Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
61. Hamil?


__ADS_3

Firas membawa kalender ke dapur. Ia memperlihatkan kalender ke istrinya.


“Aida, ini kenapa yang dilingkari merah hanya sampai bulan Mei? Kenapa bulan Juni tidak kamu lingkari?” tanya Firas.


“Kan Aida belum mens-tu-ra-si, kenapa harus dilingkari kalau belum mens-tu-ra-si?” jawab Aida sambil memotong daun seledri dan daun bawang.


“Lagipula Akang kan lagi cari catatan jadwal ganti oli motor. Kenapa jadi nanya-nanya tanggal mens-tu-ra-si Aida?” tanya Aida.


“Tidak penting jadwal ganti oli. Coba tadi kamu ulangi lagi yang kamu katakan!” kata Firas.


Aida menoleh ke Firas.


“Yang mana?” tanya Aida bingung.


“Yang kamu bilang kenapa harus kamu lingkari kalau belum mens-tu-ra-si,” jawab Firas.


“Benerkan Aida belum mens-tu-ra-si untuk apa dilingkari tanggalannya,” kata Aida sambil memasukkan bawang daun seledri ke dalam sop. Aida menuangkan sedikit kuah sup ke atas sendok.


“Kang tolong cobain. Kurang apa?” Aida memberikan sendok ke Firas. Firas menyeruput kuah sop.


“Sudah cukup. Rasanya enak,” jawab Firas.


Aida mematikan kompor, kemudian ia memetk batang cabe merah dan cabe rawit untuk membuat sambel.


Firas kembali  ke topik pembicaraannya.


“Kamu tau itu artinya apa?” tanya Firas.


“Apa?” Aida balik bertanya.


“Coba kamu pikir tanggalan yang tidak kamu lingkari bulan apa?” tanya Firas.


“Bulan juni,” jawab Aida.


“Sekarang bulan apa?’ tanya Firas lagi.


“Bulan juli,” jawab Aida.


“Itu tandanya,” Firas berhenti berkata lalu tersenyum kepada istrinya.


Aida berpikir sebentar. Tiba-tiba Aida langsung membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Sekarang berhenti masaknya, lalu cuci tangan!” kata Firas.


Firas membimbing istrinya ke bak cuci piring untuk cuci tangan.


“Tapi Aida belum selesai masak,” Aida protes.


“Sudah, tidak ada tapi-tapian!” kata Firas sambil mencucikan tangan Aida.


“Bi, tolong terusin masaknya!” kata Firas kepada Bi Sumi.


“Ya, Pak,” jawab Bi Sumi.


Setelah selesai mencuci tangan Aida, Firas langsung memgendong Aida.


“Akang!” teriak Aida.


Firas membawa Aida keluar dari dapur. Maira melihat papahnya menggendong mamahnya langsung tertawa.


“Mama caya ana kecil diendong Papa,” kata Maira.


Aida langsung mengusupkan kepala ke dada suaminya karena malu dilihat Maira dan pengasuh Maira. Firas membawa Aida ke kamar mereka. Firas meletakkan istrinya di tempat tidur dengan hati-hati.


“Kamu diam di kamar. Tidak boleh kemana-mana!” kata Firas.


Firas mengambil kunci motor.


“Akang mau kemana?” tanya Aida.

__ADS_1


“Ke apotik,” jawab Firas.


Firas langsung keluar dari kamar mereka. Maira melihat papahnya pergi dengan terburu-buru, ia mengejar papahnya.


“Papa, au kemana?” tanya Maira.


“Papah mau ke apotik,” jawab Firas.


“Au ikut,” kata Maira.


“Ayo,” Firas memegang tangan Maira  dan menuntunnya menuju ke garasi.


Mereka pergi ke apotik menggunakan motor. Merekapun sampai di apotik terdekat dengan rumah mereka.


“Papa, beyi apa?” tanya Maira ketika masuk ke dalam apotik.


“Beli obat untuk Mamah,” jawab Firas.


“Mala uga au obat,” kata Maira.


“Iya, nanti Papah belikan,” jawab Firas.


Seorang karyawan apotik menghampiri Firas.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya karyawan itu.


“Saya mau beli testpack,” jawab Firas.


“Merek apa, Pak?” tanya karyawan itu.


“Semua merek, setiap merek satu biji,” jawab Firas.


“Baik, Pak,” jawab karyawan itu.


 Karyawan apotik pergi mengambil pesanan Firas. Tak lama kemudian ia kembali membawa pesanan Firas.


“Ada lagi, Pak?” tanya karyawan itu.


