
Mobil Firas sedang jalan merayap di tol TB Simatupang. Firas dan Aida baru saja datang dari Wonosobo. Malam ini jalan tol cukup padat oleh mobil dan berjalan dengan sangat lamban. Firas menguap karena mengantuk. Firas melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah jam delapan malam namun ia sudah merasa mengantuk sekali. Maira sedang tertidur pulas di pangkuan Aida. Kalau Maira sedang tidak tidur ia pasti kesal melihat jalanan yang macet.
“Kamu menginap di rumah mamah! Saya cape sekali, jadi tidak bisa mengantarkan kamu pulang,’ kata Firas sambil menyetir.
“Saya naik taksi saja, Kang,” kata Aida.
Firas langsung menoleh.
“Jangan! Nanti kamu repot harus gendong Maira yang sedang tidur. Belum lagi bawaan kamu banyak. Lagi pula ini sudah malam, berbahaya jika kamu naik taksi berdua dengan Maira. Sudah tidur di rumah mamah saja. Besok saya antar sekalian saya berangkat ke kantor!” seru Firas.
Aida menghela nafas.
“Iya deh, Kang,” ujar Aida.
“Nah, begitu dong. Nurut sama calon suami,” kata Firas.
“Kan baru calon. Belum jadi suami,” sahut Aida.
“Tapi harus belajar nurut sama calon suami!” seru Firas sambil fokus menyetir mobil.
“Iya, nurutnya yang baik-baik aja. Kalau yang tidak baik-baik Aida tidak mau nurut,” jawab Aida.
Firas langsung menoleh ke Aida.
“Kalau yang tidak baik-baik itu seperti apa, ya Da?” tanya Firas penasaran.
“Tidak tau. Pikirin aja sendiri,” jawab Aida sambil cemberut.
Firas tertawa sambil mengacak-acak rambut Aida. Firas mengarahkan mobilnya keluar dari jalan tol menuju ke Prapanca. Tadinya Firas melalui tol lingkar luar untuk mengantar Aida pulang ke Tanah Kusir. Tapi karena jalan tolnya macet dan Aida setuju untuk menginap di rumah orang tua Firas. Ia langsung mengarahkan mobilnya keluar dari tol menuju ke Kebayoran Baru melalui Prapanca.
Ketika sampai di rumah orang tua Firas, Aida langsung disambut oleh Ibu Poppy. Aida keluar dari mobil sambil menggendong Maira.
“Maira tidur?” tanya Ibu Poppy.
“Iya, Tante,” jawab Aida.
“Langsung bawa ke kamar,” Ibu Poppy jalan lebih dahulu menuju ke kamar tamu.
Ibu Poppy membukakan pintu kamar agar memudahkan Aida masuk ke dalam kamar. Aida menidurkan Maira di atas tempat tidur. Namun ketika ditaruh di atas tempat tidur, Maira langsung bangun. Maira melihat ke Aida lalu ke Ibu Poppy.
“Hai, sudah bangun?” tanya Ibu Poppy kepada Maira.
“Mama, au pipis,” kata Maira.
“Ayo kita pipis,” Aida membangunkan Maira dari tempat tidur.
“Sekalian mandi saja,” kata Ibu Poppy.
“Iya, Tante,” jawab Aida.
Aida membawa Maira ke kamar mandi. Setelah Maira selesai mandi, giliran Aida mandi. Ketika Aida keluar dari kamar mandi Ibu Poppy masuk ke kamar Aida.
“Kamu makan dulu! Tante sudah siapkan makanannya,” kata Ibu Poppy.
“Iya, Tante,” jawab Aida.
Aida membawa Maira keluar dari kamar. Di ruang makan sudah ada Firas yang sedang makan malam.
“Eh, Maira sudah bangun,” sahut Firas melihat Aida datang bersama Maira.
“Ditaruh ke tempat tidur langsung bangun,” kata Ibu Poppy.
“Ayo makan dulu. Tante dan Om tadi sudah makan,” kata Ibu Poppy.
Aida duduk di sebelah Firas.
“Maira, makannya disuapi Enin, ya! Kasihan mamah sudah lapar,” kata Ibu Poppy.
“Iya,” jawab Maira.
Maira makan disuapi oleh Ibu Poppy, sehingga Aida makan dengan tenang.
“Bagaimana dengan acara kunjunganmu ke rumah Pakde Purnomo dan Bude Sekar?” tanya Ibu Poppy sambil menyuapi Maira.
“Alhamdullilah, mereka mau menerima kedatangan Aida,” jawab Aida.
