
Ucapan Stevani membuat semua orang menatap sinis kearah Alea, dan memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terkecuali Carlos, dia malah menatap tajam kearahnya.
"Kenapa? apa ucapanku salah?" tanya Stevani.
"Aku percaya! kalau Alea itu seorang gadis baik-baik." Ucap Carlos.
"Apa tuan Carlos yakin?" tanyanya. "Untuk memastikan! apa tidak sebaiknya tuan Carlos membawa Alea ke-dokter?" Ucap Stevani yang terus menghasutnya.
"Cukup Stevani!" bentak Samantha yang sudah mulai merasa muak dengannya. "Tidak bisakah kau berhenti bicara, saat tidak ada orang yang meminta pendapatmu?" Lanjutnya.
"Aku hanya ingin memastikan! kalau istri kesayangan tuan Carlos ini memang benar-benar seorang gadis polos." Desisnya. Dia berjalan mengelilingi tubuh Alea dengan tatapan sinisnya.
Alea tertunduk, dan tak bisa berkata apa-apa. Dia mulai was-was dengan ucapan Stevani yang terus mendesak Carlos untuk membawanya ke-dokter.
Tidak ingin melihat Alea di-sudutkan seperti itu, Arthur pun menarik tangan Alea dan hendak membawanya menaiki anak tangga namun Carlos menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu!"
Arthur dan Alea pun menoleh kepadanya. Arthur tampak menggenggam erat tangan Alea, sehingga membuat Carlos dan yang lainnya menatap heran kepada mereka. Seketika Alea sadar saat melihat semua orang menatap sinis kearahnya, dengan cepat dia menepis tangan Arthur.
"Setelah aku pikir-pikir ucapan Stevani ada benarnya juga." Ucap Carlos tiba-tiba. "Tidak ada salahnya jika aku membawa Alea ke-dokter untuk diperiksa! aku yakin, kalau yang Stevani tuduhkan terhadap Alea tidak benar adanya. Bukan begitu Alea?" Carlos menoleh kearahnya.
"Bagaimana kalau yang dikatakan nyonya Stevani benar! apa yang akan tuan lakukan?" Ucapan Alea membuat semua orang tercengang.
"Kenapa kau berkata seperti itu? apa kau tidak sadar, kalau ucapan mu telah membuatku meragukan mu." Carlos mendekat lalu mengangkat dagu Alea dan mengunci pandangannya. "katakan padaku, kalau kau memang seorang gadis baik-baik yang tidak pernah melakukan hal aneh-aneh sebelum kita menikah!"
"A-aku..." Alea menggantung ucapannya di-tenggorokan.
"Aku apa?" sentak Carlos menatap dalam wajah cantik istri kecilnya.
__ADS_1
"Aku memang gadis baik-baik, tapi-..." Lagi-lagi Alea menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" tatapannya berubah menjadi tajam.
"Aku pernah mengalami kejadian pahit, tepat sebelum kita melakukan pernikahan." Alea mengumpulkan semua keberaniannya untuk berkata jujur. "Aku pernah di-perk*sa seseorang." Lanjut Alea.
Plaaakk...
Carlos langsung menamparnya sangat keras hingga membuatnya jatuh ke lantai. "Katakan siapa orang yang telah berani merenggut kesucianmu? akan aku habisi dia." Ucap Carlos sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Orang itu adalah-..." Arthur tidak sempat meneruskan ucapannya karena Alea mendahuluinya.
"Orangnya sudah meninggal!" Alea berusaha bangkit dan di bantu oleh Samantha. Arthur mengernyitkan keningnya mendengar pengakuan Alea. Dia pun bertanya-tanya, mengapa Alea tidak mengatakan yang sebenarnya kalau dia-lah yang telah merenggut kesucian Alea waktu itu dengan secara paksa.
"Tunggu! Arthur, tadi kau ingin mengatakan apa?" Carlos menatap kearahnya.
"Aku tahu kalau tuan Arthur itu sangat membenciku!" ucap Alea berusaha melindunginya. "tapi tuan Arthur tidak perlu bicara omong kosong di-depan tuan Carlos, hanya karena tuan ingin menjatuhkan ku." Lanjutnya.
Carlos menatap tajam keduanya secara bergantian.
"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya seakan-akan sedang ingin melindungiku! apa dia tidak sadar, ayah bisa saja murka dan menghabisinya." Batin Arthur. Dia menatap dalam wajah wanita cantik dan berkulit putih mulus yang ada di hadapannya.
