
Alea menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Arthur yang kebetulan sedang menaiki tangga. Mata keduanya bertemu dan saling menatap lekat satu sama lain. Pandangan Alea turun kebibir Arthur, dia pun mendekatinya.
"Tuan Arthur, apa telah yang terjadi? kenapa bibirmu berdarah?" tanya Alea seraya memegangi bibir Arthur penuh kekhawatiran.
"Jangan bersikap seperti ini!" Ucap Arthur menatap nanar Alea. "Apa kau tidak sadar kalau rasa perdulimu ini membuatku ingin semakin memperjuangkan dirimu." Lanjutnya.
Seketika Alea langsung menurunkan tangan dan perlahan mundur menjauhinya, namun tiba-tiba kakinya terpeleset refleks Arthur langsung mendekap tubuh Alea dan menjaga keseimbangan tubuhnya. Tanpa sadar kedua tangan Alea telah melingkar sempurna dileher Arthur, kini keduanya saling menatap penuh cinta.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Samantha yang tengah berdiri diujung tangga atas, sedang menatap tajam keduanya. Refleks Alea langsung mendorong tubuh Arthur.
"Arthur, ikut ibu." Lanjut Samantha.
Tanpa banyak bertanya Arthur langsung mengikuti Samantha masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa kau masih dekat-dekat dengan Alea? dia itu wanita berbahaya." Ujar Samantha.
"Mungkin ini sudah saatnya aku menceritakan semuanya kepada ibu. Agar tidak ada kesalahpahaman antara ibu dan Alea lagi." Batin Arthur. "Ibu sudah salah paham menilai Alea." Ujar Arthur.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Samantha heran.
"Ibu menjebloskan Alea kepenjara, padahal ibu sama sekali tidak tahu apa-apa."
"Apa maksudmu Arthur? bicara yang jelas."
"Alea bukan penyebab aku masuk rumah sakit! tapi karena dialah sekarang aku bisa kembali mengingat masa laluku. Aku yang bersalah, karena aku telah memanfaatkan Alea untuk bisa mengembalikan ingatanku." Jelas Arthur.
"Apa?" Samantha terkejut mendengar pernyataan Arthur. "Jadi kau sudah kembali mengingat semuanya?" tanya Samantha meyakinkan.
__ADS_1
"Ya. Dan itu karena Alea." Ujar Arthur. "Alea tidak bersalah, seharusnya ibu mau mendengarkan penjelasannya waktu itu, bukannya malah seenaknya memenjarakannya." Tuturnya.
"Maafkan ibu! ibu benar-benar tidak tahu kalau saat itu Alea memang sedang berkata jujur."
"Ibu tidak perlu meminta maaf padaku, karena seharusnya ibu meminta maaf secara langsung kepada Alea."
"Tentu! tentu saja ibu akan melakukannya." Ucap Samantha. Dia pun mendekati Arthur lalu memeluknya. "Ibu senang jika semua ingatanmu memang sudah benar-benar kembali." Lanjutnya.
"Aku minta sama ibu. Tolong rahasiakan ini." Pinta Arthur.
Arthur berjalan menuju kamarnya, dia sedikit terkejut ketika melihat Alea sudah berdiri didepan pintunya. "Sedang apa kau?" tanya Arthur menatap heran Alea.
"Pakailah salep ini untuk mengobati luka dibibirmu." Ucap Alea seraya menyodorkannya. Namun Arthur tak meraihnya.
Melihat Arthur hanya diam tak merespon, Alea kembali menurunkan tangan dan menundukkan pandangannya. Keduanya berdiam diri beberapa saat, namun Arthur terus menatap lekat wajahnya.
Dikamarnya. Samantha tampak fokus melihat Arthur dan Alea yang baru masuk kedalam kamar Arthur, dari cctv yang waktu itu dipasangnya. Dia juga dapat mendengar dengan jelas percakapan Arthur dan Alea.
"Sebaiknya tuan oleskan saja sendiri salepnya." Alea kembali menyodorkannya.
"Kalau kau memang tidak mau membantuku sebaiknya kau pergi saja! dan bawa salepmu itu, kurasa aku tidak membutuhkannya." Desis Arthur.
