Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
24 cemburu?


__ADS_3

Alea segera membuka pintunya.


"Sedang apa saja kau ini? mengapa begitu lama membukanya." Carlos tampak sedikit kesal.


"Ma-maaf tuan. Tadi aku sedang dikamar mandi." Jawabnya berbohong.


"Malam ini kau terlihat begitu sangat cantik." Ucap Carlos dengan tatapan mesumnya seraya mendekati Alea.


"Ini sudah malam, aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Jika tidak ada yang ingin tuan bicarakan, apa tuan bisa pergi?" Ucap Alea dengan hati-hati.


"Aku ini suamimu! mengapa kau mengusirku."


"Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk seperti itu."


"Mulai sekarang, aku tidak akan mempermasalahkan lagi orang yang telah merenggut mahkota-mu yang seharusnya menjadi milikku." Ucap Carlos berpura-pura. Tentu saja dia tidak akan melepaskan orang itu begitu saja jika sudah mengetahui siapa orangnya.


"Sungguh tuan?"


"Ya. Tapi aku harus menghapus jejak noda yang orang itu tinggalkan di-tubuhmu."


"Ma-maksud tuan?" Alea mulai merasa was-was mendengar ucapannya. Sementara itu tanpa sepengetahuan Alea, Arthur sengaja menguping pembicaraan mereka. Ternyata Arthur tidak pergi ketika Alea menyuruhnya untuk segera pergi.


"Dimana saja letak laki-laki itu menyentuhmu?" tanya Carlos seraya meraba-raba wajah Alea dan mengusap bibirnya dengan lembut. Melihat itu, Arthur mengepalkan kedua tangannya. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Carlos itu suami Alea.


Alea tampak terlihat sedikit ketakutan. "Tu-tuan mau apa?"


"Aku benci, ketika kau bertanya seperti itu." Ucap Carlos, namun masih bernada lembut. "Aku ini suamimu, dan malam ini aku ingin sekali merasakan hangatnya tubuhmu." Carlos mendekati wajah Alea, lalu menciumnya.

__ADS_1


Dia mengigit ujung bibir Alea agar mau membuka mulut. Dan ketika mulutnya terbuka, dengan cepat Carlos memasukan lidah dan bermain-main di-dalamnya. Kedua benda kenyal itu saling bertaut, Carlos menghisap lidah Alea berkali-kali. Alea tampak pasrah, meskipun air mata mengalir deras membasahi pipinya.


Arthur semakin geram melihat itu. Ingin rasanya dia menghampiri ayahnya dan menghajarnya dengan membabi buta. Namun akal sehatnya masih berfungsi. Dia sadar akan posisinya saat ini yang hanya berstatus sebagai anak tiri dari Alea. Bukankah hal yang wajar jika Carlos melakukan itu kepada Alea, yang notabenenya berstatus istri sah dari Carlos.


Carlos merebahkan tubuh mungil Alea di-tempat tidur. Namun saat dia ingin kembali menciumnya, Alea mengatakan sesuatu diluar dugaannya.


"Tuan, kenapa tuan tidak membunuhku saja?" Ucap Alea dengan tatapan sayu, serta air mata yang tidak mau berhenti dan terus mengalir dipelupuk matanya.


Carlos tercengang mendengar perkataannya. "Kenapa kau bicara seperti itu? apa kau benar-benar ingin mati?" Carlos seakan menantangnya.


"Untuk apa aku hidup? kalau kehidupan yang aku jalani tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku ini manusia, kenapa semua orang selalu mempermainkan kehidupanku seolah-olah aku ini boneka."


"Aku hanya ingin membuatmu mengerti, kalau aku sangat-sangat menginginkan-mu. apa aku salah?" Ujar Carlos.


"Dengan cara memaksa gadis sepertiku untuk menikah dengan tuan Carlos, apa menurut tuan Carlos itu suatu tindakan yang benar?" ujar Alea. "bayangkan jika seandainya posisinya terbalik, kalau kejadian yang sekarang aku alami, dialami juga oleh putri tuan."


