
Aida masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sisi tempat tidur dan meletakkan walkie talkie di atas nakas. Firas yang sedang menonton televisi menoleh ke Aida.
“Maira sudah tidur?” tanya Firas.
“Sudah,” jawab Aida.
Aida dan Firas membiasakan Maira tidur di kamar terpisah, agar Maira bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu oleh aktivitas kedua orang tuanya.
Aida merebahkan diri di tempat tidur.
“Kang,” panggil Aida.
“Hmm,” jawab Firas tapi pandangannya fokus ke acara berita di televisi.
“Apakah Aida harus kuliah?” tanya Aida.
Firas menoleh ke Aida.
“Kenapa?” tanya Firas.
“Entahlah, Kang. Aida merasa, Aida tidak perlu kuliah lagi. Aida ingin menghabiskan waktu di rumah bersama anak anak. Aida tidak ingin terlewatkan masa pertumbuhan anak-anak. Seperti dulu saat Maira masih bayi, Aida selalu saja bisa melihat perkembangan Maira setahap demi setahap,” jawab Aida.
“Iya, tidak apa-apa. Asalkan kamu merasa nyaman,” kata Firas.
Firas mengusap-usap kepala Aida.
“Tapi Akang pasti malu punya istri hanya tamatan SMA,” kata Aida.
“Kenapa mesti malu? Orang-orang justru iri pada suamimu ini. Punya istri muda, cantik dan pintar. Lagipula kalau kamu bodoh, Maira tidak akan tumbuh menjadi anak pintar dan sehat seperti sekarang ini,” kata Firas.
“Entahlah, Kang. Aida merasa tidak pede saja,” kata Aida.
“Itu cuma perasaan kamu saja. Sudah jangan dipikirkan lagi,” kata Firas.
Aida diam dan Firas fokus lagi ke acara televisi.
“Kang,” panggil Aida.
“Hmm,” jawab Firas sambil memencet-mencet remote televisi.
“Sabtu depan kita menginap di rumah kecil kita, yuk,” kata Aida.
“Maksud kamu rumah kita yang di jalan Muhidin?” tanya Firas.
“Iya. Tidak usah naik mobil, naik motor aja,” kata Aida.
Firas berpikir sebentar.
“Boleh,” jawab Firas.
“Asyikkkk. Terima kasih, Kang,” kata Aida dengan gembira.
Ia langsung mencium pipi Firas kanan dan kiri berkali-kali.
“Iihh kamu cium-cium pipi, jadi bangun deh. Pokok harus tanggung jawab!” kata Firas.
“Kan lagi puasa,” ujar Aida.
“Nggak mau tau. Harus tanggung jawab!” seru Firas.
Firas mematikan televisi.
“Iya, deh. Akang sudah sholat isya belum?” tanya Aida.
“Sudah,” jawab Firas.
Firas memeluk istrinya dan cerita dibalik selimut dimulai.
***
Seperti yang sudah direncanakan hari sabtu ini Firas dan Aida akan menginap di rumah kecil mereka. Namun sayang Maira tidak dapat ikut karena Maira menginap di rumah Ricky. Firas dan Aida naik motor berboncengan berdua. Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran.
__ADS_1
Momen seperti ini yang Aida impikan sejak lama. Naik motor berdua dengan kekasihnya. Aida memeluk erat pinggang Firas dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipunggung suaminya. Ia benar-benar menikmati perjalanan mereka menuju rumah mereka. Selama menikah dengan Firas Aida belum pernah naik motor berdua seperti ini. Mereka kemana-mana selalu menggunakan mobil. Akhirnya mereka sampai di rumah mereka.
“Assalamualaikum,” ucap Aida ketika memasuki rumah.
Rumah itu nampak sedikit berdebu karena sudah lama ditinggal oleh Aida. Aida membuka pintu kamarnya. Ia menyimpan tasnya di atas meja. Kemudian ia keluar dari kamarnya. Firas sedang rebahan di kursi tamu.
“Akang mau makan siang dengan apa?” tanya Aida.
“Terserah, apa aja. Nggak usah masak, pesan online aja. Kita ke sini kan mau liburan,” kata Firas.
Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Firas lalu membuka pintu.
Ibu Ida sedang berdiri di depan pintu pagar sambil memegang piring.berisikan kue.
“Eh, Ibu,” Firas membukakan pintu pagar.
“Ibu kirain kalian datangnya nanti sore,” kata Ibu Ida.
“Tidak jadi, Bu. Karena Maira tidak jadi ikut, Bu. Dia menginap di rumah ayahnya,” jawab Firas.
“Masuk, Bu,” ajak Firas.
Ibu Ida masuk ke dalam rumah. Lalu meletakan kue di atas meja makan.
“Da, ini ada Ibu Ida,” kata Firas.
Aida yang sedang berada di kamar mandi langsung keluar dari kamar mandi dan menghampiri Ibu Ida. Aida mencium tangan Ibu Ida.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Ibu Ida.
“Alhamdullilah sehat, Bu,” jawab Aida.
