
Waktu terus berlalu, tak terasa kehamilan Aida sudah memasuki delapan setengah bulan. Sudah mendekati waktu kelahiran. Perut Aida semakin besar, namun tubuhnya tetap langsing bagaikan biola. Mungkin karena Aida masih muda sehingga metabolismenya masih bagus, sehingga apa yang dimakan oleh Aida tidak membuat badannya menjadi gendut.
Aida kembali check up ke dokter kandungan. Dokter Nda Dha Thoel menyarankan agar Aida check up setiap dua minggu sekali. Karena usia kandungan Aida sudah delapan bulan lebih. Sekarang ini Aida sedangi berada di kamar periksa dokter Nda Dha Thoel . Ia sedang di USG. Dokter Nda Dha Thoel sedang fokus ke layar monitor.
“Bagaimana dengan keadaan bayi-bayi kami, Dok?” tanya Firas dengan cemas.
“Bayi-bayi dalam keadaan sehat. Semua berat badannya sudah cukup untuk dilahirkan. Posisi dua bayi sudah bagus, kepalanya sudah di bawah. Hanya saja ada satu bayi posisinya melintang. Sepertinya Ibu Aida tidak bisa melahirkan secara normal, harus dengan jalan operasi caesar,” kata dokter Nda Dha Thoel.
“Caesar, Dok? Apa tidak bisa diusahakan untuk melahirkan dengan normal?” tanya Aida.
“Tidak bisa, Bu. Kalau bayi Ibu tidak kembar mungkin bisa dibantu dengan sujud yang lama, agar dia bisa memutar posisinya. Tapi kalau kembar tiga sepertinya akan sulit untuk memutar,” kata dokter Nda Dha Thoel.
“Sudah, Da. Tidak apa-apa melahirkan dengan operasi caesar. Yang penting kamu dan anak-anak kita selamat,” hibur Firas.
“Iya, Kang,” jawab Aida.
Sebenarnya Aida kecewa karena tidak boleh melahirkan secara normal. Namun demi keselamatan dirinya dan keselamatan anak-anaknya terpaksa Aida menyetujui saran dokter Nda Dha Thoel.
***
Tak terasa usia kandungan Aida sudah memasuki usia sembilan bulan. Entah mengapa pangkal kaki Aida terasa pegal dan kalau berjalan terasa agak sedikit sakit. Hari ini jadwal Aida check up ke dokter kandungan. Ketika dokter menyuruh Aida naik tempat tidur dokter Nda Dha Thoel memperhatikan cara Aida berjalan.
“ibu kenapa jalannya seperti itu?” tanya dokter Nda Dha Thoel.
“Kaki saya terasa pegal dan sakit, Dok,” jawab Aida.
“Wah sudah mulai pegal dan sakit, ya? Nanti kita lihat dulu,” kaya dokter Nda Dha Thoel.
Aida naik ke tempat tidur untuk diperiksa oleh dokter Nda Dha Thoel. Dokter Nda Dha Thoel mulai memainkan alat USG. Dokter Nda Dha Thoel fokus ke monitor.
“Usia bayi sudah pas sembilan bulan. Timbangan berat badan bayi sudah pas. Dan popsisinya sudah ada berada di bawah. Tapi bayi yang psisinya melintang masih belum berputar,” kata dokter Nda Dha Thoel.
“Bagaimana kalau besok kita operasi caesar?” tanya dokter Nda Dha Thoel. Aida dan Firas kaget mendengarnya.
“Besok, Dok?” tanya Firas.
“Iya, besok. Lebih tepatnya besok subuh. Saya lebih suka operasi caesar ketika masih subuh,” jawab dokter Nda Dha Thoel.
“Kenapa harus besok, Dok? Apa tidak bisa diundur?” tanya Firas.
“Posisi bayi sudah dibawah. Ibu sudah mulai merasakan pegal dan sakit pada pangkal kaki. Itu tandanya bayi sudah mau keluar,” jawab dokter Nda Dha Thoel.
Firas dan Aida saling berpandangan.
“Baiklah, Dok,” kata Aida.
“Oke, nanti saya buatkan surat pengantarnya. Nanti malam Ibu sudah harus masuk ke rumah sakit untuk persiapan operasi,” kata dokter Nda Dha Thoel.
Dokter Nda Dha Thoel kembali ke tempat duduknya dan membuatkan surat pengantar. Aida kembali ke tempat duduknya. Firas langsung merangkul bahu Aida dan mengusap-usap pangkal lengan istrinya.
__ADS_1
“Ini surat pengantar ke rumah sakit. Kalau bisa Ibu datang setelah magrib, karena harus periksa laboraturium. Nanti malam Ibu harus puasa,” kata dokter Nda Dha Thoel.
“Baik, Dok,” jawab Aida.
“Terima kasih, Dok,” ucap Firas.
Firas dan Aida pergi meninggalkan kamar periksa. Firas berjalan sambil merangkul bahu istrinya.
“Kamu mau makan apa?” tanya Firas.
“Kita makan di rumah saja, Kang. Aku ingin bersama Maira sebelum pergi ke rumah sakit,” kata Aida.
“Oke,” kata Firas. Merekapun berjalan menuju ke tempat parkir.
