi.
“Iya, Ayah. Assalamualaikum,” ucap Andri.
“Waalaikumsalam,” jawab semuanya.
Andripun keluar dari rumahnya.
“Mau ngapelin pacarnya, tuh,” sahut Salfa.
“Yoga nggak ke sini?” tanya Pak Budi.
“Sebentar lagi ke sini,” jawab Salfa sambil menuangkan nasi ke piring.
“Kamu tidak ada yang datang ngapelin?” tanya Salfa kepada Aida.
“Saya tidak punya pacar, Teh,” jawab Aida.
“Aida sibuk cari uang untuk dirinya dan Maira. Mana punya waktu untuk pacaran,” kata Ibu Poppy.
“Bukankah begitu, Aida?” tanya Ibu Poppy.
“Eh iya, Tante,” jawab Aida dengan senyum yang dipaksa.
“Lagi pula siapa yang berani mendekati Aida? Ada Aa yang selalu berada di sampingnya. Cowok-cowok yang mendekati Aida langsung minder melihat Aa,” kata Salfa.
__ADS_1
“Udah jangan banyak bicara kalau sedang makan!” seru Pak Budi.
Semuanya langsung diam dan melanjutkan makan.