Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
7. Dirawat Di Rumah Sakit


__ADS_3

Aida menidurkan Maira di atas tempat tidur untuk pasien. Bayi itu tidur dengan lelap sehingga tidak terbangun ketika di pindahkan ke tempat tidur. Firas mendekati Aida.


“Saya ke kantin dulu, mau cari makan siang untuk kita,” pamit Firas.


“Tidak usah, Pak. Biar saya beli sendiri,” kata Aida.


“Kamu kan tidak bisa meninggalkan Maira. Kasihan Maira tidak ada yang menjaga,” kata Firas.


“Biar saya saja yang beli,” kata Firas.


“Tapi Pak Firas kan mau ke kantor,” kata Aida.


“Saya ke kantornya nanti kalau sudah makan siang,” jawab Firas.


“Saya ke kantin dulu,” pamit Firas.


Firaspun keluar dari kamar. Setelah Firas pergi Aida menghela nafas.


“Pak Firas tidak bisa dibantah sama sekali,” kata Aida kepada dirinya sendiri.


“Mungkin semua bos seperti itu semua. Tidak mau dibantah,” kata Aida kepada dirinya sendiri.


Aida mengambil ponselnya lalu menelepon Ibu Ida.


“Assalamualaikum, Bu Ida,” ucap Aida.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Ida.


“Bagaimana hasil laboraturium Maira?” tanya Ibu Ida.


“Maira kena demam berdarah, Bu,” jawab Aida.


“Jadi harus dirawat di rumah sakit,” kata Aida.


“Di rumah sakit mana?” tanya Ibu Ida.


“Di rumah sakit Pertalite,” jawab Aida.


“Aduh Aida, itukan rumah sakit mahal. Bagaimana kamu membayar biayanya?” tanya Ibu Ida dengan cemas.


Kemudian Aida menceritakan semuanya kepada ibu Ida.


“Ya sudahlah, kalau memang harus begitu,” kata Ibu Ida.


“Bu, tolong siapkan semua keperluan Maira dan baju ganti saya. Suruh ojek pangkalan antar barang-barangnya ke sini. Nanti Aida yang bayar ongkosnya,” kata Aida.


“Iya, nanti Ibu siapkan,” jawab Ibu Ida.


“Terima kasih, Bu. Assalamualaikum,” ucap Aida.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Ida.


Aida menutup teleponnya.


Tak lama kemudian Firas datang dengan membawa kantong plastik belanja yang cukup banyak. Aida menghampiri Firas dan membantu membawakan.


“Banyak sekali belanjaannya,” kata Aida.


“Buat persediaan di sini biar tidak kamu tidak kelaparan dan kehausan,” jawab Firas.


Aida menyimpan semua belanjaan di atas meja.


“Saya kan tidak menyusui, jadi tidak perlu banyak makan,” kata Aida.


“Tapi kalau menunggu pasien harus banyak makan biar tidak sakit,” kata Firas.


“Iya, Pak,” jawab Aida.


“Ayo kita makan dulu, mumpung Maira masih tidur,’ kata Firas.


Aida dan Firaspun makan siang bersama.


“Susu Maira mereknya apa, ya? Tadi saya mau beli takut salah,” kata Firas setelah selesai makan.


“Tidak usah beli, Pak. Nanti juga ada yang datang mengantarkan barang-barang kebutuhan Maira,” jawab Aida.


Firas menoleh ke Aida.


“Siapa?’ tanya Firas.


“Tukang ojek yang biasa mangkal di depan jalan. Tadi Aida menelepon Ibu Ida untuk mengirim barang-barang kebutuhan Maira ke sini,” jawab Aida.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Aida sambil membukakan pintu kamar.


“Eh, Bang Nasir,” kata Aida.


“Saya disuruh Ibu Ida mengantarkan ini,” kata Nasir sambil memberikan tas.


“Terima kasih, Bang. Ongkosnya berapa, Bang?” tanya Aida.


“Tiga puluh ribu, Neng,” jawab Bang Nasir.


“Tunggu sebentar, Bang. Saya ambil uangnya dulu,” kata Aida.


Aida hendak mengambil dompet, namun Firas langsung memberikan uang sebesar lima puluh ribu kepada Nasir.


“Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja untuk Abang,” kata Fira.


“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Nasir.


“Iya,” jawab Firas.


“Neng, saya permisi dulu. Assalamualaikum,” ucap Nasir.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Nasirpun pergi meninggalkan kamar.


