
Kita tinggalkan dulu calon pengantin. Kita beranjak ke Jakarta.
Ricky mengendarai mobilnya menuju ke kantor. Ia baru pulang makan siang dengan klien. Ketika berhenti di lampu merah Ricky menoleh ke samping ia melihat seorang perempuan muda berhijab sedang duduk dipinggir taman. Perempuan itu baru selesai minum dan sedang menutup botol minumnya.
Sepertinya aku pernah lihat perempuan tapi dimana? Tanya Ricky didalam hati.
Ricky berpikir keras mengingat perempuan itu, sampai tidak sadar jika lampu sudah berubah menjadi hijau. Tiiiiiiiiiiiittttttttt, bunyi klakson mobil-mobil di belakang membuat Ricky kaget. Cepat-cepat Ricky menjalankan mobilnya. Baru saja jalan beberapa meter Ricky langsung ingat perempuan itu.
“Itukan mbak yang membantu saya di mall,” kata Ricky pada dirinya sendiri.
“Sedang apa dia di situ?” tanya Ricky.
Ricky langsung meminggirkan mobilnya. Ia mencari tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya. Setelah mendapatkan tempat parkir yang aman, Ricky langsung berjalan menuju ke perempuan tadi.
“Mudah-mudahan dia masih ada di sana,” kata Ricky pada dirinya sendiri.
Ricky jalan tergesah-gesah menuju ke pertigaan tadi. Ricky hampir saja datang terlambat karena perempuan itu sudah berdiri dan hendak lanjut berjalan. Ricky langsung berlari menghampiri perempuan tadi.
“Mbak!” panggil Ricky.
Namun sepertinya perempuan itu tidak mendengar panggilan Ricky, ia terus saja berjalan.
Ricky langsung berlari sambil berteriak, “Mbak! Mbak! Mbak!”
Pengendara motor yang sedang berhenti di stopan lampu merah langsung memanggil perempuan itu.
“MbaK! Dipanggil tuh!” kata pengendara motor.
Perempuan itu menoleh ke pengendara motor.
“Tuh! Si Mas manggil-manggil Mbak,” pengendara motor menunjuk ke arah Ricky.
Perempuan itu menoleh ke belakang, Ricky sedang berlari mendekati dirinya. Ia mengerutkan dahinya.
“Siapa?” tanya perempuan itu.
Ricky berhenti di depan perempuan itu. Ia bernapas sambil ngos-ngosan. Perempuan itu memperhatikan Ricky.
“Bapak siapa?’ tanya perempuan itu.
Ricky masih bernapas ngos-ngosan. (ketawan Ricky tidak pernah olah raga. Sepertinya cuma olah raga di atas kasur)
“Masih ingat saya? Saya ayah Maira. Yang Mbak bantu di toilet mall,” kata Ricky.
Perempuan itu perpikir sejenak. Tak lama kemudian ia baru ingat.
“Oh, Maira yang toilet mall PI?” tanya perempuan itu.
“Nah tuh, Mbak ingat,” kata Ricky.
“Ada apa, Pak? Maira mana?” perempuan itu melihat ke belakang Ricky.
“Maira tidak ikut. Saya sedang bekerja,” jawab Ricky.
“Mbak sedang apa?” tanya Ricky,
“Saya sedang mencari pekerjaan,” jawab perempuan itu.
Ricky memperhatikan perempuan itu, perempuan itu sepertinya kelelahan.
__ADS_1
“Ada yang hendak saya bicarakan dengan Mbak. Tapi jangan bicara di sini. Di sini panas,” kata Ricky.
“Mengenai apa?” tanya perempuan itu dengan penuh sidik.
“Mengenai pekerjaan,” jawab Ricky.
Ricky berpikir tempat yang nyaman untuk berbicara dengan perempuan itu. Ia teringat sesuatu, tadi ia memarkirkan mobilnya di rumah makan.
“Mbak sudah makan?” tanya Ricky.
“Belum,” jawab perempuan itu.
“Sekarang ikut saya. Kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara. Di depan sana ada rumah makan,” kata Ricky.
Perempuan itu ragu untuk mengiyakan perkataan Ricky. Ia memandang Ricky dengan curiga. Ricky tau perempuan itu mencurigainya.
“Jangan takut, di sana banyak orang. Kalau saya macam-macam dengan Mbak, Mbak tinggal teriak saja,” kata Ricky.
Perempuan itu berpikir sebentar.
“Baiklah,” jawab perempuan itu.
Ricky bernafas lega, perempuan itu mau mempercayainya.
“Ayo kita jalan,” ajak Ricky.
Merekapun berjalan menuju ke rumah makan. Ricky membukakan pintu rumah makan itu.
