
Arthur menatap tajam Alea. Belum hilang kekesalannya terhadap Alea karena semalam sudah meminta untuk mengakhiri semuanya, tiba-tiba kini dia dikejutkan lagi dengan rencana kepindahannya. "Apa-apaan ini? aku tidak bisa tinggal diam! Alea kau tidak bisa mencampakkan aku seperti ini." Batin Arthur merutuki-nya.
"Itu keputusan yang sangat bagus Alea. Dengan ini aku yakin, lambat laun Arthur pasti akan melupakanmu." Batin Samantha menatapnya.
"Selain itu, mulai besok dia juga akan bekerja sebagai sekretaris-ku di kantor." Ucap Carlos. Dia sengaja menempatkan Alea sebagai sekretaris-nya, dengan begitu setiap hari Alea akan menempel terus dengannya.
"Bagus! ternyata wanita ini sudah mulai berani menunjukkan taringnya. Aku tidak akan membiarkan dia merebut apa yang seharusnya menjadi hak-ku." Batin Chamela mendeleki Alea.
"Apa lagi ini? Alea kau benar-benar telah melukai perasaanku! ternyata kau lebih memilih untuk berada disamping ayah dan menjauhiku." Batin Arthur. "Baik aku ikuti permainanmu! jangan menyesal karena kau sendiri yang telah memulainya." Lanjut Arthur dalam hatinya, dengan tatapan yang begitu mematikan.
"Ayah, kurasa aku sudah siap untuk beradaptasi dan bekerja secara langsung di Bratajaya Corp." Ucap Arthur secara tiba-tiba dan membuat Carlos heran namun dia merasa senang.
"Apa kau serius?" tanya Carlos meyakinkan.
"Setiap ucapan yang sudah aku lontarkan dari dalam hati, pantang untuk ku ulur kembali. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah mengecewakan ayah." Ucap Arthur yang sekilas menoleh kepada Alea namun kemudian menatap kembali wajah ayahnya.
"Ck. Wanita munafik! dulu sok-sokan menolak tuan Carlos sebagai suaminya." Batin Stevani.
"Ayah semakin lengket saja dengan wanita ja*lang ini. Aku harus memikirkan cara agar ayah membencinya." Batin Rachel menatap sinis kearahnya.
"Kenapa ibu cantik mau pindah? kalau ibu cantik pindah, nanti siapa yang mau menemani Nio main bola?" tanya Antonio disela-sela makannya.
"Nio, ibu sudah bilang. Kalau dia itu bukan ibu kamu, kenapa kau terus memanggilnya ibu." Protes Stevani terhadap buah hati kecilnya.
"Ayah meminta Nio untuk memanggil kak Alea ibu." Ucap balita yang masih berusia tiga tahun itu.
__ADS_1
Alea tersenyum mendengar pertanyaan sahabat kecil yang selalu menemani hari-harinya di-mansion itu. Dia lebih memilih untuk diam tak menjawab pertanyaannya.
"Memangnya apa yang salah dengan itu? Alea adalah istriku dan Antonio adalah putraku. Jadi wajar saja jika Antonio memanggil Alea dengan sebutan ibu." Sahut Carlos menanggapi ucapan Stevani.
"Alea mungkin bisa merebutmu dariku! tapi tidak dengan Antonio putra kesayanganku." Stevani mulai berani melawan Carlos.
"Ralat kembali ucapanmu? bukan dia yang merebutku dari kalian! tapi aku yang tertarik dengannya, sehingga aku menjadikannya istriku." Ujar Carlos yang sekilas menoleh kearah Alea. Tak kunjung mendapatkan jawaban Carlos pun mengulangi ucapannya. "Ku bilang tarik kembali ucapanmu!" Bentaknya.
"I-iya tuan. Alea tidak merebutmu, tapi kau yang menginginkannya." Ucap Stevani sedikit gelagapan. "Sial! kenapa lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan diri, dan selalu saja membuat tuan Carlos marah. Lambat laun tuan Carlos pasti akan membuangku jika aku terus seperti ini." Batin Stevani merutuki dirinya sendiri.
"Arthur kau akan menggantikan posisi Stevani untuk menghandle anak perusahaan." Ucapan Carlos spontan membuat Stevani sangat terkejut. Bagaimana bisa Carlos mengambil keputusan secepat itu tanpa berkordinasi dengannya terlebih dahulu.
