
Firas memberhentikan mobilnya agak jauh dari rumah Vivin, kira-kira seratus meter dari rumah Vivin. Sengaja ia memarkitkan mobilnya jauh agar tidak tertangkap kamera cctv di rumah Vivin. Ia langsung menelepon Bi Sur, pembantu rumah Vivin.
“Assalamualaikum, Bi. Saya sudah sampai,” kata Firas.
“Waalaikumsalam. Baik, Den. Saya ke sana sekarang,” jawab Bi Sur.
Tak lama kemudian nampak seorang wanita paruh baya keluar dari rumah Vivin. Wanita itu berjalan mendekati mobil Firas. Ia mengetuk kaca mobil Firas. Firas menurunkan kaca mobilnya.
“Den Firas, ya?” tanya wanita itu.
“Saya Bi Sur, pembantunya Non Vivin,” kata Bi Sur.
“Iya, saya Firas,” jawab Firas.
Firas pun membuka pintu mobil dari dalam.
“Masuk, Bi,” kata Firas.
Bi Sur masuk ke dalam mobil Firas lalu memberikan plastik berisi rambut kepada Firas.
“Ini rambut, Non Vivin,” kata Bi Sur.
Firas menerima plastik itu dan di simpan di saku bajunya. Lalu Firas memberikan amplop coklat berisi uang kepada Bi Sur.
“Ini untuk Bibi,” kata Firas.
Bi Sur menerima amplop itu.
“Alhamdullilah, terima kasih,” ucap Bi Sur.
“Bagaimana sekarang keadaan anak Non Vivin?” tanya Bi Sur.
“Alhamdullilah dia dalam keadaan sehat. Ia diurus dengan baik oleh ibu angkatnya,” jawab Firas.
“Boleh Bibi lihat fotonya?” tanya Bi Sur.
Firas mengambil ponselnya dan memberikan kepada Bi Sur.
“Masyaallah, dia cantik sekali. Dia persis seperti Non Vivin waktu kecil,” puji Bi Sur.
Bi Sur mengembalikan ponselnya kepada Firas.
“Syukurlah kalau dia dalam keadaan baik. Ucapkan rasa terima kasih Bibi kepada ibu angkatnya,” kata Bi Sur.
“Baik, akan saya sampaikan,” jawab Firas.
“Ya sudah, Bibi pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Bi Sur.
Bi Sur keluar dari mobil Firas dan kembali ke rumah Vivin.
“Waalaikumsalam,” jawab Firas.
Firas menghidupkan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Firas langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia secepatnya melakukkan test DNA Vivin dan Maira.
***
Pada hari sabtu pagi rumah Ibu Poppy nampak ramai. Nampak pegawai catering dari Rangga”s resto sedang sibuk menurunkan peralatan catering dari mobil box. Hari ini Ibu Poppy mengadakan pengajian tujuh bulan Keisya. Seperti biasa jika akan ada acara di rumahnya, Ibu Poppy selalu menyuruh Firas menjemput Aida dan Maira pagi pagi sekali. Ia ingin Aida dan Maira sarapan di rumahnya. Keisya yang baru datang ke rumah mamahnya langsung gembira ketika melihat Maira.
“Hallo, Maira. Masih ingat sama Tante, nggak?” sapa Keisya sambil menowel-nowel pipi Maira yang gembil.
“Ate peyutnya ede,” kata Maira melihat perut Keisya yang semakin membesar.
“Iya, dong. Kan ada adik bayi di dalam perut Tante,” jawab Keisya.
“Maira mau pegang, nggak?” tanya Keisya sambil mengusap perutnya yang sudah besar.
“Boyeh egang?” tanya Maira.
“Boleh, dong,” jawab Keisya.
Maira menempelkan telapak tangannya di perut Keisya. Tiba-tiba dug, tangan Maira seperti ada yang menendang. Maira langsung tertawa terkekeh-kekeh.
“Apa, tuh?” tanya Maira.
__ADS_1
“Ade bayinya nendang Teteh Maira,” jawab Keisya sambil mengusap perutnya.
Maira menempelkan lagi tangannya ke perut Keisya. Dug, tangan Maira ditendang lagi.
“Dede ayi endang angan Mala,” kata Maira.
"Ade bayi ngajak Teteh main," ujar Keisya.
Keisya mengusap kepala Maira.
“Maira mau punya adik bayi, nggak?” tanya Keisya.
“Au,” jawab Maira.
“Minta sama mamah dan om Firas,” kata Keisya.
Mendengar perkataan Keisya, Maira langsung pergi meninggalkan Keisya untuk mencari Aida dan Firas.
“Mamaaaa, Om Piassss!” panggil Maira.
Ibu Poppy langsung menghampiri Maira.
“Mamah ada di dapur. Lagi menyusun kue,” kata Ibu Poppy.
Maira pergi ke dapur mencari Aida. Aida sedang menyusun kue di dapur.
“Mamaaaaa!” seru Maira.
Aida menoleh ke Maira.
“Maira kenapa?” tanya Aida.
“Mala au unya ade ayi, cepelti Ate,” kata Maira.
Aida kaget mendengar perkataan Maira. Para asisten rumah tangga yang berada di dapur langsung tertawa mendengar perkataan Maira.
“Non Maira sudah tidak sabar ingin cepat-cepat punya adik bayi,” sahut Bi Ijah.
“Aaahhh au cekalang,” rengek Maira sambil memegang gamis Aida.
