
***
"Hey anak baru. Sini kau..." Titah perempuan yang kemarin memukul Alea.
"Ada apa bu?" Alea menghampirinya.
"Ba, bu, ba, bu. Panggil aku bos disini." Bentak perempuan itu.
"I-iya. Ada apa?" tanya Alea.
"Badanku terasa pegal. Pijitin bahu ku!" Titahnya. Tanpa banyak bicara Alea langsung memijitnya.
"Siapa namamu?" tanya perempuan itu.
"Alea." Jawabnya singkat.
"Alea. Selamat datang di istana ku! mulai sekarang kau adalah pelayan ku."
Alea mengernyitkan keningnya mendengar ucapan perempuan yang usianya sudah setengah abad itu.
"Wah bos, lihat ekspresi wajahnya. Sepertinya dia sedang menantangmu." Ucap salah satu dari mereka seraya mencengkram kedua sisi pipi Alea.
"Ti-tidak. Sama sekali aku tidak menantang ibu. Emm... Maksudku bos." Jawab Alea. Kini giliran perempuan itu yang mencengkram kedua sisi Alea.
"Kalau kau tidak menantangku, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" Plaakkk. Perempuan itu kembali menampar wajah cantik Alea. Entah sampai kapan Alea akan menerima penyiksaan itu.
"Cukup Molly. Apa yang kau lakukan? kenapa kau selalu saja menamparnya?" sentak Zelia, yang merasa iba ketika Alea diperlakukan seperti itu.
"Aku geram ketika melihat wajah polosnya yang tampak tidak berdosa ini. Dibalik wajahnya yang cantik, ternyata dia itu seorang pembunuh berdarah dingin."
"Cukup! aku bukan seorang pembunuh! aku tidak melakukan kesalahan apapun." Bentak Alea yang membuat perempuan itu semakin geram terhadapnya, sehingga menarik rambut panjang Alea dengan keras menjambaknya.
"Berani sekali kau membentakku." Sentaknya kepada Alea. Alea tampak memelas agar perempuan itu mau melepaskan jambakannya, namun apa perduli Molly.
"Molly, hentikan!" Zelia berusaha membantu Alea agar terlepas dari Molly. Namun Molly meminta semua anak buahnya yang tak lain adalah penghuni lapas itu juga yang selalu menuruti perintahnya, untuk memegangi kedua tangan Zelia agar tidak membantu Alea.
"Bagusnya anak ini kita apakan ya?" Ujar Molly dengan tatapan yang begitu menakutkan.
"Lucuti saja pakaiannya bos." Jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Sepertinya itu permainan yang sangat menarik." Ucap molly seraya mengusap-usapkan kedua tangannya. Dia pun menarik baju tahanan yang dikenakan Alea dan memaksa Alea untuk membukanya.
"Hentikan! tolong jangan lakukan ini kepadaku." Teriak Alea. Dengan cepat salah satu dari mereka membungkam mulut Alea agar tidak ada petugas yang mendengar kegaduhan dilapas itu. Mereka juga telah membungkam Zelia agar tidak berteriak memanggil petugas.
Sekuat apapun Alea mempertahankan baju itu agar tidak terlepas dari tubuhnya, pada akhirnya Molly berhasil membuka pakaiannya. Alea menyilangkan kedua tangannya didadanya. Meskipun semua orang yang ada disana perempuan semua, tetap saja dia merasa malu.
"Lihat tubuh gadis ini? begitu putih dan mulus." Ucap Molly yang terkekeh kepada semua teman-teman satu lapasnya. Semua orang yang ada disana pun mentertawakan Alea yang tampak tidak berdaya.
"Bos, bra nya gak sekalian dibuka saja?" Ucap salah satu dari mereka lagi.
"Hiks... Hiks... Hiks... Tuan Arthur tolong aku." Tanpa sadar Alea bergumam meminta tolong terhadap Arthur. Karena selama ini hanya dia lah satu-satunya orang yang selalu peduli kepadanya. Meskipun terkadang sikap Arthur sulit dipahami oleh Alea.
*
Jari-jemari Arthur tiba-tiba bergerak. "Alea." Ucapan Arthur yang secara tiba-tiba membuat semua orang yang menjaganya terkejut.
"Arthur." Samantha langsung meminta Rachel untuk memanggil dokter.