"Aku tidak setuju!" Ucap Stevani dengan nada yang begitu nyaring seraya berdiri dari duduknya. "Mana bisa tuan Carlos mengambil keputusan semudah itu tanpa memperdulikan bagaimana perasaanku." Lanjutnya.
Melihat itu Carlos beranjak dari duduknya lalu menghampiri Stevani kemudian menamparnya.
Suara tamparan itu terdengar begitu keras, sehingga membuat pipi Stevani memerah dengan seketika dan membuatnya jatuh ke lantai. Antonio yang menyaksikan kejadian itupun langsung menangis melihat ibunya ditampar dihadapannya oleh ayahnya sendiri.
"Ayah jahat!" Antonio mendorong Carlos dengan tenaganya, yang tentu saja itu tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tubuh kekar Carlos yang gagah perkasa.
"Laura bawa Antonio ke-kamarnya!" teriak Carlos kepada asisten rumahnya.
"Tidak, Nio tidak mau pelgi! ayah jahat, Nio tidak akan membialkan ayah menyakiti ibu." Ucap Antonio seraya melebarkan kedua tangannya melindungi ibunya dari amarah Carlos.
Suasana yang tadinya terlihat sedikit hangat kini berubah menjadi cekam, ketika lagi-lagi Carlos melakukan kekerasan terhadap istri yang menyinggung perasaannya.
__ADS_1
"Cukup ayah. Biarkan Stevani yang menghandle anak perusahaan! lagi pula aku tidak tertarik dengan Bratajaya Three Corp, karena aku lebih tertarik dengan perusahaan yang sekarang ayah pimpin." Ucap Arthur, walaupun dia membenci Stevani, tapi dia tidak suka ayahnya melakukan kekerasan terhadap seorang wanita.
"Apa maksudmu? ayah masih sanggup memimpin perusahaan, dan kau-..." Ucapannya terputus karena Arthur memotongnya.
"Ayah jangan salah paham! ayah bisa menjadikan aku manager di Bratajaya Corp." Ucap Arthur membuat ayahnya tertegun sejenak.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin terjun langsung kelapangan, padahal sebelumnya kau tidak mau walaupun ayah memaksamu?"
"Hati seseorang bisa saja tiba-tiba berubah, bukan begitu Alea?" Arthur menatap sinis kepadanya. Sementara Alea yang sedari tadi hanya diam, terkejut ketika Arthur menyebut nama dan meminta pendapatnya.
"Hakh? emm, iya." Ucapnya seketika, lalu menunduk dan lebih memilih untuk tak melakukan kontak mata dengan Arthur.
Antonio terus berontak ketika Laura dan beberapa pelayan yang lainnya menarik tangannya untuk membawa Antonio masuk kedalam kamar. Melihat itu Alea menjadi merasa iba, diapun menghampiri Antonio lalu membujuknya.
"Antonio sayang! kita ke kamar yuk?" Ajak Alea dengan nada bicara yang terdengar begitu lembut.
"Tidak mau! Nio ingin tolong ibu. Ayah jahat, ayah tidak sayang sama Nio dan ibu." Lirih Antonio yang berderaian air mata.
"Nio, kamu itu masih kecil! kau tidak akan bisa memahami permasalahan orang dewasa. Apapun yang kau tuduhkan terhadap ayahmu, percayalah itu semua tidak benar adanya. Aku yakin kalau ayahmu pasti sangat menyayangimu dan juga ibumu." Ucap lembut Alea seraya menyeka air mata Antonio, yang bercucuran mengalir deras membasahi pipi tembemnya.
Alea menjadi pusat perhatian ketika dia berhasil menenangkan hati seorang anak kecil, yang tadinya begitu marah dan terus berontak merutuki ayahnya. Carlos terpukau melihat aksi Alea yang menurutnya begitu sangat menakjubkan.
Carlos mendekati Alea dan Antonio, lalu mengusap lembut pucuk kepala buah hatinya. "Maafkan ayah! ayah tidak bermaksud untuk menyakitimu." Ucap Carlos yang berjongkok menyeimbangi ketinggian putra kecilnya.
"Ayah sudah menampal ibu. Ayah juga halus minta maaf pada ibu." Ujar Antonio.
__ADS_1
Carlos menoleh kepada Stevani yang berdiri tidak jauh dibelakangnya. "Sesuai dengan apa yang Arthur katakan, kalau kau yang akan tetap menghandle Bratajaya Three Corp." Ucap Carlos tanpa mengindahkan keinginan sang buah hati untuk meminta maaf kepada ibunya.