Terjebak Pesona Mamah Muda

Terjebak Pesona Mamah Muda
57. Piknik


__ADS_3

Seperti yang sudah direncana kemarin, hari ini Ricky membawa Maira piknik ke kebun binatang. Sebelum pergi ke kebun binatang, Ricky menjemput kedua orang tuanya dulu. Handi yang tadinya mau ikut piknik, tidak jadi ikut piknik. Karena ada acara bersama dengan teman-temannya.


“Om minta oleh-oleh panda,” kata Handi kepada Maira.


“Pada? Apa icu pada?” tanya Maira kepada Handi.


“Binatang panda. Nanti Maira lihat sendiri panda itu seperti apa,” jawab Handi.


Maira jadi penasaran seperti apa binatang panda.


Maira terlihat begitu antusia dibawa ke kebun binatang. Sepanjang perjalanan Maira terlihat riang gembira. Sesampainya di kebun binatang nampak ramai oleh pengunjung. Sehingga Ricky terpaksa harus menggendong Maira. Ia takut Maira terjatuh dan terinjak-injak orang. Ricky bergantian dengan Hanifa menggendong Maira.


Maira senang melihat binatang yang ada di kebun binatang. Sesekali ia meniru suara binatang yang ia dengar. Membuat semua orang tertawa mendengar suaranya. Dan akhirnya sampailah mereka di kandang panda.


“Nah ini panda,” kata Ricky kepada Maira.


“Lutu, Aya. Bawa uyang padanya. Mala au uga. Catu untu Om Adi, catu ajih untu Mala,” ujar Maira.


 “Jangan sayang. Tidak boleh dibawa pulang pandanya!” kata Ricky.


“Nati Om Adi angis nga diacih pada,” ujar Maira.


“Biarkan saja Om Handi nangis,” kata Ricky.


Merekapun melanjutkan berkeliling kebun binatang. Setelah lelah berkeliling mereka mencari tempat yang nyaman untuk menggelar tikar.


“Maira tunggu di sini sama Nenek dan Kakek. Ayah dan Kakak mau mengambil tikar dan makanan,” kata Ricky.


“Iya,” jawab Maira.


Untung saja Maira mau menurut mau menunggu bersama nenek dan kakeknya. Sehingga Ricky dan Hanifa bisa ke tempat parkir mobil untuk membawa tikar dan makanan.


Setelah Ricky dan Hanifa datang mereka mulai menggelar tikar, mereka beristirahat di atas tikar sambil menikmati cemilan. Ketika mereka sedang beristirahat tiba-tiba ada seorang penjualan gelembung. Melihat gelembung yang begitu banyak, Maira jadi mau gelembung.


“Aya, Mala au icu,” ujar Maira sambil menunjuk ke penjual gelembung.


“Sebentar, ya. Ayah tanya dulu harganya,” kata Ricky.


“Berapa harganya, Bang?” tanya Ricky ke penjual gelembung.


“Lima puluh ribu, Pak,” jawab si penjual gelembung.


“Mahal amat. Dua puluh ribu, ya?” kata Ricky.


“Nggak bisa. Harga alatnya sudah lebih dari dua puluh ribu,” jawab si penjual.


“Dua puluh lima ribu,” kata Ricky.


“Tiga puluh lima, Pak. Harga pas,” ujar penjual gelembung. (Kalau salah harganya jangan dihujat, ya. Deche udah tidak punya anak kecil, jadi tidak tau berapa harga mainan gelembung. Itu juga ngecek dari toko online).


Ricky membuka dompetnya. Di dalam dompetnya tidak ada receh yang ada lembaran lima puluh ribu dan seratus ribu.


“Tunggu sebentar, Bang,” kata Ricky.


Ricky mendekati Hanifa.


“Fa, kamu punya uang tiga puluh lima ribu?” tanya Ricky kepada Hanifa.


“Ada, Pak,” jawab Hanifa.


Hanifa membuka tasnya lalu mengambil uang dari dalam dompet.

