Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
55. Suprise


__ADS_3

Firas sedang memasang dasi di depan cermin, sedangkan Aida sedang merapihkan tempat tidur.


“Da,” panggil Firas.


“Iya, Kang,” jawab Aida sambil melipat selimut.


“Apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikanmu?” tanya Firas sambil memasang dasi.


Aida menghentikan pekerjaannya.


“Maksud Akang kuliah?” tanya Aida.


“Iya, kuliah. Kamu nggak mau kuliah?” tanya Firas.


Aida menghela nafas.


“Kalau Aida kuliah nanti Maira dengan siapa?” tanya Aida.


“Maira bisa dititipkan ke Mamah,” jawab Firas.


“Kasihan Mamah kalau disuruh mengasuh Maira, nanti kecapean,” kata Aida.


“Tidak, Mamah malah senang mengasuh Maira,” jawab Firas sambil membetulkan dasinya.


Aida menghampiri suaminya.


“Sini, Aida rapihkan dasinya,” kata Aida.


Aida membetulkan dasi Firas.


“Kamu mau tidak kuliah?” tanya Firas sekali lagi.


“Entahlah, Kang. Aida bingung. Kalau Aida kuliah terus tiba-tiba hamil dan melahirkan, nanti siapa yang mengurus bayinya? Kalau kuliahkan pasti sibuk dengan jadwal kuliah dan mengerjakan tugas,” kata Aida sambil merapihkan dasi Firas.


“Sudah rapih,” kata Aida setelah selesai merapihkan dasi Firas.


“Mana coba aku lihat.” Kata Firas.


Aida menyingkir dari depan cermin.


“Alhamdullilah, ternyata rapih juga kamu memasangkan dasi,” ucap Firas.


“Terima kasih, sayang,” Firas mengecup bi_bir istrinya.


“Soal kuliah, kamu pikirkan saja dulu. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu,” kata Firas.


“Kang, Aida minta ijin mau ke rumah Ibu Ida. Sudah lama Aida tidak bertemu dengan Ibu Ida. Sekalian mau melihat rumah,” kata Aida.


“Boleh. Tapi jangan naik ke atas genteng, ya!” jawab Firas.


“Iya, tidak akan naik ke atas genteng,” jawab Aida.


“Naik apa kamu ke sana?” tanya Firas.


“Naik taksi, Kang,” jawab Aida.


“Hati-hati di jalan!” kata Firas.


“Iya, Kang,” jawab Aida.


“Ayo kita sarapan. Aku sudah lapar,” kata Firas.


Firas merangkul bahu Aida, mereka keluar dari kamar mereka.


***


Hari sabtu telah tiba, seperti biasa Ricky menjemput Maira untuk jalan-jalan. Namun kali ini Ricky tidak membawa Maira ke mall, tapi Ricky membawa Maira ke rumah orang tuanya.


“Assalamualaikum,” ucap Ricky ketika masuk ke dalam halaman rumahnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Juwita.


Ricky masuk ke dalam rumah sambil menggendong Maira. Sedangkan Hanifa berjalan di belakang Ricky sambil membawa tas Maira dan kantong plastik.


Ibu Juwita tertegun melihat Ricky menggendong Maira.


“Maira salam dulu sama Nenek,” kata Ricky.

__ADS_1


“Ini Maira, Ky?” tanya Ibu Juwita dengan tidak percaya.


“Iya, Mah,” jawab Ricky.


Ibu Juwita memandangi Maira dengan terharu.


“Masya Allah, cantik sekali cucuku,” puji Ibu Juwita.


“Salam dulu sama nenek,” kata Ibu Juwita sambil mengulurkan tangan kanannya. Lalu Maira mencium punggung tangan Ibu Juwita.


“Pintar sekali,” puji Ibu Juwita.


“Sini, digendong sama Nenek,” kata Ibu Juwita sambil mengulurkan ke dua tangannya.


Namun Maira malah membalikkan badannya memeluk leher ayahnya.


“Oh, maunya digendong ayah saja. Ya sudah, tidak apa-apa,” kata Ibu Juwita.


Ibu Juwita melihat Hanifa berdiri di belakang Ricky.


“Itu siapa, Ky?” tanya ibu Juwita sambil menunjuk ke Hanifa.


“Itu Hanifa, pengasuh Maira,” jawab Ricky.


“Hanifa, ini ibu saya,” kata Ricky kepada Hanifa.


Hanifa langsung mencium tangan Ibu Juwita.


Cantik juga, kata Ibu Juwita di dalam hati.


“Ayo, sini masuk!” kata Ibu Juwita kepada Maira dan Hanifa.


Ricky dan Hanifa masuk ke dalam rumah. Lalu mereka duduk di kursi ruang tamu. Hanifa menyimpan plastik di atas meja ruang tamu.


“Ini apa, Ki?” tanya Ibu Juwita sambil membuka plastik itu.


