
Tak lama kemudian Aida kembali sambil membawa Maira.
“Hai, Maira. Sini sama Enin,” kata Ibu Poppy yang berbinar ketika melihat Maira.
Ibu Poppy mengambil Maira dari tangan Aida. Ibu Poppy menaruh Maira di atas pangkuannya.
“Sedang apa, sih? Kok nggak kedengaran suaranya?” tanya Ibu Poppy sambil mengusap rambut Maira.
“Sedang nonton televisi. Ibu Ida sedang masak, jadi anteng nonton televisi,” jawab Aida.
“Lagi anteng digangguin, ya?” tanya Ibu Poppy sambil mencium pipi Maira.
“Lagi nonton apa, sih? Kok Enin nggak diajak?” tanya Ibu Poppy lagi sambil mencium pipi Maira.
Maira hanya diam sambil memperhatikan Ibu Poppy.
“Aida, duduk sini,” kata Ibu Poppy sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Aida duduk di sebelah Ibu Poppy.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu,” kata Ibu Poppy.
Aida diam mendengarkan perkataan Ibu Poppy.
“Mulai sekarang kamu panggil saya Tante, jangan panggil Ibu!” kata Ibu Poppy.
“Iya..Tante,” jawab Aida.
“Kamu bekerja di rumah Firas dan tinggal di sana hanya berdua dengan Maira. Tante rasa itu sangatlah berbahaya,” kata Ibu Poppy.
“Mah!” sahut Firas.
“Aa diam dulu! Mamah belum selesai berbicara,” seru Ibu Poppy.
“Tante takut ada apa-apa dengan kalian berdua. Walaupun Firas memasang cctv dimana-mana, tetap saja tidak bisa menjaga kalian berdua,” kata Ibu Poppy.
“Belum lagi kalau ada saudara atau kenalan kami yang melihat ada perempuan dan anak di rumah Firas, mereka nanti menyangka kamu perempuan simpanan Firas,” lanjut Ibu Poppy.
“Mah!” sahut Firas yang tidak setuju dengan perkataan mamahnya.
“Diam! Mamah belum selaeai berbicara!” seru Ibu Poppy sambil melotot.
“Ayah,” kata Firas yang meminta bantuan ayahnya.
“Aa, dengarkan saja perkataan mamahmu hingga selesai,” kata Pak Budi dengan sabar.
“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bagaimana jika kalian berdua menikah," kata Ibu Poppy.
Aida dan Firas langsung kaget mendengarnya.
“Menikah?” tanya Firas.
“Iya, menikah. Kamu dan Aida menikah,” jawab Ibu Poppy.
Aida dan Firas langsung bertatapan satu dengan yang lain, mereka bingung dengan ucapan Ibu Poppy. Keputusan Ibu Poppy seperti tidak masuk akal, namun Ibu Poppy juga tidak gegabah mengambil keputusan seperti itu.
Mari kita flashback ke seminggu yang lalu.
Flashback.
“Yah, apakah sudah mendapatkan informasi tentang orang tua Aida?” tanya Ibu Poppy.
“Sudah, Mah. Ayah mendapatkan info dari Tito mantan asisten papahnya Aida,” jawab Pak Budi.
“Apa kata Tito?” tanya Ibu Poppy penasaran.
“Pak Rardjo dan Ibu Maira meninggal karena kecelakaan di jalan tol Cipularang sewaktu pulang dari Bandung. Rumah dan perusahaan disita oleh bank untuk membayar hutang perusahaan di bank. Harta yang lain terpaksa dijual untuk membayar pesangon karyawan. Harta yang tersisa hanyalah mobil Aida. Semenjak itu Aida menghilang entah kemana. Ada yang bilang ia mati bunuh diri,” jawab Pak Budi.
__ADS_1
“Kasihan anak itu. Ia masih terlalu muda untuk menghadapi masalah seberat ini,” ujar Ibu Poppy.
“Papah sudah kasih lihat foto Aida ke Tito?” tanya Ibu Poppy.
“Sudah. Kata Tito benar itu foto Aida. Malah kata Tito pihak bank sedang mencari Aida,” kata Pak Budi.
“Ada masalah apa lagi?” tanya Ibu Poppy penasaran.
“Mereka mencari Aida mengenai safe deposit milik ibunya. Sebenarnya Aida sudah diberitahu tentang hal ini, namun sampai detik ini Aida tidak menampakkan diri,” jawab Pak Budi.
“Mungkin ia sedang kebingungan sampai lupa untuk datang ke bank,” kata Ibu Poppy.
Jadi Aida tidak berbohong dan ia bukan seorang penipu. Dia anak yang baik, hanya saja dia sedang tertimpa musibah. Ia mengurus anak yang ia temukan di sungai seperti mengurus anak kandungnya sendiri. Anak orang lain saja ia rawat penuh dengan kasih sayang, apalagi anak kandungnya sendiri, kata Ibu Poppy di dalam hati.
Flashback off.
“Mamah, tidak salah ngomong kan?” tanya Firas dengan tidak percaya.