Aida menghela nafas.


“Kenapa Bapak lagi yang bayar?” tanya Aida dengan kesal.


“Tidak apa-apa. Sekali-sekali,” jawab Firas.


“Ini bukan sekali-sekali tapi sudah sering,” kata Aida.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Maira.


“Eeeeekkkkkkk Ma-Ma,” kata Maira sambil menangis.


Aida menghampiri Maira lalu menggendongnya.


“Sayang, kenapa menangis?” Aida mengusap rambut Maira.


Maira tidur di bahu Aida.


“Kenapa? Ada yang sakit?” tanya Firas sambil mengusap kepala Maira.


Maira menjawab sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba suster masuk ke dalam kamar.


“Obat untuk Maira, Bu,” suster memberikan obat kepada Aida.


“Makanannya sebentar lagi datang,” kata suster.


“Terima kasih, Suster,” ucap Aida.


Susterpun pergi meninggalkan kamar Maira.


“Mau cucu,” kata Maira.


“Makan dulu baru minum susu,” kata Aida.


Tiba-tiba masuklah seorang pegawai catering membawa makan siang untuk Maira.


“Makan siang untuk Maira,” kata pegawai catering.


“Terima kasih,” ucap Aida.


Aida memperlihatkan makanannya kepada Maira.


“Nih makanannya sudah datang. Mamah suapi, ya?” kata Aida.


Maira menjawab dengan mengangguk.


Aida menyuapi Maira. Maira mau makan walaupun sedikit demi sedikit.


“Ah, pintar makannya,” puji Firas.


“Om pergi ke kantor dulu, ya. Maira di sini sama Mamah,” kata Firas.


Maira menjawab dengan mengangguk.


“Kalau Bapak cape tidak usah ke sini,” kata Aida.


“Tidak apa-apa,” kata Firas.


“Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


“Om, beyum calam,” ujar Maira sambil mengulurkan tangannya.


Firas tersenyum lalu menghampiri Maira. Firas mengambut tangan kecil Maira. Maira langsung mencium telapak tangan Firas.


“Mua,” mulut Maira berbunyi ketika mencium tangan Firas.


Firas tersenyum sambil mengusap kepala Maira.


“Dadah Maira,” kata Firas sambil melambaikan tangannya.


“Jajah, Om,” Maira membalas lambaian tangan Firas.


Firas pun keluar dari kamar Maira. Aida melanjutkan menyuapi Maira.


Sore harinya Aida menemani Maira menonton film kesukaannya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar.


“Assalamualaikum,” Ibu Ida masuk ke dalam kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Ibu Ida datang ditemani oleh suaminya. Ibu Ida dan Pak Aan mendekati tempat tidur Maira.


“Bagaimana keadaan Maira?” tanya Ibu Ida.


“Alhamdullilah panasnya sudah turun. Mudah-mudahan tidak naik lagi,” jawab Aida.


“Mudah-mudahan cepat sembuh dan bisa cepat pulang,” kata Ibu Ida.


“Aamiin ya rabbal alamin,” jawab Aida.


“Di rumah sepi kalau tidak ada Maira,” kata Pak Aan.


Ibu Ida dan Pak Aan hanya tinggal berdua. Ketiga anaknya sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri di pinggir kota Jakarta. Sehingga mereka sering merasa kesepian. Tapi semenjak Aida pindah ke sebelah rumah mereka, mereka tidak penah kesepian lagi. Setelah pulang mengajar Pak Aan sering mengajak main Maira. Pak Aan memperlakukan Maira seperti cucunya sendiri.


Ibu Ida dan Pak Aan cukup lama berada di kamar Maira. Mereka mengajak Maira bermain. Hingga terdengar bunyi adzan magrib, mereka pun pamit pulang.


Maira sedang tiduran sambil mengedot, sambil diempuk-empuk oleh Mamahnya. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar sambil mengucapkan salam.


“Assalamualaikum,” ucap Firas ketika masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Nampak Firas sudah berganti pakaian. Firas sudah tidak menggunakan baju kerja lagi, ia menggunakan tshirt  dan celana jeans. Firas membawa plastik belanja yang cukup banyak dan ia taruh di atas meja. Firas mendekati tempat tidur Maira.


“Bagaimana keadaan Maira?” tanya Firas sambil memegang kening Maira.


“Alhamdullilah, panasnya sudah turun,” jawab Aida.


