Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
50. Berenang


__ADS_3

Setelah bellboy keluar Firas menutup kembali pintu kamarnya. Firas mendekati Aida. Firas berdiri di hadapan Aida.


“Sekarang kita sudah bisa pacaran karena sudah sah dan halal secara hukum dan agama,” kata Firas.


Aida hanya diam mendengarkan kata-kata Firas. Namun jantungnya sedang berdetak dengan kencang ketika berdua berada di dalam kamar. Aida sering berduaan dengan Firas, namun belum pernah berduaan di dalam kamar yang membuat jantungnya berdetak kencang seperti ini.


Firas mendekati Aida.


“Biasanya seorang kekasih selalu ingin menyentuh permata hatinya,” Firas memegang tangan Aida lalu mengecup punggung tangannya.


“Selalu ingin dekat dengan dengan kekasihnya,” Firas lebih mendekat dengan Aida.


“Selalu ingin memeluknya,” Firas memeluk Aida.


“Selalu ingin menciumnya,” Firas mencium kening Aida lalu mencium hidungnya dan terakhir mencium bi_birnya.


Aida merasa ada berdesir di dalam tubuhnya. Ini baru pertama kalinya Aida merasakan ciuman dari seorang pria. Sebelumnya Aida belum pernah merasakan ini. Aida tidak tau harus berbuat apa, ia hanya diam saja tidak membalas ataupun menolak. Ia membiarkan suaminya menikmati bi_birnya. Aida hanya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


Ketika Firas asyik mencium bi_bir Aida tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Tok tok tok tok.


“Mama,” terdengar sayup-sayup suara anak kecil di depan kamarnya.


Tok tok tok.


“Mama,” teriak anak kecil.


“Maira, jangan ganggu Mamah! Kita main lagi saja,” terdengar suara perempuan yang sedang membujuk anak kecil itu.


“Mala au ke Mama,” kata anak kecil itu.


Mendengar suara ribut-ribut di depan kamarnya Firas langsung menghentikan aksinya.


“Kang, ada yang mengetuk pintu,” kata Aida.


“Bukan, ah! Mungkin mengetuk kamar sebelah,” ujar Firas.


“Coba kita lihat dulu! Suaranya seperti suara Maira,” kata Aida.


Firas berjalan menuju pintu dan melihat keluar melalui lubang pintu. Ia melihat Hanifa yang sedang mencoba membujuk Maira.


“Siapa, Kang?” tanya Aida.


“Ada Maira dan Hanifa,” jawab Firas.


Firas membuka pintu kamar. Maira berdiri di depan kamar dengan wajah gembira, lalu ia masuk ke dalam kamar dengan menggunakan sepatu perempuan dewasa. Hanifa tidak berani masuk ke dalam kamar, ia hanya berdiri di depan pintu.


“Mama, iyat,” Maira menunjuk ke sepatu yang ia pakai sambil di hentak-hentakkan.


“Itu sepatu, siapa sayang?” tanya Aida.


“Cepatu Tata,” jawab Maira.


Aida melihat ke arah pintu, Hanifa sedang berdiri di depan pintu tanpa menggunakan alas kaki. Tangannya memegang sepatu Maira.


Aida mendekati Maira. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Maira.


“Maira, lepaskan sepatu Kakak Hanifa! Kasihan Kakak kalau tidak memakai sepatu, nanti kaki Kakak sakit karena menginjak benda tajam,” bujuk Aida.

__ADS_1


Mendengar perkataan Mamahnya Maira langsung melepaskan sepatu Hanifa, lalu ia berikan kepada Hanifa.


“Inyi,” kata Maira.


Setelah memberikan sepatu kepada Hanifa, Maira kembali masuk ke dalam kamar Aida.


“Pak Ricky kemana?” tanya Firas kepada Hanifa.


“Sedang berenang,” jawab Hanifa.


“Kok malah berenang? Katanya mau mengajak main Maira,” Firas protes.


“Tadi Pak Ricky mengajak Maira berenang, tapi Maira tidak mau. Maira mau ke Ibu Aida,” Hanifa mencoba menjelaskan kepada Firas.


“Ya sudah, tinggalkan saja Maira di sini,” kata Firas.


Firas menutup pintu kamarnya. Hanifa tidak berani pergi dari depan kamar Aida, karena takut dimarahi oleh Ricky jika meninggalkan Maira begitu saja. Hanifa berdiri di depan kamar Aida.


Semenit kemudian pintu kamar Aida terbuka, Maira keluar dari kamar ditemani Aida.


“Tata, Mala au enang,” kata Maira kepada Hanifa.


Hanifa senang mendengar perkataan Maira.


“Ayo,” Hanifa menggendong Maira.


“Dadah Maira,” Aida melambaikan tangannya kepada Maira.


“Jajah Mama, jajah Papa,” Maira melambaikan tangannya kepada Firas dan Aida.


Hanifa membawa Maira menuju ke kolam renang.


“Kita lanjutkan lagi,” Firas berbisik dari belakang.