“Itu kue dari Ibunya Hanifa,” jawab Ricky.


“Terima kasih,” ucap Ibu Juwita.


“Mala au uweh,” bisik Maira kepada Ricky.


“Iya, nanti ya,” jawab Ricky.


Tak lama kemudian Ibu Juwita datang bersama dengan Pak Agus.


“Lihat, Pah. Cucu kita sudah besar, cantik lagi,” kata Ibu Juwita.


Pak Agus mendekati Maira.


“Salam dulu sama kakek,” kata Pak Agus sambil mengulurkan tangannya.


Maira langsung mencium punggung tangan Pak Agus.


“Pintar sekali,” puji Pak Agus sambil mengusap kepala Maira.


“Ini siapa?” Pak Agus menunjuk ke Hanifa.


“Itu Hanifa. Pengasuhnya Maira,” jawab Ibu Juwita.


“Oh, pengasuh Maira yang Ricky ceritakan,” kata Pak Agus.


Hanifa mencium punggung tangan Pak Agus.


“Aya, au uweh,” bisik Maira.


“Nanti ya, sayang,” jawab Ricky.


“Maira, mau apa?” tanya Ibu Juwita melihat Maira berbisik kepada Ricky.


“Mau kue,” jawab Ricky.


“Oh mau kue. Sebentar Nenek ambilkan,” Ibu Juwita masuk ke dalam rumah.


“Maira suka kue?” tanya Pak Agus kepada Maira.


Maira menjawab dengan mengangguk.

__ADS_1


“Sama dong dengan Kakek. Kakek juga suka kue,” kata Pak Agus.


Tak lama kemudian Ibu Juwita membawa bolu yang sudah diporong-potong.


“Ini kuenya,” Ibu Juwita menaruh kue bolu di atas meja ruang tamu.


“Ini kue dari mana, Mah?” tanya Pak Agus.


“Tadi Ricky yang bawa. Katanya dari ibunya Hanifa,” jawab Ibu Juwita.


Maira langsung berbinar matanya ketika melihat kue. Hanifa mengambil sepotong kue bolu dengan menggunakan tissue lalu diberikan kepada Maira.


“Duduknya sama Kakak, ya,” kata Hanifa.


Mairapun mengangguk. Ia lagnsung turun dari pangkuan ayahnya. Hanifa menuntun Maira menuju ke kursinya. Maira duduk di pangkuan Hanifa lalu ia memakan kuenya.


“Maira manggil Hanifa apa?” tanya Pak Agus.


“Kakak,” jawab Ricky.


“Kenapa bukan Tante?” tanya Pak Agus.


“Dari pertama kali bertemu panggil kakak,” jawab Ricky.


Tak lama kemudian Ibu Juwita datang membawa beberapa cangkir teh.


“Ini minumnya,” kata Ibu Juwita sambil menaruh cangkir teh di atas meja.


Ibu juwita duduk kembali bersama mereka.


“Kamu kenapa tidak bilang kalau mau membawa Maira ke rumah?” tanya Ibu Juwita.


“Kalau tau Maira mau datang, Mamah masakan makan yang special untuk Maira,” kata Ibu Juwita.


“Kalau bilang dulu, nanti tidak surprise dong,” jawab Ricky sambil mengambil kue bolu.


“Kasihan Maira datang ke sini tidak disuguhi apa-apa,” kata Ibu Juwita.


“Tidak apa-apa. Ini kan ada kue bolu dari ibunya Hanifa,” kata Ricky lalu memakan kue itu.


“Hmm, kuenya enak,” kata Ricky sambil mengunyah kue.


“Kakek juga mau ah,” Pak Agus mengambil sepotong kue lalu memakannya.


“Hmmm, bener enak kuenya,” puji Pak Agus.


“Minyum,” kata Maira sambil menunjuk ke cangkir teh.


Hanifa mengambil cangkit teh, namun cangkir terasa panas.


“Masih panas tehnya,” kata Hanifa.


Hanifa tidak jadi mengambilkan minum untuk Maira.


“Au minyum,” rengek Maira.


“Sebentar Nenek ambilkan yang dingin,” kata Ibu Juwita.


Ibu Juwita masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian membawa segelas air putih.


“Minum ini dulu,” Ibu Juwita memberikan gelas kepada Hanifa.


Melihat segelas air putih, Maira langsung berkata, “Minyum minyum.”


Hanifa mendekatkan gelas ke mulut Maira, Maira langsung meminum air putih.


“Ohokohok,” Maira batuk karena keselek.


“Pelan-pelan minumnya,” kata Ricky.


“Minyum agih,” kata Maira.


Hanifa kembali mendekatkan gelas ke mulut Maira. Maira langsung meminum air putih itu.


“Uda,” kata Maira.


Hanifa menyimpan gelas di atas meja. Maira kembali memakan kuenya.

__ADS_1


__ADS_2