
Firas mencoba untuk tenang agar Aida tidak curiga. Sebenarnya di dalam hati Firas ia sedih jika Maira akan diambil oleh Ricky. Bagaimanapun juga Firas sudah menyayangi Maira. Kemarin malam Firas menceritakan semuanya mengenai tujuan kedatangan Ricky kepada mamahnya. Ibu Poppy pun kaget mendengarnya.
“Kasihan Aida kalau sampai Ricky mengambil Maira dari sisinya. Dia pasti sedih. Anak yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang akan diambil begitu saja dari pelukannya,” kata Ibu Poppy sambil berlinang airmata.
“Mamah juga sedih kalau Maira harus pergi meninggalkan kita. Maira sudah mencuri hati Mama,” kata Ibu Poppy sambil mengusap airmatanya.
“Mamah kan sebentar lagi mau punya cucu. Keisya sudah mau melahirkan,” hibur Firas.
“Masih lama, A. Masih tiga bulan lagi,” jawab Ibu Poppy.
“Tiga bulan tidak lama, Mah. Sebentar lagi,” kata Firas.
“Firas, Mamah harap kamu tetap temani Aida. Kasihan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” kata Ibu Poppy.
“Iya, Mah. Firas akan selalu temani Aida,” jawab Firas.
Firas menghela nafas panjang mengingat pembicaraannya dengan mamahnya tadi malam.
“Om Pias, napa?” tanya Maira.
Firas menoleh ke Maira.
“Om tidak apa-apa,” jawab Firas sambil mengusap rambut Maira.
Aida menatap Firas dengan penuh sidik. Ia melihat Firas seperti ada yang sedang dipikirkan oleh Firas. Firas dari tadi menyetir mobil sambil menghela nafas terus menerus.
Sebenarnya ada apa, sih? tanya Aida di dalam hati.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Ibu Poppy. Begitu keluar dari mobil Maira langsung masuk ke dalam rumah Ibu Poppy.
“Acayamualaicum,” ucap Maira ketika masuk ke rumah Ibu Poppy.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Budi.
“Eh, cucu Aki sudah datang. Salam dulu dong,” Pak Budi mengulurkan tangannya ke Maira.
Maira langsung mencium tangan Pak Budi.
“Muah.”
“Pinter,” puji Pak Budi sambil mengusap kepala Maira.
“Nin ana?” tanya Maira.
“Enin ada di dapur lagi masak,” jawab Pak Budi.
Maira langsung masuk ke dapur.
“Nin,” panggil Maira.
“Eh, cucu Enin yang cantik sudah datang,” kata Ibu Poppy.
“Nin ajih, apa?” tanya Maira.
“Nin lagi masak untuk sarapan,” jawab ibu Poppy sambil memasak.
“Maira sudah sarapan belum?” tanya Ibu Poppy.
“Beyum,” jawab Maira.
“Nanti kita sarapan bareng-bareng. Sebentar lagi makanannya matang,” kata Ibu Poppy.
“Iya,” jawab Maira.
__ADS_1
Aida menyusul Maira ke dapur.
“Maira jangan ganggu Enin!” kata Aida.
“Mala tida angu Nin. Mala uma iyat aja,” jawab Maira yang sedang duduk di kursi dapur.
“Tante biar Aida bantu,” kata Aida mendekati Ibu Poppy.
“Tidak usah! Sudah selesai masaknya,” jawab Ibu Poppy.
“Ayo kita sarapan dulu,” kata Ibu Poppy sambil membawa nasi goreng ke ruang makan.
Aida mengajak Maira menuju ke ruang makan.
Pukul setengah sepuluh Ricky pun datang ke rumah orang tua Firas.
“Den Firas ada tamu mencari Non Aida,” kata Pak Wirjo penjaga rumah Ibu Poppy.
“Oh ya, Pak.’
Firas pergi ke ruang tamu dan membukakan pintu ruang tamu. Ricky sedang berdiri di depan teras.
“Silahkan masuk Pak Ricky,” ujar Firas.
“Terima kasih, Pak,” jawab Ricky.
“Duduk dulu! Sebentar saya panggilkan Aida,” kata Firas.
Ricky duduk di kursi tamu. Tak lama Firas datang bersama Aida.
“Apa kabarnya, Mbak Aida?” sapa Ricky.
“Alhamdullilah baik,” jawab Aida.
“Mama,” kata Maira sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Aida.
Ricky memperhatikan Maira.
“Maira sama Enin dulu, Mamah sedang ada tamu,” kata Aida sambil membelai rambut Maira.
“Au uweh,” kata Maira.
“Minta kue sama Enin,” kata Firas.
