
Senin pagi Firas mengajak Aida ke bank BNA pusat, sedangkan Maira dititipkan ke Ibu Poppy. Tadinya Aida hendak menitipkan Maira ke Ibu Ida, namun Ibu Poppy sudah pesan kepada Firas jika hendak pergi ke bank Maira harus dititipkan di rumah Ibu Poppy. Firas menghela nafas. Kalau mamahnya sudah pesan harus dituruti kalau tidak beliau akan marah.
Firas dan Aida masuk ke dalam bank BNA.
“Pak saya hendak bertemu dengan Pak Tanto,” kata Aida kepada sekurity bank bernama Seno.
“Mbak sudah membuat janji?” tanya Seno.
“Belum, Pak. Namun Pak Tanto hendak bertemu dengan saya dari setahun yang lalu,” jawab Aida.
“Itukan setahun yang lalu, Mbak. Mestinya Mbak buat janji lagi dengan Pak Tanto,” kata Seno.
Firas agak kesal dengan perkataan security itu.
“Tolong kasih tau ke Pak Tanto, bilang Aida Kartika Rardjo anak dari Ibu Maira Puspita datang memenuhi panggilan bank BNA,” kata Firas dengan nada penuh penekanan.
“Baik, Pak,” jawab Sena kemudian Sena pun pergi masuk ke dalam kantor bank.
Lima belas menit kemudian Sena kembali.
“Mbak Aida di suruh tunggu dulu sebentar,” kata Sena.
Aida dan Firas duduk di tempat duduk. Tiba-tiba ada seorang pria yang sedang berjalan namun tanpa sengaja menoleh ke Aida.
“Mbak Aida?” tanya pria itu.
Aida menoleh ke pria tersebut.
“Masih ingat saya? Saya Ricky yang membeli mobil Mbak Aida,” kata Ricky.
Aida berpikir sejenak.
“Oh, Pak Rcky. Bagaimana dengan mobilnya?” tanya Aida.
“Alhamdullilah masih saya pakai, Mbak,” jawab Ricky.
“Syukurlah,” ucap Aida.
“Mbak Aida, bisa saya minta nomor telepon Mbak Aida?” tanya Ricky.
“Untuk apa?” tanya Aida bingung.
“Ada yang hendak saya bicarakan dengan Mbak Aida,” jawab Ricky.
“Mengenai apa?” tanya Aida.
“Mengenai anak Mbak Aida,” jawab Ricky
“Maira? Ada apa dengan Maira?” tanya Aida yang tambah bingung.
“Nanti akan saya ceritakan. Sekarang saya sudah ada janji dengan orang,” jawab Ricky.
“Bisa saya minta telepon, Mbak?” tanya Ricky sekali lagi.
Firas memberikan kartu nama miliknya kepada Ricky.
“Kalau ada perlu dengan Aida hubungi lewat saya,” kata Firas.
__ADS_1
“Bapak siapa, ya?” tanya Ricky.
“Saya Firas, atasan Aida. Aida sekarang bekerja di perusahaan saya. Jadi kalau Pak Ricky hendak berbicara dengan Aida, hubungi saya dulu,” jawab Firas.
Ricky membaca kartu nama yang berada di tangannya.
“Baiklah, nanti saya akan hubungi Pak Firas,” jawab Ricky.
“Saya permisi dulu, sudah di tunggu orang. Mari Mbak Aida, Pak Firas,” pamit Ricky.
“Iya, Pak Ricky,” jawab Aida.
Ricky pun pergi meninggalkan Aida dan Firas. Tak lama kemudian datanglah seorang pria muda menghampiri Aida dan Firas.
“Ibu Aida?” tanya pria itu.
“Iya, saya,” jawab Aida.
“Kenalkan saya Tanto,” kata Tanto.
“Mbak bawa surat-surat yang diperlukan?” tanya Tanto.
“Bawa, Pak,” jawab Aida.
Aida memberi surat-surat yang dibutuhkan. Pak Tanto memperhatikan surat-surat satu persatu.
“Mari ikut saya,” kata Pak Tanto setelah yakin surat-surat itu asli.
Aida dan Firas mengikuti Tanto menuju ke sebuah ruangan. Tanto menyelesaikan prosedur yang harus dilakukan oleh pihak bank.
“Tidak apa-apa, Pak. Akan saya bayar,” jawab Firas.
“Baiklah, Pak. Mari ikut saya,” kata Tanto.
