
"Jangan asal bicara!" bentak Carlos. "Se-malaman ini Alea menghabiskan waktu bersamaku, jadi dia tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu, apalagi sampai berniat untuk menghabisi nyawa seseorang." Lanjutnya.
"Jadi benar! Alea memang telah menghabiskan malam bersama ayah." Batin Arthur menatap nanar kepada Carlos.
"Maaf tuan Carlos. Aku hanya asal menebak saja! lagi pula kita semua tidak ada yang tahu, Alea itu orang yang seperti apa?" Ucap Stevani.
"Betul tuan Carlos! aku yakin kalau pelakunya adalah Alea. Tuan jangan tertipu dengan wajah polosnya! buktinya setelah dia menikah dengan tuan, dia baru mengakui kalau ternyata dia sudah tidak vir*gin lagi. Alih-alih diper*kosa mungkin itu hanya akal-akalan nya saja, untuk menutupi semua kebusukannya." Chamela mengompori Carlos agar mau mendengar tuduhan Stevani terhadap Alea.
"Stop! Cukup!" bentak Arthur. "Sekali lagi kau menjelek-jelekkan Alea, aku tidak akan segan-segan untuk berbuat kasar kepadamu."
"Arthur, coba buka matamu. Dan lihat secara baik-baik orang seperti apa Alea! aku yakin kau cukup pandai dalam menilai seseorang." Ucap Chamela.
"Alea itu seorang wanita baik-baik! dan kau tidak berhak menilai rendah dirinya, karena sesungguhnya-..." Arthur tiba-tiba menggantung ucapannya di-tenggorokan saat mengingat kembali ucapan Alea yang memintanya untuk tidak pernah mengungkit lagi masa lalunya.
....Flash Back On....
"Kenapa kau tidak mau mengakui kalau aku lah yang telah menodai mu waktu itu?" tanya Arthur.
"Sudah ku katakan, aku tidak ingin membahas itu lagi." Alea tampak tertekan.
"Tapi kalau kau tidak mau mengatakan kalau aku lah orang yang telah merenggut kesucian mu, maka kau akan di cap sebagai wanita rendahan."
"Aku tidak perduli, sehancur apapun kehidupan yang harus aku jalani sekarang! tapi aku mohon, jangan lukai dan hancurkan perasaan Calista dengan cara mengakui kalau kau lah orang itu! aku tidak ingin menghancurkan impian Calista untuk hidup bahagia bersama orang yang dicintainya, yaitu kau! dan aku juga tidak ingin menyakiti hati ibu mu. Kau tahu? betapa kecewanya nanti nyonya Samantha, jika mengetahui yang sebenarnya, kalau anak kebanggaannya ternyata pernah menodai seorang wanita." pungkas Alea.
....Flash Back Off....
"Karena apa?" sinis Chamela.
"Karena orang yang paling patut dicurigai itu adalah kau." Ucap Arthur membuat semua orang terkejut.
"Arthur!" bentak Samantha. "Ibu tidak pernah mengajari mu untuk bersikap kurang ajar seperti itu terhadap ibu tiri mu." Lanjutnya.
"Terserah kalian mau percaya ataupun tidak! yang jelas aku lebih mencurigainya ketimbang Alea. Karena wanita seperti Alea tidak mungkin berhati iblis seperti dia." Arthur menunjuk wajah Chamela.
"Cukup Arthur. Kau tidak boleh menghakimi Chamela seperti itu." Ucap Carlos menengahi keduanya.
"Ini sudah larut malam. Sebaiknya kalian pergi, karena aku ingin beristirahat." Pinta Arthur.
Keesokan paginya. Carlos sudah berangkat ke Bratajaya Corp untuk memantau semua para pekerja disana, dan memastikan kalau perusahaannya dalam kondisi stabil. Dia pun mengecek ke bagian pemasaran dan semuanya juga berjalan sesuai keinginannya.
__ADS_1
"Laura, tolong siapkan hidangan makanan untuk Arthur. Dan antarkan ke kamarnya." Pinta Samantha.
"Baik nyonya besar."
"Dari tadi aku tidak melihat tuan Arthur keluar dari kamarnya. Kenapa ya?" Batin Alea pun bertanya. Saat melihat Laura membawa makanan untuk Arthur, dengan cepat Alea menghampirinya.
"Laura, apa makanan itu untuk tuan Arthur?" tanya Alea.
"Iya nona Alea."
