Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
41. Ngangan Dicucup!


__ADS_3

Firas mengendarai mobilnya menuju ke dataran tinggi Dieng. Matanya sambil melirik ke arah kanan mencari hotel. Menurut Pak Purnomo hotelnya tidak jauh dari alun-alun kota, sekitar empat ratus meter dari alun-alun kota. Sampai akhirnya Firas melihat tulisan Hotel.


“Ini hotelnya,” kata Firas.


Firas langsung membelokkan mobilnya menuju ke hotel. Ia memakirkan mobilnya di depan lobby hotel.


“Kita check in dulu,” Firas membuka seatbelt lalu keluar dari mobil.


“Sini Maira, digendong sama Om,” kata Firas.


Maira menuju ke Firas dengan merangkak di kursi mobil. Firas langsung menggendong Maira. Setelah mengunci mobil Firas berjalan menuju lobby hotel, Aida mengikuti Firas dari belakang. Mereka check in hotel di front office hotel. Firas memesan dua kamar dengan connecting door. Setelah selesai Firas mengambil barang-barang di mobil.


“Kamu tunggu di sini! Aku mau mengambil barang-barang di mobil,” kata Firas.


Firas pun menuju ke mobil. Ia mengambil barang dibantu oleh bell boy. Setelah mengambil barang merekapun menuju ke kamar mereka dengan menggunakan liff. Yang unik dari hotel ini adalah biasanya kalau menuju kamar liff akan menuju ke atas, tapi di hotel ini kamar berada di lantai bawah lobby hotel. Kamar mereka ada di lantai satu, sedangkan lobby hotel ada empat (kalau tidak salah. Deche lupa lagi). Firas membuka pintu kamar Aida.


“Nah ini kamar Maira sama Mamah. Kamar Om ada di sebelah,” kata Firas.


Aida dan Maira masuk ke dalam kamar diikuti oleh Firas dari belakang. Lalu Firas membuka pintu connecting door.


“Ini kamar Om,” kata Firas kepada Maira.


Maira masuk ke dalam kamar Firas.


“Kamal Om kecil, kamal Mala jede,” kata Maira sambil mlebarkan tangannya.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Firas.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari kamar Firas. Setelah dibuka pintunya, rupanya bellboy datang membawa barang-barang. Maira masuk ke kamar Firas dan memperhatikan bellboy yang memasukkan barang satu persatu. Setelah menaruh semua barang-barang bellboy itupun pergi.


“Maira mau bobo sama Om?” tanya Firas.


“Nga au, Mala au bobo cama Mama,” jawab Maira.


Maira langsung kembali ke kamarnya.


“Mama, Mala au cucu,” kata Maira.


“Sebentar ya! Mamah sholat dzuhur dulu,” kata Aida sambil menggunakan mukenanya.


Setelah sholat dzuhur Aida membuatkan susu untuk Maira. Ketika Aida sedang menemani Maira minum susu, Firas masuk ke dalam kamar Aida.


“Kita mau jalan-jalan sekarang atau nanti sore aja?” tanya Firas.


“Nanti sore saja, Kang. Sekarang Akang istirahat dulu,” kata Aida.


“Oke,” jawab Firas.


“Pintunya mau dibuka atau ditutup?” tanya Firas.


“Ditutup saja, Kang,” jawab Aida.


Lalu Firas menutup pintu penghubung. Melihat pintu ditutup Maira langsung bangun dari tempat tidur. Lalu ia


berusaha untuk membuka pintu penghubung, namun sulit untuk dibuka.


“Cuca,” keluh Maira.


“Jangan dibuka, Nak! Mamah mau bobo, malu nanti dilihat sama Om Firas,” kata Aida.


“Uka,” kata Maira sambil terus mencoba membuka pintu penghubung.


“Maira,” panggil Aida.


Namun Maira tidak memperdulikan perkataan Mamahnya. Ia terus berusaha membuka pintu. Firas melihat handel pintu bergerak-gerak langsung menghampiri pintu penghubung, Firas membuka pintu penghubung.


“Kenapa Maira?” tanya Firas


Melihat pintu terbuka kembali Maira merasa senang, ia langsung mendorong pintu agar terbuka lebar. Firas memperhatikan Maira.


“Udah,” kata Maira.

__ADS_1


Maira kembali ke tempat tidur lalu melanjutkan ngedotnya.


“Oh, pintunya tidak boleh ditutup,” kata Firas.


“Tutup lagi pintunya, Kang!” sahut Aida.


Firas menutup kembali pintunya. Namun Maira langsung berseru, “Ngangan dicucup!”


Firas tidak jadi menutup pintu.


“Ya sudah, dibuka saja pintunya,” kata Firas.


Firas membuka pintu lebar-lebar lalu kembali lagi ke kamarnya. Maira melanjutkan ngedotnya.


***


Sore harinya setelah sholat ashar Firas mengajak Aida dan Maira jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng. Ternyata Dieng cukup jauh juga dari hotel tempat mereka menginap dan jalannya sempit. apalagi mobil Firas body mobilnya cukup lebar, jadi harus berhati-hati jika berpas-pasan dengan bus atau truk.


Akhirnya mereka sampai di dataran tinggi Dieng. Mereka tidak turun dari mobil. Mereka hanya berputar mengelilingi Dieng dengan menggunakan mobil.


“Icu apa, Mama?” Maira menunjuk ke tanah yang ditutupi oleh plastik dan ditengah-tengahnya ada pohon.


