
Ibu Poppy menuntun Maira keluar dari paviliun. Aida mengunci paviliun. Kemudian mereka keluar dari rumah Firas. Aida mengunci pintu rumah. Ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil Pak Joni mengatakan sesuatu.
“Bu, itu sepertinya mobil temannya Non Salfa,” Pak Joni menunjuk ke mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Firas.
“Teman Salfa yang mana?” tanya Ibu Poppy.
“Itu loh, Bu. Yang suka sering ke rumah. Kalau tidak salah namanya Non Vivin,” jawab Pak Joni.
“Saya hafal betul nomor plat mobilnya,” kata Pak Joni.
“Berani-beraninya dia datang ke sini,” Ibu Poppy langsung hendak menghampiri mobil itu. Namun langsung dicegah oleh Aida.
“Jangan, Tante! Sudah biarkan saja!” kata Aida.
Ibu Poppy mengikuti perkataan Aida. Ia tidak jadi menghampiri mobil Vivin.
“Kamu masuk ke mobil! Biar Tante yang menutup pintu pagar,” seru Ibu Poppy.
Ibu Poppy mengambil gembok dari tangan Aida.
“Tapi Tanteee,” Aida belum selesai berbicara Ibu Poppy sudah mendorongnya agar masuk ke dalam mobil.
“Maira sama Mamah, ya! Enin mau tutup pintu pagar,” kata Ibu Poppy.
Ibu Poppy mengangkat Maira dan didudukkan ke dalam mobil, lalu ibu Poppy menutup pintu mobil. Pak Jodi mengeluarkan mobil dari halaman rumah Firas. Ibu Poppy menutup pintu pagar dan menggembok kembali pintu pagar. Sebelum masuk ke dalam mobil Ibu Poppy menoleh ke mobil Vivin. Vivin yang mengetahui Ibu Poppy menoleh ke arahnya, buru-buru Vivin pura-pura membuka tasnya sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Ibu Poppy.
Ibu Poppy langsung masuk ke dalam mobil.
“Jalan, Pak Jon!” seru Ibu Poppy.
Pak Joni menjalankan mobil dan meninggalkan rumah Firas. Melihat mobil Ibu Poppy pergi Vivin pun bernafas lega.
“Hampir saja ketahuan,” kata Vivin.
Sementara itu di dalam mobil Ibu Poppy.
“Vivin sudah mengincarmu,” kata Poppy.
“Dia akan menghampirimu. Entah apa yang akan ia perbuat kepadamu. Hanya sekedar menakutimu agar kamu meninggalkan Firas. Atau akan menyakitimu. Kita tidak tau,” lanjut Ibu Poppy.
Aida menghela nafas mendengarnya. Begitu terobsesinya Vivin terhadap Firas.
“Tapi kamu jangan khawatir. Firas sedang menyiapkan semuanya agar Vivin dan papahnya tidak bisa mengganggumu,” kata Ibu Poppy.
Ya, Allah semoga semuanya berjalan lancar dan tidak ada halangan ataupun kendala apapun, ucap Aida di dalam hati.
***
Semenjak Vivin berusaha datang ke rumah Firas, di kediaman Ibu Poppy sudah tidak seperti biasa lagi. Nampak beberapa orang bodyguard yang menjaga rumah Ibu Poppy. Firas mencoba untuk menjaga keselamatan keluarganya dan orang-orang yang disayanginya.
Pagi itu di rumah Ibu Poppy menjadi ramai karena Firas di protes oleh adik-adiknya karena mereka berangkat sekolah dan kuliah harus dikawal oleh bodyguard. Andri berangkat sekolah sambil cemberut karena harus dikawal oleh bodyguard. Ia tidak bisa menjemput kekasihnya karena ia harus membonceng bodyguard.
“Andri jadi nggak bisa jemput dan anter pulang Intan gara-gara harus bonceng bodyguard,” protes Andri.
“Sekali-sekali Intan tidak dijemput dan diantar. Kalau Aa sudah menikah dengan Aida semuanya akan kembali normal lagi dan tidak ada pengawalan bodyguard,” kata Firas.
“Tapi nanti Intan marah kalau tidak dijemput dan diantar,” ujar Andri.
“Kalau dia marah putusin aja! Baru jadi pacar udah banyak tingkah,” kata Firas.
“Perempuan masih banyak. Kamu aja yang bo_do mau disetir sama perempuan,” lanjut Firas.
__ADS_1
“Kok Aa mau antar jemput Teteh Aida?” tanya Andri.
“Eehhh Aida itu beda dengan pacar kamu. Dia itu mandiri tidak olo-olo seperti pacar kamu, yang kemana-mana minta dijemput dan diantar,” jawab Firas.
“Ya sudah, deh. Nanti kalau Intan ngambek, Andri putisin aja. Cari yang nggak olo-olo,” kata Andri.
“Nah gitu, dong. Itu baru laki-laki,” sahut Firas.
“Andri pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Andri.
“Waalaikumsalam,” jawab Firas.
Pak Budi yang hendak berangkat kerja ke resto harus diantar oleh supir dan dikawal oleh boduguard.
“Aa! Ayah sudah seperti orang penting saja, ke resto harus diantar supir dan dikawal bodyguard,” ujar Pak Budi ketika hendak pergi ke resto.
