Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
42 wanita yang malang


__ADS_3

Carlos dan Alea sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Carlos diam-diam mengamati wajah Alea yang duduk disampingnya.


"Wajahmu kenapa?" tanya Carlos seraya memegangi dagu-nya.


"Aku... Aku..." Alea bingung harus menjawab apa.


"Aku apa? bicara yang benar." Sentaknya.


"Ini tuan, tadi aku... Kejedot besi tahanan." Ujar Alea sekenanya.


Jawaban Alea membuat Carlos menyunggingkan senyumannya. "Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab pertanyaan dariku."


"Maaf tuan. Tapi kepalaku memang kejedot besi tahanan, makanya sedikit memar." Jawab Alea berusaha meyakinkan. Namun Carlos tidak sebodoh itu.


"Andai saja kau mau menerimaku sebagai suami mu, aku pasti akan melindungimu." Ucap Carlos seraya membelai mesra pipi Alea. Dia tak perduli walaupun dimobil itu ada sopir pribadinya yang sedang mengendalikan kemudi. Carlos hendak mencium Alea, namun Alea memalingkan wajahnya kearah kaca jendela mobil.


Kurang lebih sekitar tiga puluh menitan mereka sudah sampai dirumah sakit. Namun Alea tetap dalam pengawasan para petugas kepolisian yang mengekorinya dari belakang. Semua mata tertuju kepada Alea yang masih mengenakan baju tahanan. Bahkan beberapa dari mereka menggunjinginya.


Tibalah Alea diruang VIP tempat dimana Arthur dirawat. Semua mata menatap sinis kepada Alea, saat pertama kali dia membuka pintu itu.


"Alea stop! sebaiknya kau diam disitu. Jangan dekat-dekat dengan kak Arthur." Sentak Rachel saat Alea ingin mendekati Arthur.


"Kak Samantha, kita harus pantau terus gerak-geriknya. Bisa saja dia berniat buruk kepada Arthur." Stevani mulai mengompori.


"Tuan Arthur itu adalah satu-satunya orang yang akhir-akhir ini peduli sekali kepadaku! mana mungkin aku berniat untuk mencelakainya." Ujar Alea.


"Bisa saja kau itu menyimpan dendam kepada Arthur. Karena saat itu Arthur menjebakmu dan merekayasa seolah-olah kau sedang tidur dengan laki-laki lain." Ucap Chamela.


"Kenapa nyonya Chamela selalu melempar batu sembunyi tangan? bukankah sebenarnya nyonya sendiri yang mempunyai niat buruk terhadap tuan Arthur." Ucapan Alea membuat Samantha dan Stevani menohok.


"Jaga ucapanmu! berani sekali kau menuduh ibuku seperti itu." Bentak Rachel.


"Aku tidak menuduh. Tapi itu faktanya." Ujar Alea.


"Apa buktinya kalau ibuku memang punya niatan buruk kepada kak Arthur?" tanyanya, namun Alea hanya diam saja, karena dia sendiri memang tidak memiliki bukti apapun. "Jawab? kenapa diam saja?"


"Aku tidak mempunyai buktinya."

__ADS_1


Plaakkk.


Rachel langsung menamparnya. "Kau tidak mempunyai bukti apa-apa, tapi kau berani sekali menuduh ibuku. Dasar wanita tidak tahu malu." Maki nya.


"Aku datang kesini bukan untuk berdebat dengan kalian! tapi aku ingin melihat keadaan tuan Arthur." Ucap Alea. "Aku mohon, ijinkan aku untuk mendekatinya." Alea memohon agar Samantha mengijinkannya.


"Aku sebenarnya tidak ingin melihat wajahmu disini, jika saja Arthur tidak bergumam menyebut nama mu." Ucap Samantha.


"Tuan Arthur bergumam menyebut namaku?" Batin Alea bertanya-tanya. Alea mendekati Arthur dan menatapnya. Perlahan dia memberanikan diri meraih tangan Arthur dan menggenggamnya.


"Tuan Arthur, aku mohon... Tolong sadarlah! dan katakan pada semua orang kalau aku tidak bersalah. Hiks... hiks..." Alea menangis seraya mencium punggung tangan Arthur sehingga air matanya menetes dan membasahi tangan Arthur.


Lagi-lagi jari-jemari tangan Arthur bergerak, dan Alea pun merasakannya. "Tuan Arthur." Alea tersenyum. "Aku yakin, kalau tuan Arthur bisa mendengar ucapanku. Tuan tolong sadarlah? aku berjanji akan memaafkan semua kesalahan mu, asal kau segera sembuh."


