
Firas menghentikan mobilnya di depan rumah bertingkat di kawasan perumahan di Bekasi.
“Ayo kita turun!” ajak Firas.
“Kang, bagaimana kalau Bude masih bersikap sama seperti dulu?” tanya Aida.
“Kamu tenang saja, tidak usah takut. Kita hadapi bersama-sama,” jawab Firas.
Firas dan Aida pun keluar dari mobil dan menghampiri rumah Ibu Marlina.
“Assalamualaikum,” ucap Firas.
Seorang pria separuh baya membuka pintu rumah. Aida langsung mengumpat di belakang punggung Firas.
“Waalaikumsalam. Cari siapa, Mas?” tanya pria itu.
“Apakah ini rumah Ibu Marlina?” tanya Firas.
“Betul. Mas siapa, ya?” tanya pria itu.
“Saya Firas calon suami Aida, kemenakannya Ibu Marlina,” jawab Firas.
“Oh, calon suami Aida,”
Pria itu menghampiri pintu pagar.
“Aida mana?” tanya pria itu.
Aida keluar dari belakang punggung Firas.
“Pakde Joko,” ujar Aida.
“Aida? Aida kamu kemana aja?” Pak Joko membuka pagar rumahnya.
Aida menghampiri Pak Joko lalu mencium tangan Pak Joko.
“Ini calon suami kamu?” tanya Pak Joko.
“Iya, Pakde. Ini Firas, calon suami Aida,” jawab Aida.
Firas mencium tangan Pak Joko.
“Ayo, silahkan masuk,” Pak joko mengajak Aida dan Firas masuk ke dalam rumah.
Firas dan Aida mengikuti Pak Joko dari belakang.
“Silahkan duduk! Pakde panggilkan Budemu dulu,” Pak Joko masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian Ibu Marlina keluar dari dalam rumah bersama Pak Joko.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Ibu Marlina dengan judes.
“Mah! Kemenakanmu datang baik-baik kenapa kamu tanya seperti itu!” seru Pak Joko.
“Pah, dia datang kemari pasti minta uang untuk menikah,” kata Ibu Marlina.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Aida mendengar kata-kata Ibu Marlina.
“Aida datang ke sini untuk meminta doa restu dari Bude, bukan untuk minta uang,” kata Aida.
“Halah! Memangnya kamu punya uang darimana untuk menikah?” seru Ibu Marlina dengan sombong.
“Mah! Dengarkan dulu Aida bicara!” sahut Pak Joko.
“Untuk apa di dengarkan? Pasti ujung-ujungnya minta uang untuk biaya nikah!” seru Ibu Marlina.
Aida menangis mendengarkan perkataan Budenya. Sungguh menyakitkan hati Aida.
__ADS_1
“Kalau memang benar, kasih saja! Tidak ada salahnya. Dia kan kemenakanmu,” ujar Pak Joko yang berusaha melembut.
“Tidak sudi Mamah kasih dia uang!” seru Ibu Marlina.
“Sudah, kamu pergi saja dari sini! Bude tidak akan memberikanmu uang sepersen pun! Pakdemu cape cari uang, tapi kamu tinggal minta saja!” seru Ibu Marlina.
Ibu Marlina masuk ke dalam rumah meninggalkan Aida begitu saja. Pak Joko menghela nafas. Aida tambah menangis. Firas mengusap punggung Aida.
“Yang sabar, ya,” kata Firas.
Aida mengangguk.
“Nak Firas, maafkan Budenya Aida,” ucap Pak Joko.
“Tidak apa-apa, Pakde. Kami mengerti,” jawab Firas.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Joko.
“Tanggal 30 Agustus. Nanti undangannya akan diantar oleh pegawai saya. Kami berharap Pakde dan Bude datang di acara akad nikah kami,” jawab Firas.
“Insya Allah Pakde akan datang. Pakde akan coba bujuk Budemu untuk datang,” kata Pak Joko.
“Terima kasih, Pakde,” ucap Firas.
“Udah kamu jangan menangis lagi! Kata-kata Bude jangan diambil hati, ya!” ujar Pak Joko kepada Aida.
“Iya, Pakde,” jawab Aida.
“Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum,” Firaspun memapah Aida menuju ke mobil. Mereka meninggalkan rumah Ibu Marlina.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Joko.
Pak Joko memandangi Aida dan Firas dari belakang.
“Kasihan Aida. Sudah tidak punya orang tua, tapi masih saja dihina-hina sama Mamah,” ujar Pak Joko pada dirinya sendiri.