“Dia mau makan?” tanya Firas.


“Mau, walaupun tidak banyak,” jawab Aida.


“Syukurlah,” kata Firas.


Maira memperhatikan Mamahnya dan Om Firas yang sedang berbicara sambil mengenyot dotnya.


“Kamu sudah makan, belum?” tanya Firas.


“Belum, tapi tadi sudah makan kue,’ jawab Aida.


“Saya bawa nasi uduk dengan ayam untuk kamu,” kata Firas.


“Terima kasih. Saya jadi merepotkan Bapak,” ucap Aida.


“Saya tidak merasa direpotkan, kok,” kata Firas.


“Ayo, kita makan dulu. Saya juga belum makan,” ajak Firas.


“Maira, Mamah makan dulu. Maira minum susunya sendiri,” kata Aida.


Maira menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Aida duduk di sebelah Firas. Firas memberikan sebungkus nasi dan sebungkus lauk pauk kepada Aida.


“Makan yang banyak. Biar tidak sakit,” kata Firas.


“Ya, Pak,” jawab Aida.


Aida dan Firas makan bersama. Maira selesai mengedot langsung bangun, ia melihat ke arah Mamahnya dan Om Firas yang sedang makan.


“Mama mamam apa?” tanya Maira.


“Mamah makan ayam goreng,” jawab Aida.


“Mala mau ayam goleng,” kata Maira.


Aida menghentikan makannya dan menghampiri Maira.


“Kata dokter, Maira nggak boleh makan ayam goreng dulu. Maira kan lagi sakit,” kata Aida dengan lemah lembut.


“Kalo uda cembuh, boyeh?” tanya Maira.


“Iya, boleh. Sekarang Maira makan kue saja, ya?” kata Aida.


“Iya, Mama,” jawab Maira.


Aida memberikan sepotong kue kepada Maira. Anak itu senang ketika diberi kue, lalu memakannya dengan perlahan. Firas memperhatikan interaksi antara Aida dan Maira. Maira bukan anak kandung Aida, namun Aida memperlakukan Maira dengan penuh kasih sayang.


Aida melanjutkan makannya hingga habis. Setelah selesai makan Aida membereskan meja hingga bersih kembali.


“Bapak mau kue?” tanya Aida.


“Kue apa?” tanya Firas.


“Kue bolu coklat. Tadi sore Ibu Ida ke sini dan membawa bolu coklat kesukaan Maira,” jawab Aida.


“Boleh, tapi sedikit saja. Saya masih kenyang,” jawab Firas.


Aida mengambil kotak kue dari lemari dan menaruhnya di atas meja.


“Bapak ambil sendiri saja,” kata Aida.


Aida menaruh tissue di atas meja. Firas mengambil sepotong kue dengan menggunakan tissue lalu mencicipinya.


“Enak,” puji Firas.


“Maira suka kue ini?” tanya Firas kepada Maira.


Maira menjawabnya dengan mengangguk. Mulut mungilnya penuh dengan kue.


Pukul delapan malam Firas pamit pulang karena sudah malam. Maira dan Aida juga harus beristirahat.


“Besok kamu mau dibawakan sarapan apa?” tanya Firas sebelum pulang.


“Tidak usah, Pak. Biar saya beli sendiri,” jawab aida.


“Sebelum saya ke kantor, saya mampir dulu ke sini. Sekalian bawa sarapan untuk kamu. Kamu kan harus menjaga Maira, tidak bisa pergi kemana-mana,” kata Firas.


Aida menghela nafas.


“Terserah Pak Firas aja. Saya tidak pilih-pilih makanan,” kata Aida.


“Bener ya, terserah saya? Apapun yang saya belikan kamu harus makan sampai habis!” seru Firas.


“Iya, Pak,” jawab Aida.


“Kalau begitu saya pulang dulu,” pamit Firas.


“Maira, Om pulang dulu ya. Besok pagi Om ke sini lagi,” kata Firas.


“Calam duyu,” kata Maira sambil menngulururkan tangannya.


Firas memberikan tangannya kepada Maira, lalu Maira mencium telapak tangan Firas.


“Muah,” mulut Maira berbunyi ketika mencium tangan Firas.


Firas tersenyum sambil mengusap kepala Maira.


“Assalamualaikum,” ucap Firas.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Aida.


Firaspun pergi meninggalkan kamar Maira.


__ADS_2