"Stop! jangan diteruskan." Bentak Carlos. "Omong kosong! ucapanmu hanya membuat gendang telingaku terasa sakit saja. Lagi pula Rachel itu terlahir dari keluarga yang bergelimangan harta. Jadi tidak mungkin aku memaksanya untuk menikah dengan pria kaya."


"Untuk apa aku menanyakan hal yang menurutku sama sekali tidak penting!" ucap Carlos. "Sekarang aku ingin bertanya untuk yang terakhir kalinya, siapa orang yang telah menodai-mu?"


"Kenapa tuan Carlos selalu menanyakan hal itu? tidakkah sedikit saja tersirat rasa iba dihati tuan kepadaku? asal tuan tahu, betapa sulitnya aku melupakan kejadian itu? kejadian dimana seorang pria asing merenggut kesucianku dengan cara paksa, sehingga menyisakan trauma yang sangat mendalam dihatiku, selama ini."


Arthur menyandarkan kepalanya di-dinding. dia baru sadar akan kesalahannya. Bahkan hingga saat ini dia belum pernah meminta maaf kepada alea atas kesalahan yang pernah dia lakukan sebelumnya. "Aku berjanji! aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat kepadamu." Batin Arthur.


"Kata-katamu membuatku merasa muak!" Carlos keluar dari kamar Alea dengan raut wajah yang kesal.


Alea duduk di-tepi ranjang dan menundukkan kepalanya. "Hiks...Hiks..." Alea menangis tersedu-sedu. Arthur pun masuk lalu duduk di-sampingnya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Arthur tiba-tiba.


Perlahan Alea mengangkat kepala menoleh kesamping. Seketika dia langsung mengusap air matanya. "Tolong pergi dari sini! biarkan aku sendiri." Pintanya.


"Menangis-lah jika memang kau ingin menangis. Aku siap mendengar semua keluh kesah-mu." Ucap Arthur. "Aku minta maaf, karena sudah menghancurkan hidup-mu." Ucap Arthur terdengar sangat tulus.


"Bisakah kau tinggalkan aku sendiri? aku mohon." Lirih Alea dengan suara yang bergetar, dia tak kuasa menahan air matanya hingga kembali mengalir deras.


Namun bukannya pergi, Arthur perlahan menarik tangan Alea lalu mendekap tubuhnya. Alea terperangah, tapi perlahan dia melingkarkan tangan di pinggang Arthur lalu menenggelamkan wajah di-dada bidang-nya. Arthur mengusap lembut kepala Alea dengan sentuhan hangatnya. Hingga Alea merasa nyaman saat berada di-pelukannya.


Cukup lama mereka berdiam diri, dengan posisi berpelukan seperti itu.


Arthur mengusap lembut air mata Alea, setelah dia melepaskan pelukannya. "Aku berjanji! mulai saat ini, aku akan selalu ada untukmu." ucap Arthur. "Ini sudah larut, sebaiknya kau tidur." Arthur merebahkan tubuh Alea lalu menyelimuti tubuhnya.


*


bayangkan jika seandainya posisinya terbalik, kalau kejadian yang sekarang aku alami, dialami juga oleh putri tuan.


bayangkan jika seandainya posisinya terbalik, kalau kejadian yang sekarang aku alami, dialami juga oleh putri tuan.


Ucapan Alea kini terngiang-ngiang di-pikiran Carlos. "Gadis itu, selalu saja membuatku merasa kesal." Gerutu Carlos seraya berjalan menuju kamar Chamela.


"Ada apa tuan Carlos? apa istri kecil-mu itu tidak mau melayani-mu lagi?" tanya Chamela.


"Seharusnya aku tidak menikahinya." Sahut Carlos.


"Kenapa tidak kau ceraikan saja, istri yang tidak berguna itu? percuma juga dia tinggal disini jika tak mampu memuaskan semua has*ratmu."

__ADS_1


"Aku masih membutuhkannya." Ucap Carlos.


"Sebenarnya aku kecewa padanya! karena diam-diam ternyata dia sudah mengalihkan separuh aset kekayaan-nya kepada Arthur. Namun aku harus tetap bersikap baik, untuk mencuri perhatian-nya. Karena separuh dari kekayaan yang tersisa harus menjadi milik Rachel seutuh-nya." Batin Chamela.


__ADS_2