“Sekarang Maira masih kecil. Kasihan adik bayi kalau kakaknya masih kecil,” kata Aida.
“Heeuuh,” ujar Maira dengan kesal.
Dengan wajah cemberut Maira meninggalkan dapur.
“Om Pias,” panggil Maira.
Maira pergi ke teras belakang rumah untuk mencari Firas. Firas sedang duduk di teras sambil membalas pesan di ponselnya. Maira langsung menghampiri Firas. Ia langsung menepel pada kaki Firas.
“Om Pias,” panggil Maira.
Firas langsung menoleh ke Maira.
“Maira mau apa?” tanya Firas.
“Mala au ade ayi,” jawab Maira.
Dinan suami Keisya yang sedang duduk di sebelah Firas langsung tertawa mendengar perkataan Maira.
“Adik bayi? Minta ke Mamah,” kata Firas.
“Tata Mama anti kalo udah becal,” ujar Maira.
“Iya tunggu Maira besar dulu, baru boleh punya adik bayi,” kata Firas.
“Heeuuhh au cekalang,’ rengek Maira.
“Jangan sekarang! Kasihan Mamahnya nanti cape mengurus Maira dan mengurus adik bayi,” kata Firas.
“Heeuuhh au cekalang.”
Tiba-tiba Ibu Poppy datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Maira kenapa?” tanya Ibu Poppy ketika melihat Maira sedang merengek ke Firas.
“Maira minta adik bayi,” jawab Firas.
“Maira main sama Enin aja, yuk!” Ibu Poppy mengajak Maira masuk ke dalam rumah.
Maira pun ikut dengan Ibu Poppy masuk ke dalam rumah.
“Kasihan tuh, A. Maira sudah pengen punya adik,” kata Dinan sambil ketawa.
“Bagaimana mau dikasih adik? Nikah aja belum. Sudah minta adik,” jawab Firas kemudian melanjutkan membalas pesan di ponsel.
Pukul setengah sepuluh Ricky datang ke rumah Ibu Poppy untuk menjemput Maira. Ia datang bersama Hanifa. Hanifa sudah memutuskan untuk bekerja sebagai pengasuh Maira.
“Mbak Aida, perkenalkan ini Hanifa pengasuh Maira,” kata Ricky.
“Pengasuh, Maira?” tanya Aida sambil mengerut kening.
“Iya, Mbak Aida. Saya kesulitan kalau Maira mau ke toilet. Saya bawa ke toilet pria, banyak orang yang pipis di peturasan sambil berdiri. Walaupun Maira masih kecil tapi tidak boleh melihat yang seperti itu,” jawab Ricky.
“Hanifa pernah membantu saya waktu Maira mau ke toilet. Dan kebetulan ia sedang mencari kerja,” kata Ricky.
Aida memperhatikan Hanifa. Hanifa kelihatannya lebih tua umurnya daripada Aida. Namun Ia kelihatan terpelajar, bersih dan rapih.
“Hanifa masih kuliah?” tanya Aida.kepada Hanifa.
“Iya, Bu,” jawab Hanifa.
“Tapi saya sedang ambil cuti kuliah karena tidak punya biaya untuk membayar kuliah,” jawab Hanifa.
“Oh,” kata Aida.
“Tunggu sebentar, Pak Ricky! Saya panggil Maira dulu,” kata Aida.
Aida masuk ke dalam rumah untuk memanggil Maira. Maira sedang asyik menonton televisi.
“Maira, Om Ricky sudah datang, tuh. Mau ajak Maira jalan-jalan,” kata Aida.
Maira langsung beranjak menuju ke ruang tamu. Aida membawa tas Maira yang sudah disiapkan.
“Maira mau kemana, Da?” tanya Keisya ketika melihat Aida membawa tas Maira.
“Mau jalan-jalan dengan Ayahnya,” jawab Aida.
“Yah, kenapa jalan-jalan sekarang? Kenapa nggak besok, aja. Aku kan masih mau kangen sama Maira,” kata Keisya.
Aida tersenyum mendengar perkataan Keisya.
“Kalau hari sabtu dan minggu memang jatah ayah Maira,” jawab Aida.
“Nggak bisa nego, ya?” tanya Keisya dengan kecewa.
“Nggak bisa, Teh. Perjanjiannya sudah seperti itu,” jawab Aida.
“Saya mau ke depan dulu, mau memberikan tas Maira ke Pak Ricky,” kata Aida.
“Silahkan,” kata Keisya.
Aida membawa tas Maira ke ruang tamu. Di ruang tamu Ricky sedang berbincang-bincang dengan Firas. Aida memberikan tas kepada Ricky.
“Ayo Maira, kita berangkat sekarang,” ajak Ricky.
Maira mencium tangan Aida dan Firas.
“Jajah Mama, jajah Om. Acalamualaicum,” ucap Maira.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida dan Firas.
“Mbak Aida Pak Firas, saya pamit dulu. Assalamualaikum,” ucap Ricky.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida dan Firas.
Ricky dan Mairapun pergi meninggalkan rumah Ibu Poppy. Maira jalan paling depan sambil dituntun oleh Hanifa. Sedangkan Ricky mengikuti mereka dari belakang. Aida dan Firas memperhatikan mereka dari belakang. Aida sekarang sudah tidak sedih lagi jika Maira pergi dengan Ricky. Sekarang ia sudah terbiasa menghadapinya.
__ADS_1