
Alea berjalan menaiki anak tangga satu persatu dan di-ekori oleh pria yang sedang membawa paper bag Alea menuju kamarnya. Saat sudah sampai didepan pintu kamarnya Alea menoleh kebelakang dan meminta Leon untuk meninggalkannya.
"Terima kasih, Karena kau sudah mengantarkan aku." Ucap Alea. Dia pun meminta Leon untuk pergi karena dia ingin beristirahat. Namun bukannya pergi pria itu malah terus masuk kedalam kamar untuk menaruh paper bag milik Alea.
"Leon, kau tidak bisa masuk kedalam kamarku. Sekarang cepat pergi dari sini kalau tidak aku akan-..." Alea menggantung ucapannya dan membulatkan kedua matanya saat pria itu membuka topi yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Akan apa?" tanya Arthur dengan sorot mata yang begitu mematikan.
"Tu-tuan Arthur..." Gumamnya terlihat gelagapan. "Habislah kau Alea!" Batin Alea merutuki dirinya sendiri.
Dia perlahan mundur saat Arthur berjalan semakin dekat kearahnya. "Maafkan aku tuan! soal ucapan aku tadi di-mobil, aku hanya bergurau, aku tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan itu." Ucap Alea berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya terlihat jelas jika dirinya sedang ketakutan.
"Oya?!" Memangnya apa saja yang tadi kau katakan padaku? coba katakan sekali lagi, karena aku ingin mendengar candaan itu lagi." Arthur terus berjalan mendekati Alea sehingga punggung Alea kini kepentok dinding sehingga membuatnya tidak bisa melarikan diri dari Arthur lagi. Arthur menyanggakan tangan kanannya disamping kepala Alea yang sudah lebih dulu bersandar di-tembok.
"Ca-candaan yang mana? aku lupa." Alea tersenyum kaku untuk menutupi rasa takutnya melihat bola mata Arthur yang tidak seperti biasanya.
"Candaan terakhir, sebelum akhirnya kita sampai ditempat ini." Ucap Arthur dengan tatapan dinginnya.
Alea berpura-pura sedang mengingat kembali ucapannya. Padahal sebenarnya dia tahu betul akan ucapan terakhirnya itu. Bukan hanya Arthur! bahkan laki-laki manapun pasti akan sangat marah jika di-judge seperti itu. Apalagi seorang Arthur yang memiliki sifat tempramental.
"Apa begitu sulit untuk mengingatnya?" tanya Arthur, dia pun menghimpit tubuh Alea lebih dekat lagi.
"Aku sudah meminta maaf. Jadi tolong maafkan kesalahanku, aku berjanji tidak akan bicara yang tidak-tidak lagi tentangmu." Alea tampak memohon.
__ADS_1
Namun Arthur yang sekarang bukanlah Arthur yang dulu. "Kau telah membangkitkan kembali sisi jahatku! padahal selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi seorang laki-laki yang baik untukmu. tapi apa yang kau lakukan padaku? mulut manis ini telah berhasil melukai perasaanku!" Ucap Arthur seraya mengusap lembut bibir Alea dengan ibu jarinya, sehingga membuat Alea harus susah payah menelan saliva nya.
"Tolong pergi dari sini." Tubuh Alea bergetar hebat saat tangan Arthur perlahan bergerak menyusuri setiap area sensitif tubuhnya.
"Akan aku tunjukkan padamu, sejahat dan sekejam apa diriku ini!" Arthur menarik kasar tangan Alea lalu menghempaskan tubuhnya kearah tempat tidur.
"Tuan Arthur mau apa?" tanya Alea, saat melihat Arthur melemparkan jas ke sembarang arah dan melonggarkan dasi yang melingkar di-lehernya.
"Sekeras apapun aku mencoba untuk tetap bersikap baik terhadapmu, kau tidak akan pernah bisa menghargaiku! dan selamanya aku akan di cap buruk olehmu. Lalu untuk apa aku besikap baik lagi kepadamu? kau bahkan tak mau perduli dengan perasaan yang aku miliki untukmu." Decak Arthur. Dia pun mendekati Alea lalu menindih tubuhnya.