"Sini! kalau begitu biar aku saja yang akan mengantarnya." Ucap Alea beralasan. Padahal dia memang penasaran dengan keadaan Arthur sekarang.
Tanpa banyak bertanya Laura langsung memberikannya kepada Alea. "Nona Alea akhir-akhir ini terlihat akrab sekali dengan tuan Arthur." Batin Alea.
Tok Tok Tok... Alea mengetuk pintu kamar Arthur. Dengan cepat Arthur bergegas untuk membukanya.
"Ada apa?" Tanya Arthur dengan tatapan dinginnya.
"Aku ingin mengantarkan makanan ini." Ucap Alea. Arthur segera meraihnya dari tangan Alea.
"Terima kasih. Sekarang kau boleh pergi." Ucap Arthur yang hendak menutup pintu kamarnya kembali, namun dengan cepat Alea menahannya.
"Apa lagi?"
"Luka tuan Arthur kenapa belum diobati?"
"Bukan urusan mu." Ketus Arthur.
"Tentu saja itu sekarang sudah menjadi urusanku." Ucap Alea.
"Kenapa?" tanya Arthur menatap heran, mengapa Alea berkata seperti itu.
"Karena aku adalah istri dari ayah mu." Jawab Alea secara spontan.
"Kau sudah mulai mengakui ayahku sebagai suami mu. Berarti benar dugaan ku! kalau kau juga telah memberikan seluruh jiwa dan ragamu pada ayah." Batin Arthur.
"Masuklah." Ucap Arthur secara tiba-tiba. Dia pun duduk di sofa dan diikuti oleh Alea yang juga ikut duduk disampingnya.
Arthur membuka tutup saji makanan itu, lalu menyantap bubur ayam yang sudah dibuatkan Laura tadi. Namun seketika dia langsung melepehnya ketika merasakan kalau buburnya ternyata masih panas.
__ADS_1
"Alea, kenapa kau tidak bilang kalau buburnya masih panas." Ucap Arthur dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
"Maaf tuan, aku juga tidak tahu kalau ternyata buburnya memang masih panas."
"Bukankah tadi kau bilang, kalau kau itu sudah mengakui ayahku sebagai suami mu? lalu kenapa kau masih memanggilku tuan?" tanya Arthur.
"Aku merasa sudah nyaman dengan panggilan itu." Jawabnya.
"Oke!" tiba-tiba Arthur merebahkan tubuhnya di sofa, lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Alea sehingga membuatnya sangat terkejut.
"Apa yang tuan Arthur lakukan?"
"Aku biasa bersikap seperti ini kepada ibu ku." Jawabnya santai.
"Lalu?" tanya Alea.
"Bukankah sekarang kau sudah menjadi ibu ku juga? jadi wajar jika aku bersikap seperti ini kepadamu."
"Tapi tuan, sebaiknya tuan cepat duduk. Aku tidak ingin ada orang yang melihat kita seperti ini dan jadi salah paham."
"Tidak apa-apa." Arthur menekan tombol kunci otomatis pintu kamarnya.
"Emm, sebaiknya cepat kau makan buburnya. Karena kalau tidak, nanti keburu dingin." Ucap Alea.
"Aku tidak bisa memakannya."
"kenapa?" tanya Alea.
"Bibirku terasa sakit jika aku gunakan untuk mengunyah makanan."
"Itu karena tuan Arthur keras kepala dan tidak mau mengobati lukanya." Decah Alea.
"Apa kau bilang?" Arthur bangkit dari tidurnya di pangkuan Alea.
"Maaf tuan. Tapi itu kenyataannya! kau memang keras kepala, dan tidak mau mendengarkan ucapan orang lain." Alea pun meraih sendok yang ada di mangkuk lalu meniupi bubur yang masih panas tersebut lalu menyuapinya kepada Arthur.
"Aku sudah meniupi buburnya. Sekarang coba tuan Arthur buka mulut Aaaa..."
Dengan terpaku Arthur pun perlahan membuka mulutnya hingga makanan itu masuk kedalam rongga mulutnya. "Arrghh..." Pekiknya saat merasakan sesuatu yang perih di ujung bibirnya. Refleks Alea langsung mencodongkan tubuhnya lalu meniupi bibir Arthur.
__ADS_1
Hembusan nafasnya begitu terasa hangat dan wangi. Membuat Arthur semakin ingin menghirup aroma itu lebih dalam lagi. Refleks Arthur langsung menarik pinggang Alea dan mendekapnya, lalu kemudian menciumnya. Alea membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang sudah di lakukan Arthur terhadapnya.