"Enak saja perempuan ini, dari kemarin terus-menerus menyuruh putriku untuk kasana kemari. Dia pikir Rachel itu seorang pesuruhnya?!" Batin Chamela yang tak terima.
Setelah dokter masuk Samantha langsung menjelaskan tentang kondisi Arthur yang barusan mengigau dialam bawah sadarnya.
"Alea." Jawab Samantha.
"Apa ibu bisa memanggilnya kemari?" tanya dokter.
"Alea itu adalah orang yang sudah menyebabkan putraku seperti ini dokter. Dan dia sekarang sudah mendekam dipenjara." Ujar Samantha.
"Saran saya, sebaiknya ibu bawa dia kemari. Siapa tahu dengan kehadiran sosok bernama Alea itu bisa mempercepat kesadaran putra ibu." pinta dokter.
"Mana bisa begitu dokter! bukankah itu berbahaya bagi Arthur, jika si pembunuh itu didatangkan kesini." Ucap Chamela yang panik, takut akan kejahatannya terbongkar.
"Saya sudah pernah menangani pasien seperti ini sebelumnya. Rata-rata dari pasien yang hilang kesadarannya itu kebanyakan mengigau orang yang paling ingin ditemuinya."
*
Molly tidak mengindahkan ucapan salah satu dari anak buahnya itu. Namun kali ini dia ingin bermain dengan caranya sendiri. Dia mendekati Alea lalu memegangi salah satu gunung kembar Alea yang masih terbalut oleh bra berwarna merah muda.
"Terlalu kecil. Aku akan membantumu agar kau bisa terlihat lebih menggoda dimata laki-laki." Ucap Molly seraya meremasnya. Alea memejamkan matanya tak terima dengan apa yang dilakukan perempuan itu. Namun dia juga tidak bisa apa-apa karena tangan dan kakinya di cengkram kuat oleh teman-teman Molly.
__ADS_1
"Hey apa yang kalian lakukan?" Tegur polwan saat tiba-tiba datang. Dia pun membuka gembok menghampiri mereka. Dengan cepat Molly menghentikan aksinya, dia segera memberikan baju tahanan Alea dan memakaikannya.
"Alea, ikut aku. Tuan Carlos ingin bertemu denganmu." Ucap polwan itu, yang membuat Molly sangat terkejut.
"Tuan Carlos? tuan Carlos mana yang polwan itu sebutkan?" tanya Molly kepada temannya.
"Jangan sampai tuan Carlos yang disebutkan polwan itu adalah pengusaha besar yang memiliki cabang dimana-mana. Bisa habis kita." Ucap salah satu teman Molly.
"Kalau begitu aku tidak ikut-ikutan." Sahut yang lainnya.
"Tuan Carlos? kalau benar Carlos yang dimaksud itu adalah pemimpin sekaligus pemilik Bratajaya Corp. Lalu apa hubungan Alea dengannya? apa Alea itu putri dari tuan Carlos?" Batin Zelia.
"Kau harus ikut denganku." Ucap Carlos.
"Apa tuan telah membebaskanku?" raut wajah Alea berbinar.
"Sudah ku katakan! nasibmu ada ditangan Arthur. Karena dia yang nantinya akan mengatakan, apa kau yang bersalah atau tidaknya."
Alea tertegun mendengar ucapan Carlos. "Lalu bagaimana keadaan tuan Arthur sekarang?"
"Dia belum sadarkan diri. Sekarang kau ikut aku untuk kerumah sakit."
Alea mengangguki keinginan Carlos.
"Kemana Alea? mengapa petugas tidak membawanya lagi kesini? apa Alea sudah dibebaskan?" pikir Zelia dalam hatinya.
"Kemana anak itu? mengapa dia belum kembali juga?" Ujar Molly.
"Habislah kau Molly. Jika sampai gadis itu mengadukan perlakuan mu kepada tuan Carlos."
"Diam kau! jangan menakutiku, atau aku tidak akan segan-segan untuk menghajar mu." Gertak Molly kepada temannya.
Buat para readers jangan lupa dukungannya yaππ
Dengan cara like sebanyak-banyaknya. Coment sebanyak-banyaknya.
Vote sebanyak-banyaknya.
Kasih hadiah sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa masukan cerita recehan othor ini kedalam list favorit kalian ya. πππ
__ADS_1
Terima kasih buat yang selalu setia nungguin kelanjutan dari cerita ini. Salam sayang untuk kalian semua π₯°ππ.