“Kamu sudah isi belum?” tanya Ibu Ida.
“Belum, Bu. Mungkin belum dikasih,” jawab Aida.
“Kalian sudah makan, belum?” tanya Ibu Ida.
“Belum,” jawab Aida.
“Nanti Ibu bawakan makanan. Sekarang Ibu mau masak dulu,” kata Ibu Ida.
“Eh tidak usah, Bu,” tolak Aida.
“Sudah Ibu masakin, sebentar lagi matang,” kata Ibu Aida.
“Tadi Ibu buatkan kue untuk Maira. Tapi Mairanya tidak ikut,” kata Ibu Ida.
“Iya, Bu. Maira menginap di rumah ayahnya. Biar dekat dengan nenek kakeknya,” jawab Aida.
“Terima kasih kuenya,” ucap Aida.
“Sama-sama. Sudah, Ibu mau masak lagi,” kata Ibu Ida.
Ibu Ida keluar dari rumah Aida.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Ida.
“Waalaikumsalam,” jawab Aida.
Aida menutup kembali pintu pagar rumahnya. Lalu masuk ke dalam rumah. Firas sedang duduk di kursi makan sambil memotong kue pemberian Ibu Ida. Aida duduk di sebelah suaminya.
“Kelihatannya kuenya enak, Da,” kata Firas sambil memotong kue.
“Memang enak. Itu kue kesukaan Maira,” kata Aida.
“Sini Aida potongin kuenya,” kata Aida.
__ADS_1
Firas memberikan pisau kepada Aida. Aida memotong kue satu persatu hingga terpotong semua.
“Sudah, Kang,” kata Aida.
“Firas mengambil satu potong kue lalu memakannya.
“Hmmm. Ini enak, Da. Pantasan saja Maira suka,” puji Firas.
“Nih. Mau coba, nggak?” Firas memotong kue miliknya lalu hendak disuapi ke mulut Aida. Aida membuka mulutnya. Firas menyuapi sepotong kue ke mulut Aida. Firas memakan kue sambil menyuapi istrinya. Mereka betul-betul menikmati masa pacaran mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara orang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
Aida langsung bangun dari tempat duduk dan membukakan pintu.
“Waalaikumsalam,” balas Aida.
Ibu Ida dan Pak Aan sedang berdiri di depan rumah Aida. Ibu Ida membawa dua buah piring yang berisi lauk pauk dan Pak Aan membawa tempat nasi.
“Bu Pak, kenapa repot-repot?” Aida cepat-cepat membukakan pintu pagar.
“Ini untuk makan siang kalian,” kata Ibu Ida.
“Terima kasih, Bu,” ucap Aida.
Aida mengambil piring yang berada di tangan Ibu Ida.
“Akang, tolong bantuin!” seru Aida.
Cepat-cepat Firas keluar rumah. Pak Aan memberikan tempat nasi kepada Firas.
“Sudah, ya. Kami pulang dulu. Selamat menikmati,” ucap Ibu Ida.
Ibu Ida dan Pak Aan kembali ke rumah mereka. Aida dan Firas masuk ke dalam rumah.
“Kita jadi merepoti Ibu Ida dan Pak Aan,” kata Aida sambil menaruh piring di meja.
“Mereka bersikap seperti itu karena mereka menganggapmu seperti anak mereka sendiri,” ujar Firas.
Memang benar kata Firas, merekalah yang pertama kali menolong Aida ketika Aida pindah ke rumah itu. Dan mereka pula yang meyakinkan para warga sekitar, kalau Aida adalah perempuan baik-baik. Aida menghela nafas, mengingat masa lalunya. Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur.
“Kang, kita sholat dulu baru makan,” kata Aida.
“Ayo,” jawab Firas.
Aida dan Firas bergantian mengambil wudhu lalu mereka sholat dzuhur berjamaah.
Malam harinya setelah Aida dan Firas melakukan pergulatan panas, Aida tidur berbantalkan lengan kanan suaminya. Sedangkan Firas tidur terlentang sambil mengusap rambut Aida dengan tangan kanannya. Mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian, tubuh mereka hanya ditutupi selimut.
“Kang,” bisik Aida.
“Hmm,” jawab Firas.
“Bagaimana kalau Aida tidak bisa hamil?” tanya Ada.
Firas menoleh ke istrinya.
“Mengapa kamu berpikiran seperti itu?” tanya Firas.
“Kita sudah menikah sebulan, tapi Aida belum juga hamil,” jawab Aida.
“Kamu tidak usah risau, kita nikmati saja masa pacaran kita,” kata Firas lalu mengecup kening.
“Sudah larut malam, kita tidur yuk,” Firas memeluk Aida. Aida tidur dipelukan suaminya.
.
.
Deche mau tanya nih. Cerita Ricky mendingan di tulis dicampur novel ini? Atau dibuat session 2? Atau dibuatkan novel baru?
__ADS_1
Kl cerita Vivin akan Deche buat menjadi novel baru.
Deche tunggu komentarnya paling lambat malam ini. Yang tidak memberikan komentar dilarang protes! Yang protes di denda.