Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
52. Playground


__ADS_3

Maira baru saja kembali ke kamar setelah sarapan bersama ayah dan pengasuhnya. Hari ini mereka akan check out dari hotel karena besok Ricky harus kembali bekerja.


“Bereskan semua barang-barang! kita sudah harus check out sebelum jam dua belas,” kata Ricky kepada Hanifa.


“Baik, Pak,” jawab Hanifa.


Hanifa mulai membereskan semua barang-barang bawaan mereka. Maira melihat Hanifa membereskan barang-barang, lalu ia mendekati Hanifa.


“Tata ajih, apa?” tanya Maira.


“Kakak lagi bereskan pakaian. Sebentar lagi kita pulang ke rumah,” jawab Hanifa sambil masukkan baju-baju Maira ke dalam tas.


 “Mama icut uyang?” tanya Maira.


“Tidak, Maira. Mamah dan Papah masih menginap di sini,” jawab Hanifa.


Mendengar perkataan Hanifa, Maira langsung sedih.


“Mala nga au uyang. Mala au cama Mama,” kata Maira.


Hanifa menarik Maira ke atas pangkuannya. Dipeluknya batita itu


“Mamah lagi bobo, Maira sama Kakak aja,” kata Hanfifa sambil mengusap rambut Maira.


"Mama bobo teyus, Mama atit?" tanya Maira.


"Mamah tidak sakit. Mamah sedang kecapean," jawab Hanifa.


Ricky masuk ke dalam kamar Maira. Ia melihat Maira sedang bersedih di dalam pelukan Hanifa.


“Maira kenapa?” tanya Ricky kepada Hanifa.


“Mau sama mamah,” jawab Hanifa.


Ricky mendekati Maira.


“Mamah lagi sama Papah. Maira sama Ayah aja,” hibur Ricky.


“Bagaimana sebelum pulang kita jalan-jalan dulu?” tanya Ricky kepada Maira.


Maira langsung menegakkan tubuhnya dan menoleh ke ayahnya.


“Mala au aik pocotan dan ayunan,” kata Maira dengan berseri.


“Naik prosotan dan ayunan dimana?” tanya Ricky bingung.


“Ada di mall tempat Bapak bertemu dengan saya,” jawab Hanifa.


“Oh, di sana. Oke kita ke sana sepulang dari sini,” kata Ricky.


“Oleeeee, Mala au ain,” seru Maira sambil tepuk tangan.


“Maira jangan nangis lagi, ya,” kata Ricky.


“Ayo Maira sama Ayah. Biar Kakak membereskan barang-barang Maira,” ajak Ricky.


Maira berdiri lalu ikut ke kamar ayahnya. Sementara itu Hanifa membereskan barang-barang mereka.


Pukul sepuluh mereka check out dari hotel. Seperti yang sudah Ricky janjikan mereka mampir dulu ke PI Mall. Ricky berjalan sambil menggandeng tangan Maira, sementara itu Hanifa mengikuti dari belakang. Sesekali Maira menengok ke belakang.


“Kaka, ayo!” sahut Maira sambil melambaikan tangannya.


“Iya,” jawab Hanifa.


Hanifa terus saja mengikuti Ricky dan Maira dari belakang. Akhirnya mereka sampai di playground. Maira masuk playground ditemani oleh Hanifa. Sedangkan Ricky menunggu mereka di luar. Maira nampak senang bermain di playground, sehingga ia tidak ingat kepada mamahnya. Pukul dua belas siang Ricky memanggil Maira.


“Maira,” panggil Ricky sambil melambai-lambaikan tangannya ke Maira.


Hanifa melihat Ricky memanggil Maira.


“Maira, dipanggil Ayah tuh,” kata Hanifa.


Maira yang sedang memungut bola, menoleh ke Hanifa.


“Apa, Kaka?” tanya Maira.


“Ayah manggil Maira,” jawab Hanifa.

__ADS_1


Maira mengedarkan pandangannya mencari ayahnya.


“Mana?” tanya Maira.


“Tuh,” Hanifa menunjuk ke pintu masuk.


“Aya,” kata Maira ketika melihat ayahnya.


Ricky melambai-lambaikan tangannya agar Maira mendekatinya. Maira meletakkan bola yang sedang dipegangnya lalu berjalan menghampiri ayahnya. Hanifa mengikuti Maira dari belakang.


“Aja apa Aya?” tanya Maira.


“Sudah mainnya! Kita makan, Ayah sudah lapar,” kata Ricky.


“Mala aus,” kata Maira.


“Ayo kita minum,” kata Ricky.


Maira dan Hanifa keluar dari playground.


“Enong,” kata Maira sambil mengangkat kedua tangannya ke arah ayahnya.


“Berat sekali. Anak Ayah sudah besar,” kata Ricky ketika menggendong Maira.


Maira terkekeh-kekeh mendengar perkataan ayahnya. Mereka berjalan menuju ke food court. Ketika sedang berjalan menuju food court Hanifa bertemu dengan teman kuliahnya.


“Hei, Hanifa. Kemana saja, kok nggak pernah kelihatan?” sapa Meti.


“Aku dengar kamu cuti kuliah,” kata Meti.


“Iya, sekarang aku kerja,” jawab Hanifa.


“Kerja apa? Dimana?” tanya Meti.


“Kerja menjadi pengasuh anak,” jawab Hanifa.


“Kakak!” tiba-tiba Maira memanggil Hanifa.


Hanifa menoleh ke arah Ricky, Ricky sedang berdiri melihat ke arahnya. Sedangkan Maira melambai-lambaikan tangannya ke Hanifa, memanggil Hanifa.


