Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
26. Aida Menangis.


__ADS_3

“Apa yang bisa meyakinkan saya kalau Pak Ricky adalah ayahnya Maira?” tanya Aida dengan tegas.


“Saya akan test DNA,” jawab Ricky.


“Baiklah, kita test DNA. Sebelum test DNA keluar saya minta Pak Ricky jangan mendekati Maira dulu!” kata Aida.


“Baik, Mbak Aida,” jawab Pak Ricky.


“Siapa ibunya Maira? Kok dengan begitu teganya membuang anaknya sendiri,” tanya Firas.


“Dia perempuan yang tidak punya perasaaan. Dia tega membuang anaknya karena sedang mengejar laki-laki,” jawab Ricky.


“Nanti setelah test DNA keluar saya akan beritahu siapa ibunya Maira,” kata Ricky.


“Supaya adil, saya minta Pak Firas yang mengurus test DNA,” kata Ricky.


“Baiklah,” jawab Firas.


“Sebelum pamit pulang, bolehkah saya bertemu dengan Maira?” tanya Ricky.


Firas menoleh ke Aida. Aida menganggukkan kepalanya.


“Tentu saja boleh,” jawab Firas.


Firas masuk ke ruang keluarga memanggil Maira. Tak lama kemudian Firas keluar sambil menggendong Maira yang sedang mengenyot dot. Firas menurunkan Maira. Ricky mendekati Mayra lalu ia mensejajarkan tubuhnya dengan Maira.


“Siapa namanya?” tanya Ricky kepada Maira.


“Mala,” jawab Maira.


“Maira sudah berapa tahun?” tanya Ricky.


Maira menoleh ke Aida.


“Mala beyapa taun?” tanya Maira ke Aida.


“Tidak ada yang tau pasti usia Maira,” jawab Aida.


“Maira sekarang berusia satu tahun lima bulan,” kata Ricky.


“Maira jadilah anak yang sholeha. Nurut sama Mamah, ya!” kata Ricky.


“Nuyut cama Om Pias uga?” tanya Maira.


“Iya,” jawab Ricky.


“Nuyut cama Nin uga?” tanya Maira.


“Iya,” jawab Ricky.


“Nuyut cama Aki uga?” tanya Maira.


“Iya,’ jawab Ricky


“Nuyut cama Nene uga?” tanya Maira.


“Iya,” jawab Ricky.


“Nuyut cama Kake uga?” tanya Maira.


“Iya, sayang. Iya,” jawab Ricky dengan mata yang berkaca-kaca.


Ricky memeluk Maira dengan rasa penuh kasih sayang. Kemudian dikecupnya pucuk kepala Maira.


“Om pulang, ya,” pamit Ricky.


Lalu Maira mencium tangan Ricky.


“Muah.”


Ricky mengusap-usap kepala Maira.


“Saya pamit dulu. Assalamualaikum,” ucap Ricky.


“Waalaikumsalam,” jawab jawab Firas.

__ADS_1


Ricky pergi meninggalkan rumah Firas. Setelah Ricky pergi Aida bernafas lega.


“Sini, minum susunya sama Mamah,’ Aida mengangkat Maira dan menidurkan Maira di atas pangkuannya. Aida mengusap kepala Maira dengan penuh kasih sayang. Air mata Aida mulai mengalir. Aida merasa sedih jika suatu hari nanti harus berpisah dengan Maira.


“Mama, napa anyis?” tanya Maira.


“Tidak apa-apa, sayang,” jawab Aida sambil mengusap air matanya.


Namun air matanya terus saja mengalir. Akhirnya susu Maira pun habis, Maira langsung turun dari pangkuan mamahnya.


“Maira mau kemana?” tanya Aida.


“Au ke Aki,” jawab Maira.


“Kita pulang, yuk. Sudah siang,” kata Aida dengan suara serak.


“Ntai duyu. Maira mau main cama Aki,” jawab Maira.


Maira kembali ke ruang keluarga. Aida menghela nafas. Ia bangkit dari tempat duduk, namun kakinya terasa lemas. Aida duduk kembali.


“Kamu kenapa?” tanya Firas dengan khawatir.


“Tidak apa-apa,” jawab Aida.


Aida berusaha bangun kembali namun kakinya masih terasa lemas.


“Kamu mau kemana?” tanya Firas.


“Mau ke kamar mandi,” jawab Aida.


“Saya bantu,” Firas membantu Aida berdiri dan memapah Aida menuju ke kamar mandi.


“Kalau ada apa-apa, panggil saya,” kata Firas.


Aida pun mengangguk. Aida masuk ke dalam kamar mandi. Vivin yang sedang duduk di depan televisi,  melihat Aida dipapah oleh Firas langsung kesal.


“Rese banget tuh pembantu! Jalan saja harus dipegang sama Mas Firas,” seru Vivin kepada Salfa.


“Ssstt jangan kencang-kencang! Nanti Aa marah,” bisik Salfa.


