Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
38. Bude Sekar


__ADS_3

Pagi itu jalanan cukup ramai dan sedikit macet. Hari itu bukanlah hari libur jalan penuh oleh kendaraan yang hendak berangkat kerja. Semua kendaraan jalannya merayap. Maira anteng memperhatikan jalanan yang penuh dengan mobil dan motor. Akhirnya mereka sampai ke pintu tol. Firas langsung mengarahkan mobilnya ke jalan tol. Di jalan tol mobil-mobil jalannya merayap karena jalan tol penuh dengan mobil.


“Jayannya yama,” keluh Maira.


Firas tersenyum lalu diusapnya rambut Maira.


“Sabar, ya. Jalannya macet karena banyak yang berangkat kerja,” kata Firas.


“Om, nga kelja?” tanya Maira.


“Tidak Maira. Om kan mau jalan-jalan sama Maira dan Mamah,” jawab Firas.


Firas tidak melewati jalan layang MBZ karena takut Aida dan Maira mau ke toilet. Sehingga terpaksa mereka bermacet-macetan di sepanjang tol Bekasi hingga Cikarang. Kemacetan mulai mengurai setelah sampai di Kerawang. Banyak mobil yang keluar dari tol, sehingga Firas bisa melajukan mobilnya dengan cepat. Maira tidak kesal lagi karena mobil berjalan dengan kencang.


Pukul dua siang mereka sampai di Sragen.


“Kita sholat dulu sekalian makan siang,” kata Firas.


Merekapun mencari rumah makan dan yang ada mushola. Akhirnya mereka sampai di rumah makan sederhana namun bersih. Mereka sholat dzuhur dan makan siang di rumah makan itu. Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah Ibu Sekar. Akhirnya sampai juga mereka di rumah Ibu Sekar.


“Ayo Maira, kita turun,” Firas menggendong Maira.


Mereka berjalan memasuki halaman Ibu Sekar.


“Assalamualaikum,” ucap Aida.


“Waalaikumsalam,” seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah.


“Siapa, ya?” tanya Ibu Sekar sambil memandangi Aida dan Firas sambil mengerutkan dahinya.


“Saya Aida, Bude,” jawab Aida.


“Aida? Aida anaknya Maira?” tanya Ibu Sekar.


“Iya, Bude,” jawab Aida.


“Ya Allah, Aida,” Ibu Sekar langsung memeluk Aida.


“Maafkan Bude, Aida. Waktu itu Bude tidak tau harus bagaimana? Bude tidak punya apa-apa untuk menolongmu,” kata Ibu Sekar sambil menangis.


“Tidak apa-apa, Bude. Aida mengerti. Lagi pula semuanya sudah berlalu,” jawab Aida.


Ibu Sekar melepaskan pelukannya.


“Ini siapa?” Ibu Sekar menunjuk ke Firas dan Maira.


Aida mengambil Maira dari gendongan Firas.


“Ini Maira, anak Aida,” kata Aida.


“Aida sudah punya anak?” tanya Ibu Sekar dengan bingung.


Karena setau Ibu Sekar sewaktu orang tuanya meninggal Aida baru lulus SMA.


“Maira salam dulu sama Uti Sekar,” kata Aida.


Maira langsung mencium tangan Ibu Sekar.


“Muah.”


“Aduh pinternya,” puji Ibu Sekar.


"Namanya sama dengan nama mamahmu, " kata Ibu Sekar.

__ADS_1


"Iya, Bude Memang sengaja Aida memberinya nama seperti nama mamah. Agar Aida tidak merasa kesepian, " jawab Aida.


“Kapan Aida hamilnya kok sudah punya anak?” tanya Ibu Sekar.


“Panjang ceritanya Bude,” jawab Aida.


“Ini suami Aida?” tanya Ibu Sekar menunjuk ke Firas.


“Bukan, Bude. Ini calon suami Aida,” jawab Aida.


“Oh, calon suami. Bude kira ini suami Aida,” ujar Ibu Sekar.


Firas mencium tangan Ibu Sekar.


“Ayo silahkan duduk,” kata Ibu Sekar.


Aida dan Firas pun duduk. Maira duduk dipangkuan Aida.


“Sebentar Bude panggilkan Pakde,” Ibu Sekar masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian Ibu Sekar datang bersama seorang pria setengah baya.


“Pak, ini loh Aida anaknya Maira,” kata Ibu Sekar.


Aida dan Firas langsung mencium tangan Pak Mulyono.


“Aida sekarang sudah besar,” kata Pak Mulyono.


“Sudah punya anak,” ujar Ibu Sekar.


“Loh, udah punya anak? Kemarinkan baru tamat SMA,” tanya Pak Muljono bingung.


“Panjang ceritanya Pakde,” jawab Aida.


“Ya Allah, Aida. Maafkan Bude dan Pakde yang tidak bisa membantumu,” kata Ibu Sekar dengan menyesal.


“Tidak apa-apa, Bude,” jawab Aida.


“Sekarang kamu mau menikah?” tanya Ibu Sekar.


