
Satu masalah pergi, datang masalah yang lainnya lagi. Karena tiba-tiba Arthur masuk, saat dia tahu kalau ayahnya baru saja keluar dari kamar itu.
Bruaak.
Arthur mendorong tubuh Alea sedikit keras kearah almari dan menyandarkannya di sana.
"Apa yang tuan lakukan?" Alea sedikit syok dengan yang di lakukan oleh anak Carlos, yang notabenenya anak tirinya itu.
"Tinggalkan ayah ku! dan aku akan memberikan apapun yang kau inginkan." Ucap Arthur seraya menyandarkan tangannya di kedua sisi kepala Alea.
"Aku tidak bisa! walaupun aku ingin sekali melakukannya." Jawab Alea.
Arthur mendengus kesal, mendengar ucapannya. "Berapa jumlah uang yang kau inginkan? aku akan memberikannya. Tapi dengan syarat! pergi sejauh mungkin dari kehidupan ayah ku, karena aku tidak ingin melihat keberadaan mu lagi, disini."
Merasa tidak ingin mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Arthur, Alea berusaha untuk menghindarinya.
"Mau kemana kau?" Arthur menarik tangannya secara kasar.
"Lepaskan aku tuan." Alea berusaha melepas cengkraman Arthur.
"Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kau mau menuruti keinginan ku untuk pergi dari sini."
"Sudah ku katakan, aku tidak bisa melakukannya."
"Baik, kalau kau tetap bersi keras ingin bertahan di rumah ini. Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka." Jelas Arthur bernada ancaman.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Samantha memergoki Arthur dan Alea di kamar itu. Dia menatap heran kepada Arthur. "Arthur, menjauhlah dari nya! dia itu istri dari ayah mu. Tidak sepatut-nya kau bersikap seperti itu kepadanya."
Arthur mundur, sedikit menjauhi Alea. Arthur tidak ingin ibunya tahu, kalau sebelumnya dia sudah pernah bertemu dengan Alea.
Alea menoleh kepada Arthur dan ibunya secara bergantian. Hingga dia pun memilih untuk menghindari keduanya. Alea langsung masuk ke kamarnya. Dia merasa sedikit tertekan dengan ancaman Arthur tadi. Haruskah dia pergi dari rumah itu? tentu dia tidak mungkin melakukannya! atau kali ini Carlos akan benar-benar menghukumnya.
Alea menghampiri beberapa pelayan yang sedang memasak di dapur, untuk mempersiapkan makan malam. Saat Alea hendak membantu memotong sayuran, pelayan itu melarangnya. "Jangan nona!"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? aku hanya ingin membantu?" Alea sedikit heran.
"Nona Alea duduk saja di meja! nona tidak perlu membantu kami. Kami tidak ingin tuan besar marah."
Alea duduk di meja. Dia merasa sangat bosan saat tak ada satu orang pun yang bisa dia ajak bicara, walaupun rumah mewah itu ramai berpenghuni. Namun tiba-tiba saja Arthur datang lalu duduk tepat di depannya yang hanya terhalang oleh meja makan di sana.
"Bisa tolong buatkan aku coklat panas." ucap Arthur, seraya memainkan gadget nya.
"Baik tuan muda." Sahut salah seorang pelayan yang bekerja di mansion itu.
"Bukan kau, tapi dia..." Arthur menunjuk tepat di wajah Alea.
Seketika kedua pelayan yang ada di sana pun saling menatap satu sama lain. Mereka tak habis pikir! kenapa Arthur meminta Alea yang membuatnya.
"Kenapa diam saja?" tanya Arthur melihat Alea yang hanya bengong menatapnya. "bagi ayahku, kau memang istrinya. Tapi bagiku, kau itu bukan siapa-siapa! bagi ku, kau itu setara dengan mereka." Ucap Arthur, menoleh kepada para pelayannya.
Alea mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
***
Carlos baru saja pulang, setelah melakukan perjalanan bisnis di kota selama beberapa hari. Kepulangannya di sambut oleh anak-anak dan istri-istri nya, kecuali Alea.
"Ayah..." Rachel dan Antonio memeluk erat sosok laki-laki yang di rindukannya.