__ADS_1


“Ini, Pak,” kata Hanifa.


Hanifa memberikan uang sebesar tiga puluh lima ribu kepada Ricky. Lalu Ricky memberikan uang lima puluh ribu kepada Hanifa.


Ricky memberikan uang tiga lima ribu kepada penjual gelembung.


“Mau warna apa, Pak?” tanya si pejual.


“Maira mau warna apa?” tanya Ricky kepada Maira.


“Au walna melah,” jawab Maira.


Si penjual memberikan alat gelembung berwarna merah kepada Maira.


“Dicoba dulu, Bang! Takut rusak alatnya,” kata Ricky.


Si penjual mencoba alat gelembung itu dan hasilnya alat-alat itu menghasilkan gelembung dengan sempurna. Maira gembira ketika melihat gelembung banyak. Lalu penjual itu memberikan kepada Maira.


“Semoga awet ya, Neng,” kata si penjual.


Maira mencoba alatnya namun tidak bisa.


“Sini Ayah ajari,” kata Ricky.


Ricky memegang tangan Maira lalu membantu menekan alat itu.


“Yang ini ditekan,” kata Ricky.


Dan hasilnya Maira berhasil membuat gelembung. Namun gelembungnya mengenai Pak Agus, Ibu Juwita dan Hanifa.


“Mainnya di tempat yang luas, kalau main di sini kena orang,” kata Ibu Juwita.


“Ayo Maira, kita main di sana,” kata Hanifa.


“Mereka seperti Ibu dan anak,” kata Ibu Juwita yang sedang memperhatikan Hanifa dan Maira.


Ricky menoleh ke mamahnya.


“Apa maksud Mamah?” tanya Ricky.


“Kalau orang melihat Hanifa dan Maira, mereka akan mengira Hanifa dan Maira adalah Ibu dan anak. Bukan pengasuh dengan anak asuhnya,” jawab Ibu Juwita.


“Kamu mencari perempuan yang mau menerima Maira, tapi kamu tidak sadar kalau perempuan itu ada di dekat kamu,” kata Ibu Juwita.


“Hanifa belum tau sepenuhnya tentang Maira. Yang ia tau hanyalah Maira anak Ricky, namun dibesarkan oleh Aida. Hanya itu saja. Ricky tidak pernah menceritakan semuanya kepada Hanifa,” kata Ricky.


“Ricky, ada yang berbeda dari perempuan dengan laki-laki,” kata Ibu Juwita.


“Kalau perempuan sudah memiliki anak di luar nikah, ia akan nampak cacat dihadapan semua orang. Dia akan sulit mendapatkan laki-laki yang mau menerimanya. Namun laki-laki jika punya anak di luar nikah, perempuan manapun juga tetap mau menerimanya,” kata Ibu Juwita.


Ricky menghembuskan nafasnya.


“Entahlah, Mah. Ricky belum berpikir sampai ke situ. Yang penting buat Ricky adalah bisa menghabiskan waktu bersama Maira,” kata Ricky.


“Dan untuk itu kamu butuh perempuan yang bisa mengurus Maira. Itu tandanya kamu membutuhkan istri untuk mengurus anakmu. Dan Mamah lihat hal itu ada di diri Hanifa,” kata Ibu Juwita.


“Ricky, Hanifa lebih pantas menjadi istrimu daripada sekedar menjadi pengasuh anakmu,” kata Ibu Juwita.


“Memang dia mau sama Ricky? Dia masih muda, Mah. Usianya baru dua puluh satu tahun. Sedangkan Ricky tiga puluh satu tahun. Beda usia kami sepuluh tahun. Dia pasti mencari laki-laki yang usia sepantaran atau di atas dia sedikit ,” kata Ricky.


“Astaga Ricky, kamu tuh kebanyakan bekerja sampai tidak tahu trend perempuan jaman sekarang,” kata Ibu Juwita.