"Aku rasa, kau itu bukan di-perk*sa. Tapi kau sengaja melakukannya agar aku tidak jadi menikahimu! iya kan?" tanyanya.
"Kenapa tuan Carlos menuduhku seperti itu? sebenci-bencinya aku menghadapi pernikahanku dengannya, aku tidak mungkin merelakan kesucianku pada seorang laki-laki yang belum meminangku." Batin Alea. Dia menatap nanar kepada Carlos.
"Penjaga..." Teriak Carlos, membuat beberapa penjaga di mansion itu berlari tunggang langgang menghampirinya. "Bawa dia, dan kurung didalam gudang." Titah Carlos. Samantha berusaha membela Alea dan melarang anak buah Carlos untuk membawa Alea. Namun dia tidak dapat mencegahnya karena para penjaga lebih menuruti perintah Carlos dari pada Samantha.
Rachel tampak kesal saat tadi Arthur mengatakan kalau dia-lah yang telah merenggut kesucian Alea. Dia tidak bisa membayangkan jika itu memang benar-benar terjadi. Rupanya ketampanan wajah Arthur telah berhasil memikat hati Rachel. Dan itulah alasan mengapa hingga saat ini dia belum pernah berpacaran, karena diam-diam ternyata dia telah mencintai kakaknya sendiri.
__ADS_1
Stevani merasa sangat puas. Karena dia telah berhasil mengungkap fakta sesungguhnya tentang Alea. Sebenarnya dia hanya asal bicara saja berkata seperti itu, tapi nyatanya Alea malah mengakui kalau dia memang sudah tidak vir*gin lagi.
Chamela tampak memperhatikan bahasa tubuh Arthur dan Alea. "Ada apa dengan mereka? kenapa sikap mereka seolah-olah sedang melindungi satu sama lain?" batinnya.
Carlos meminta anak buah yang masih standby bersamanya untuk menyusul Aleta keluar negeri. Rupanya Aleta sudah lebih dulu meninggalkan negara-nya untuk menghindari kejaran anak buah Carlos. Pantas saja Alea tidak pernah menemukan-nya saat beberapa kali mencoba untuk mencarinya.
"Dia sudah membawa lari uang ku, dan menjual anak gadisnya yang ternyata sudah tidak vir*gin padaku. Secara tidak langsung dia telah menipuku." Ucap Carlos. "Habisi saja wanita itu." Dia memerintahkan kaki tangannya untuk segera melakukannya.
Arthur mengikuti kedua penjaga yang sedang membawa Alea masuk kedalam gudang. Setibanya disana, dia meminta mereka untuk meninggalkannya bersama Alea.
"Kenapa kau melindungiku?" tanya Arthur menatap dalam kepadanya.
"Aku tidak melindungimu! aku hanya tidak ingin membuat nyonya Samantha bersedih jika dia mengetahui kelakuan bejat putra kesayangan, yang sering dia bangga-banggakan ini." Alea menatap sinis wajah Arthur.
"Jadi karena ini, dia berbohong!" batin Arthur menatap lekat wajah Alea. Seketika tatapannya turun ke bibir tipis Alea yang tampak terlihat begitu sangat menggoda. "Akh sial! warna lipstik bibirnya benar-benar telah memancing bi*rahiku." Lanjut Arthur dalam hatinya.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?" Alea perlahan mundur, untuk menghindari sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Untuk menjaga perasaan ibuku, kau mau mempertaruhkan kehidupanmu! apa kau tidak takut? karena sewaktu-waktu ayahku bisa saja menghabisimu." Ucap Arthur.
"Aku tidak takut! dan aku-pun tidak peduli jika ayahmu benar-benar membunuhku."
Ucapan Alea membuat Arthur terperangah. Kenapa dia mengatakan itu?
"Katakan, apa tujuanmu mengapa kau mendekati ibuku?" tanyanya.
"Dari awal aku menginjakan kaki di rumah ini, hanya nyonya Samantha-lah yang menyambutku dengan hangat." Ucap Alea. "Dan aku merasa sangat bersyukur, karena telah dipertemukan dengan orang sebaik dan setulus dia." Lanjutnya.
"Instingnya ternyata kuat! dia mampu membedakan mana yang tulus dan mana yang modus." Batin Arthur.
__ADS_1