Alea berontak dan terus memukul dada bidang pria yang ada dihadapannya. Ternyata ucapan Alea kini telah benar-benar menyakiti hati seorang Arthur Dhanurendra Bratajaya.
"Ku mohon stop! hentikan tuan..." Teriaknya. Namun apa perduli Arthur yang sudah di-cap jelek oleh wanita yang ada dihadapannya sekarang. Saat mendengar ucapan Alea yang mengatakan kalau Leon itu terlihat seperti seorang laki-laki baik-baik, sementara Alea ngejudge dirinya sebagai laki-laki pengobral cinta, itu telah melukai harga dirinya.
Tubuh Alea meremang, saat tangan Arthur bermain dengan memutar-mutar serta bergerak maju mundur.
"Aahhh... Tolong stop tuan." Pinta Alea, dengan nada suaranya yang terdengar sangat seksi sehingga membuat Arthur semakin tertarik untuk terus mengaduk-aduk isi didalamnya.
Saat merasakan kalau area inti Alea semakin kuat menghimpit jari tangannya, Arthur pun semakin mempercepat gerakan tangannya sehingga keluarlah cairan hangat yang dari area inti Alea.
Arthur menyunggingkan senyumnya ketika berhasil membuat Alea lemas tak berdaya dengan nafas tak beraturan akibat ulahnya. Dia mengambil sebuah gelang yang sudah dipersiapkannya sebelum melakukan penyamaran sebagai Leon.
"Apa yang akan tuan lakukan?" tanya Alea ketika Arthur hendak memakaikan gelang itu padanya.
__ADS_1
"Anggap saja ini hukuman untukmu, karena kau sudah berani menodai ketulusan cintaku." Ujar Arthur lalu menekan tombol kunci di-gelang itu, sehingga hanya dialah yang mampu membuka kuncinya kembali.
"Cinta?! apa ini yang kau sebut cinta? aku bahkan tidak yakin kalau orang sepertimu memiliki hati." Bentak Alea yang merasa sangat marah dengan apa yang tadi sudah dilakukan Arthur terhadap tubuhnya sehingga membuat emosinya kini meluap-luap.
"Ucapanmu benar-benar tepat! aku memang sudah tidak memiliki hati, maka dari itu jangan pernah mengiba kepadaku lagi, karena sedikitpun tidak akan ada belas kasihan untuk wanita sepertimu." Sentak Arthur. Dia pun mendorong tubuh Alea dengan sangat kasar lalu kemudian pergi.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Alea menangis tersedu-sedu setelah kepergian Arthur.
Arthur berjalan menuju mobil yang biasanya dipakai oleh Leon dan berhenti tepat disampingnya.
"Aaargghhh..." Arthur tampak frustrasi sehingga hilang kendali dan meninju kaca mobil yang ada disampingnya.
Bugh...
Kaca mobil itu pecah, sementara tangan Arthur kini berdarah. "Rasa sakit di-hatiku mengalahkan luka fisik ditanganku." Gumam Arthur, sehingga diapun kembali memukul mobil itu sehingga membuat tangannya kini berlumuran darah.
*"Ya, kau memang terlihat sosok laki-laki yang baik, berbeda dengan tuan Arthur! aku yakin hobinya selain berolah-raga, juga menggombali setiap para wanita."*
Kini Ucapan Alea terus terngiang-ngiang dikepala Arthur. Bagaimana bisa Alea berpikir seperti itu?! Sedangkan wanita yang selalu ada didalam hati dan pikiran Arthur hanya ada Alea, Alea dan Alea. Dia bahkan mampu membuat Arthur selalu jatuh cinta lagi dan lagi, tiap kali Arthur melihat wajah cantiknya. Padahal sebelumnya Arthur tidak pernah merasakan perasaan yang begitu dalam seperti apa yang dirasakannya terhadap Alea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah lebih dari 60 episode nih. tolong dukung terus othor ya🙏😊 dengan cara like, coment & vote nya juga. Terima kasih buat readers yg selalu setia nungguin kelanjutan ceritanya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Jangan lupa hadiahnya juga ya😘😘😘😘😘😘🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
__ADS_1