“Silahkan,” kata Ricky.
Perempuan itu masuk ke rumah makan. Rumah makan nampak sepi hanya ada beberapa orang pengunjung mungkin karena sudah lewat waktu makan siang. Seorang pelayan mendekati mereka, menaruh daftar menu di meja. Ricky memberikan daftar menu ke perempuan itu.
Perempuan itu membaca daftar menu.
“Saya pesan ayam goreng sama nasi. Minumnya teh tawar saja,” kata perempuan itu kepada pelayan.
Lalu pelayan itu pun pergi.
“Bapak tidak pesan?” tanya perempuan itu.
“Tadi saya sudah makan dengan klien,” jawab Ricky.
“Nama kamu siapa?” tanya Ricky.
“Nama saya Hanifa,” jawab perempuan itu.
“Saya Ricky,” kata Ricky.
Hanifa mengedarkan pandangannya.
“Kamu cari apa?” tanya Ricky.
“Cari musolah. Saya belum sholat dzuhur,” jawab Hanifa.
“Ayo kita sholat dulu. Saya juga belum sholat,” kata Ricky.
Ricky menghampiri pelayan, “Kami ke musolah dulu.”
“Baik, Pak,” kata pelayan itu.
__ADS_1
Ricky dan Hanifa pergi menuju ke mushola yang berada di rumah makan itu. Setelah selesai sholat meja kembali ke meja mereka. Di atas meja sudah tersedia yang dipesan Hanifa.
“Makanlah dulu,” kata Ricky.
Hanifa memakan makanannya. Sedangkan Ricky membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
“Tadi Pak Ricky mau bicara apa?” tanya Hanifa sambil mengunyah makanannya.
“Habiskan dulu makananmu! Baru kita bicara,” kata Ricky.
Hanifa melanjutkan makanannya. Setelah Hanifa selesai makan barulah Ricky berbicara.
“Begini saya sedang mencari pengasuh untuk Maira. Tapi kerjanya tidak setiap hari hanya sabtu dan minggu atau hari-hari libur saja. Karena Maira tidak tinggal dengan saya, dia tinggal dengan mamah angkatnya. Kalau weekend atau hari libur saya mengajak Maira jalan-jalan atau liburan,” kata Ricky.
Hanifa diam sejenak dan memikirkan kata-kata Ricky. Sepertinya pekerjaan yang Ricky tawarkan cukup menarik, karena Hanifa suka dengan anak-anak. Apalagi Maira, ia anak yang manis dan juga menyenangkan. Walaupun Hanifa hanya sebentar bersama dengan Maira, namun bagi Hanifa cukup berkesan. Hanifa perlu pekerjaan paruh waktu agar tidak mengganggu kuliahnya.
“Saya kasih kamu waktu untuk berpikir,” kata Ricky.
Lalu ia mengambil sesuatu di dalam dompetnya.
“Ini kartu nama saya,” Ricky memberi kartu namanya kepada Hanifa.
“Kalau kamu sudah ada jawaban tolong hubungi saya,” kata Ricky.
“Baik, Pak,” jawab Hanifa.
Hanifa menyimpan kartu nama Ricky di dalam tasnya. Kemudian Ricky menuju ke kasir untuk membayar makanan.
“Terima kasih atas makan siangnya,” ucap Hanifa setelah Ricky membayar makanannya.
“Sama-sama, Hanifa,” jawab Ricky.
Lalu mereka keluar dari rumah makan.
“Rumah kamu dimana?” tanya Ricky.
“Di Ciputat, Pak,” jawab Hanifa.
“Jauh juga. Kamu pulang naik apa?” tanya Ricky.
“Naik bIs, Pak,” jawab Hanifa.
“Ini ongkos untuk kamu naik bis,” Ricky memberikan dua lembar seratus ribu.
“Tidak usah, Pak! Bapak sudah memberikan saya makan siang,” Hanifa menolak uang pemberian Ricky.
“Terima saja. Kamu kan pernah menolong saya,” kata Ricky.
Hanifa berpikir sejenak.
“Ayo terima!” sahut Ricky.
Dengan ragu-ragi Hanifa menerima uang Ricky.
“Kita berpisah di sini. Saya harus kembali ke kantor. Saya tunggu jawaban kamu secepatnya!” kata Ricky.
“Baik, Pak,” jawab Hanifa.
Ricky masuk ke dalam mobilnya. Lalu pergi meninggalkan Hanifa. Hanifa langsung bernafas lega. Ia langsung menghentikan Kopaja yang lewat, lalu ia naik kopaja itu. Hari ini ia tidak harus mencari kerja lagi. Ia tinggal mempertimbangkan tawaran kerja dari Ricky.
__ADS_1