“Tapi sebentar saja, ya Kang. Sebentar lagi adzan magrib,” kata Aida.


Firas menghela nafas lalu melepaskan pelukannya. Firas duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah kecewa. Aida menghampiri Firas dan duduk di sebelah Firas. Aida mencium pipi suaminya.


“Kalau setelah sholat isya bisa lama,” bisik Aida.


Firas langsung menoleh ke Aida.


“Bener, nich? Sampai subuh, boleh?” tanya Firas.


Aida menghela nafas.


“Iya, boleh sampai subuh,” jawab Aida dengan pasrah.


“Kalau begitu, sekarang pemanasannya dulu,” Firas mendorong tubuh Aida hingga Aida terlentang diatas tempat tidur, lalu Firas melancarkan aksinya menciumi bi_bir istrinya dan tangannya menjelajahi tubuh istrinya.


Kita kembali ke Maira dan Hanifa. Biarkan kedua pengantin menikmati waktu pacaran mereka. Dilarang ngintip orang pacaran!


Hanifa menggendong Maira menuju ke kolam renang. Sore itu kolam renang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang sedang berenang dan beberapa orang lagi hanya duduk-duduk di kursi. Hanifa mengedarkan pandangannya mencari Ricky.


“Tata, Mala au enang,” kata Maira yang sudah tidak sabar.


“Sabar, ya sayang. Kakak cari ayah dulu,” kata Hanifah.

__ADS_1


Tiba-tiba Ricky muncul di kolam renang. Maira tertawa senang ketika melihat Ricky muncul dengan keadaan basah.


“Aya,” panggil Maira.


“Darimana?” tanya Ricky kepada Hanifa.


“Dari kamar Ibu Aida,” jawab Hanifa.


“Ngapain ke sana? Ganggu orang yang sedang bulan madu saja,” kata Ricky.


“Maira mau ke mamahnya,” jawab Hanifa.


“Aya, Mala au enang,” kata Maira.


“Ganti baju renang dulu!” kata Ricky.


Hanifa membawa Maira ke meja tempat menyimpan baju renang Maira. Hanifa mengganti baju Maira dengan baju renang. Lalu memasangkan plampung pada badan dan tangan Maira. Setelah memakai baju renang dan plampung, Maira langsung lari menuju ke Ricky.


“Maira, jangan lari!” seru Hanifa sambil mengejar Maira.


Maira menghampiri Ricky yang sedang duduk di pinggir kolam renang.


“Aya, ayo enang,’ kata Maira.


Ricky menggendong Maira lalu membawanya masuk ke dalam kolam renang.


“Eh, Pak!” panggil Hanifa.


Ricky menoleh ke Hanifa.


“Jangan dibawa ke kolam renang yang dalam!” seru Hanifa.


“Tidak apa apa. Kamu tenang saja,” kata Ricky.


Ricky tetap saja membawa Maira ke kolam renang khusus orang dewasa. Hanifa takut melihatnya, ia memejamkan matanya. Tak lama kemudian terdengar suara Maira tertawa. Perlahan Hanifa membuka matanya, ia melihat Ricky dan Maira sudah berada di dalam kolam renang. Maira sedang tertawa berenang sambil di gendong ayahnya.


“Tata iat, Mala ica enang,” kata Mala sambil menggerakkan tangannya bermain air.


Hanifa langsung bernafas lega karena Maira tidak apa-apa. Ayah dan anak terlihat bahagia berenang bersama.


Setelah seperempat jam lamanya Maira berenang bersama ayahnya, Ricky membawa Maira keluar dari kolam renang dan ia memberikan Maira kepada Hanifa.


“Maira berenang di kolam anak-anak sama kakak, ya. Ayah mau berenang lagi,” kata Ricky.


Maira langsung berjalan menuju ke kolam untuk anak-anak ditemani oleh Hanifa. Sedangkan Ricky kembali ke kolam untuk orang dewasa. Maira bermain air di kolam renang, Hanifa mengawasi Maira di pinggir kolam renang. Pukul setengah enam Ricky selesai berenang dan mengajak Maira kembali ke kamar.


“Maira, sudah berenangnya! Sebentar lagi magrib,” kata Ricky.


“Ntar uyu,” jawab Maira.


Batita itu masih asyik bermain air.


“Sudah sayang, sebentar lagi gelap,” kata Ricky.


Namun Maira tetap saja tidak mau beranjak dari kolam renang. Tepaksa Ricky masuk ke dalam kolam anak-anak lalu menggendong Maira. Maira protes ketika Ricky menggendongnya.


“Kapan-kapan kita berenang lagi. Sekarang sudah malam,” kata Ricky sambil mencium pipi anak semata wayangnya.

__ADS_1


Akhirnya Maira menurut pada ayahnya. Hanifa langsung menutup tubuh Maira dengan handuk. Ricky memakai kaos lalu menutupi bawah badannya dengan handuk. Lalu mereka kembali ke kamar.


__ADS_2