"Semua kesalahanmu? jadi kau benar-benar menyimpan dendam terhadap Arthur?" Lagi-lagi Stevani mengompori Samantha.


"Tidak! bukan itu maksudku." Ujar Alea melakukan pembelaan.


"Sudah cukup!" Bentak Samantha. "Pak polisi, tolong segera bawa dia pergi." Pinta Samantha kepada para petugas.


Alea kembali dibawa petugas polisi. Namun Carlos tidak mengetahuinya, karena dia sedang menerima panggilan telepon diluar.


"Nongol lagi tu anak."


"Iya. Berarti Carlos yang dimaksud itu bukan tuan Carlos Bratajaya Corp. Melainkan orang yang berbeda."


"Mana mungkin juga dia itu putri dari tuan Carlos Bratajaya. Masa iya, Putri dari pengusaha terkaya masuk penjara."


Zelia langsung memeluk erat tubuh Alea. "Apa kau baik-baik saja?"


Alea mengangguk pelan. Namun tiba-tiba Molly menarik tangannya lagi. "Aww..." Pekiknya.


"Molly, sudah cukup! apa yang ingin kau lakukan pada Alea? tidakkah sedikit saja kau berempati kepadanya."


"Aku ingin melanjutkan permainan yang tadi. ck ck ck..." Molly dan teman-temannya cekikikan. Dia pun memaksa Alea untuk membuka bajunya, tentu saja Alea menolak. "Gadis ini, sepertinya memang suka sekali dikasari." Ujar Molly, dia pun kembali membuka paksa bajunya hingga kini terlepas dari tubuh Alea. Saat Molly ingin melepas paksa celana tahanan yang dikenakan Alea, Alea menendangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur.


"Ckh. Berani-beraninya kau..." Molly dan teman-temannya pun beramai-ramai ingin melucuti semua pakaian yang dikenakan Alea sehingga membuatnya menangis histeris. Zelia tidak bisa berbuat apa-apa, karena kedua tangannya di pegangi oleh anak buah Molly dan mulutnya pun dibungkam.

__ADS_1


"Pak, saya ingin bertemu dengan Alea." Ucap Carlos.


"Maaf tuan Carlos. Bukannya tadi anda sudah bertemu dengan Alea."


"Sebentar saja pak. Ini sangat penting."


"Baik. Kalau begitu mari ikut dengan kami." Ucap polwan kepada Carlos.


Namun saat mendekati lapas Alea, Carlos dan polwan itu disuguhkan dengan pemandangan yang tak biasa. Carlos menendang keras jeruji besi itu sehingga membuat semuanya tiba-tiba diam.


"Pria itu!" Semua mata terperangah melihat sosok pria berbadan kekar itu berdiri dihadapan mereka.


"Hiks.. Hiks..." Alea tertunduk tak henti-hentinya menangis.


"Alea..." Zelia langsung menutupi tubuh Alea dengan kaos yang sudah dilepas paksa tadi oleh Molly.


Carlos mengutuk semua perbuatan perempuan itu kepada Alea. Terlebih kepada perempuan berambut pirang yang tadi dilihatnya sedang membuka paksa pakaian Alea. Rasanya dia ingin sekali menghajar perempuan itu, namun dia berusaha menahan amarahnya karena tak ingin wibawanya jatuh karena memukul seorang wanita, dihadapan mereka.


"Siapa dia?" bisik salah satu dari mereka.


"Bodoh! dia itu tuan Carlos Bratajaya. Masa kau tidak mengenalnya." Jawab salah satunya.


"Aku memang tahu namanya, tapi sebelumnya aku tidak pernah melihat wajahnya." Ujarnya lagi. "Ternyata dia tampan dan gagah ya." Ucapnya dengan polos.


"Dasar bodoh! ini bukan saatnya untuk mengagumi ketampanannya. Kau lihat? bagaimana sorot matanya, yang terlihat penuh dengan amarah."


"Ya. Kau benar."


Melihat kejadian itu, Carlos tidak mau ambil resiko. Dia pun segera membebaskan Alea, karena walau bagaimanapun Alea itu adalah istrinya.


"Kau masuk duluan, dan tunggu aku didalam mobil. Ingat jangan kemana-mana!" Ucap Carlos. Dia pun kembali masuk kekantor polisi.


"Pak, aku juga ingin membebaskan salah satu dari tahanan itu."


"Maaf tuan. Kalau anda ingin membebaskannya, sepertinya itu tidak mungkin."


"Kenapa pak?" tanya Carlos.

__ADS_1


"Karena dia sudah diberikan hukuman seumur hidup."


"Tolong saya pak. Saya akan menjamin kalau dia tidak akan melakukan kesalahan apapun lagi."


__ADS_2