Alea menghela nafas panjang lalu membuangnya secara kasar. "Baiklah! aku akan membantumu." Alea membuka tutup salepnya. Dia pun duduk disamping Arthur yang sedang duduk ditepi ranjang, lalu mencodongkan tubuhnya dan mengoleskan salep itu secara perlahan kebibir Arthur.
"Akh..." Ringgis Arthur menahan perih. Arthur hendak memegangi bibirnya yang terluka, namun Alea menghalangi. Tanpa sadar Alea pun menggenggam tangan Arthur, sehingga membuat Arthur tersenyum menyeringai.
"Tahan! rasa perihnya hanya bersifat sementara." Ucap Alea. Arthur terpaku melihat sikap Alea yang begitu perhatian terhadapnya, sehingga dia terus menatap wajah cantik Alea dan enggan mengalihkan pandangannya. Namun lambat laun tatapan cinta itu berubah menjadi tatapan nafsu ketika dia menurunkan penglihatannya kearah bibir tipis Alea yang berwarna merah jambu.
__ADS_1
Arthur mendekati wajah Alea seraya menarik tengkuknya, lalu kemudian menyambar ranum bibir yang terlihat begitu sangat menggoda nya. Alea tersentak kaget, dia mencoba untuk melepaskan ciuman itu namun tangan kekar Arthur telah melingkar sempurna di pinggangnya sehingga membuatnya kesulitan untuk melepaskan diri dari Arthur.
Samantha terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putra kesayangannya itu terhadap Alea. Dia tidak pernah menyangka kalau Arthur bisa bersikap seperti itu kepadanya. Namun dia ingin tahu lebih dalam, apa sebenarnya hubungan Arthur dengan Alea.
"Tuan Arthur, lepaskan aku! apa yang kau lakukan?" teriak Alea setelah berhasil melepas ciumannya, namun tangan Arthur masih melingkar kuat ditubuhnya.
"Jangan meneriaki ku seperti itu. Aku tahu, kalau kau juga mempunyai perasaan terhadapku. Jangan menyangkalnya lagi."
"Apa yang kau katakan? bukankah aku sudah sering mengatakannya, kalau aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapmu."
"Mulutmu bisa mengatakan itu, tapi hatimu tidak. Dan aku bisa melihat ada cinta untukku, dimata indahmu itu." Tuntut Arthur. Dia kembali menengkuk leher Alea dan mencium ranum bibirnya.
"Emph..." Alea sudah tidak bisa berkata-kata karena mulut Arthur telah membungkam mulutnya.
"Maafkan aku yang egois ini!" Batin Arthur. Dia pun merebahkan tubuh Alea dan menghimpitnya. Tangannya pun mulai nakal menjalar menggerayangi area sensitif dari pinggul hingga berhenti tepat disalah satu gundukan kenyal itu lalu meremasnya.
Alea memejamkan matanya tak kuat menerima sentuhan itu. Di-satu sisi Alea tidak terima Arthur melakukan itu terhadapnya, tapi disisi lain tak dapat dipungkiri kalau dia mulai menikmatinya.
Melihat Alea yang perlahan mulai luluh dan tidak melakukan pemberontakan lagi, Arthur pun melepas ciumannya dan menghentikan aksi nakal tangannya. Arthur menelan ludahnya berkali-kali ketika dia melihat nafas Alea yang kembang kempis tak karuan, sehingga membuat gunung kembarnya lebih menonjol dan terlihat lebih besar.
Tak nyaman ditatap seperti itu, Alea pun mendorong tubuh Arthur dan beranjak dari tempat tidur. Namun tiba-tiba Arthur memeluknya dari belakang ketika Alea hendak pergi.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan ini. Jadilah istriku! dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu." Ucap Arthur, tepat didaun telinganya.
"Lepaskan aku tuan Arthur. Kau tidak sepantasnya bersikap seperti ini kepadaku! aku ini istri dari ayahmu." Tutur Alea.
"Aku tidak perduli! aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau mau mengakui bahwa kau juga mencintaiku." Ujar Arthur.
__ADS_1
"Tuan Arthur, tolong lepaskan aku! aku tidak ingin ada yang melihat kita dalam posisi yang seperti ini." Alea mencengkram kuat pergelangan tangan Arthur berusaha melepaskan pelukannya, namun tangan Arthur melingkar begitu kuat diperutnya sehingga Alea tidak mampu melepaskannya.