Aida menceritakan semuanya ke Ibu Poppy.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Poppy ketika mendengar cerita Aida.
“Tapi Tante, Akang Firas jadi harus mengeluarkan uang yang banyak untuk ongkos Pakde dan Bude ke Jakarta,” ujar Aida.
“Sudah biarkan saja. Akangmu punya uang yang banyak, tidak usah kamu pikirkan!” jawab Ibu Poppy.
“Lagipula uangnya kalau bukan untukmu, untuk siapa lagi?” kata Ibu Poppy.
Tiba-tiba Salfa turun dari lantai atas dan menghampiri Firas.
“Aa, ini Vivin mau ngomong sama Aa!” Salfa memberikan ponselnya kepada Firas.
Firas mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Mau ngomong apa? Aa tidak ada urusan sama dia. Dia kan teman kamu bukan Aa,” ujar Firas.
“Dia marah karena Aa mau menikah dengan Aida bukan menikah sama dia,” kata Salfa.
“Suka-suka Aa, mau nikah sama siapa saja. Nggak ada urusan dengan Vivin,” ujar Firas.
“Vivin mengancam akan membuat perusahaan Aa bangkrut kalau Aa tidak mau menikah dengan dia,” ujar Salfa.
Ibu Poppy kesal dengan perkataan Vivin yang disampaikan oleh Salfa.
“Salfa, itu telepon masih terhubung dengan Vivin?” tanya Ibu Poppy dengan kesal.
“Iya, Mah,” jawab Salfa.
“Matikan!” seru Ibu Poppy.
“Tapi, Mahhh,” Salfa belum selesai bicara langsung disela oleh Ibu Poppy.
“Matikan!” seru Ibu Poppy sekali lagi.
“Iya, Mah,” Salfa langsung mematikan teleponnya.
“Mamah tidak mau Vivin datang ke rumah ini lagi! Memangnya dia siapa? Berani-beraninya mengancam Aa kamu,” kata Ibu Poppy.
“Salfa, ada yang patut kamu ketahui mengenai Vivin,” kata Firas.
Firas menoleh ke ruang keluarga.
“Ayah! Ada yang mau Firas bicarakan dengan Ayah,” Firas memanggil Pak Budi yang sedang menonton berita.
Pak Budi bangun lalu menghampiri Firas.
“Aa mau bicara apa?” tanya Pak Budi.
“Ayah duduk dulu!” kata Firas.
Pak Budi duduk di sebelah Ibu Poppy.
“Saya sama Maira ke kamar dulu,” Aida pamit.
Aida merasa ia tidak boleh mendengarkan percakapan Firas dan keluarganya. Firas langsung memegang tangan Aida.
“Tidak usah! Kamu tetap di sini, karena kamu harus tau hal ini!” kata Firas.
Aida kembali duduk.
“Mah, Maira,” bisik Firas ke Ibu Poppy.
“Maira, tolong ambilkan ponsel Enin di kamar! Ponselnya ada di dekat tempat tidur,” kata Ibu Poppy.
“Iya, Nin,” Maira langsung turun dari kursi dan beranjak ke kamar Ibu Poppy.
“Mah, memangnya Maira bisa buka ointu kamar Mamah?” tanya Salfa.
“Bisa. Tapi lama,” jawab Ibu Poppy.
“Tadi Aa mau bicara apa?” tanya Ibu Poppy.
“Mengenai Vivin. Vivin adalahhhh,” Firas berhenti berbicara.
“Ibu kandung Maira,” lanjut Firas.
“Apa?” kata semua orang di ruangan itu.
Semua orang kaget mendengar hal ini.
“Vivin adalah ibu kandung Maira,” kata Firas sekali lagi.
“Aa tau darimana?” tanya Salfa.
“Pak Ricky yang menceritakan hal ini kepada Aa,” jawab Ricky.
Mendengar perkataan Firas, Aida langsung bersedih. Ia takut Vivin mengambil Maira.
“Kamu tidak usah takut! Vivin tidak akan mengambil Maira. Dia tidak menginginkan Maira. Dia sudah membuang Maira,” kata Firas.
“Jadi selama ini Maira sudah bertemu dengan ibu kandungnya. Kok tega sekali membuang anak sendiri,” kata Aida sambil menitikkan air mata.
“Kalau Vivin tidak membuang Maira, nanti kamu mati bunuh diri. Aku tidak bisa ketemu kamu,” ujar Firas.
“Idihhh, Aa masih sempat-sempatnya ngegombalin Aida,” sahut Salfa.
“Nggak apa-apa ngegombalin calon istri sendiri. Bukan gombalin calon istri orang lain,” kata Firas.