"Tuan aku sangat merindukanmu." Ucap Stevani, seraya menggandeng tangannya. namun Carlos malah menepis tangannya dengan halus.
"Alea mana?" tanyanya, tak menghiraukan perasaan Stevani yang berdiri di sampingnya. Pertanyaannya membuat Stevani perlahan melepas pelukan yang melingkar di tangan Carlos. Stevani adalah istri ketiga Carlos, sikap nya terlihat lebih agresif di bandingkan dengan Chamela, istri kedua Carlos.
"Alea ada di kamarnya." Ucap Samantha.
"Kalau begitu aku akan langsung menemuinya." Carlos bergegas menaiki anak tangga menuju kamar istri muda yang sangat dia rindukan itu. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Carlos langsung memeluknya dari belakang sehingga membuat Alea terkejut dan refleks menamparnya.
"Tu-tuan! ma-maaf, aku tidak tahu kalau tuan yang datang." Alea tampak terbata-bata, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Carlos kepadanya, karena telah berani menamparnya. Namun seketika dia heran saat melihat senyum tipis di wajah suaminya itu.
__ADS_1
"Kau menamparku karena mengira aku itu orang lain?" Carlos terkekeh dengan senyum tipis di bibirnya. "Tapi bagaimana kalau kau tahu, kalau itu adalah aku! lalu apa yang akan kau lakukan?" ucap Carlos seraya melingkarkan tangannya di perut Alea memeluknya dari belakang.
"Siapa pun itu! ku mohon, tolong aku." Batin Alea pun menjerit, karena tak rela tubuhnya di sentuh laki-laki yang sama sekali tidak di cintainya.
Perlahan Alea melepas pelukan itu dengan halus. "Maaf tuan, tapi aku belum mandi." Jawabnya berbohong.
"Tidak apa-apa! aroma tubuhmu masih terasa wangi. Dan aku sangat menyukainya." Kali ini Carlos menyandarkan kepalanya di leher jenjang Alea, dan sesekali menjilatnya. Sehingga membuat aliran darah Alea terasa berdesir hebat.
"Emm, tuan. Bukankah tuan baru saja pulang setelah melakukan perjalanan yang jauh? kurasa sebaiknya tuan mandi terlebih dahulu." Ucap Alea kepada Carlos, sehingga membuatnya melepas pelukan itu.
"Baik sayang, tunggu aku disini. Jangan kemana-mana!" ucap Carlos yang gemas melihat sikap istri kecilnya itu. Lalu dia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Alea tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera keluar dari kamar untuk menghindarinya. Namun tanpa sengaja dia menabrak tubuh Laura yang hendak lewat kamarnya.
"Nona, ada apa?" tanyanya saat melihat ekspresi wajah Alea yang sedikit ketakutan.
"Emm, tidak apa-apa." Alea menoleh kearah toples obat dan gelas berisi air putih yang ada di tangan Laura. "Siapa yang sakit?"
"Asam lambung nyonya besar kambuh lagi nona, dan obat-obatan ini untuk pereda rasa nyeri."
"Nyonya besar? siapa?"
"Nyonya Samantha." Jawabnya. sebenarnya Alea juga tidak tahu, yang mana yang bernama Samantha! "Maaf nona Alea, aku harus segera mengantar obat ini ke dalam kamarnya."
"Laura tunggu!" ucap Alea. "Apa aku boleh ikut?" pertanyaan Alea membuat Laura sedikit heran. Sebenarnya ada apa dengan nona muda nya itu, karena tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu. Dia tertegun sejenak, lalu kemudian mengiyakan keinginan Alea.
Alea mengikuti Laura hingga masuk ke dalam kamar Samantha. Dan di kamar itu ternyata ada Arthur juga, yang sedang duduk di sofa.
"Nyonya sudah makan?" tanya Laura. Yang di balas anggukan kecil oleh Samantha. "Nyonya minum obatnya sekarang ya?"
"Laura, biar aku saja." Pinta Alea, meraih obat dan gelas yang ada di tangannya. Arthur menatap tajam kepada Alea, lalu berjalan menghampirinya.
"Laura, jangan biarkan dia menyentuh makanan apapun yang akan di berikan kepada ibu." Sentaknya. "Jujur saja, aku tidak percaya kepadanya." Ucap Arthur dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1