Maira langsung masuk ke ruang keluarga sambil berkata, “Nin, au uweh.”
“Itu anak Mbak Aida?” tanya Ricky.
“Iya,” jawab Aida.
“Sudah besar, ya,” kata Ricky.
“Iya, usianya sudah setahun lebih,” kata Aida.
“Ada perlu apa Pak Ricky bertemu dengan saya?” tanya Aida langsung.
“Begini Mbak Aida. Mohon maaf sebelumnya. Bukan maksud saya mengganggu ketentraman Mbak Aida. Tapi ada yang harus saya sampaikan,” belum selesai Ricky berbicara tiba-tiba Vivin datang.
“Mas Firas!” seru Vivin dengan wajah berbinar.
Vivin langsung menghampiri Firas lalu duduk di samping Firas.
“Vivin! Sopan sedikit! Kami sedang ada tamu,” seru Firas dengan kesal.
__ADS_1
Ricky memperhatikan Vivin.
Oh, jadi ini laki-laki yang dimaksud oleh Vivin, kata Ricky dalam hati.
Ricky dan Aida memperhatikan Firas dengan Vivin.
“Vivin mau di sini saja dengan Mas Firas. Vivin janji tidak akan ganggu,” kata Vivin sambil bergelayut manja di lengan Firas.
Firas menepis tangan Vivin.
“Yang sopan, Vin!” seru Firas yang kesal.
“Ngapain pembantu ada di sini?” tanya Vivin dengan sinis ketika ia melihat Aida.
“Dia bukan pembantu. Dia karyawan saya. Mestinya saya yang bertanya, ngapain kamu ke sini?” kata Firas dengan kesal.
“Vivin mau main dengan Salfa. Tapi ada Mas Firas, Vivin sama Mas Firas aja,” jawab Vivin dengan tidak tau malu.
Namun ketika Vivin melihat Ricky wajah Vivin langsung pucat.
“Ngapain kamu di sini?’ tanya Vivin dengan gugup.
Ricky menyeringai.
“Hai, Vivin,” sapa Ricky.
Vivin langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Vivin mau ke Salfa aja,” kata Vivin langsung masuk ke dalam ruang keluarga.
Melihat Vivin masuk ke dalam Firas langsung bernafas lega.
“Maaf, Pak Ricky. Ada sedikit gangguan,” ucap Firas.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti kok. Vivin memang begitu,” jawab Ricky.
Mendengar perkataan Ricky, Firas langsung mengerutkan keningnya.
“Pak Ricky kenal dengan Vivin?” tanya Firas.
“Iya, panjang ceritanya. Suatu hari nanti Pak Firas juga akan tau,” jawab Ricky.
“Mbak Aida, maksud kedatangan saya adalah,” Ricky menarik nafasnya.
“Untuk mengatakan kalau anak Mbak Aida adalah anak saya,” kata Ricky.
“Apa? Maksud Pak Ricky apa? Maira saya temukan ketika hendak dibuang di sungai,” kata Aida dengan kesal.
“Sabar, Aida. Sabar,” Firas mencoba untuk menenangkan Aida yang kesal.
“Kita dengarkan penjelasan Pak Ricky,” kata Firas.
Aida pun menuruti perkataan Firas.
“Lanjutkan, Pak,” kata Firas.
“Waktu itu sebenarnya bayi itu tidak dibuang, hanya dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti dibuang. Karena ada orang suruhan kakek bayi itu yang memperhatikan dari jauh. Sebenarnya bayi itu ditaruh di tempat yang aman agar bisa saya ambil ketika keadaannya sudah aman. Namun ketika Bi Sur membawa bayi itu ke pinggir sungai keburu kelihatan oleh Mbak Aida. Mbak Aida berteriak membuat Bi Sur kaget. Bi Sur meninggalkan bayi itu begitu saja. Dan Mbak Aida mengambil bayi itu,” kata Ricky panjang lebar.
“Semenjak itu saya memantau Mbak Aida dari jauh. Ketika saya tau Mbak Aida hendak menjual mobil karena membutuhkan uang, cepat-cepat saya membeli mobil Mbak Aida,” lanjut Ricky.
“Saya selama ini menyuruh orang untuk memantau Mbak Aida. Sehingga saya tau dimana Mbak Aida tinggal dan dimana Mbak Aida bekerja,” kata Ricky.
“Dan sekarang Pak Ricky hendak mengambil Maira dari saya, begitu?” tanya Aida dengan sinis.
__ADS_1
“Tidak, Mbak. Bukan begitu maksud saya. Saya sangat berterima kasih Mbak Aida sudah membesarkan anak saya. Saya hanya ingin Maira tau kalau saya adalah ayahnya,’ jawab Ricky.