Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
39. Akang Nakal


__ADS_3

Malam harinya setelah selesai sholat magrib, Firas mengajak Maira dan Aida mengelilingi kota Sragen mencari makan malam.


“Makan apa, ya?” tanya Firas sambil mengendarai mobilnya dengan pelan.


Firas menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Maira mau makan apa?” tanya Firas.


“Nga au,” jawab Maira.


Firas terus menjalankan mobilnya. Ia melihat penjual pecel lele, ayam goeng dan bebek goreng. Namun sayang tempatnya di dekat pasar dan dekat tempat pembuangan sampah. Firas takut ketika mereka makan tercium bau sampah. Firas melajukan lagi mobilnya. Akhirnya sampailah mereka di dekat alun-alun kota Sragen. Tak jau dari alun-alun ada tempat angkringan. Firas menghentikan mobilnya di depan angkringan.


“Mau makan soto ayam, nggak?” tanya Firas.


“Mau,” jawab Aida.


Firas langsung memarkirkan mobilnya di depan angkringan. Mereka pun turun dari mobil. Aida mencari meja yang kosong. Mereka duduk di lesehan. Firas memesan tiga porsi soto ayam beserta dengan nasinya. Firas mengambil sate telur puyuh lalu diberikan ke Maira.


“Maira mau ini, nggak?” tanya Firas.


“Au,” jawab Maira.


Maira mengambil sate telur puyuh dari tangan Firas.


“Sini Mamah lepasin tusukannya! Kalau makan langsung nanti tertusuk tusuk sate,” kata Aida.


Maira memberikan sate ke mamahnya. Aida mencopoti telur puyuh dari tusukannya lalu disuapkan ke mulut Maira. Maira mengunyah sate telur puyuh.


“Enak?” tanya Firas.


“Enya,” jawab Maira.


Akhirnya soto pesanan mereka datang. Aida makan sambil menyuapi Maira. Sedangkan Firas makan soto dengan lahap dan memakan memakan berbagai macam sate yang disediakan di atas meja. Firas tidak cukup makan satu porsi soto ayam, ia memesan satu porsi lagi dengan nasinya. Aida melongo melihat Firas menambah makanan dan memakannya dengan lahap.


“Aku lapar sekali,” kata Firas sambil mengunyah.


“Akang lapar karena cape sudah menyetir jauh," kata  Aida.


“Nggak juga. Tadi kan sudah istirahat,” jawab Firas.


“Istirahat juga tidak cukup. Ada yang kurang,” kata Firas.


“Apa yang kurang?” tanya Aida.


“Nggak ada yang mijitin,” jawab Firas.


“Aku mau dipijitin kamu,” bisik Firas dengan senyum menggoda.


“Kang! Nanti Maira mendengar,” bisik Aida.


“Nanti malam bisa nggak pindah ke kamarku untuk mijitin?” bisik Firas di telinga Aida.


Dengan reflek Aida langsung mencubit lengan Firas.


“Sakitttt. Ampun-ampun,” Firas meringis kesakitan.


“Om, napa?” tanya Maira sambil makan sate.


Aida melepaskan cubitannya.


“Digigit semut,” jawab Firas.


“Ana cemutna? Ntal Mala pukuy!" seru Maira sambil mengangkat tangannya hendak memukul semut.


“Semutnya sudah nggak ada, sudah pergi,” kata Firas.


Maira melanjutkan makannya.

__ADS_1


“Galak amat sama calon suami,” ujar Firas sambil mengusap lengan yang dicubit Aida.


“Biar Akang nggak nakal!” jawab Aida.


“Kalau galak nanti cantiknya luntur, loh!” kata Firas.


“Biarin!” jawab Aida sambil cemberut.


Firas mendekati Aida yang sedang cemberut.


“Hei! Jangan cemberut begitu, dong! Aku kan cuma becanda. Jangan diambil hati!” rayu Firas.


“Akang becandanya nggak lucu!” kata Aida dengan judes.


“Hei! Senyum dong,” Firas mencolek dagu Aida.


Aida tetap cemberut.


“Kalau masih tetap cemberut nanti aku cium,” bisik Firas.


Aida langsung menoleh ke Firas sambil melotot.


“Cuma becanda, kok. Sudah jangan marah lagi! Aku cuma becanda,” Firas mengusap punggung Aida. Aida tidak cemberut lagi.


Mereka melanjutkan makannya. Setelah selesai makan mereka kembali ke guest house tempat mereka menginap.


Keesokan paginya setelah sholat subuh mereka berangkat ke Wonosobo. Maira yang masih mengantuk tidur di pangkuan mamahnya. Mobil Firas berjalan menembus kegelapan subuh. Aida memperhatikan rambu-rambu petunjuk jalan. Agar mereka tidak tersesat. Maklumlah kalau melalui jalur selatan terlalu banyak jalan bercabang.


“Kamu sudah lapar, belum?” tanya Firas sambil menyetir mobil.


“Akang sudah lapar?” Aida malah balik bertanya.


“Iya,” jawab Firas.