Ketika Pak Joko hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba Ibu Marlina sudah berdiri di belakangnya. Pak Joko langsung kaget.
“Aduh Mamah bikin Papah kaget saja!” seru Pak Joko.
“Sudah pulang Aida?” tanya Ibu Marlina dengan dingin.
“Sudah,” jawab Pak Joko.
“Dia minta uang berapa?” tanya Ibu Marlina.
“Dia minta doa restu, bukan minta uang!” jawab Pak Joko.
“Halah, moso? Mamah tidak percaya,” kata Ibu Marlina.
“Lah wong calon suaminya orang kaya. Punya mobil mewah,” ujar Pak Joko.
“Paling juga jadi supir,” ejek Ibu Marlina.
“Terserah Mamah mau percaya atau tidak. Tapi Papah akan hadir di akad nikah Aida. Kasihan anak itu kalau tidak ada keluarga yang hadir di acara akad nikah,” kata Pak Joko.
Pak Joko langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan istrinya yang berdiri di depan teras rumah.
Apa benar calon suami Aida orang kaya? tanya Ibu Marlina di dalam hati.
Ibu Marlina berpikir sejenak.
“Ah! Tetap saja, aku tidak percaya!” kata Ibu Marlina pada dirinya sendiri.
Ibu Marlina langsung masuk ke dalam rumahnya.
***
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Firas sudah datang ke rumahnya di Tanah Kusir untuk menjemput Aida dan Maira. Hari ini Firas dan Aida akan pergi ke rumah Pakde dan Bude Aida yang berada di Sragen dan Wonosobo. Mereka pergi menggunakan mobil, agar memudahkan mereka selama di sana. Dan juga sekalian mengajak Maira jalan-jalan.
“Loh Kang, tidak bawa supir?” tanya Aida melihat Firas menyetir mobil sendiri.
“Tidak! Kalau bawa supir tidak ada privasi,” jawab Firas.
“Sragen jauh loh, Kang. Hampir dekat dengan Jawa Timur,” kata Aida.
“Tidak apa-apa. Kalau cape istirahat dulu,” jawab Firas.
“Ya sudah, terserah Akang saja,” kata Aida.
Firas melihat ke dalam rumah, ia tidak melihat Maira.
“Maira mana?” tanya Firas.
“Lagi sibuk,” jawab Aida.
“Sibuk apa?” tanya Firas.
Tak lama kemudian Maira datang sambil membawa kantong plasik besar yang penuh dengan barang-barang.
“Ajuh beyat,” kata Maira sambil mengangkat kantong plastik.
“Maira bawa apa?” tanya Firas.
“Awa ainan,” jawab Maira.
“Mainannya dibawa semua,” kata Aida.
“Kenapa dibawa? Di sana kita mau jalan-jalan. Jadi tidak ada waktu untuk main mainan,” kata Firas.
“Bawa boneka saja untuk teman Maira bobo,” lanjut Firas.
Maira langsung membuka kantong plastik dan mengeluarkan boneka-boneka miliknya.
“Oneka aja?” tanya Maira.
“Iya, boneka saja,” jawab Firas.
Maira memberikan kantong plastik kepada Aida.
“Cimpen ajih,” kata Maira.
“Baik, Nona,” jawab Aida.
Aida membawa kantong plastik yang berisi mainan ke dalam rumah. Maira membawa bonekanya ke dalam mobil. Ia menyimpan boneka-bonekanya di kursi penumpang di bagian depan.
“Jangan simpen di situ! Nanti Maira sama Mamah duduk dimana?” kata Firas.
Firas membukakan pintu penumpang di belakang.
“Taruh di kursi belakang,” kata Firas.
Maira memindahkan boneka-bonekanya ke belakang. Tak lama kemudian Aida membawa dua buah travel bag miliknya dan milik Maira lalu di masukkan ke bagasi.
“Masih ada lagi?” tanya Firas.
“Masih,” Aida kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang bawaan yang lainya. Lalu Aida kembali membawa barang-barang bawaannya. Firas memasukkan barang-barang di bagasi.
“Masih ada lagi?” tanya Firas.
“Sudah semuanya,” jawab Aida.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang mumpung masih pagi,” ajak Firas.
“Tunggu sebentar. Aida kunci pintu pavilliun dulu,” Aida kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian Aida keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah. Firas mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah, Aida menutup pintu pagar dan menggemboknya. Aida pun masuk ke dalam mobil dan mobil meluncur meninggalkan rumah Firas.
__ADS_1