__ADS_1


“Trend bagaimana?” tanya Ricky bingung.


“Perempuan jaman sekarang mencari laki-laki yang sudah mapan. Mereka tidak perduli jika laki-laki jauh lebih tua dari mereka, yang penting sudah mapan. Makanya jaman sekarang banyak pelakor, karena mereka mencari laki-laki mapan. Mereka juga tidak peduli itu suami orang atau bukan yang penting sudah mapan,” jawab Ibu Juwita.


“Tapi Hanifa bukan perempuan seperti itu, Mah,” kata Ricky.


“Mamah tau, makanya Mamah bilang ia pantas untuk menjadi istrimu dan juga menjadi ibu Maira,” ujar Ibu Juwita.


Ricky menghela nafas.


“Entahlah, Mah,” kata Ricky.


Ricky kembali memperhatikan Maira dan Hanifa. Namun sekarang pandangannya lebih tertuju kepada Hanifa. Perempuan berkerudung yang pertama kali bertemu dengannya di mall. Perempuan asing yang mau membantunya mence-boki anaknya. Padahal anaknya pup bukan pipis. Ricky menghela nafas.


Apakah benar ia jodohku? tanya Ricky di dalam hati.


Apakah aku harus menceritakan tentang Maira kepadanya? Bagaimana reaksinya jika aku menceritakan tentang Maira kepadanya?


Apakah ia akan takut kejadian Vivin akan terulang pada dirinya?


Entahlah biar waktu yang akan menjawab semuanya.


Tak lama kemudian Hanifa dan Maira kembali, keduanya nampak kehausan, kelelahan dan kepanasan.


“Minyum minyum minyum,” kata Maira.


Ibu Juwita memberikan Maira minum.


“Sudah mainnya, kasihan kakak sudah kecapean. Lagi pula mataharinya sudah terik sekali,” kata Ibu Juwita kepada Maira.


Ricky memperhatikan Hanifa, wajahnya memerah karena kena panas sinar matahari. Namun tidak mengurangi kecantikannya.


“Mendingan sekarang kita makan. Kakek sudah lapar,” kata Pak Agus.


“Mala uga lapal,” kata Maira.


Ibu Juwita mulai menggelar makanannya. Ada ayam goreng, ada pepes ikan, ada ikan asin, ada sosis goreng. Tidak lupa lalap, sambal dan kerupuk.


“Wah ada pepes ikan. Beli darimana? Perasaan Mamah tadi pagi tidak masak pepes ikan,” tanya Pak Agus.


“Itu bukan beli, tapi dari ibunya Hanifa,” jawab Ibu Juwita.


Pak Agus mencoba pepes ikan buatan ibunya Hanifa.


“Hmm, enak sekali,” puji Pak Agus.


“Ricky, kamu harus coba! Pepes ikannya enak sekali,” kata Pak Agus.


Ricky mengambil sedikit daging pepes ikan lalu memakannya.


“Betul, Pah. Enak sekali pepesnya,” ujar Ricky.


“Mala uga au oba,” kata Maira.


Ricky mengambilkan pepes ikan untuk Maira lalu disuapkan ke mulut Maira. Batita itu mengunyahnya.


“Enyak, au ajih,” kata Maira.


“Kakak suapi, ya,” kata Hanifa.


“Iya,” kata Maira.

__ADS_1


Hanifa mengambil makanan untuk Maira lalu menyuapi Maira. Ricky makan sambil diam-diam memperhatikan Hanifa. Sebetulnya selama ini Ricky suka memperhatikan Hanifa. Sebagai lelaki wajar jika ia tertarik melihat perempuan cantik. Namun Ricky sering menyadarkan dirinya, jika hubungannya dengan Hanifa hanyalah hubungan majikan dengan pegawainya. Tidak lebih dari itu!


Setelah selesai makan siang mereka pun pulang, karena Maira terlihat sangat lelah. Namun sebelum pulang mereka mampir dulu ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat dzuhur.


__ADS_2