“Sudah dulu, ya. Kapan-kapan lagi ngobrolnya. Sekarang aku lagi kerja,” pamit Hanifa.


“Siapa?” tanya Ricky.


“Teman kuliah,” jawab Hanifa.


Lalu mereka melanjutkan jalannya menuju ke food court. Sesampai di food court, Maira minta makan dengan ayam goreng krauk. Jadi mereka semua makan ayam goreng krauk.


Setelah selesai makan, Ricky mengantar Maira pulang. Ketika di perjalanan Maira mulai mengantuk, lalu ia tertidur di pangkuan Hanifa.


Ricky menghentikan mobilnya di depan rumah Ibu Poppy. Ricky menoleh ke belakang, ia melihat Maira sedang tidur dengan lelap.


“Tidur?” tanya Ricky.


“Iya,” jawab Hanifa.


Hanifa hendak membuka pintunya.


“Tunggu dulu! Saya bukakan pintunya,” kata Ricky.


Ricky keluar dari mobil lalu membukakan pintu Hanifa dari luar. Hanifa keluar dari mobil sambil menggendong Maira.


“Kamu masuk aja dulu. Saya akan mengeluarkan barang-barang Maira,” kata Ricky.


Hanifa berjalan menuju ke pintu pagar. Seorang penjaga rumah membukakan pintu pagar.


“Eh, Non Maira sudah pulang. Rumah sepi tidak ada Non Maira,” kata penjaga rumah.


“Saya masuk ke dalam ya, Pak,” kata Hanifa.


“Silahkan, Non,” jawab penjaga rumah.


Hanifa masuk ke dalam rumah Ibu Poppy melalui pintu garasi.


“Assalamualaikum,” ucap Aida ketika masuk ke dalam rumah.


Bi Ijah keluar dari dapur dan menghampiri Hanifa.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Bi Ijah.


“Eh, Non Maira sudah pulang,” kata Bi Ijah.


“Ditidurkan dimana, Bi?” tanya Hanifa.


“Di atas di kamar Den Firas,” jawab Bi Ijah.


“Bibi antar ke atas,” kata Bi Ijah.


Bi Ijah menaiki tangga menuju ke lantai atas. Hanifa mengikuti Bi Ijah. Sesampai di lantai atas Bi Ijah menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Bi Ijah membuka pintu kamar Firas lalu masuk ke dalam kamar. Hanifa juga masuk ke dalam kamar Firas. Lalu menidurkan Maira di atas tempat tidur. Ketika dipindahkan ke atas tempat tidur Maira tidak bangun, ia tidur dengan lelap. Bi Ijah menyimpan satu buah walkie talkie di dekat Maira dan satu lagi dibawa Bi Ijah.


“Itu untuk apa, Bi?” tanya Hanifa menunjuk ke walkie talkie.


“Biar kedengaran kalau Non Maira bangun,” kata Bi Ijah.


Lalu mereka keluar dari kamar Firas dan turun ke lantai dasar. Bi Ijah menyimpan walkie talkie di atas meja makan lalu kembali ke dapur. Sedangkan Hanifa menuju ke ruang keluarga. Di sana ada Ibu Poppy dan Pak Budi yang sedang berbicara dengan Ricky. Ricky menoleh ke Hanifa ketika Hanifa berjalan menuju ke ruang keluarga.


“Sudah?” tanya Ricky.


“Sudah, Pak,” jawab Hanifa.


“Tante Om, kami pamit pulang dulu. Titip Maira,” kata Ricky.


Lalu Ricky berdiri.


“Tidak minum dulu?” tanya Ibu Poppy.


“Terima kasih, Tante. Sudah sore,” jawab Ricky.


“Mari Om Tante. Assalamualaikum,” pamit Ricky.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Poppy dan Pak Budi.


Ricky dan Hanifa keluar dari rumah Ibu Poppy melalui garasi.


“Mari, Pak,” pamit Ricky kepada penjaga rumah.


“Iya, Den,” jawab penjaga rumah.


Ricky dan Hanifa berjalan menuju ke mobil Ricky. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mobil Ricky meluncur meninggalkan kediaman Ibu Poppy.


Ricky menghentikan mobilnya di depan rumah Hanifa. Lalu ia mengambil amplop putih dari laci dashboard. Lalu memberikan amplop itu kepada Hanifa.


“Ini honor kamu beberapa hari ini. Terima kasih sudah membantu saya,” kata Ricky.


Hanifa menerima amplop itu.


“Terima kasih, Pak,” ucap Hanifa.


“Sampaikan salam saya pada ibumu,” kata Ricky.


“Baik, akan saya sampaikan. Assalamualaikum,” ucap Hanifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Ricky.


Hanifa turun dari mobil Ricky lalu ia mengambil tasnya yang ada di dalam bagasi. Setelah menutup bagasi mobil Hanifa berdiri di depan pagar menunggu sampai Ricky pergi. Kemudian mobil Ricky pun meluncur meninggalkan rumah Hanifa.


Setelah Ricky pergi Hanifa baru masuk ke dalam rumahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Hanifa ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Rosma.


“Sudah pulang, Fa?” tanya Ibu Rosma.


“Iya, Bu,” jawab Hanifa.


Hanifa mencium tangan Ibu Rosma.


“Sudah sholat ashar, belum?” tanya Ibu Rosma.


“Belum, Bu,” jawab Hanifa.


“Mandi dulu, terus sholat ashar. Baru istirahat,” kata Ibu Rosma.


“Baik, Bu,” jawab Hanifa.

__ADS_1


Hanifa masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2