“Kalau begitu kita cari sarapan dulu,” kata Aida.


“Kang, tadi ada rumah makan yang sudah buka,” kata Aida.


“Mana?” tanya Firas sambil mengurangi kecepatan mobilnya.


“Sudah kelewat,” jawab Aida.


Firas memundurkan mobilnya.


“Ini?” tanya Firas ketika melihat rumah makan.


“Iya,” jawab Aida.


Firas langsung memarkirkan mobilnya. Mereka pun bersiap-siap untuk turun. Aida menggendong Maira dengan menggunakan kain gendongan. Setelah itu mereka keluar dari mobil dan menuju ke rumah makan. Mereka menjcari tempat duduk yang nyaman. Rumah makan ini sistemya prasmanan jadi mereka mengambil makanan sendiri. Tangan Aida banyak bergerak sehingga Maira terusik lalu terbangun. Batita itu memandangi sekelilingnya di dalam gendongan mamahnya.


“Mama, au mamam,” kata Maira ketika melihat mamahnya sedang mengambil makanan.


Mendengar suara Maira, Aida langsung menoleh ke Maira.


“Eehhh, Maira sudah bangun,” Aida membetulkan posisi Maira.


“Maira mau makan sama apa? Tuh banyak pilihannya,” Aida menunjuk ke meja prasmanan.


“Au kikan,” kata Maira.


Aida mengambil sop ikan gurame untuk Maira. Aida membuka kai gendongan dan menaruh Maira di kursi.


“Baca doa dulu sebelum makan!” kata Aida.


“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa’adzaa bannar,” ucap Aida.


Maira mengikuti kata-kata mamanya. Firas memperhatikan keduanya. Ia bersyukur tidak salah memilih calon istri. Aida memang perempuan yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya nanti. Firas senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


“Akang kenapa?” tanya Aida melihat Firas melamun sambil senyum-senyum.


“Heh? Tidak apa-apa kok,” jawab Firas.


Firas melanjutkan makannya. Setelah selesai makan mereka melanjukan perjalannya ke Wonosobo. Pukul sepuluh pagi mereka sampai ke Wonosobo. Mereka langsung menuju ke rumah Pak Purnomo. Firas menghentikan mobilnya di depan rumah Pak Purnomo.


“Ayo kita turun,” ajak Firas.


Namun Aida ragu untuk turun. Ingatannya kembali ke kejadian setahun yang lalu. Ketika ia datang ke rumah Pak Purnomo, ia diusir oleh Ibu Lastri istri Pak Purnomo.


“Aida takut, Kang. Takut diusir lagi sama Bude Lastri,” kata Aida.


Firas tersenyum lalu mengusap rambut Aida.


“Jangan takut! Kan ada aku. Aku tidak akan membiarkan kamu diusir bude atau pakdemu," kata Firas yang berusaha menenangkan Aida.


“Hmm,” Firas tersenyum kepada Aida seolah memberikan kekuatan kepada Aida.


Akhirnya Aida mau keluar dari mobil. Dengan memantapkan hati Aida mendekati rumah pakdenya.


“Assalamualakum,” ucap Aida.


“Waalaikumsalam,” seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah.


“Cari siapa, ya?” tanya wanita itu.


“Pak Purnomo ada, Bu?’ tanya Aida.


“Bapak sedang mengajar di sekolah,” jawab wanita itu.


“Adik siapa, ya?” tanya wanita itu.


“Saya Aida, kemenakan Pak Purnomo yang tinggal di Jakarta,” jawab Aida.


Wanita itu diam sejenak sepertinya ia sedang berpikir.


“Ohhhh, Aida anak almarhum Rardjo. Adiknya Mas Purnomo,” kata wanita itu.


Wanita langsung membukakan pintu pagar. Aida mengerutkan keningnya karena bingung. Ia tidak kenal sama sekali dengan wanita itu, tapi kenapa wanita itu kenal dengannya. Wanita itu tersenyum seolah mengerti dengan kebingungan Aida.


“Saya Yani, Budemu yang baru,” kata wanita itu.


“Ooohhh,” Aida mengerti sekarang.


“Ayo masuk!” Ibu Yani mempersilahkan Aida dan Firas masuk ke dalam rumah.


Aida dan Firas masuk ke dalam rumah.


“Silahkan duduk!” kata Ibu Yani.


Aida dan Firas duduk di kursi.


“Mau minum apa?” tanya Ibu Yani.


“Tidak usah repot-repot, Bude,” jawab Aida.


“Tidak repot, kok. Sebentar Bude buatkan minum dulu,” Ibu Yani masuk ke dalam rumahnya.


Ketika Ibu Yani masuk ke dalam, Firas berbisik ke telinga Aida.


“Itu istri baru Pakde Purnomo?” tanya Firas.


“Sepertinya, begitu,” jawab Aida.


“Bude Lastri kemana?” tanya Firas sambil berbisik.


“Tidak tau,” jawab Aida.

__ADS_1


Aida juga bertanya-tanya di dalam hati, kemana bude Lastri?


__ADS_2