Sesampai di rumah mereka disambut oleh Maira. Maira tidak ikut ke dokter karena sedang asyik menonton film. Maira memeluk perut mamahnya sambil mencium perut mamahnya.
“Mama, dede-dede bayi kapan kelualnya?” tanya Maira.
“Sabar ya, sayang. Sebentar lagi adi-adik bayi akan keluar. Maira sudah tidak sabar mau ketemu sama aidik-adik bayi, ya?” tanya Aida.
“Iya. Maila mau ngajak dede-dede main,” jawab Maira.
“Adik-adiknya masih bayi belum bisa diajak main,” kata Aida.
Firas keluar dari kamar, ia sudah mengenakan celana pendek dan kaos. Firas duduk di sofa ruang keluarga.
Biasanya setelah mengantarkan Aida pulang dari dokter, Firas langsung pergi ke kantor. Tapi sekarang Firas sudah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumah.
“Papah malas ke kantor. Papah mau di rumah saja sama Maira dan Mamah,” jawab Firas.
“Papa, tidak boleh malas pergi kelja! Nanti Papa tidak punya uang untuk beli susu dan mainan untuk Maila,” kata Maira.
Firas tertawa mendengar perkataan Maira. Firas ingat jika Maira sedang rewel, ia sering melarang papahnya untuk pergi ke kantor. Ia ingin bermain ditemani oleh papahnya. Namun Firas mengatakan,” Kalau Papah tidak kerja nanti Papah tidak punya uang untuk beli susu dan mainan untuk Maira.” Semenjak saat itu setiap Firas tidak berangkat kerja, Maira pasti mengingatkan papahnya untuk berangkat kerja.
“Da, baju kamu dan baju bayi sudah disiapkan?” tanya Firas.
“Sudah, Kang. Tinggal baju Akang yang belum Aida siapkan,” jawab Aida.
“Loh, kok baju aku juga? Buat apa?” tanya Firas bingung.
“Memangnya Akang tidak mau menemani Aida menginap di rumah sakit?” tanya Aida.
“Tentu saja mau. Biar aku yang bereskan sendiri,” jawab Firas.
Malam haripun tiba, Aida dan Firas bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Sebelum mereka pergi ke rumah sakit, mereka mengantar Maira dan pengasuhnya ke rumah orang tua Firas. Walaupun di rumah ada banyak asisten rumah tangga yang menjaga Maira, namun Aida dan Firas akan lebih tenang jika Maira mereka titipkan di rumah orang tua Firas.
“Kamu tidak usah mengkhawatirkan Maira. Biar Mamah yang mengurus dan menjaga Maira. Kamu fokus saja kepada dirimu sendiri dan kandunganmu,” kata Ibu Poppy ketika Aida dan Firas mengantarkan Maira.
“Iya, Mah,” jawab Aida.
__ADS_1
Ibu Poppy mengusap perut Aida.
“Perut atas kamu sudah kosong,” kata Ibu Poppy.
“Iya, Mah. Kaki Aida juga sudah pegal dan sakit,” ujar Aida.
“Kalau begitu cepat ke rumah sakit!” kata Ibu Poppy.
“Iya, Mah. Aida berangkat dulu,” Aida mencium punggung tangan Ibu Poppy.
“Doakan Aida agar operasinya lancar,” kata Aida.
“Iya, Mamah doakan,” kata Ibu Poppy sambil mengusap punggung Aida.
Aida beralih ke Pak Budi. Aida mencium punngung tangan Pak Budi.
“Yah, doakan Aida,” kata Aida.
“Ayah doakan semoga operasinya berjalan lancar. Kamu dan bayi-bayimu dalam keadaan selamat dan sehat,” ucap Pak Budi.
“Aamiin ya robbalalamin,” ucap Aida dan Firas.
“Kami berangkat dulu. Assalamualaikum,” ucap Firas.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Poppy dan Pak Budi. Firas dan Aida pergi meninggalkan rumah orangtua Firas.
Firas menyetir mobilnya dengan tenang, ia sedang menikmati perjalanan menuju ke rumah sakit.
“Kamu mau makan sesuatu sebelum kita ke rumah sakit?” tanya Firas sambil menoleh sebentar ke Aida.
Aida berpikir sebentar. “Aida mau makan mie tek-tek kuah,” jawab Aida.
“Oke, kita cari penjual mie tek-tek,” kata Firas. Firas menyetir mobilnya sambil mencari penjual mie tek-tek.
Ia melihat penjual mie tek-tek di pinggir jalan, kemudian ia menghentikan mobilnya.
“Kalau di sini mau?’ tanya firas ke Aida.
“Mau, Kang. Asalkan bersih dan enak,” jawab Aida.
.
.
Pembaca yang sholeh dan sholeha, kemarin Deche tidak up karena suami Deche baru pulang dari luar kota.
Proses Aida melahirkan Deche ambil dari pengalaman Deche melahirkan. Deche melahirkan secara normal dan operasi caesar. Bahkan Deche pernah dikuret 2X.
Karena hidup Deche yang berwarna sehingga bisa dijadikan referensi dalam pembuatan novel.
__ADS_1