“Ini semua demi keselamatan Ayah. Kita tidak tau apa yang akan dilakukan Vivin dan papahnya,” kata Firas.
“Memang Vivin dan papahnya sangat berbahaya, ya?” tanya Pak Budi.
“Kita belum tau mereka seperti apa? Kita hanya jaga-jaga saja,” jawab Firas.
“Ya sudahlah. Ayah berangkat kerja dulu. Assalamualaikum,” ucap Pak Budi.
Firas mencium tangan ayahnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Firas.
Pak Budi berangkati ke resto.
Salfa hendak berangkat kuliah, ia menghampiri Firas.
“Aa!” seru Salfa dengan kesal.
“Masa Salfa ke kampus harus bawa bodyguard,” kata Salfa dengan kesal.
“Aa takut ada yang menyakiti atau menculik kamu,” sahut Ibu Poppy yang baru datang selesai menyuapi Maira di teras belakang.
“Tapi jangan bawa bodyguard! Malu-maluin saja,” ujar Salfa.
“Sabar! Tinggal seminggu lagi Aa kamu menikah dengan Aida. Setelah itu tidak ada bodyguard lagi,” kata Firas.
“Benar, ya! Kalau Aa sudah menikah, nggak ada bodyguard lagi!” seru Salfa.
“Ya, iyalah. Kan Aida sudah resmi menjadi istri Aa. Jadi Vivin tidak akan berani mengganggu kita lagi,” jawab Firas.
“Ya sudah, kalau begitu,” kata Salfa.
“Mah, Salfa berangkat dulu,” Salfa mencium tangan Ibu Poppy.
“Assalamualaikum,” ucap Salfa.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
Salfapun pergi menuju ke kampus.
Aida muncul dari dapur menghampiri Firas. Tadi sewaktu di dapur ia mendengar Andri dan Salfa yang protes pada Firas.
“Aida minta maaf, gara-gara Aida. Semua orang jadi merasa terganggu dan tidak nyaman,” ucap Aida.
“Ini bukan salahmu! Kalau Vivin dan papahnya tida berulah ini semua tidak akan terjadi,” kata Firas.
__ADS_1
“Sudah, jangan kamu pikirikan!” ujar Firas sambil mengusap rambut Aida.
“Mah, Aa berangkat ke kantor,” pamit Firas.
“Kamu kapan cutinya?” tanya Ibu Poppy kepada Firas.
“Hari ini terakhir Firas ke kantor. Mulai besok Firas kerja di rumah,” jawab Firas.
“Ya sudah. Hati-hati di jalan,” pesan Ibu Poppy.
“Iya, Mah,” Firas mencium tangan Ibu Poppy.
“Assalamualaikum,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Poppy dan Aida.
Firaspun pergi menuju ke kantor. Tentu saja diantar supir dan dikawal oleh bodyguard.
Malam harinya Ibu Ida menelepon Aida.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Ida.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida.
“Da, kapannkamu akan pulang ke rumah? Ibu dan ibu-ibu lainnya akan mengadakan pengajian di rumahmu,” kata Ibu Ida.
“Sepertinya Aida tidak bisa pulang ke rumah, Bu,” kata Aida.
“Loh, kenapa?’ tanya Ibu Ida.
Aidapun menceritakan semuanya kepada Ibu Ida.
Ibu Ida menghela nafas setelah mendengar cerita Aida.
“Ya sudah. Kalau kamu tidak bisa pulang, tidak apa-apa. Biar Ibu dan Ibu RT yang mengadakan pengajian dirumahmu,” kata Ibu Ida.
“Besok Aida akan menyuruh orang untuk mengantarkan uang untuk pengajian ke Ibu,” kata Aida.
“Udah pakai uang Ibu dulu,” kata Ibu Ida.
“Besok Akang Firas tidak ke kantor. Jadi Aida bisa pinjam supir Akang untuk mengantarkan uang ke Ibu,” ujar Aida.
“Ya sudah, kalau kamu mau begitu,” kata Ibu Ida.
“Oh ya, Da. Ibu sampai lupa. Kamukan sudah mau menikah, Bagaimana jika kamu menutup auratmu dengan pakaian yang lebih tertutup dan longgar,” kata Ibu Ida.
“Maksud Ibu, berhijab?” tanya Aida.
“Iya, maksud Ibu begitu,” jawab Ibu Ida.
“Aida juga berpikir seperti itu, Bu. Kemarin sewaktu memilih baju pengantin Aida memilih gaun pengantin muslim,” kata Aida.
“Alhamdullilah kalau kamu berpikir ke sana,” ucap Ibu Ida.
“Tapi Bu, kalau untuk sehari-hari pakaian muslim Aida hanya sedikit. Ibu kan tau sendiri uang Aida tidak banyak,” kata Aida.
“Tidak apa-apa. Yang kamu konsisten memakainya! Nanti kalau kamu sudah menikah kamu bisa meminta uang kepada suamimu untuk membeli pakaian muslim,” kata Ibu Ida.
“Besok Aida akan mulai menggunakan kerudung,” kata Aida.
“Alhamdullilah, syukurlah kalau begitu. Lebih cepat lebih baik. Sudah dulu, ya. Ibu mau menelepon ibu RT. Kalau Ibu nelepon kemalaman, nanti ibu RT sudah keburu tidur. Assalamualaikum,” ucap Ibu Ida.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Aida.