“Untuk anak usia berapa tahun?” tanya karyawan itu.


“Untuk usia setahun sepuluh bulan,” jawab Firas.


Karyawan itu pergi mengambil vitamin yang diminta oleh Firas. Tak lama ia kembali membawa vitamin itu.


“Ada lagi, Pak?” tanya karyawan itu.


“Tidak ada,” jawab Firas.


Karyawan apotik menghitung semua yang dibeli oleh Firas.


“Semuanya enam ratus ribu rupiah,” kata karyawan apotik.


Firas membayar barang yang dibelinya, setelah itu ia menggendong Maira dan pergi meninggalkan apotik. Sesampai di rumah Firas langsung ke kamar menemui Aida, sedangkan Maira kembali bermain dengan pengasuhnya. Aida sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel.


“Da, aku sudah belikan testpack. Sekarang kamu ditest dulu!” kata Firas.


Firas memberikan plastik yang ia bawa kepada Aida. Aida membuka plastik itu, ia kaget melihat isinya.


“Untuk apa testpack sebanyak ini?” tanya Aida.


“Sengaja beli bermacam-macam merek, biar tidak penasaran,” jawab Firas.


“Yang diperlukan cuma satu,” kata Aida.


“Tidak apa-apa. Cepat ditest sekarang!” seru Firas yang tidak sabaran.


Aida mengambil satu buah testpack lalu membawanya ke kamar mandi. Firas menunggu di luar kamar mandi dengan perasaan deg-degan. Beberapa menit kemudian, Aida keluar dari kamar mandi membawa testpack yang sudah dicelupkan ke urine. Aida memberikan testpack kepada Firas. Firas memandangi testpack itu yang ada dua buah garis merah.


“Ini tandanya apa?” tanya Firas tidak mengerti.

__ADS_1


“Aida hamil, Kang,” jawab Aida.


“Alhamdullilah,” ucap Firas dan langsung sujud syukur.


Firas bangun dan memeluk istrinya.


“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” ucap Firas sambil mencium bi-bir dan seluruh wajah istrinya.


Tiba-tiba Maira masuk ke dalam kamar mereka.


“Papa, ana obat Mala?" tanya Maira.


Firas langsung melepaskan pelukannya dan menghampiri Maira. Ia langsung menggendong Maira.


“Teteh Maira sebentar lagi Teteh akan punya adik,” kata Firas.


“Ade bayi? Ana ade bayinya? Mala au liat,” tanya Maira.


“Besok senin kita lihat adik bayi,” jawab Firas.


“Obat Mala ana?” tanya Maira.


“Maira beli obat apa?” tanya Aida.


“Beli vitamin,” jawab Firas.


“Vitamin Maira masih banyak,” kata Aida.


“Biarkan saja. Daripada dia minta testpack, lebih baik dibelikan vitamin,” jawab Firas.


Firas menurunkan Maira, lalu mengambil vitamin dari dalam plastik.


“Ini obatnya. Tidak boleh dimakan sembarangan. Sehari cukup satu!” kata Firas.


“Iya,” jawab Maira.


Maira membawa vitaminnya keluar kamar.


“Kang, kemarin Aida minum obat paracetamol karena kepala Aida sakit,” kata Aida.


“Waduh, gawat kalau begitu,” kata Firas. Cepat-cepat Firas menghubungi sepupunya dokter Odie.


“Assalamualaikum, A,” ucap Firas.


“Waalaikumsalam,” jawab dokter Odie.


Firas menceritakan semuanya ke dokter Odie.


“Tidak apa-apa. Kalau baru sekali minum masih aman untuk ibu hamil,” jawab dokter Odie.


“Alhamdullilah,” ucap Firas dengan lega.


“Selamat ya, atas kehamilan Aida. Semoga ibu dan bayinya sehat sampai melahirkan,” ucap dokter Odie.


“Aamiin ya robbalamin. Terima kasih, A,” jawab Fira.


“Sudah dulu, A. Assalamualaikum,” Firas menutup teleponnya.


“Bagaimana, Kang?” tanya Aida dengan cemas.


“Masih aman untuk ibu hamil,” jawab Firas.


“Alhamdullilah,” ucap Aida.


“Sekarang kamu istirahat saja. Kamu tidak boleh menggendong Maira! Biar aku dan pengasuh saja yang menggendong Maira,” kata Firas.


“Baik, Akang,” jawab Aida.


“Aku mau menelepon Mamah dan Ibu Ida,” kata Firas.

__ADS_1


Firas menelepon Ibu Poppy dan Ibu Ida untuk memberitahu kehamilan Aida.


__ADS_2