Firas dan Aida mengikuti Tanto menuju safe deposite box. Di sana sudah ada petugas yang akan membongkar safe deposite box milik mamah Aida dan petugas bank yang lainnya yang menjadi saksi pembongkaran. Kemudian petugas membongkar safe deposite box, setelah terbongkar mereka memberikan box kepada Aida. Aida membukanya.
Di dalam box itu terdapat foto kedua orang tua Aida sewaktu mereka menikah, lalu foto Aida sewaktu bayi, foto Aida kecil bersama kedua orang tuanya dan foto Aida remaja bersama kedua orang tuanya. Aida menitikkan airmata melihat foto-foto itu. Dibawah foto ada sebuah kertas dilipat, Aida membuka surat itu.
Assalamualaikum,
Aida anakku, apa kabarmu?
Ketika kamu membaca surat ini mungkin Mama sudah tidak berada di dunia ini.
Aida anakku, jangan bersedih. Walaupun Mamah sudah tidak ada. Hiduplah dengan bahagia.
Aida sayang, Mamah tidak bisa meninggalkan banyak harta untukmu. Hanya ini yang bisa Mamah sisihkan untukmu. Mungkin suatu saat kamu akan membutuhkannya.
Hiduplah dengan bahagia, anakku. Semoga Alloh selalu melindungimu.
Waasalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Yang selalu menyayangimu,
Mamah.
“Mamah!” seru Aida.
__ADS_1
Aida menangis sambil memeluk surat dari mamahnya. Aida duduk di lantai.
“Mamah, mengapa Mamah meninggalkan Aida? Aida sendiri Mamah, Aida sendiri. Semua orang pergi meninggalkan Aida. Aida cuma punya Maira,” kata Aida sambil menangis.
Firas jongkok dan menngusap punggung Aida.
“Aida, Mamahmu sudah tenang di sana. Jangan bersedih lagi. Masih ada kami yang selalu berada di sisimu. Aku, Maira, Mamah, Ayah, Ibu Ida dan Pak Aan,” kata Firas.
Aida menoleh ke Firas. Firas mengangguk.
“Sudah jangan menangis lagi! Kasihan Maira kalau melihat mamahnya bersedih,’ kata Firas.
Aida melihat isi box di dalamnya ada beberapa set perhiasan yang cukup banyak. Mungkin mamahnya sudah mempersiapan ini semua. Aida mencoba untuk bangun, namun karena masih lemas ia kesulitan untuk bangun. Firas membantu Aida berdiri.
“Kita pulang sekarang,” kata Firas.
Firas menyelesaikan semua administrasi dengan bank BNA. Setelah itu Firas membawa Aida pulang. Firas memapah Aida menuju ke mobilnya. Lalu ia mendudukkan Aida di jok mobil, Firas masuk ke dalam mobil. Mobilpun meluncur meninggalkan halaman bank.
Selama perjalanan Aida hanya diam sambil memeluk foto dan surat dari mamahnya. Firas sesekali menoleh ke samping.
“Mau makan sesuatu?” tanya Firas.
Aida menggelengkan kepalanya.
“Kita beli oleh-oleh untuk Maira. Maira suka apa?” tanya Firas.
“Kue,” jawab Aida dengan singkat.
“Oke, kita mampir ke toko kue,” kata Firas.
Firas menghentikan mobilnya di depan toko kue.
“Turun, yuk. Saya tidak tau kue kesukaan Maira,” kata Firas sambil melepas seat belt.
“Tidak ah, malu,” jawab Aida.
“Malu kenapa? Takut disangka sugar baby saya?” tanya Firas.
Aida menoleh ke Firas. Firas tersenyum ke Aida. Ia mencoba menggoda Aida agar Aida tidak larut dalam kesedihan.
“Malu habis nangis,” jawab Aida.
“Oh, itu masalahnya?” Firas membuka laci dashboard lalu mengambil kotak kaca mata dari laci.
“Pakai ini! Biar tidak kelihatan habis menangis,” Firas memberikan kotak kaca mata ke Aida.
Aida membuka kotak itu, di dalamnya ada kaca mata hitam. Aida menoleh ke Firas.
“Pakai!” kata Firas.
Aida memakai kaca mata hitam.
“Tuh, nggak kelihatan habis nangis kan,” kata Firas.
“Ayo, kita beli kue untuk Maira,” ajak Firas.
Firas dan Aida turun dari mobil dan menuju ke toko kue. Di dalam toko kue Firas membeli banyak kue coklat untuk Aida agar mood Aida membaik. Tidak lupa kue kesukaan Maira serta kue untuk keluarganya.
__ADS_1