“Aa tau darimana kalau Vivin ibu kandung Maira?” tanya Pak Budi.
“Dari Pak Ricky,” jawab Firas.
“Harus ada bukti hitam di atas putih yang menyatakan Vivin adalah ibu kandung Maira,” kata Pak Budi.
“Beres itu mah, Yah,” kata Firas.
__ADS_1
Firas menoleh ke Salfa.
“Salfa!” panggil Firas sambil menyeringai.
“Aa mau menyuruh Salfa, ya? Salfa nggak mau!” seru Salfa.
Firas menggesekkan telunjuk dan jempolnya bersamaan.
“Berani bayar berapa?” tanya Salfa.
“Dua ratus ribu?” tanya Firas.
“Kurang!” jawab Salfa.
“Kamu mau berapa?” tanya Firas.
“Lima ratus ribu,” jawab Salfa.
“Oke, deal!” Firas mengajak Salfa salaman.
“Nanti dulu. Aa mau nyuruh apa?” tanya Salfa.
“Ambil rambut atau kuku Vivin! Tidak usah banyak-banyak asalkan cukup untuk test DNA,” jawab Firas.
“Nggak mau, ah! Susah,” ujar Salfa.
“Lagipula tadi Salfa tiba-tiba mematikan teleponnya. Dia pasti marah sama Salfa,” kata Salfa.
“Aa tambahin, deh,” ujar Firas.
“Kenapa nggak Aa aja yang minta sendiri ke Vivin? Dia pasti dengan senang hati memberikan kepada Aa,” tanya Salfa.
“Nggak mau, ah. Nanti dia ge-er,” jawab Firas.
“Ya sudah, Aa suruh Bi Sur saja. Nanti Aa kasih satu juta untuk Bi Sur,” kata Firas.
“Bi Sur pembantunya Vivin?” tanya Salfa.
“Iya lah. Memang ada Bi Sur yang lain?” jawab Firas.
“Kok Aa tau kalau pembantu Vivin namanya Bi Sur?” tanya Salfa.
“Dikasih tau Pak Ricky,” jawab Firas.
Tiba-tiba Maira datang sambil membawa ponsel milik Ibu Poppy.
“Nin, inyi,” Maira memberikan ponsel kepada Ibu Poppy.
“Terima kasih, sayang,” ucap Ibu Poppy sambil mengambil ponselnya dari tangan Maira.
Maira naik ke atas kursi.
“Kita lanjutkan makannnya,” Ibu Poppy menyuapi Maira.
“Ingat pesan ayah, cari bukti dulu! Jangan asal menuduh!” kata Pak Budi.
“Baik ayah,” jawab Firas.
Pak Budi kembali ke ruang keluarga untuk melanjutkan nonton televisi. Firas langsung menelepon Ricky. Sambil menunggu teleponnya dijawab oleh Ricky, Firas berjalan ke teras belakang rumah. Ia tidak ingin pembicaraannya didengar oleh Maira.
Aida merasa tidak enak kepada keluarga Firas, semua akar permasalahan bermula dari kedatangan dirinya dan Maira.
“Aida minta maaf. Kalau Aida tidak bertemu dengan Akang, semuanya tidak akan seperti ini,” ucap Aida dengan menyesal.
“Ini bukan salah kamu! Bagaimanapun juga anak ini harus tau siapa ibu kandungnya,” jawab Ibu Poppy.
Aida melihat ke arah Maira, anak itu sedang makan sambil memainkan taplak meja.
Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk Maira, ucap Aida di dalam hati.
Tak lama kemudian Firas datang.
“Bi Sur sudah dihubungi dan ia mau membantu kita. Nanti ia akan menghubungi Aa kalau semua majikannya sudah pergi,” kata Firas.
Firas mengusap rambut Maira.
“Makan yang banyak, biar cepat besar,” kata Firas kepada Maira.
Maira mengangguk sambil mengunyah makanan. Firas duduk di sebelah Aida.
“Habiskan makananmu! Jangan melamun saja!” kata Firas.
“Maafkan Aida. Gara-gara Aida, Akang jadi repot,” ucap Aida sambil menitikkan air mata.
“Sudahlah, jangan bersedih! Ini semua bukan salahmu!” kata Firas sambil mengusap punggung Aida.
“Lagipula kalau sudah besar nanti dia harus tau siapa orang tua,” bisik Firas.
“Sudah, jangan menangis lagi!” kata Firas.
Aida mengelap pipinya dengan tissue dan melanjutkan makannya.
__ADS_1