“Tidak, Aa! Kamu pikir Mamah lagi mabok?” jawab Ibu Poppy dengan kesal.
“Mah, kami ini bukan pasangan kekasih. Murni hanya hubungan atasan dan karyawan,” kata Firas.
“Tapi kamu perlakukan karyawanmu dengan special. Memang Mamah tidak tau,” kata Ibu Poppy.
“Ya sudah, Mamah beri waktu pada kalian untuk berpikir. Tapi jangan lama-lama!” seru Ibu Poppy.
“Oh ya, satu lagi sebelum Mamah dan Ayah lupa. Besok senin Aa harus mengantar Aida ke Bank BNA pusat. Untuk mengambil safe deposit milik mamahnya Aida,” kata Ibu Poppy.
“Safe deposit?” Aida berfikir.
“Astagfirullahaladzim,’ ucap Aida sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Aida lupa,” kata Aida.
“Kamu masih muda tapi sudah pelupa,” kata Ibu Poppy.
“Dia terlalu banyak menghadapi masalah. Wajarlah kalau dia lupa,” kata Pak Budi kepada istrinya.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur.
“A, sudah adzan. Ayo kita sholat dulu di masjid,” kata Pak Budi.
“Iya, Yah,” jawab Firas.
“Da, masjid dimana?” tanya Firas.
“Dari sini lurus aja, nanti kelihatan ada masjid di sebelah kiri,” jawab Aida.
“Mah, Ayah sholat dulu,” kata Pak Budi.
“Iya,” jawab Ibu Poppy.
“Assalamualaikum,” Pak Budi dan Firas keluar dari rumah Aida.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida dan Ibu Poppy.
Setelah Firas dan Pak Budi pergi ke masjid, Aida dan Ibu Poppy sholat secara bergantian.
“Tante mau makan siang dengan apa?” tanya Aida setelah selesai sholat.
“Memangnya kamu sudah masak?” tanya Ibu Poppy.
Ibu Poppy tidak melihat masakan di atas meja makan. Ia hanya melihat panci berukuran sedang di atas kompor.
“Saya hanya masak sayur sop,” jawab Aida.
“Kalau Tante ingin makan sesuatu nanti saya belikan,” kata Aida.
__ADS_1
“Di sini ada yang jualan apa saja?” tanya Ibu Poppy.
“Ada yang jualan gado-gado, soto ayam, bakso, nasi padang, ayam goreng, ayam bakar dan warteg,” jawab Aida.
Ibu Poppy berpikir untuk memilih, tiba-tiba…
“Assalamualaikum,” ucap Firas dan Pak Budi.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida dan Ibu Poppy.
Pak Budi dan Firas masuk ke rumah Aida.
“Ayah mau makan sama apa?” tanya Ibu Poppy.
“Makan apa, ya? Ayah bingung,” jawab Pak Budi.
Ibu Poppy menyebutkan makanan yang tadi disebut oleh Aida.
“Ayah mau gado-gado,” jawab Pak Budi.
“Mamah gado-gado juga,” kata Ibu Poppy.
“Aa, mau apa?” tanya Ibu Poppy.
“Gado-gado juga,” jawab Firas.
“Maira makan apa?” tanya Pak Budi.
“Kata mamahnya, Maira makan sop,” jawab Ibu Poppy sambil mencium pipi Maira.
Aida masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian ia keluar.
“Saya beli gado-gado dulu,” pamit Aida.
“Kenapa tidak pesan online?” tanya Firas.
“Tidak usah, Pak. Dekat kok, hanya beberapa rumah dari sini,” jawab Aida.
Aidapun pergi menuju ke penjual gado-gado. Maira menatap mamahnya yang pergi.
“Maira di sini sama Enin,” kata Ibu Poppy.
“Maira sudah lapar?” tanya Ibu Poppy.
Maira mengangguk.
“Enin ambilkan makanannya. Maira duduk di sini sama Om dan Aki,” Ibu Poppy mendudukkan Maira di sofa. Kemudian Ibu Poppy ke dapur untuk mengambil makanan untuk Maira.
Lima belas menit kemudian Aida datang sambil membawa kantong plastik hitam yang berisikan gado-gado.
“Tuh, Mamah sudah pulang,” kata Ibu Poppy sambil menyuapi Maira.
“Tante, biar Aida saja yang menyuapi Maira,” kata Aida dengan perasaan tidak enak.
“Tidak apa-apa,” jawab Ibu Poppy.
Aida mengambil beberapa piring dan sendok di dapur lalu di letakkan di atas meja.
“Tante makan dulu, biar Maira saya yang suapi,” kata Aida.
Ibu Poppy memberikan piring makan Maira kepada Aida, kemudian Aida menyuapi Maira. Sementara itu Ibu Poppy, Pak Budi dan Firas memakan gado-gado.
“Kamu tidak makan?” tanya Ibu Poppy.
“Nanti Tante, saya nyuapi Maira dulu,” jawab Aida.
“Nyuapi Maira bisa sambil makan,” kata Ibu Poppy.
__ADS_1
“Iya, Tante,” jawab Aida.
Aida mengikuti perintah Ibu Poppy.