“Apa, ya? Mungkin pohon kentang yang sengaja ditutup oleh plastik agat tidak diganggu oleh tanaman liar,” jawab Aida.


Akhirnya mereka sampai di kawasan candi.


“Mau turun, nggak?” tanya Firas.


“Nggak ah, males. Sudah sore,” jawab Aida.


Firaspun melanjutkan perjalanannya. Sepanjang perjalanan kabut mulai menutupi kawasan dataran tinggi Dieng.


“Mulai berkabut,” kata Firas.


Firas mengurangi kecepatannya karena jarak pandang terbatas karena tertutup kabut.


“Mama, inyi apa? Mala nga kiatan,” kata Maira sambil menunjuk ke kaca.


“Tapi Mala nga kiatan," keluh Maira.


“Nanti kalau sudah kembali turun ke bawah kabutnya akan berkurang,” kata Firas.


Benar saja ketika mereka mulai turun ke bawah kabutnya mulai berkurang. Akhirnya mereka sampai di tempat ketika mereka pertama kali datang.


“Kita mau kemana lagi, nih?” tanya Firas.


“Kita cari makan saja, Kang,” jawab Aida.


“Mau makan dimana? Di sini?” tanya Firas.


“Di kotanya saja,” jawab Aida.


“Oke kalau begitu kita turun ke bawah,” Firas mengendarai mobilnya menuju ke kota Wonosobo.


Mereka pun sampai di kota.


“Mau makan apa?” tanya Firas sambil menyetir mobilnya.


“Mau yang panas-panas dan berkuah,” jawab Aida.


“Baso?” tanya Firas sambil menoleh ke Aida.


“Aida mau soto daging,” jawab Aida.


“Coba kamu search di ponsel, cari soto daging di kota Wonosobo,” kata Firas sambil fokus menyetir.


Aida mengikuti apa yang dikatakan oleh Firas.


“Ketemu, nggak?” tanya Firas.


“Ketemu,” jawab Aida.

__ADS_1


“Di jalan Ahmad Yani di daerah Ngapelan,” kata Aida sambil membaca ponselnya.


“Dimana daerah Ngampelan?” tanya Firas dengan kebingungan.


“Tanya aja ke tukang parkir,” jawab Aida.


“Tuh ada tukang parkir,” Aida menunjuk ke tukang parkir yang sedang  memarkirkan mobil.


Firas menjalankan mobilnya ke dekat tukang parkir. Aida membuka jendela mobil.


“Pak, jalan Ahmad Yani dimana?” tanya Aida.


“Ini jalan Ahmad Yani,” jawab tukang parkir.


“Kalau penjual soto daging sebelah mana?” tanya Aida.


“Oh, di depan Mbak. Yang ada mobil keluar,” jawab tukang parkir.


“Terima kasih, Pak,” Aida menutup kembali jendela mobil.


Firas menjalankan  mobilnya menuju  penjual soto. Firas memarkirkan mobilnya di depan penjual soto.


“Ayo Maira, kita makan dulu,” kata Aida.


Aida turun dari mobil sambil menggendong Maira. Mereka masuk ke rumah makan. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman.


“Akang mau pesan apa?” tanya Aida.


“Aku mau soto daging,” jawab Firas.


“Maira makan apa, ya?” Aida berpikir sejenak.


Aida melihat menu baso ikan.


“Maira mau baso ikan?” tanya Aida.


“Au,” jawab Maira.


“Makannya pakai nasi, ya!” kata Aida.


“Iya,” jawab Maira.


Kemudian Aidapun memesan makanan. Tidak perlu menunggu lama pesanan merekapun datang. Merekapun makan dengan lahap. Setelah selesai makan mereka pun kembali ke hotel. Sesampainya di hotel mereka sholat magrib terlebih dahulu. Selesai sholat magrib mereka berleha-leha di kamar.


“Da, besok kita pulang jam berapa?” tanya Firas berdiri di depan pintu penghubung.


“Terserah Akang,” jawab Aida.


“Kita pulang setelah sarapan aja, ya,” kata Firas.


“Iya, Kang,” jawab Aida.


Firas melihat Maira sedang asyik menonton film anak-anak.


“Maira belum tidur?” tanya Firas.


“Eyom. Totong pipi duyu,” jawab Maira yang sedang asyik menonton televisi.


“Kita gosok gigi dulu, yuk! Nanti keburu tidur,” ajak Aida.


“Tal duyu,” jawab Maira.


Tiba-tiba film berubah menjadi iklan.


“Mumpung lagi iklan, kita


sikat gigi dulu,” ajak Aida.


Maira nurut dengan perkataan Aida. Ia langsung ke kamar mandi. Aida mengikuti Maira dari belakang. Setelah selesai sikat gigi, Maira kembali menonton televise. Selama Maira belum tidur pintu penghubung tidak bisa ditutup. Aida menemani Maira menonton tv dan tidak terasa Aida ketiduran.


Firas baru saja selesai menelepon asistennya, ia hendak ke kamar mandi untuk berwudhu. Namun ketika melewatkan pintu penghubung, ia tidak mendengar suara Maira dan Aida. Yang terdengar hanyalah suara televisi, Firas menoleh ke kamar Aida, ia melihat Aida sedang tidur sambil memeluk Maira. Ada rasa tenang  di hati Firas ketika melihat ibu dan anak tidur sambil berpelukan.

__ADS_1


Firas masuk ke kamar Aida. Ia mematikan televisi, membetulkan selimut Aida dan Maira. Kemudian mematikan lampu dan menutup pintu.


__ADS_2