
Pada hari sabtu-malam minggu setelah selesai sholat magrib Ibu Poppy dan keluarganya berangkat ke rumah Aida. Tadinya Ibu Poppy hendak membawa keluarga besarnya, tapi karena rumah Aida kecil terpaksa Ibu Poppy hanya membawa keluarga inti saja.
“Assalamualaikum,” ucap Firas ketika mereka berada di depan rumah Aida.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Aan.
“Silahkan masuk Nak Firas,” kata Pak Aan.
Firas dan keluarganya masuk ke rumah Aida. Melihat siapa yang datang Maira langsung menghampiri Ibu Poppy.
“Nin,” sahut Maira dengan gembira.
Maira mencium tangan Ibu Poppy dan keluarga satu persatu.
“Aduh pintarnya,” puji Keisya sambil menjawil pipi Maira dengan gemas.
“Masih ingat Tante, nggak?” tanya Keisya.
Maira malu ditanya oleh Keisya, ia mengumpet di belakang Ibu Ida.
“Loh, kenapa ngumpet? Malu ya sama Tante?” tanya Keisya.
“Silahkan duduk, Pak Bu,” kata Ibu Ida.
Firas dan keluarga duduk di tempat yang telah di sediakan. Kedatangan mereka di sambut oleh Pak Aan, Ibu Ida, Pak RT dan Ibu RT, sebagai wakil dari orang tua Aida.
“Saya sebagai wakil orang tua Aida mengucapkan terima kasih atas kedatangan Keluarga Pak Budi untuk menjalin tali sirahturahmi dengan Aida. Tapi mohon maaf, keadaan rumah Aida seperti ini,” ucap Pak Aan.
“Tidak apa-apa, Pak Aan,” jawab Pak Budi.
__ADS_1
“Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan keinginan anak kami Firas untuk melamar Aida,” kata Pak Budi.
“Saya sebagai wakil orang tua Aida tidak bisa mengambil keputusan. Yang berhak mengambil keputusan hanyalah Aida sendiri,” ujar Pak Aan.
Lalu Pak Aan menyuruh Ibu Ida memanggil Aida. Aida keluar dari kamar ditemani oleh Ibu Ida. Malam itu Aida terlihat cantik sekali, Firas dibuat pangling ketika melihatnya. Walaupun ia hanya dirias dengan sederhana namun membuat aura kecantikan Aida terpancar. Aida duduk di sebelah Ibu Ida mata Firas terus saja tertuju kepada Aida.
“Ssstttt, Teteh,” bisik Salfa ke Keisya.
“Apa?” tanya Keisya.
“Lihat Aa, tuh,” bisik Salfa.
Keisya melihat Firas sedang memandang ke arah Aida.
“Biarin aja,” jawab Keisya sambil berbisik.
Salfa dan Keisya kembali fokus ke keluarga Aida.
Tanpa berpikir lagi Aida langsung menjawab, “Aida terima, Pak.”
“Alhamdullilah,” ucap Firas dan keluarga.
“Biaya pernikahan biar kami yang menanggung semuanya,” kata Pak Budi.
“Aida dan keluarga tidak usah memikirkannya,” lanjut Pak Budi.
“Bagaimana, Aida? Apakah kamu tidak keberatan jika semua biaya pernikahan kalian dibiayai oleh keluarga Firas?” tanya Pak Aan.
“Iya, Pak,” jawab Aida.
__ADS_1
“Aida tidak merasa keberatan jika semua dibiayai oleh keluarga Firas,” kata Pak Aan.
“Terima kasih, semoga kebaikan Nak Firas dan keluarga dibalas oleh Allah SWT,” ucap Pak Aan.
Setelah itu pemakaian cincin di jari manis Aida yang dilakukan oleh Ibu Poppy.
“Alhamdullilah, cincinya pas,” ucap Ibu Poppy.
Acara ditutup dengan santap malam bersama. Keluarga Firas dipersilahkan untuk makan. Ketika semua orang mengambil makan, Firas mendekati Aida.
“Kamu cantik sekali malam ini,” bisik Firas.
Mendengar pujian Firas Aida langsung tersipu malu.
“Kamu pintar menyenangi calon suami,” bisik Firas.
Aida langsung mengangkat kepalanya.
“Maksud Akang, apa?” tanya Aida bingung.
“Kamu dandan cantik seperti ini membuat mataku tidak mau berpaling darimu,” jawab Firas.
“Akang, iihhh malu kalau di dengar orang,” ujar Aida.
“Biarkan saja. Namanya juga calon pengantin baru,” kata Firas.
“Udah ah ngegombalnya. Akang makan dulu sana,” ujar Aida.
“Ambilin, dong,” kata Firas.
__ADS_1
“Ya sudah, Aida ambilkan makanannya. Akang pilih mau makan apa,” Aida berjalan menuju ke meja makan untuk mengambilkan makanan untuk Firas.