Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
65. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Kamar tempat Aida di rawat penuh dengan keluarga yang datang menjenguk. Ibu Ida dan Pak Aan juga datang menjenguk Aida. Ibu Poppy dan Ibu Ida sedang menggendong bayi. Sedangkan bayi satu lagi sedang disusui oleh Aida. Pak Budi dan Pak Aan sedang berbincang-bincang berdua. Maira duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan adik bayi yang sedang disusui oleh mamahnya.


“Teteh sudah makan belum?” tanya Aida.


“Udah,” jawab Maira.


“Makan dengan apa?” tanya Aida.


“Makan cama bubul ayam. Enin macak bubul ayam,” jawab Maira.


“Nenek bawa kue kesukaan Teteh. Teteh mau tidak?” tanya Aida.


“Mau,” jawab Maira.


“Kang, tolong ambilkan kue yang dari Ibu Ida!” kata Aida kepada suaminya.


Firas yang sedang fokus dengan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Kenapa?” tanya Firas.


“Tolong ambilkan kue untuk Teteh,” jawab Aida.


Firas langsung bangkit dari tempat duduk dan mengambilkan kue untuk Maira.


“Aa, nama anaknya siapa?” tanya Pak Budi ketika Firas hendak mengambil kue.


“Namanya Vitto Rasid Rahadian, Kenzo Rasid Rahadian dan Arsa Rasid Rahadian,” jawab Firas.


“Yang mana Vitto dan mana Kenzo?’ tanya Pak Budi.


“Vito yang sedang digendong sama Mamah. Kenzo yang sedang menyu-su,” jawab Firas.


“Yang sedang digendong Ibu Ida, namanya Arsya,” lanjut Firas.


Bayi-bayi Aida walaupun kembar namun wajah mereka tidak mirip, sehingga memudahkan orang tuanya untuk membedakannya.


“Jadi namanya baby Vit, baby Ken dan baby Ar,” kata Pak Budi sambil menunjuk ke bayi satu persatu.


“Betul, Ayah,” jawab Firas.


Firas mengambil kue lalu diberikan kepada Maira. “Telima kacih, Papa,” ucap Maira.


“Sama-sama, Teteh,” jawab Firas sambil mengusap rambut Maira.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka, Keisya masuk ke dalam kamar sambil menggendong putrinya yang bernama Adis. “Assalamualaikum,” ucap Keisya.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


“Eh, Teteh. Mana Aa Dinan? Tidak ikut?” tanya Pak Budi.


“Tidak, Yah. Aa Dinan kerja,” jawab Keisya.


Keisya mencium tangan mamah dan papahnya, serta menyalami Ibu Ida dan Pak Aan.


“Ayah dan Pak Aan ijin tidak bekerja,” kata Pak Budi.


“Ayah mah kerja di resto milik Mamah, jadi tidak ada yang menegur Ayah,” kata Keisya.


“Eeehhh, Pak Aan aja ijin tidak bekerja. Padahal dia ASN,” kata Pak Budi.


“Ijin mau menengok cucu yang baru lahir,” ujar Pak Aan.

__ADS_1


“Sudah biarkan saja. Mungkin Dinan sedang banyak pekerjaan,” kata Ibu Poppy.


“Cucu Enin yang cantik belum salam sama Enin,” kata Ibu Poppy kepada Adis. Adis mencium punggung tangan Ibu Poppy.


“Salam dulu sama Nenek,” kata Ibu Poppy. Adis mencium tangan Ibu Ida.


“Adis belum salam sama Aki,” kata Pak Budi. Adis jalan mendekati Pak Budi lalu mencium punggung tangan Pak Budi.


“Salam ke kakek,” kata Pak Budi. Adis mencium tangan Pak Aan.


“Haduh, pintarnya,” puji Pak Aan.


“Tuh ada Teteh Maira,” Pak Budi menunjuk kearah tempat tidur yang ditutupi tirai.


“Tete Maia,” panggil Adis.


Keisya menggandeng tangan Adis. “Ayo kita ke Teteh Maira,” kata Keisya.


Keisya menuntun Adis menuju ke tempat tidur Aida. “Hallo,” sapa Aida ketika melihat Keisya dan Adis.


Adis melihat Maira yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil makan kue. “Tete Maia,” seru Adis dengan gembira.


“Tete agih mamam kue, Dede Adis mau?” tanya Maira.


“Au,” jawab Adis.


“Papa, tolong ambiyin kue dua. Catu untuk Dede Adis, catu ajih untuk Tete,” kata Maira kepada Firas yang sedang asyik membaca pesan di ponselnya.


“Baik, Teteh cantik,” kata Firas kepada Maira.


Firas langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Adis. “Adis belum salam sama Ua,” kata Firas sambil menyodorkan tangannya. Adis mencium tangan Firas.


“Anak pintar,” puji Firas sambil mengusap kepala Adis. Kemudian Firas mengambilkan kue untuk Maira dan Adis.


“Tuh, lihat adik bayinya lucu,” kata Keisya sambil menunjuk ke baby Ken.


“Dedenya ne-nen,” ujar Adis.


“Iya, Dedenya lapar. Jadi ne-nen,” kata Keisya.


“Ate, Dede Adisnya culuh duduk cini,” ujar Maira sambil menepuk-nepuk kasur.


“Jangan, ah. Nanti Dede Adisnya jatuh. Teteh mainnya dibawah aja,” kata Keisya.


Firas datang sambil membawa kue untuk Maira dan Adis. Firas memberikan kue kepada Maira dan Adis.“Papa, mau tulun,” kata Maira sambil mengangkat kedua tangannya. Firas mengangkat tubuh Maira lalu menurunkannya.