“Tamunya Aida. Dia ayahnya Maira,” jawab Salfa.


“Oh, maksudnya mantan suami pembantu itu?” tanya Vivin.


“Bukan. Aida belum menikah. Ia menemukan Maira di pinggir sungai,” jawab Salfa.


“Maksudnya apa?” tanya Vivin


Salfa menceritakan ke Vivin. Vivin langsung pucat mendengar cerita Salfa.


“Salfa, aku pulang dulu, ya,” pamit Vivin.


“Hei mau kemana?” tanya Salfa.


“Lupa mau bantuin Mamah bikin kue,” jawab Vivin.


Vivin langsung meninggalkan rumah Salfa.


“Sejak kapan Vivin suka bikin kue?” tanya Salfa pada dirinya sendiri.


Kita kembali lagi ke Firas dan Aida.


Firas berdiri di depan pintu kamar mandi. Di dalam kamar mandi Firas mendengar suara orang menangis. Firas menghela nafas. Sepertinya Aida sedang menangis. Maira yang sedang bermain di teras belakang masuk ke dalam rumah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sepertinya ia sedang mencari mamahnya.


“Om, Mama ana?” tanya Maira.


“Lagi di kamar mandi,” jawab Firas.


Maira hendak menggedor kamar mandi, namun ditahan oleh Firas.


“Sssttt,” Firas menempulkan telunjuknya di depan bibir. Tanda Maira tidak boleh berisik.


“Mama ee?” bisik Maira.


Firas langsung mengangguk. Melihat Firas menganguk Maira langsung pergi kembali ke teras belakang. Tak lama kemudian Ibu Poppy datang menghampiri Firas.

__ADS_1


“Aida sedang menangis?” tanya Ibu Poppy.


Firas menjawab dengan mengangguk.


“Biarkan saja dia menangis sepuasnya,’ kata Ibu Poppy.


Ibu Poppy pergi menuju kamar tamu. Beberapa menit kemudian Aida keluar dari kamar mandi.


“Sudah lega?” tanya Firas.


“Sudah agak mendingan,” jawab Aida.


“Saya pamit pulang, Pak,” kata Aida.


“Sebentar,” Firas pergi menuju kamar tamu memanggil Mamahnya. Tak lama kemudian Firas datang bersama dengan Mamahnya.


“Tante, saya pamit pulang,” kata Aida.


“Jangan pulang dulu! Menginap di sini saja,” kata Ibu Poppy.


“Saya pulang saja, Tante. Saya sudah tidak apa-apa,” jawab Aida.


Ibu Poppy menghela nafas.


“Kalau kamu pulang sekarang dan seharian menangis terus siapa yang akan mengurus Maira? Kasihan dia kalau melihat mamahnya menangis terus menerus,” kata Ibu Poppy.


Aida berpikir sejenak. Benar kata Ibu Poppy, nanti di rumah ia pasti akan menangis lagi. Dan Maira pasti akan bersedih melihat mamahnya menangis.


“Nanti saya merepotkan Tante,” kata Aida.


“Tidak merepotkan, kok,” jawab Ibu Poppy.


“Ayo, Tante antar kamu ke kamar,” Ibu Poppy mengajak Aida ke kamar tamu.


“Kamu sholat supaya pikiranmu tenang. Nanti Bi ijah antarkan makanan ke kamar,” kata Ibu Poppy.


“Terima kasih, Tante. Aida jadi merepotkan Tante,” kata Aida.


“Sama-sama, Aida. Sekarang kamu istirahat dulu,” Ibu Poppy keluar dari kamar tamu.


Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam.


“Assalamualaikum,” ucap Keisya.


“Waalaikumsalam. Eh, Teteh,” Ibu Poppy memeluk dan mencium pipi putrinya.


“Mana Aa nya?” Ibu Poppy mencari menantunya.


“Lagi nurunin barang-barang di mobil,” jawab Keisya.


Tiba-tiba Maira menghampiri Ibu Poppy.


“Nin, Mala au uweh ajih,” kata Mala.


"Enin ambilkan dulu, ya," Ibu Poppy menuju ke meja makan mengambilkan kue untuk Maira.


Keisya melihat ke arah Maira.


“Ini siapa? Meni lucu,” Keisya menjawil pipi Maira.


“Calon anak sambungnya Aa,” bisik Salfa.


“Oh,” ujar Keisya.


“Mamahnya, mana?” tanya Keisya.


“Ada di kamar, lagi nangis,” jawab Salfa sambil berbisik.


“Nangis? Aa tidak berbuat macam-macam, kan?” tanya Keisya.


“Nggak, bukan salah Aa. Tapi Ayah anak ini,” jawab Salfa.


“Maksud kamu mantan suaminya?” tanya Keisya.


“Bukan. Aida belum menikah. Pokok ceritanya panjang,” jawab Salfa.

__ADS_1


“Salah Teteh jarang ke sini jadi ketinggalan cerita,” kata Salfa.


__ADS_2