“Iya, Bude. Aida mohon doa restunya dari Bude dan Pakde. Aida sangat mengharapkan kedatangan Bude dan Pakde,” jawab Aida.


“Nikahnya di Jakarta, ya?” tanya Ibu Sekar.


“Iya, Bude,” jawab Aida.


“Aduh jauh sekali,” ujar Ibu Sekar.


Firas mendekati Aida.


“Aku ke mobil dulu,” bisik Firas.


“Iya,” jawab Aida.


Firas beranjak dari tempat duduk menuju ke mobilnya. Tak lama kemudian ia datang membawa tas ransel. Firas membuka tas dan mengambil amplop coklat yang bertuliskan logo sebuah bank. Firas menghampiri Ibu Sekar.


“Bude, ini untuk ongkos Bude dan Pakde ke Jakarta,” Firas menaruh amplop ke tangan Ibu Sekar.


Ibu Sekar kaget ketika diberi amplop uang oleh Firas.


“Untuk penginapan selama di Jakarta sudah saya siapkan. Dan untuk tiket pulang ke Sragen juga sudah saya siapkan. Nanti ada pegawai saya yang akan mengurus semuanya. Bude dan Pakde tinggal datang ke Jakarta,” kata Firas.


Ibu Sekar menoleh ke suaminya seperti minta persetujuan dari suaminya. Pak Mulyono pun mengangguk.

__ADS_1


“Terima kasih, Nak Firas. Insya Allah kami akan datang ke pernikahan kalian,” ucap Ibu Sekar.


“Alhamdullilah,’ ucap Aida.


Sebetulnya Aida kaget ketika Firas memberikan uang kepada Ibu Sekar. Sebelumnya Firas tidak mengatakan apa-apa kepada Aida.


“Kalau begitu kami permisi dulu,” pamit Firas.


“Loh, kenapa buru-buru? Tidak menginap di sini saja?” tanya Ibu Sekar.


“Tidak, Bude. Terima kasih. Nanti merepotkan Bude dan Pakde,” jawab Firas.


“Tidak merepotkan kok, Nak Firas. Hanya tempatnya ya, begini ini,” kata Ibu Sekar.


“Kami menginap di penginapan saja. Karena besok pagi kami mau pergi ke Wonosobo,” ujar Firas.


“Ke Wonosobo ke tempatnya siapa?” tanya Ibu Sekar.


“Ke rumah Pakde dari Papah,” jawab Aida.


“Yo wes, hati-hati di jalan,” kata Ibu Sekar.


“Baik, Bude,” jawab Aida.


Aida dan Firas mencium tangan Ibu Sekar dan Pak Mulyono.


“Kami permisi dulu. Assalamualaikum,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Sekar dan Pak Mulyono.


Aida dan Firas pergi meninggalkan rumah Ibu Sekar menuju ke mobil Firas.  Ketika di dalam mobil Aida berkata. “Akang, terima kasih untuk segalanya. Maaf, kalau Aida sudah merepotkan Akang.”


Firas menoleh ke Aida lalu tersenyum.


“Sama-sama Aida. Aku lakukan ini semua demi kamu, demi kebahagiaan kamu. Aku tidak ingin melihatmu bersedih saat kita menikah nanti,” jawab Firas.


“Terima kasih,” ucap Aida sekali lagi dan mulai menitikkan air mata.


“Sudah, jangan bersedih lagi! Nanti orang menyangka aku apa-apain kamu,” ujar Firas.


Firas mengambil tissue dan mengelap wajah Aida yang basah karena airmata.


“Kita hadapi semuanya bersama-sama, ya,” bisik Firas.


Aida pun mengangguk.


“Om, ayo alan-alan!” kata Maira yang sudah tidak sabar.


“Ayo, kita let’s go!” Firas pun menjalankan mobilnya.


Aida dan Firas menyusuri kota Sragen mencari hotel untuk mereka menginap. Sragen kotanya sangat luas namun sulit untuk mencari hotel. Akhirnya mereka mendapatkan guest house bukan hotel. Guest house itu terletak di tengah kota dan dekat dengan sebuah rumah sakit swasta. Tidak apa-apa, yang penting mereka mendapatkan tempat penginapan yang bersih.


Firas menyewa dua kamar yang satu untuk Aida dan Maira. Satu lagi untuk dirinya sendiri. Kamar Firas dan Aida letaknya bersebelahan. Maira sangat senang karena kamarnya cukup besar. Batita itu naik ke atas tempat tidur dan loncat-loncatan di atas tempat tidur.


“Maira, jangan loncat-loncat! Nanti jatuh,” kata Aida.


Maira langsung berhenti loncat-loncat.


“Kita mandi dulu, ya,” Aida membuka baju Maira lalu membawanya ke kamar mandi.


Aida dan Mairah sudah selesai mandi, mereka sedang menonton televisi sambil tidur-tiduran di tempat tidur.


“Mama, au ke Om Pias,” kata Maira.

__ADS_1


“Nanti saja ke Om Firas. Sekarang Om Firas lagi bobo. Kasihan cape sudah menyetir jauh,” jawab Aida.


__ADS_2