“Ayo, kita gambal,” ajak Maira.


Maira mengambil tasnya, lalu mengeluarkan isinya di atas meja. “Dede Adis gambal di cini. Tete gambal di cini,” kata Maira sambil menunjuk ke halaman buku gambar. Kemudian kedua batita itu asyik menggambar sambil berdiri dan makan memakan kue.


Tiba-tiba pintu kamar di buka, Andri dan Salfa masuk ke dalam kamar sambil membawa kantong plastik yang berisi dus makanan.


“Assalamualaikum,” ucap Salfa dan Andri ketika masuk ke dalam kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


“Akhirnya datang juga. Ayah sudah kelaparan menunggu dari tadi,” kata Pak Budi.


“Ngantri, Yah. Banyak yang beli,” jawab Andri.


Salfa dan Andri menaruh plastik di atas meja. “Ayo kita makan dulu,” kata Pak Budi.

__ADS_1


“Mamah, taruh dulu cucunya di box! Masa Mamah makan sambil menggendong bayi,” kata Pak Budi.


Ibu Poppy dan Ibu Ida menaruh baby Vit dan baby Ar box bayi. Semua orang mengambil dus makanan. Kecuali Maira dan Adis yang sedang asyik menggambar sambil makan kue. Aida juga tidak memakan nasi box. Ia makan makanan yang diberikan oleh rumah sakit. Merekapun makan dengan tenang.


Ketika malam hari kamar tempat Aida di rawat terlihat sepi hanya ada Aida, Firas dan ketiga bayi mereka. Aida sedang makan makan malam sambil menonton televisi. Dua orang suster masuk ke dalam kamar Aida.


“Maaf, Bu. Bayi-bayinya mau tidur di kamar atau tidur di ruang bayi?” tanya suster Liswati Angelina.


Aida menoleh ke Firas. “Kang, bayi-bayi bobo di sini atau tidur di ruang bayi?” tanya Aida.


“Terserah kamu aja. Kalau kamu mau istirahat, mereka tidur di ruang bayi,” jawab Firas.


“Suster, kalau malam bayi-bayinya bangun dan pingin nyu-su. Bagaimana?” tanya Aida.


“Di pompa saja ASI nya. Ibu punya pompa ASI, tidak?” tanya suster Liswati Angelina.


“Punya, Sus,” jawab Aida.


“Sekarang Ibu pompa ASI nya. Nanti antarkan ke ruang bayi,” kata suster Liswati Angelina.


“Baik, Sus,” jawab Aida.


Kemudian suster Liswati Angelina dan suster Mimi Gemoy membawa bayi-bayi Aida menuju ke ruang bayi. Tinggallah Aida dan Firas berdua di dalam kamar. Aida melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan Aida memompa ASI nya. “Biar aku yang pompa,” kata Firas sambil mendekati Aida.


“Jangan! Nanti bukannya dipompa nanti malah dimainin,” kata Aida.


“Tidak apa-apa. Siapa tau kalau dirangsang ASI yang keluar tambah banyak,” ujar Firas sambil tertawa nyengir.


“Itu sih kata Akang. Memang Akang maunya begitu,” kata Aida.


Aida kembali memompa ASi nya tanpa mempedulikan suaminya yang menatap dadanya dengan tatapan mendamba. Setelah selesai dipompa, Firas mengantarkan ASI ke ruang bayi. Agar bayi-bayi mereka tidak diberikan susu formula.


***


Lima hari kemudian keadaan Aida sudah berangsur-angsur pulih dan bayi-bayi Aida dalam keadaan sehat. Dokter memperbolehkan Aida pulang ke rumah. Ibu Poppy dan Ibu Ida datang menjemput Aida. Mereka datang untuk membantu Aida menggendong bayi-bayinya.


Sesampai di rumah mereka disambut oleh Pak Purnomo dan Ibu Yani. Mereka sengaja jauh-jauh datang dari Wonosobo untuk menjenguk Aida dan bayi-bayinya.


Melihat Pak Purnomo dan Ibu Yani ada di rumahnya membuat hati Aida senang. Karena masih ada keluarganya yang datang menjenguknya. Aida langsung mencium tangan Pak Purnomo dan Ibu Yani.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Pak Purnomo.


“Alhamdullilah sudah agak baikan,” jawab Aida.


Pak Purnomo melihat bayi yang sedang digendong Aida. “Siapa namanya?” tanya Pak Purnomo sambil mengusap kepala baby Ar.


“Namanya Arsa. Kalau yang sedang digendong Mamah, namanya Kenzo. Yang sedang digendong Ibu Ida namanya Vitto,” jawab Aida.


“Namanya bagus-bagus,” puji Ibu Yani.


“Ayo kita masuk, kamu pasti cape sekali,” kata Pak Purnomo.


Aida masuk ke dalam rumahnya dan menaruh baby Ar di box bayi yang berada di kamar bayi. Ibu Ida dan Ibu Poppy menyusul ke kamar bayi. Mereka menaruh bayi di boxnya masing-masing. Setelah itu Ibu Poppy dan Ibu Ida keluar dari kamar bayi. Sedangkan Aida masih di dalam kamar, memandangi bayi-bayinya yang sedang tidur dengan pulas. Firas menghampiri istrinya dan merangkul punggungnya. Aida merebahkan kepalanya di bahu Firas. Mulai sekarang rumah mereka akan terasa ramai oleh suara tangis, canda dan tawa keempat anak mereka.


TAMAT.


.


.

__ADS_1


Besok di teruskan session ke 2 dengan tokoh utamanya Ricky, Hanifa dan Maira. Firas dan Aida hanya sebagai pemeran pembantu.


__ADS_2